
š Kupeluk kedua tubuh luapkan kerinduan, tangis haru iringi kebahagiaan yang tertoreh di lembaran baru kisah hidup. Kan kusapa hari dengan senyum penuh rasa syukur š
~ flasback on Abimana ~
Semilir sang bayu memainkan rikma si pemuda tampan, yang kini tengah berbahagia karena telah kembali pulang. Tarian dedaunan, seolah ikut menyambut kehadiran seseorang yang teramat dinanti sang pemilik rumah.
Abimana perlahan membuka pintu gerbang. Ada rasa bahagia bercampur haru. Pria tampan itu mempersilahkan Pak Tama untuk melajukan mobil dan menaruhnya di halaman rumah.
Pak Tama dan Abimana berjalan semakin mendekati teras rumah. Tangan dan kaki pemuda tampan gemetar. Pak Tama yang memahami Abimana, akhirnya mewakili mengetuk pintu rumah dan mengucapkan salam.
Tok ... tok ... tok ...
"Asalamu'alaikum .... "
Setelah beliau mengucap salam tiga kali, terdengar balasan dari dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam .... "
Klekkkk ....
Pintu pun terbuka perlahan. Nampak seorang ibu paruh baya berdiri di baliknya. Pandangan mata beliau menatap heran ke arah Pak Tama. Kemudian berganti pada pria muda yang wajahnya sangat tidak asing.
"Ya Allah." Teriak Bu Arini, sembari menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Netra beliau mengeluarkan butiran air mata.
Bu Arini berjalan mendekati putra semata wayangnya.
"Bima, benarkah ini kamu Nak?" Kedua tangan ibunda Abimana meraih wajah putra yang dirindukan.
"Benar Bu, ini Bima putra Ibu." Abimana tidak bisa menahan air mata yang tertumpah dari kedua sudut mata teduhnya. Ia pun memeluk sang ibu dengan erat.
"Ibu .... "
"Abimana putraku, hiks ... hiks .... "
Keduanya saling berpelukan diiringi tangis, luapan kerinduan. Pak Tama masih berdiri di tempat yang sama. Beliau juga merasakan suasana haru. Kedua manik hitam Pak Tama nampak berkaca - kaca.
Bu Arini semakin mengeratkan pelukannya, seolah tidak ingin terpisah lagi dengan putra yang sangat dicintai.
Ayah Hasan tiba - tiba berjalan ke arah mereka, beliau bertanya - tanya dengan apa yang sedang terjadi? Mengapa terdengar isak tangis? Ayah Hasan seketika terkejut, saat melihat istri dan putranya saling berpelukan. Beliau pun berjalan semakin mendekat.
"Ya Allah, Le. Mimpi apa kami semalam? Ya Allah Gusti, puji syukur kami pada-Mu. Kamu masih hidup Bim." Ayah Hasan pun ikut memeluk putra yang sangat dirindukan kehadirannya kembali. Kini mereka bertiga saling berpelukan. Tangisan kebahagiaan bercampur keharuan memenuhi rumah kedua orang tua Abimana.
Pak Tama menelan salivanya melihat pemandangan yang sangat mengharukan.
Setelah menuangkan kerinduan dengan berpeluk, mereka bertiga pun perlahan saling melepas pelukan.
Ayah Hasan mulai menyadari ada tamu yang sedari tadi memperhatikan mereka bertiga.
__ADS_1
"Owh, maaf saya tidak menyadari kalau sedang ada tamu."
"Tidak apa - apa Pak. Perkenalkan, nama saya Tama. Saya kemari hanya ingin mengantarkan Nak Bima ke rumah njenengan." ( kamu dalam bahasa Jawa )
"Saya ayah dari Abimana, Hasan." Mereka berdua saling berjabat tangan.
"Trimakasih karena telah menolong putra kami, Pak Tama."
"Sama - sama Pak. Saya hanya menjalankan amanah."
"Mari silahkan masuk dulu, Pak Tama!" Ayah Hasan mempersilahkan masuk tamunya.
Mereka berempat melangkahkan kaki menuju ruang tamu. Setelah sampai di ruang tamu, Ayah Hasan mempersilahkan ketiganya untuk duduk di sofa.
"Alhamdulillah, anak kami yang dikira sudah tiada ternyata masih hidup. Kami selaku kedua orang tua Abimana merasa berbahagia dan sangat berterimakasih kepada Bapak." Ayah Hasan membuka percakapan.
"Sebenarnya saya hanya menjalankan amanah dari Pak Arya. Beliau dan putrinya yang telah menolong Nak Mas Bima. Beliau memohon maaf tidak bisa ikut mengantarkan putra njenengan."
"Masya Allah, dengan apa kami akan membalas budi baik mereka berdua?"
