Cinta Gadis Biasa "Alya"

Cinta Gadis Biasa "Alya"
[POV.AUTHOR] Pertemuan


__ADS_3

Sengatan sinar sang surya semakin membakar tubuh, dan hati pun akan merasakan panasnya, bila tidak mampu berdamai dengan takdir.


"Bima ...." Kirana berlari ke arah pria yang berdiri tidak jauh darinya.


Abimana menatap sahabatnya lekat - lekat. Tangisan Kirana semakin menjadi, dokter cantik menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Abimana yang merasa empati pun, meraih tubuh sahabatnya dalam pelukan.


"Kiran, apa yang telah terjadi?" Suara Abimana terdengar serak.


Kirana menjawab pertanyaan itu dengan terisak, "Bim, Alya sudah melahirkan. Ta ... tangan ini yang membantu mengeluarkan bayi mereka. Sungguh meski berusaha untuk tegar dan ikhlas, hatiku sangat terluka Bim."


Abimana menghela nafas panjang, dadanya pun serasa sesak. Seolah luka yang tergores di hati Kirana, sama seperti goresan di hatinya. Abimana menepuk - nepuk punggung Kirana dengan pelan.


"Kita saling menguatkan, Kirana. Semoga ketika bertemu dengan mereka, aku juga dapat menguasai perasaan yang sangat menyakitkan ini. Trimakasih telah membantu Alya. Kamu hebat Kiran, mampu bersikap profesional meski hatimu terluka."


"Iya Bim. Aku hanya ingin melihat mereka bahagia. Andai perasaan yang menyakitkan ini dapat kubuang jauh - jauh."


Abimana melepas pelukannya dengan perlahan. Meski sulit untuk tersenyum, ia berusaha untuk memberikan seulas senyuman kepada Kirana. Pria tampan bermata teduh, mengusap tetesan air mata Kirana dengan jemari tangannya.


"Semangat untuk kita Kiran! Mari kita hadapi bersama!"


"Heem Bim. Sebentar lagi Alya akan dipindah ke ruangan rawat inap. Kamu sudah boleh menemui Raikhan dan Alya. Persiapkan hatimu, tetap jaga emosi, jangan pernah menyalahkan siapa - siapa, Bim!"


"Iya Kiran. Aku sudah mempersiapkan hatiku. Apa pun yang terjadi sudah kehendak-Nya."


Tanpa Abimana dan Kirana sadari, semua pandangan mata orang - orang yang berada di sekitar, tertuju ke arah mereka berdua. Begitu juga dengan Ayah Hasan dan Bu Arini, tatapan kedua netra mereka tidak terlepas dari kedua insan yang terlihat begitu dekat.


"So sweet bangettttt ...." Ucap salah seorang ABG yang sedang duduk terpaku melihat Abimana dan Kirana.


"Dokter Kirana, uhmmmm ... buat iri dech." Timpal yang lain.


"Yah, sepertinya mereka berdua sangat cocok." Ucap Bu Arini dengan mata berbinar melihat putranya yang terlihat sangat perhatian dengan Kirana.


"Iya Bu. Tapi tidak seharusnya putra kita memeluk anak gadis yang belum dihalalkan. Apa kata orang nanti??" Balas Ayah Hasan dengan memberikan argumentnya.


"Iya sich Yah. Tapi mungkin saja Abimana spontan melakukannya. Apalagi melihat Kirana yang sedang menangis, hati putra kita teramat lembut Yah, jadi mudah empati."


"Hemmmzzz, iya Bu. Andai sudah halal, ya sah - sah saja, mereka mau berpeluk. Tapi ya ... achhh sudahlah, Ayah tidak mau membahasnya lagi."


"Hhhehe, jangan - jangan Ayah juga ingin memeluk Ibu ya??" Bu Arini tersenyum lebar menggoda suaminya.


"Achhhh Ibu, tau saja apa yang diinginkan Ayah. Tapi nanti kalau kita sudah berada di rumah ya Bu, meluknya lebih romantis." Balas Ayah Hasan dengan disertai tawa.

__ADS_1


Abimana mengajak Kirana untuk duduk di bangku panjang. Mereka kini duduk bersebelahan.


***************


Terlihat rombongan keluarga Alya dan Raikhan berjalan semakin mendekat. Jantung Abimana berdegup sangat kencang. Ada rasa kerinduan yang menyeruak ketika melihat Mama Shela, Papa Abraham, Bu Fatimah, Asti dan Hana.


Rombongan keluarga Alya dan Raikhan menghentikan langkah, manakala pandangan mata mereka tertuju pada seorang pria tampan yang tengah duduk berdampingan dengan seorang dokter muda nan cantik.


"Bima, Kirana." Ucap Mama Shela setengah berteriak.


Semua terkejut melihat Abimana, seolah tidak percaya jika pria tampan itu masih hidup. Bahkan buliran - buliran bening terlihat mulai menetes di kedua sudut netra mereka.


Abimana dan Kirana beranjak dari duduk. Mama Shela memeluk Abimana dengan erat.


"Bima, kamu masih hidup Sayang. Tante sangat merindukanmu Bim. Benarkah ini kamu Bim??"


"Iya Tante, ini Bima. Alhamdulillah Bima masih diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup." Abimana membalas pelukan Mama Shela.


