Cinta Gadis Biasa "Alya"

Cinta Gadis Biasa "Alya"
[POV.AUTHOR] Menangisi Kenyataan


__ADS_3

Haiiii Readers


Trimakasih Author ucapkan karena sudah bersedia membaca dan mengikuti kisah Alya. Semoga tulisan ini bermanfaat. šŸ˜‡


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like šŸ‘, klik tombol ā¤ untuk favorit, bantu author klik ⭐⭐⭐⭐⭐ rate 5, dan jika berkenan dukung author dengan memberikan Vote. Serta jangan ragu untuk berkomentar..šŸ˜šŸ˜


Trimakasih & happy reading 😘😘😘


šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–


Arif dan Alya masih saling terdiam... Terbayang kenangan lama yang terasa indah, namun nasi sudah menjadi bubur, keduanya memang ditakdirkan hanya untuk bersahabat, dan tidak lebih.


Setelah menunggu cukup lama, Raikhan datang membawa sepiring kecil selad Solo dan satu gelas ice cream untuk sang istri.


"Sayang maaf membuatmu menunggu lama... Tadi suamimu ini bertemu Om Rizal, rekan bisnis papa..." Raikhan menyerahkan apa yang dibawanya pada sang istri. Saat ini, ia belum menyadari sosok Arif yang sedang duduk bersebelahan dengan Alya.


Alya menerimanya dengan raut muka cemberut...


"Iya Mas... Aku menunggumu sudah cukup lama, hampir satu jam. Rasanya ingin langsung pulang saja Mas, sudah tidak selera lagi dengan makanan ini..."


"Aku benar-benar minta maaf Yank... Jangan marah ya Sayangku..!! Kalau marah nanti cantiknya hilang lho... Please ya Permaisuri hatiku...!"


"Heeemmm... Lain kali jangan terlalu lama Mas meninggalkan istrimu ini..! Kalau ada yang menculikku bagaimana...??" Ucap Alya dengan menampakan wajah puppy eyes yang sering ia lakukan bila bercanda dengan sang suami.


Seperti biasa, Raikhan mencubit hidung istrinya dengan gemas....


"Ihhh.., istriku kalau seperti ini bikin gemas. Sayang sekali kita sedang berada di tempat umum, coba kalau tidak...? Lain kali suamimu ini, tidak akan membuat Sang Permaisuri menunggu lama..." Raikhan tersenyum lebar.


Rupanya Arif mencuri pandang pada mereka berdua. Pria itu nampak mengernyitkan dahi. Ternyata suami Alya bukanlah sosok asing bagi Arif.


"Dokter Raikhan..." Seketika Arif memanggil suami Alya. Merasa namanya dipanggil, Raikhan menoleh ke asal suara.


"Tuan Muda Arif....?" Ucap Raikhan disertai senyuman yang mengembang.


Arif pun berdiri dan menjabat erat tangan Raikhan.


"Owhhh ternyata kamu Mas Rai, yang menjadi suami Alya..."


"Iya Rif... Kalian sudah saling mengenal..?"


"Kami bersahabat dari SMA Mas..."


"Benarkah...?? Ternyata istriku bisa juga ya bersahabat dengan Tuan Muda yang tampan..."


"Mas Raikhan berlebihan. Aku juga tidak menyangka Mas, sahabatku ini bisa menjadi istrimu, seorang dokter muda yang sukses..."


"Hhaha..., sukses apanya Rif..? Sudah dua tahun lebih, aku berhenti menjadi dokter..."


"Lho.., kenapa Mas..?" Nampak Arif, mengerutkan kening.


"Ada alasan yang sangat tidak mengenakan.., selain itu aku ingin fokus menjadi dokter cintanya Alya saja... Hhaha..." Raikhan tertawa, sembari melirik sang istri yang masih duduk, tanpa menikmati makanan yang diberikan oleh sang suami. Sepiring selad Solo dan segelas ice cream hanya diletakan di atas meja. Alya merasa sudah tidak berselera menyantap keduanya.


Arif pun ikut tertawa mendengar ucapan Raikhan.


"Pantas saja, Alya bilang kalau dia bahagia dengan pernikahan kalian... Ternyata dokter cinta yang mempersuntingnya..."

__ADS_1


"Iya, tapi butuh perjuangan Rif untuk membuat istriku bahagia..."


Percakapan mereka terus berlangsung, seolah tanpa memperdulikan sosok wanita yang semakin jenuh, karena hanya duduk terdiam.


"Keren Mas perjuanganmu... Sulit lho membuat hati Alya luluh..."


Alya memberanikan diri memotong pembicaraan kedua pria itu.


