Cinta Gadis Biasa "Alya"

Cinta Gadis Biasa "Alya"
Pertemuan dengan Calon Mertua


__ADS_3

Mobil Mas Abi melaju, melewati jalanan kota Yogya yang lumayan padat.


Ketika berhenti di perempatan lampu merah, nampak segerombol musisi jalanan yang sedang memainkan alat musik calung berbahan dasar bambu, di trotoar.


Mereka memainkannya dengan sangat lihai, sehingga mampu menghipnotis para pengendara sepeda motor dan mobil yang sedang berhenti. Kami terpukau bahkan menikmati alunan suara nan merdu yang keluar dari alat musik itu.


Salah satu musisi, ada yang bertugas berkeliling membawa kaleng bekas tempat wafer. Mas Abi mengambil uang kertas yang berwarna biru, dan memberikannya kepada si musisi. Mata binar terlihat dari tatapannya.


"Matur nuwun Mas..., trimakasih nggeh..." Ucapan terimakasih dari si musisi disertai senyuman lebar.


"Nggeh Mas..., sama2..." Balas Mas Abi dengan memberikan senyum khasnya yang teramat manis.


Lampu merah berganti hijau, Mas Abi mulai melajukan mobilnya kembali.


Kali ini kami melewati Jalan Kaliurang. Orang2 biasa menyebutnya dengan Jakal.


************


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 30 menit, kami pun sampai di depan rumah Mas Abi. Ternyata kekasihku ini beserta keluarga, bertempat tinggal di daerah Sle***. Tepatnya, tidak jauh dengan lokasi desa wisata omah salak.


Rumah Mas Abi ber cat warna biru laut berpadu dengan warna biru abu2, yang menampakkan kesan artistik. Di depannya ada gerbang yang tidak terlalu tinggi. Halamannya sangat luas, dan dipenuhi dengan tanaman hias yang menghijau.


Setelah memasuki gerbang dan menaruh mobil di garasi rumah, Mas Abi mengajakku keluar dari mobil. Kami berjalan ke teras, pintu rumah nampak tertutup.


Mas Abi memencet tombol yang ada di samping pintu dan mengucapkan salam.


Ting...tong.... Ting...tong....


"Assalammuallaikum..., Ayah.., Ibu...."


"Waallaikumsalam..." Balasan salam dari dalam rumah.


Krekkk.... Pintu itu pun terbuka dengan perlahan.


"Ya Allah...Bima...." Nampak seorang wanita paruh baya dari balik pintu, beliau menggunakan jilbab berwarna coklat muda.


"Iya Bu..., nich Bima bawakan calon menantu untuk ayah dan ibu..." Ucap Mas Abi dengan tersenyum melirikku.


Calon ibu mertua tersenyum padaku. Aku mendekat pada beliau dan mengucapkan salam serta mencium tangannya.


"Ayo..Nak, masuk ke dalam!!" Beliau menggandheng erat tanganku.


"Nggeh Bu.."


Kami melangkahkan kaki menuju ruang keluarga. Di sofa, nampak ayah Mas Abi sedang menikmati kopi hitam dan duduk dengan santai melihat acara TV.


"Yah..., calon menantumu datang...." Ucap Ibu Mas Abi setengah berteriak.


Calon ayah mertua yang mendengar suara beliau, cukup terkejut dan seketika menoleh ke arah kami berdiri.


Ayah Mas Abi menatapku dengan intens, kemudian beliau tersenyum lebar.


"Ayo..duduk sini Ndhuk cah ayu...!!" Perintah beliau padaku.

__ADS_1


"Nggeh.., Ayah..." Balasku dengan tersenyum, kemudian duduk di sofa. Ibu dan Mas Abi pun duduk di sofa panjang yang sama, mereka bersebelahan denganku.


"Nak...., Bima sudah menceritakan semuanya tentang hubungan kalian. Ayah dan Ibu merasa sangat senang, akhirnya anak kami satu2nya memiliki calon isteri..." Ucap Ayah Mas Abi membuka perbincangan kami. Beliau berhenti sejenak.


Ibu beranjak dari duduk, dan melangkah masuk. Sepertinya beliau berjalan ke dapur.


Aku dan Mas Abi hanya menunduk mendengarkan apa yang dituturkan calon ayah mertua.


"Nak Alya..., kapan kamu bersedia untuk menerima lamaran dari Abimana?" Ayah Mas Abi menatapku dengan lekat.


Aku mulai menengadahkan wajah, mencoba membalas pertanyaan beliau. Rasanya hatiku dag..dig..dug... tak karuan. Aku mencoba untuk rileks.


"A..Ayah, sebelumnya Alya mengucapkan terimakasih karena Ayah dan Ibu sudah bersedia menerima saya sebagai calon menantu. Sa...saya bersedia menerima lamaran Mas Abi, kapan pun Ayah dan Ibu menghendaki...." Ucapku dengan bibir gemetar.


Ayah dan Mas Abi tersenyum, raut wajah mereka menunjukkan kebahagiaan.


