Cinta Gadis Biasa "Alya"

Cinta Gadis Biasa "Alya"
[POV.AUTHOR] Pertemuan Alya Dengan Abimana


__ADS_3

Hembusan sang bayu menyibak rikma, menerbangkan dedaunan. Sinar sang mentari mulai meredup, berganti rintik gerimis. Meninggalkan nuansa sendu.


Kedua pria tampan saling beradu pandang, mereka tenggelam dalam kebisuan.


"Bim, sapalah Raikhan!" Pinta Kirana, menyadarkan Abimana.


Namun sebelum menyapa sahabatnya, Raikhan terlebih dulu berjalan mendekat ke arah Abimana.


"Bima, benarkah ini kamu Bro?" Raikhan seolah tidak percaya melihat pria yang ada di hadapannya benar - benar Abimana, sahabat yang teramat ia sayangi.


Abimana beranjak dari duduk. Kedua pria tampan itu saling berpeluk dengan erat.


"Iya Rai, ini aku Abimana." Suara Abimana terdengar berat, karena menahan perasaan yang berkecamuk.


"Bima, maaf. Maafkan aku, maaf Bim!" Raikhan tidak dapat membendung buliran - buliran bening yang mulai menetes dari kedua sudut netranya, begitu juga dengan Abimana. Tubuh mereka berdua terlihat berguncang.


Kedua netra Papa Abraham dan Kirana nampak berkaca - kaca, mereka terharu melihat pertemuan Abimana dan Raikhan.


Kedua pria perlahan saling melepas pelukan, mereka pun beranjak duduk di samping Kirana, dan mulai menghapus jejak air mata dengan jemari tangan.


"Ehmm, Papa mau masuk ke dalam dulu, Rai, Bima, Kiran."


"Ya Pa." Balas Raikhan dengan disertai anggukan.


"Ya Om." Abimana dan Kirana pun membalas ucapan Papa Abraham, secara bersamaan.


Pria paruh baya itu melangkahkan kaki, meninggalkan mereka bertiga.


"Mmm, silahkan kalian berbincang berdua!" Hampir saja Kirana akan beranjak dari duduknya, namun dicegah oleh Abimana.


"Kiran, kamu tetap di sini, temanilah kami!"


"Hemzzzz, baiklah." Balas Kirana tanpa menatap kedua sahabatnya.


"Bro, ceritakan kepadaku bagaimana kamu bisa selamat dari kecelakaan tragis itu!" Raikhan menatap wajah Abimana lekat - lekat.


Abimana menghela nafas. Ia pun mulai menceritakan kejadian naas yang menimpanya. Raikhan mendengarkan apa yang diceritakan oleh Abimana dengan seksama, tanpa mengalihkan pandangan.

__ADS_1


"Ya Allah Bim, ternyata jasad korban yang ditemukan itu bukan kamu. Alhamdulillah Bro, aku teramat bersyukur."


"Iya Rai, Alhamdulillah aku masih diberikan kesempatan untuk hidup."


"Bima, maafkan aku! Aku tidak bermaksud merebut Alya. A ... aku, melakukan semua ini karena ingin menguatkan Alya yang terlihat sangat rapuh kala kehilanganmu." Ucap Raikhan dengan suaranya yang terdengar serak. Ia teramat merasa bersalah kepada Abimana, karena telah menikahi dan memiliki wanita yang dicintai oleh sahabatnya.


"Sudahlah Rai, semua telah terjadi. Mungkin kami memang ditakdirkan bukan untuk bersama. Alya adalah jodohmu, meski jujur aku masih mempunyai perasaan terhadapnya." Balas Abimana dengan raut wajah sendu.


"Bim, apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahan ini? Bim, andai kalian ingin kembali bersama, aku ikhlas. Aku akan mengembalikan hubungan kalian seperti semula. Namun satu pintaku, jaga putri kami, cintailah Alyra bagai putrimu sendiri!" Raikhan mencoba menahan rasa sesak di dadanya.


Abimana dan Kirana teramat terkejut mendengar ucapan sahabat mereka. Bagaimana mungkin Raikhan merelakan istri dan putri tercinta untuk Abimana.


"Dasar pria bodo*. Bagaimana mungkin kamu akan menyerahkan mereka kepadaku, sedangkan anak dan istrimu adalah tanggung jawab yang harus engkau jaga sendiri. Aku tidak akan terima bila Alya kembali bersedih, karena merasakan kehilangan lagi." Abimana mencoba berucap dengan tegas, meski luka di hatinya teramat dalam. Pria itu berusaha untuk ikhlas dan tegar, karena sadar bahwa ia tidak akan mungkin bisa memaksakan kehendak sang pemilik skenario kehidupan.


"Bim, bagaimana dengan hatimu? Pasti kamu teramat terluka dengan hubungan kami."


"Jangan tanyakan hatiku Rai! Aku percaya, perlahan luka itu akan menghilang. Yang teramat penting saat ini, dampingilah istrimu! Berikan cintamu yang tulus hanya untuk Alya! Jangan pernah berpaling darinya, sampai kapan pun!"