"Mereka berdua tidak mengharapkan balasan apa pun, hanya doa dari Bapak sekeluarga."
"Sungguh mulia hati keduanya."
"Betul Pak. Keduanya memang terkenal berhati mulia di desa kami."
Bu Arini beranjak dari duduknya, diikuti oleh Abimana.
"Maaf, saya permisi mau ke dapur sebentar."
"Njih, monggo Bu." Balas Pak Tama dengan dihiasi seulas senyum.
Bu Arini dan Abimana berjalan menuju dapur. Sesampai di dapur, Bu Arini menata empat buah cangkir di atas nampan. Beliau membuat minuman berupa kopi hitam, sembari berbincang dengan putranya.
"Bim, rasanya Ibu ingin pingsan ketika melihatmu lagi, Cah Bagus. Ibu teramat bahagia, kamu masih diberikan usia."
"Iya Bu, Alhamdulillah. Bima yakin ini berkat doa Ayah, Ibu, dan Alya." Balas Abimana dengan tersenyum lebar.
Deg ....
Dada Bu Arini berdesir ketika putranya mengucap nama Alya. Wajah beliau berubah menjadi sendu. Entah apa yang akan disampaikan kepada Abimana mengenai mantan calon istrinya.
"Bu, mengapa wajah Ibu terlihat sendu?" Abimana menatap Ibunya lekat - lekat.
Bu Arini menghela nafas panjang.
"Ibu hanya terharu melihat keadaanmu Bim. Nanti setelah makan siang dan bersantai, ceritakan bagaimana kamu bisa selamat dari maut! Dan jasad siapa yang ditemukan hancur?"
__ADS_1
Abimana terkejut dengan pertanyaan ibunya tentang jasad yang hancur.
"Apa Bu, jasad yang hancur?"
"Iya Bim. Di tempat kejadian, polisi menemukan jasad seorang pria yang hancur karena mobilmu meledak. Mereka menemukan tasbih biru kesayanganmu tercecer di samping mobil. Sekarang tasbih itu disimpan oleh Alya."
"Mungkinkah itu jasad Roni?" Tubuh Abimana serasa lemas tak berdaya. Ia baru ingat, ketika mengalami kecelakaan, Roni menumpang mobilnya. Bahkan ketika Pak Arya bercerita pada Abimana atau pun kepada Pak Tama, tidak terlalu detail.
Abimana berusaha menyangga tubuhnya dengan bersandar di dinding. Pemuda tampan itu membayangkan, bagaimana perasaan kedua orang tua Roni, jika mendengar kabar, bahwa putra mereka telah tiada. Raut wajah Abimana terlihat sendu.
Bu Arini mencoba menenangkan putra kesayangan dengan mengusap pundak Abimana.
"Yang sabar Cah Bagus! Besok kalau hatimu sudah siap, kami akan mengantarkan ke rumah Roni, bertemu dengan kedua orang tuanya untuk memberitahukan bahwa Roni telah tiada."
"Iya Bu. Abimana belum siap bertemu dengan kedua orang tua Roni. Apalagi kalau harus mengabarkan berita duka."
"Yasudah, karena kopinya sudah jadi, Ibu mau mengantar minuman ini dulu. Sekalian bawakan camilan yang ada di toples ya Bim!"
"Njih Bu." Balas Abimana dengan raut wajah yang masih sendu. Mereka pun berjalan menuju ke ruang tamu.
*********************
Bu Arini mempersilahkan Pak Tama untuk meminum secangkir kopi hitam dan menikmati camilan, berupa emping yang terbuat dari ketela.
Abimana dan sang ibu duduk kembali di sofa, dan melanjutkan perbincangan dengan Ayah Hasan beserta Pak Tama.
Usai sholat dzuhur dan makan siang bersama, Pak Tama berpamitan.
"Hati - hati ya Pak Tama! In shaa Allah kami sekeluarga akan bersilaturahim ke rumah Njenengan di lain waktu." Ayah Hasan, Bu Arini, dan Abimana menjabat tangan Pak Tama secara bergantian.
"Njih Pak Hasan, kami tunggu kedatangan Bapak beserta keluarga. Oiya Nak Bima, sampaikan salam saya kepada calon istrimu, Alya!" Pak Tama tersenyum lebar seolah sedang menggoda Abimana.
Ayah Hasan dan Bu Arini saling berpandangan. Lidah mereka serasa kelu.
"Siap Pak Tama. In shaa Allah, akan saya sampaikan salam Bapak kepada Alya." Balas Abimana dengan rona merah di wajahnya.
"Asalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam Pak Tama." Jawab ketiganya hampir bersamaan.
ššššššššššššš
Readers ....
Jangan lupa tinggalkan like, komentar, rate 5, dan vote jika berkenan mendukung author.
Trimakasih šš
__ADS_1