
Pagi ini hujan turun begitu deras, tapi niatan untuk berangkat kerja tetap kuat. Sebenarnya Mas Abi meneleponku, ia ingin menjemput dan mengantarkan ke tempat kerja. Namun aku tolak, karena jarak rumahnya yang cukup jauh.
Akhirnya aku memesan taksi online. Tanpa menunggu lama, taksi itu sudah sampai di depan gang. Setelah mempersilahkan ku masuk, pak sopir melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Aku membawakan salak pondoh hasil petikan dari kebun Mas Abi, untuk semua rekan kerja.
Setelah menempuh perjalanan selama sepuluh menit, akhirnya taksi yang membawaku tiba di seberang jalan toko Bu Marta.
Aku keluar dari taksi, setelah memberikan uang pada pak sopir.
"Duh.., aku lupa nggak bawa payung. Gimana nich...?" Gumamku sendiri. Inginnya nekat menerobos derasnya hujan, namun ragu.., pasti baju seragamku akan basah kuyup.
Tiba2 ada seseorang yang berdiri tepat di sampingku, dia membawa payung.
"Hai.., gadis polos.. Ayo aku payungi...!!" Terdengar suara yang familiar. Rupanya seseorang yang membawa payung itu, Mas Raikhan.
Aku hanya tertegun menatapnya.
"Hhaha..., kenapa malah bengong? Terpesona ya...?? Hhhhehe..."
"Ma..Mas Raikhan, kog ada di sini Mas?" Aku heran mengapa pria berwajah Korea ini, tiba2 ada di sampingku.
"Aku sengaja pagi2 lewat depan toko Al. Kata Lisa, hari ini kamu masuk kerja. Terus, kamu masuknya lebih awal dari pada semua temanmu... Hmmm.., kemarin aku bawakan ice cream, tapi si gadis polos nggak ada di toko..."
"Owhh, iya Mas..., maaf kemarin aku nggak masuk. Trimakasih ice creamnya.." Ucapku dengan bibir gemetar karena menahan dingin.
"Iya nggak papa Al, sepertinya kamu kedinginan? Pakai jaketku ya..." Mas Raikhan melepaskan jaketnya, kemudian ia pakaikan padaku.
"Sudah Mas, nggak usah.." Aku mencoba melepas jaket miliknya, namun Mas Raikhan tetap berusaha mencegah.
"Jangan membantah gadis polos!! Ayo aku antarkan sampai ke toko..."
"I..iya Mas..." Kami melangkahkan kaki, menyeberangi jalan menuju toko tempatku bekerja.
Sesampainya di depan toko, aku langsung membuka rolling door dengan kunci khusus.
Aku dan Mas Raikhan berjalan masuk ke dalam toko.
"Duduk di sini dulu ya Mas..!! Aku mau membuka pintu lainnya."
"Aku bantuin ya Al..?"
"Nggak usah Mas, aku bisa sendiri kog. Aku mengerjakannya pelan2, sekalian menunggu semua teman yang lain datang..."
"Owh.., gitu ya...?? Lebih baik kamu juga duduk dulu Al..!! Wajahmu agak pucat, pasti karena kedinginan..."
__ADS_1
"Hheem Mas..." Kemudian aku duduk bersebelahan dengan Mas Raikhan dan melepas jaket miliknya.
"Makasih ya Mas jaketnya.." Aku memberikan jaket itu pada Mas Raikhan.
"Simpan saja Al, pakailah ketika kamu membutuhkannya...!! Aku masih punya stock jaket banyak, hhhehe...."
"Maaf Mas, aku tidak bisa menerimanya.."
"Kenapa Al...? Apa kamu tidak suka dengan bahan..., atau motifnya?"
"Bukan.., bukan itu Mas..?"
"Lalu..?" Mas Raikhan menatapku lekat. Aku sungguh merasa tidak nyaman dengan tatapannya. Hufftt..., aku menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Mas Raikhan.
"Ma..maaf Mas, ada satu hati yang harus aku jaga..."
"Kamu bohong kan Al??"
"Aku tidak bohong Mas, aku sudah mempunyai calon suami..."
Mas Raikhan terdiam sejenak mendengar perkataanku, ia menghela nafas sebelum berucap.
"Kalau kamu sudah punya calon suami, kenapa dia membiarkanmu berangkat kerja sendiri..?? Hujannya deras lho Al. Apa sedikitpun pria itu tidak perhatian padamu?"
"Dia sangat perhatian Mas, hanya saja rumahnya jauh. Aku tidak ingin terlalu menyusahkan calon suamiku...."
"Maksudmu Mas...?"
"Sudahlah Al, aku akan pulang sekarang. Mulai saat ini, aku akan berusaha untuk tidak menemuimu, gadis polos..."