"Maafkan Raikhan Bim, maaf!" Ucap Mama Shela dengan terisak.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan Te. Semua sudah kehendak-Nya."


Mama Shela perlahan melepas pelukannya begitu juga Abimana. Mama mertua Alya berganti memeluk Kirana.


"Nak Abi. Ya Allah." Bu Fatimah tidak mampu berkata - kata. Beliau pun memeluk Abimana dengan erat.


"Bu, maafkan Abimana!" Abimana membalas pelukan Bu Fatimah. Si pria tampan tidak mampu lagi mencegah buliran - buliran bening yang menetes dari kedua sudut netranya.


"Justru Ibu mewakili Alya untuk meminta maaf kepadamu Nak Abi. Bukan maksud putri Ibu, mengkhianati cinta kalian."


"Alya tidak bersalah Bu. Semua terjadi karena kekhilafan saya."


"Bagaimana Nak Abi bisa selamat?" Bu Fatimah melepas pelukannya, dan menatap Abimana lekat - lekat.


"Panjang ceritanya Bu." Abimana mulai menceritakan secara detail tentang kecelakaan yang dialaminya hingga ia diselamatkan oleh Pak Arya dan Suci.


"Masya Allah, begitu besar cinta-Nya kepadamu Nak Abi."


"Iya Bu, Alhamdulillah."


"Mas Abi ...." Hana dan Asti secara bersamaan memeluk tubuh Abimana, hingga tubuh si pria tampan sedikit terdorong ke belakang.

__ADS_1


"Asti, Hana, adik - adikku." Abimana membalas pelukan mereka berdua.


"Mas, jangan pergi lagi!" Pinta Asti dengan diiringi isakan.


"Iya Mas. Kami sangat menyayangimu. Meski Mas Abi tidak jadi menikah dengan Mbak Alya." Imbuh Hana juga diiringi dengan isak tangis.


Kedua adik Alya sangat menyayangi Abimana, karena kepribadian yang dimiliki oleh mantan calon suami kakak mereka, sangat istimewa. Selain kharismatik, tampan, berakhlak baik, supel, Abimana juga merupakan tipekal pria penyayang.


"Iya, In shaa Allah Mas Abi tidak akan pergi lagi." Balas Abimana dengan memberikan senyuman hangat.


Mereka bertiga pun saling melepas pelukan. Papa Abraham yang sedari tadi berdiri dengan menahan keharuan, memeluk Abimana, meluapkan kebahagiaan dan kerinduan.


"Bima, Alhamdulillah Om masih bisa bertemu denganmu lagi. Betapa hancurnya hati kami, ketika mengira kamu telah tiada Bim."


Abimana membalas pelukan Papa Abraham dan membalas ucapan beliau, "Iya Om, Alhamdulillah."


"Maafkanlah kami yang telah menikahkan Alya dengan Raikhan!"


"Sudahlah Om, tidak ada yang perlu dimaafkan. Asalkan Alya dan Raikhan bisa meraih kebahagiaan mereka, In shaa Allah Bima ikhlas."


"Sungguh mulia hatimu Bim." Mereka pun saling melepas pelukan.


Mama Shela masih berdiri di samping Kirana. Wanita cantik itu sungguh tidak menyangka dianugerahi berlipat - lipat kebahagiaan pada hari ini.


Mulai dari berita kelahiran cucu yang sudah sangat dinantikan, bertemu dengan Abimana yang ternyata masih hidup, dan bertemu Kirana, sahabat putranya yang dulu sangat akrab dengan keluarga mereka.


Mama Shela dan Kirana pernah melakukan kegilaan berdua. Mama Shela sering mengajak Kirana bergoyang poco - poco. Mereka juga pernah memberi bogem mentah kepada pencopet, ketika berbelanja di pasar tradisional. Sebenarnya sifat kedua wanita yang berbeda generasi itu hampir sama, namun satu yang berbeda, Kirana tidak suka berkumpul dengan para sosialita.


"Kirana, Tante sangat merindukanmu. Mengapa kamu menghilang gadis cantiknya Tante?"


"Maaf Te, setelah lulus SMA Kirana pergi ke Jakarta, dan kuliah di sana."


"Selepas kepergianmu, Raikhan berusaha mencari sahabatnya yang cantik ini." Ucapan Mama Shela seketika membuat dada Kirana berdesir.


"Mencari Kirana, Te?"


"Iya Sayang. Putra Tante merasa sangat kehilanganmu. Raikhan menyusul sahabatnya yang cantik ini ke Jakarta, namun nihil. Putra Tante tidak berhasil menemukan keberadaanmu, Kirana." Jawaban Mama Shela menggetarkan hati si dokter cantik. Kirana tidak pernah menyangka, jika Raikhan pernah menyusulnya ke Jakarta.


"Benarkah apa yang Tante ucapkan?" Kedua mata Kirana nampak berkaca - kaca. Ada rasa sesal, mengapa dulu ia pergi meninggalkan Raikhan tanpa pamit, dan tidak berusaha memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya.


"Benar Sayang." Mama Shela menjawab pertanyaan Kirana dengan disertai seulas senyuman.

__ADS_1


šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“


Bersambung ....


__ADS_2