
Haiii Readers...
Semoga masih setia dengan kisah Alya ya π
Maaf hari ini up nya terlambat, karena si othor sedang kurang bersemangat. π π
Btw, jangan lupa tinggalkan like, komen, rate 5, dan vote untuk memberi dukungan pada author (jika berkenan). ππ
Trimakasih dan Happy reading... ππ
πππππππππππππππ
Hari ini Raikhan dan Alya sedang bercengkrama di taman belakang. Tentunya, setelah mereka menikmati menu sarapan pagi. Papa Abraham sudah berangkat ke kantor, sedangkan Mama Shela pergi ke rumah sahabatnya.
"Mas..., hari ini nggak berangkat ke restoran...?"
"Nggak Yank.., sebentar lagi akan ada tamu. Sayang masih cuti kan..?"
"Iya Mas, aku ambil cuti satu minggu... Memangnya siapa tamu yang akan datang Mas..?"
"Ada dech Yank... Sayang nyidam apa? Buah atau makanan apa gitu...?" Tanya Raikhan dengan tersenyum lebar.
"Aku ingin makan buah belimbing Mas.."
"Baiklah Sayang.. Biar skalian aku nitip dia.."
Raikhan segera meraih ponselnya, dan mengirimkan chat kepada seseorang.
"Nitip siapa Mas...?" Alya memandang suaminya dengan tatapan penuh tanya.
"Ach.., nanti Sayang juga akan tau..." Jawab Raikhan disertai seulas senyum.
Selang tiga puluh menit kemudian....
"Dhen.., tamunya sudah datang.." Bi Ijah berteriak, sembari berjalan tergopoh-gopoh.
"Okay Bi.. Suruh saja dia ke sini..!!"
"Baik Dhen..." Bi Ijah segera melangkahkan kaki, dan menemui si tamu.
Bi Ijah mempersilahkan tamu Raikhan dan mengantarkannya ke taman belakang.
"Ehmm.., Asalamu'alaikum Mas Rai...?" Terdengar suara seseorang menyapa dengan salam. Seketika Raikhan dan Alya menoleh ke arah asal suara.
Alya nampak terkejut melihat tamu yang datang.
"Wa'alaikumsalam... Silahkan duduk disini Rif...!" Raikhan mepersilahkan tamunya untuk duduk di hadapan mereka berdua. Ternyata tamu yang datang adalah Arif.
"Iya Mas... Oiya, ini buah belimbing titipan Mas Rai..." Ucap Arif sembari menaruh keranjang kecil berisi buah belimbing di meja yang berbentuk oval, ia pun kemudian duduk di hadapan Alya dan Raikhan.
"Makasih ya Rif... Berapa harganya? Aku ganti Rif..?"
"Sudah nggak usah diganti Mas... Buat bumilkan..?" Arif tersenyum lebar.
"Makasih ya Rif.. Iya nich, istriku nyidam buah belimbing.." Balas Raikhan juga disertai seyuman yang mengembang.
"Sama-sama Mas... Kata nenekku dulu, kalau wanita hamil nyidam makan buah belimbing, In shaa Allah bayi yang dikandungnya perempuan Mas.."
"Wah.., kebetulan. Pasti kelak mirip Mamanya..." Mata Raikhan nampak berbinar.
__ADS_1
Percakapan mereka terus berlangsung. Alya hanya memilih diam dan menjadi pendengar setia.
Selang beberapa menit, Bi Ijah datang membawa nampan berisi orange jus dan camilan. Setelah menaruh minuman dan camilan, beliau pun mempersilahkan mereka untuk menikmatinya. Kemudian Bi Ijah segera melangkahkan kaki meninggalkan taman belakang.
"Al..., kemarin malam aku mengantarkan Asti pulang ke rumah.."
"Loh, kalian bertemu dimana?"
"Di Alun-alun Selatan Al. Kebetulan sepulang dari acara resepsi, aku mampir menikmati suasana malam sambil minum wedhang rondhe. Ternyata sepulang kerja, Asti juga mampir beli wedhang rondhe dan jagung bakar.."
"Owh... Biasanya Asti dijemput oleh Faudzan.."
"Kata Asti, Faudzan sedang pergi ke luar kota Al.. Makannya, adekmu naik ojek online..."
"Begitu ya...? Btw makasih ya Rif.."
"Sama-sama Al..."
"Loh.., Asti sudah mempunyai teman dekat Yank..?"
"Sepertinya iya Mas. Faudzan sering mengantar jemput Asti kerja. Ia kakak kelas Asti sewaktu SMA... Orangnya supel, baik, dan sopan..."
"Hmmm..., kalau belum punya teman dekat.., rencana akan Mas jodohkan Asti dengan si Tuan Muda..." Ucap Raikhan sembari melirik Arif.
"Hhhaha.., apa-apaan sich Mas Rai. Asti sudah seperti adikku sendiri Mas..."
"Wahhh..., sedekat apa hubungan persahabatan kalian dulu, hingga adik Alya pun seperti adikmu sendiri Rif...?" Tanya Raikhan seolah menyelidik.
"Kami semua sangat dekat Mas. Persahabatan kami sudah seperti hubungan persaudaraan. Bahkan, kami sering menghabiskan waktu senggang dengan menikmati suasana kota Jogja. Mmm.., maksudku kami semua Mas. Delapan orang..."
"Owhhhh kirain...?? Aku kagum dengan persahabatan kalian yang tak lekang oleh waktu.."
"Iya Mas, Alhamdulillah.. Aku sangat bersyukur dengan persahabatan kami.."