"Baiklah Nak, In shaa Allah..nanti kami akan segera membicarakan acara lamaran dengan Ibunya Bima. Dan.. Ayah teramat bersyukur, kamu mau menerima Abimana..."


"Justru saya yang sangat bersyukur Yah, karena Mas Abi mau menerima saya apa adanya, disertai dengan ketulusan hati..."


Ibu Mas Abi berjalan mendekat ke arah kami, beliau membawa nampan yang di atasnya tertata empat gelas teh hangat dan camilan.


"Ayo monggo Nak Alya, diminum tehnya...!!" Ibu Mas Abi, mempersilahkan dengan memberikan senyuman hangat.


"Inggih Bu, matur nuwun..." Balasku sembari mengambil gelas yang berisi teh hangat, kemudian menyesapnya.


Kemudian beliau duduk lagi bersebelahan denganku.


"In shaa Allah, sudah Bu.."


"Syukur Alhamdulillah, sudah lama kami menginginkan Bima agar segera menikah, tapi katanya belum ada calon yang tepat. Namun, seminggu yang lalu dia bercerita semua hal tentang Nak Alya, Ibu jadi teramat bersyukur. Ibu takut, anak ibu semata wayang ini jadi perjaka tua...hhhehe..."


Aku tertawa kecil mendengar penuturan calon ibu mertua.


"Ehmm..ehmm..." Mas Abi hanya berdehem dan melirikku.


"Sudah adzan Ashar, kita jamaah sholat dulu ya Nak..." Ucap Ayah Mas Abi, beliau mengajak kami untuk sholat berjamaah.


********


Kami melangkah menuju mushola kecil, yang ada di dalam rumah itu.


Setelah berwudhu aku dan keluarga kecil Mas Abi mulai menjalankan sholat berjamaah dengan khusyu.


Usai salam, dzikir dan doa kami lantunkan. Memohon ampunan serta kebahagiaan dunia akherat.


Selesai menjalankan ritual ibadah itu, aku mencium tangan calon ibu mertua, beliau membalasnya dengan mengusap kepalaku penuh kasih sayang.


"Nak Alya.., kalau mau melihat kebun salak di belakang rumah silahkan lho... Nanti biar ditemani Bima...." Ucap beliau setelah melepas mukena.


"Nggeh Bu..." Balasku dengan tersenyum sambil melipat mukena dan menaruhnya ke dalam tas.


Kami berjalan keluar dari mushola. Kemudian Mas Abi mengajakku ke kebun salak yang ada di belakang rumah. Aku dan Mas Abi menuruni tangga yang tidak terlalu tinggi.

__ADS_1


Betapa takjubnya aku, begitu melihat kebun salak yang sangat luas dan rimbun. Buah salak pondohnya pun terlihat sudah siap dipanen.


"Menakjubkan ya Mas, kebun salaknya..."


"Iya Al..., kalau sayang mau.., aku petikkan buahnya..."


"Hmmm..., aku mau Mas..." Ucapku dengan mata berbinar.


"Baiklah...., tunggu sebentar ya Tuan Putri...hhhehe..." Mas Abi mulai memetik buah salak dengan hati2.


Dalam waktu lima belas menit, salak yang dipetik Mas Abi sudah terkumpul cukup banyak.


"Segini cukup nggak Al..?"


"Sudah cukup kog Mas..."


"Untung aku bawa beberapa kantung plastik, hhhehe. Sayang masukin ya salaknya..!! Tapi hati2, kulitnya tajam..."


"Okay...., siap Mas.."


Aku mulai memasukkan buah salak itu ke dalam kantung plastik dengan perlahan.


"Sayang..., hawa di rumahku dingin ya...?" Tiba2 Mas Abi bertanya dengan tersenyum lebar.


"Huum Mas...."


"Hmmm..cocok ya Al..?"


"Cocok apanya Mas...?"


"Ya cocok.., hhhaha..." Mas Abi tertawa, seolah ia sedang menggodaku. Aku menatapnya dengan heran, karena si gadis polos ini benar2 tidak mengerti apa yang ia maksud.


"Apanya sich Mas...?"


"Ya..., hawanya mendukung untuk pengantin baru...hhhhaha. Ups...keceplosan, maaf ya sayang, just kidding...hhhehe...."


"Mas Abi..., aku lempar lho pake salak..." Ucapku dengan nada mengancam.


"Hhhhaha..., ampun sayang.... Cuma bercanda kog, tapi....benerkan Al...?? Hhhehe..."


"Hhmmmm, iya sich... Yaa...., semoga aja kita segera dihalalkan Mas..." Balasku dengan tersenyum malu.


"Semoga ya Al..."


"Huum Mas, Bismillah..."


šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–


Jangan lupa tinggalkan like, rate 5, komen saran & kritik, serta vote ya readers...


Trimakasih šŸ˜šŸ˜šŸ™šŸ™šŸ™


Nb. diusahakan tiap hari up satu episode 😊

__ADS_1


__ADS_2