"Mas, aku mau menemui Vita dan yang lainnya dulu ya..?"


"Mmm..., baiklah Sayang..."


"Dimana mereka Al..?"


"Aku juga belum tau Rif... Kalian lanjutkan dulu obrolannya..! Aku akan mencari mereka..."


"Aku antar Yank...?"


"Tidak usah Mas..."


*****************


Alya beranjak dari duduknya dan mulai melangkah meninggalkan kedua pria itu. Seketika matanya tertuju pada segerombol pria dan wanita yang sedang asik berbincang.


"Vita..." Alya memanggil sahabatnya, dan berjalan mendekat ke arah Vita yang sedang asik berbincang dengan sahabat-sahabat Alya yang lain.


"Alya.... Say kamu datang juga..." Vita memeluk Alya dengan erat. Setelah Vita melepas pelukannya, Dara pun berganti memeluk Alya.


Sedangkan Ardhi, Ale, Rudi beserta pasangan mereka, menjabat tangan Alya dengan erat.


"Mas Raikhan baru berbincang dengan Arif.." Jawab Alya dengan tersenyum.


"Loh.., mereka sudah saling mengenal...?"


"Iya Vit. Bahkan mereka terlihat sangat akrab..."


"Owhhh begitu ya...?"


"Huum Vit..."


Alya dan semua sahabatnya bercengkrama, bahkan mereka terlihat sangat bahagia, karena dipertemukan kembali. Hingga sesi foto bersama pun tiba.


Alya dan semua sahabat, berkumpul di panggung pengantin. Begitu juga dengan Raikhan dan Arif. Mereka berfoto bersama kedua mempelai dengan berbagai pose. Nampak Raikhan selalu berada di sisi sang istri.


Arif yang melihat kemesraan Raikhan dan Alya merasa terbakar cemburu. Namun apalah daya, dia hanya sahabat bagi si wanita yang dicintai.


Meski teramat sakit melihat mereka berdua, namun Arif bersyukur, karena Alya dimiliki oleh seorang pria yang baik, dan bertanggung jawab.


"Berbahagialah selalu Al..." Bisik Arif dalam hati.


Setelah berfoto bersama, mereka pun berpamitan kepada kedua mempelai.....


****************


Bertemu dengan Alya merupakan kebahagiaan bagi Arif. Ia menganggap, bahwa Alya adalah alasan untuk selalu pulang ke Jogja. Wanita itu bagaikan kampung halaman yang selalu dirindukannya.

__ADS_1


Usai meninggalkan hotel, Arif melajukan motornya menuju Alun-alun Selatan. Tempat dirinya dan Alya pernah mengukir kenangan.


Arif duduk sendiri di atas tikar, menikmati wedhang rondhe kesukaan Alya. Sesekali pria itu menghela nafas dengan berat. Ada rasa sesak di dalam dada, karena tak mampu meraih cinta yang lama terpendam.


"Andai saat itu, aku mampu mengungkapkannya... Pasti kamu akan menungguku Al. Aku hanya pria pengecut yang merasa kalah sebelum berjuang..." Ucap Arif di dalam hati. Matanya menerawang melihat langit yang bertabur bintang.


"Al..., di tempat ini terukir indah kenangan kita berdua. Bahkan saat terakhir kita akan berpisah untuk kedua kalinya. Harusnya aku lebih peka dengan sambutan perhatianmu Al..." Dada Arif semakin sesak, terlihat buliran bening yang menghiasi wajah tampannya.


Arif melepas kaca mata tipis yang bertengger di hidung mancung. Ia menyeka tetesan air mata dengan jemari tangan.


Pria itu menghela nafas dalam-dalam untuk meredakan emosi.


Andai saja waktu bisa kembali ke masa lalu, ingin rasanya pria itu memilih memperjuangkan cintanya. Namun karena kesalahan yang tak mampu tertebus, ia pun hanya bisa menangisi kenyataan........


****************


Pulang ke kotamu


Ada setangkup haru dalam rindu


Masih seperti dulu


Tiap sudut menyapaku bersahabat


Penuh selaksa makna


Terhanyut aku akan nostalgia


Saat kita sering luangkan waktu


Nikmati bersama Suasana Jogja


Di persimpangan langkahku terhenti


Ramai kaki lima Menjajakan sajian khas berselera


Orang duduk bersila


Musisi jalanan mulai beraksi


Seiring laraku kehilanganmu


Merintih sendiri


Ditelan deru kotamu


**Walau kini kau t'lah tiada tak kembali


Namun kotamu hadirkan senyummu abadi


Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi


Bila hati mulai sepi tanpa terobati


(Katon Bagaskara-Kla Project) šŸ’”

__ADS_1


__ADS_2