"Bima." Raikhan kembali memeluk Abimana. Ucapan sahabatnya tetap tidak mampu menghapus rasa bersalah yang menyelimuti perasaan.


"Rai, bolehkah aku menemui istrimu sekali ini saja?" Suara Abimana terdengar serak.


"Kiran, temani aku untuk menemui Alya!" Pinta Abimana kepada Kirana.


"Tidak Bim. Kali ini kamu harus menemui Alya sendiri." Kirana menolak permintaan sahabatnya dengan tegas.


"Temuilah Alya!" Ucap Raikhan dengan suara lirih.


"Baiklah Rai." Abimana beranjak dari duduknya diikuti oleh Kirana dan Raikhan.


Kirana melangkahkan kaki memasuki ruangan, kemudian ia berjalan mendekat ke arah Alya, dan meminta agar baby Alyra diserahkan kepadanya untuk dimandikan terlebih dahulu.


"Alya, baby Alyra akan dimandikan oleh perawat yang bertugas. Sini, aku gendhong dulu ya! Ada seseorang yang ingin menemuimu. Jaga emosi, berusahalah untuk tetap tenang menghadapi kenyataan!" Ucapan Kirana seketika membuat Alya bertanya - tanya.


"Siapa yang akan menemui saya Dok? Dan mengapa Dokter Kirana mengucapkan semua itu?"


"Nanti kamu akan mengetahuinya Al." Kirana meraih baby Alyra dari gendhongan Alya, sembari meminta kepada seluruh keluarga pasien untuk segera keluar dari ruangan. Mereka pun menuruti apa yang diminta oleh sang dokter.

__ADS_1


Dengan perlahan Abimana mulai memasuki ruangan, ia berjalan mendekat ke arah Alya dengan langkah kaki yang terasa berat.


"Alya ...." Suara Abimana mengejutkan wanita yang kini tengah duduk di tepi ranjang.


"Mas Abi ...." Buliran - buliran bening mulai jatuh dari kedua sudut netra Alya. Ada rasa kerinduan kembali menyeruak, bercampur dengan rasa cinta yang hampir mati, seolah hidup kembali meski tidak sebesar dulu.


Hening, suasana pun hening. Hanya desahan sang bayu meniup - niup rikma mereka, mengiringi senandung kerinduan yang berkecamuk di dalam dada.


"Be ... benarkah ini kamu Mas?" Suara Alya terdengar berat.


"Iya Al, ini aku. Mas Abi yang kamu kenal dulu. Aku masih hidup Al." Abimana menjawab pertanyaan Alya dengan raut wajah sendu.


"Mas Abi. Arghhhhh ...." Tangis Alya semakin menjadi. Ia meremas selimut yang ada di ranjang pasien.


"Al, tenangkan dirimu! Ingatlah putri kecilmu!" Abimana duduk di samping Alya dan berusaha menenangkan wanita yang masih dicintainya.


"Mas, mengapa baru hadir sekarang, setelah hati dan ragaku dimiliki oleh sahabatmu? Mengapa kamu sekejam ini padaku Mas? Meski aku bahagia melihat dirimu kembali, namun hatiku malah teramat sakit begini."


"Al, maafkan aku! Aku juga tidak ingin semua ini terjadi. Apa yang menimpa kita, memang berawal dari kesalahanku sendiri."


"Arghhhhh ...." Alya memukul - mukul dadanya yang menyesak.


Abimana meraih tangan Alya dan menggenggamnya, ia berusaha menenangkan wanita yang kini terlihat sangat rapuh.


"Sudah Al, aku mohon jangan menyakiti dirimu sendiri! Semua terjadi atas kehendak Allah."


"Tapi bagaimana dengan hatiku ini Mas? Sedangkan kita tidak mungkin lagi untuk bersama seperti dulu. Impian kita untuk bisa saling memiliki sudah pupus. Kini aku sudah menjadi seorang istri sekaligus ibu."


Perlahan Abimana melepas genggaman tangannya.


"Al, terima kenyataan ini dengan lapang dada! Semua yang terjadi sudah tertulis di buku takdir. Kita harus ikhlas, sabar, tawakal. Jadilah seorang istri dan ibu yang terbaik untuk suami dan juga anakmu!"


"Iya Mas, aku akan berusaha meski teramat sulit. Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi! Dimana selama ini kamu berada? Dan jasad siapa yang ditemukan?" Alya menatap Abimana lekat - lekat, sembari menghapus jejak air mata yang membasahi wajah cantiknya dengan jemari tangan.


Abimana menahan perasaannya yang kian membuncah. Ia pun mulai menceritakan semua yang terjadi secara detail.


Dari luar jendela, Raikhan menatap Abimana dan Alya, dengan tatapan hampa. Ada rasa bersalah yang semakin besar. Ia harus bersiap menghadapi semua kenyataan, dan bersikap bijaksana untuk mengambil suatu keputusan.

__ADS_1


šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“


Bersambung ..... 😘


__ADS_2