"Mas Rai.. Sebenarnya aku ingin curhat.."
"Curhat apa Rif...?" Raikhan menatap Arif lekat-lekat.
"Mas.., sebenarnya papa menjodohkanku dengan anak gadis rekan bisnis beliau. Gadis itu bernama Desy..., seorang penulis novel yang terkenal. Tapi.., aku belum mencintainya Mas, karena masih ada cinta lain di hati ini yang sulit terhapus.."
"Mm..., mengapa tidak kamu perjuangkan saja cintamu itu Rif..?"
"Sudah terlambat Mas.." Jawab Arif dengan suara lirih.
"Kog bisa..?"
"Iya Mas, dia sudah memiliki suami yang sangat baik.."
Tiba2 Alya merasa ucapan Arif terdengar sangat dalam. Ada rasa yang tak sanggup ia ungkap. Andai saja Arif menyatakan cinta sebelum mereka berpisah untuk kedua kali, mungkin Alya akan menerima dengan senang hati. Karena dulu perasaannya terhadap Abi belum bersemi.
"Hmmm, sabar ya Rif...! Coba kamu sholat Istikharah, memohon petunjuk padaNya...! Siapa tau, Desy memang jodoh yang terbaik untukmu..."
"Iya Mas..., nanti malam Arif akan menjalankannya.."
"Bagaimana kalau hari ini kita ke Studio Alam Gamplong...?" Ucap Raikhan dengan senyuman mengembang.
"Iya Mas, aku setuju..." Balas Arif juga disertai senyuman.
"Bagaimana Yank..?"
__ADS_1
"Iya Mas, aku juga setuju..."
"Baiklah, kita bersiap-siap dulu..."
Setelah bersiap-siap, mereka bertiga pergi ke Studio Alam Gamplong, dengan menggunakan mobil milik Raikhan.
********************
Mereka bertiga kini sudah berada di Studio Alam Gamplong.
"Wahhh.., tempatnya kerennn Mas..." Mata Alya nampak berbinar mengagumi pamandangan yang tersaji di dalam studio.
"Iya Sayang.. Studio Alam Gamplong juga disebut mini Hollywood nya Jogja lho Yank.. Sebelum dijadikan tempat wisata, Studio ini merupakan tempat pengambilan gambar untuk beberapa film yang disutradarai oleh Mas Hanung Bramantyo..."
"Hmmm..., makanya kog serasa tidak asing Mas. Alya pernah melihat beberapa bangunan yang ada di tempat ini ketika menonton salah satu film layar lebar..."
"Yuk..., kita bertiga berjalan mengelilingi studio...! Ada banyak bangunan menakjubkan di tempat ini.. Pendopo Joglo, Benteng Batavia, Benteng VOC, Keraton Mataram, Rumah Belanda, Rumah Tionghoa,Β settingΒ sekolah di salah satu film yang disutradarai oleh Mas Hanung.., juga ada bangunan mirip dengan pasar tradisional.."
"Baiklah Mas.." Balas Alya disertai seulas senyum.
"Ayo Rif kamu jalannya di depan..!! Maaf menjadikanmu obat nyamuk..., hhhhehe...." Raikhan nampak tertawa, mencandai si Tuan Muda. Arif pun membalasnya dengan disertai senyuman.
"Santai saja Mas... Yang terpenting kalian bahagia..."
Alya mengusap perutnya yang belum nampak menonjol.
"Ada apa Yank..? Dedeknya kecapekan ya..?" Raikhan sedikit membungkuk sembari mengusap perut sang istri.
"Enggak kog Mas... Yuk kita lanjut jalan..!"
"Beneran Yank..?"
"Iya Mas.. Tadi Alya hanya mengusap perut, dan membisikkan doa, jika memang anak kita seorang perempuan, semoga kecantikannya seperti Mbak Zaskia.., istri Mas Hanung..." Balas Alya dengan mata berbinar dan disertai senyuman.
"Aamiin Yank..." Ucap Raikhan, ia pun tersenyum lebar.
Mereka bertiga melangkahkan kaki, mengelilingi Studio Alam Gamplong. Nampak spot-spot foto yang unik dan menarik.
"Mas..., aku ingin masuk ke rumah Annelies.."
Mereka merasakan atmosfer di area rumah Annelies benar-benar terasa seperti tempo dulu.
Di bagian halaman, terdapat dua kereta kuda dan satu kereta tempat menaruh susu sapi.
"Baiklah Sayang.." Raikhan menggenggam erat tangan sang istri. Mereka bertiga melangkahkan kaki memasuki rumah Annelies.
Setelah berada di dalam rumah megah itu, seolah mereka dibawa ke masa lalu.
Tersuguh beragam properti yang pernah digunakan saat pengambilan gambar film Bumi Manusia, yang lazim pada masa kolonial Belanda.
Di antaranya, beragam buku bacaan tebal, teropong, meja kursi hingga tempat tidur kuno khas zaman sebelum kemerdekaan.Β
"Mas..., luar biasa ya... Aku sangat takjub, begitu detail tempat ini dibuat.."
"Iya Sayang... Inilah salah satu hasil karya anak bangsa yang patut kita banggakan..."
Alya dan Raikhan berfoto berdua, dengan berbagai pose, di depan rumah Annelies... Arif sang fotografer, hanya bisa menatap kemesraan mereka, dan berusaha mengendalikan perasaannya... π "Maaf ya Rif..." Ucap si othor.. π
__ADS_1
Rumah Annelies
Β