"Mas, tapi aku ingin tau.., maksud perkataan Mas Raikhan itu apa?" Aku mendesak Mas Raikhan untuk menjelaskan semua ucapannya.
"Benar kamu ingin tau Al..?" Ia kembali menatapku lekat.
"I..iya, Mas..."
"Baiklah Al.., aku akan jujur. Sebenarnya aku tertarik pada gadis polos yang selalu bersikap apa adanya di depan seorang Raikhan. Setelah bertemu dengannya..., aku mulai bisa tertawa kembali, dan hidupku serasa penuh keceriaan, setelah sekian lama diri ini dirundung sepi... Gadis itu kamu, Alya...."
Gleggg...
Aku teramat terkejut mendengar pernyataan Mas Raikhan. Kami belum lama saling mengenal, tak pernah aku menyangka dia bisa tertarik dengan seorang gadis biasa sepertiku.
Aku hanya terdiam, tanpa membalas ucapan Mas Raikhan.
"Al...., maafkan pria ini yang lancang mempunyai perasaan pada kekasih orang lain. Maaf, jika selama ini membuatmu tidak nyaman dengan kehadiranku. Asal kamu tau Al, perasaan ini tulus..., meski kita belum lama saling mengenal. Jika nanti kamu merasa tidak bahagia bersamanya, datanglah padaku..!! Aku akan memberikan kasih sayang yang lebih darinya..." Ucapan Mas Raikhan dengan raut wajah sendu.
__ADS_1
Aku simpati pada Mas Raikhan, dia pria tampan, baik hati, dan perhatian. Namun dalam hatiku hanya ada satu nama "Abimana". Sampai kapanpun nama kekasihku itu akan selalu terukir di kalbu, dan tak akan pernah terganti.
"Maafkan Alya Mas..., tidak bisa membalas perasaanmu yang tulus. Aku yakin, suatu saat nanti Mas Raikhan akan bertemu dengan wanita yang lebih baik dari gadis ini. Maaf ya Mas..." Balasku dengan menatap wajahnya yang sendu.
"Iya Al..., semoga gadis polosku selalu bahagia. Simpan nomerku Al!! Mungkin suatu saat nanti kamu akan membutuhkan pria ini."
"Iya Mas. Trimaksih atas kebaikan dan perhatianmu... Berapa nomermu Mas?"
"Sini, ponselmu..!! Aku tuliskan nomerku Al.."
Aku memberikan ponsel pada Mas Raikhan. Ia menerimanya, kemudian menuliskan nomer 12 digit di ponselku.
"Nah, ini nomerku ya gadis polos... Jangan sungkan untuk menghubungi Turis Korea ini kalau kamu butuh... Bye innocent girl..."
"Iya Mas, maafkan Alya...."
Mas Raikhan beranjak dari duduknya, dan melangkahkan kaki keluar dari toko. Ia berlari kecil menyeberangi jalan, menerobos hujan deras tanpa payung,
"Mas...payungnya..." Teriakku sambil mengejar Mas Raikhan. Namun pria itu tak peduli. Dia tetap berlalu, dan masuk ke dalam mobil. Mas Raikhan melajukan mobilnya dengan kencang.
Ada perasaan bersalah di hati ini. Tapi aku tak mungkin membalas perasaan pria itu, bila di hati seorang Alya hanya ada Mas Abi.
*********
Setengah jam berlalu, satu persatu rekan kerjaku mulai tiba di toko. Mereka menyapa dan membantu membersihkan ruangan, serta mendisplay barang.
Nampak Lisa berlari kecil dan masuk ke dalam toko. Kemudian ia menyapaku.
"Hehhhe..., pagi Mbak Alya..."
"Pagi juga Lisa centilll.."
"Mbak, katanya bawain salak pondoh... Mana?"
"Aku taruh di belakang meja Lis.., dah sana simpan dulu tasmu di loker...!!"
"Siap Mbak Say... Cie..yang habis ketemu sama camer....hhhhehe..." Lisa tertawa menggodaku, ia pun berjalan ke loker untuk menyimpan tasnya.
Aku mulai mengecek catatan pesanan dari para customer. Di salah satu lembar buku catatan itu tertulis, ada pesanan atas nama Raikhan berupa satu set teko dengan ukiran huruf "ALYA"....
Kembali aku teringat kejadian tadi pagi, ketika pria berwajah Korea itu berlari ditengah derasnya hujan disertai hati yang patah. Betapa merasa bersalahnya aku..., namun apalah daya si gadis yang telah menjatuhkan hatinya untuk satu orang kasih saja.
"Mas Raikhan...., maafkan Alya..." Bisikku dalam hati sembari menatap ke luar, nampak rintik hujan masih membasahi bumi.
šššššššššššššš
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, rate 5, vote, plus koment kritik dan saran....
gamsahabnida šššššš