
Malam ini, aku duduk bercengkrama dengan Asti dan Hana di teras rumah. Seperti biasa, Ibu duduk santai di ruang tamu melihat acara TV kesukaan beliau.
Di tengah asiknya kami bertiga mengobrol, terlihat sosok pria yang sangat familiar.., berjalan semakin mendekat dengan menebarkan senyuman khasnya yang menawan ke arah kami.
"Assalammu'allaikum adik2 yang manis...?" Sapanya dengan suara yang lembut.
"Wa'allaikumsalam Mas Abi.." Balas kami hampir bersamaan.
"Al.., aku bawakan martabak kesukaan Ibu.." Ucap Mas Abi sambil menyerahkan bungkusan yang berisi martabak kepadaku. Aku menerimanya dan mengucapkan kata terimakasih.
"Terimakasih ya Mas.., Mas Abi mau masuk dulu..?"
"Aku duduk di sini saja Al.."
"Baiklah Mas. Asti.., Hana.., bawa martabak ini ke dalam ya, sekalian buatkan Mas Abi teh hangat...!! Hhhehe...." Aku menyodorkan bungkusan yang berisi martabak pemberian Mas Abi pada Asti.
"Siapp.., Mbak Al..." Balas Asti, kemudian ia dan Hana masuk ke dalam, meninggalkan aku dan Mas Abi di teras rumah.
"Duduk dulu Mas...!!"
"Iya.., Al.." Balas Mas Abi, kemudian duduk di kursi sebelahku.
"Alya.., bagaimana kabarmu hari ini..?" Tanya Mas Abi membuka pembicaraan kami.
"Alhamdulillah baik.., Mas.. Bagaimana kabar Mas Abi..?" Balasku dengan memberikan senyuman.
"Aku juga baik.., aku mampir ke sini karena kangen mendengar ceritamu Al..."
"Hhhehe..., Mas Abi bisa saja..."
"Bagaimana perasaanmu, ketika melepasnya pergi lagi Al..?" Mas Abi mulai bertanya tentang Arif, dengan pandangan menerawang ke langit.
"Aku.., aku memang sedih Mas, tapi kesedihanku sudah tidak begitu terasa lagi.. Aku sadar kog Mas, kami hanya bersahabat.. Aku juga menyayanginya sebagai sahabatku.." Balasku dengan tersenyum.
"Syukurlah Al.. Yakinlah akan ada pria yang mencintaimu dengan ketulusan.." Ucapan Mas Abi seolah mengerti apa yang tersirat dalam hatiku. Ya.., saat ini aku memang mengharapkan sosok pria yang mencintaiku dengan ketulusan. Hatiku kosong dan hampa.
"Iya Mas.., aku selalu yakin.. Semoga Allah segera mempertemukan aku dengan pria itu.." Balasku dengan suara lirih. Aku menatap ke langit, melihat rasi bintang yang melukiskan keindahan penciptanya.
"Al...., jika saat ini, pria itu ada di hadapanmu.., bagaimana..??" Ucap Mas Abi mulai memindahkan pandangannya dengan menatapku. Aku membalas tatapan itu.., dengan wajah malu. Entah mengapa aku merasa grogi melihat wajah dan senyum Mas Abi.
__ADS_1
"Ehmm.., mana mungkin Mas, yang ada di hadapanku sekarang kan hanya Mas Abi.." Jawabku dengan malu.
"Al.., sebenarnya.., aku juga sudah mengharapkan sosok seorang hawa yang mau menemaniku ketika senang ataupun sedih.. Aku juga ingin seorang gadis yang tulus.. Dan.., andai gadis itu kamu, betapa bersyukurnya aku..."
Deg...deg..deg...
Hatiku berdebar tak karuan, aku merasa ini hanya sebuah mimpi. Aku menangkup wajahku dengan kedua tangan, tidak percaya dengan apa yang diucapkan Mas Abi. Wajahku bersemu merah, duhh.., bagaimana ini...?? Aku tak mampu lagi menatap wajah Mas Abi.
"Al...., andai yang aku harapkan itu kamu, bagaimana perasaanmu..??" Mas Abi mengajukan pertanyaan yang membuat lidahku kelu.
"Ma..Mas Abi, bercandakan?? Ak..aku takut terbawa perasaan.. Aku takut terlalu bahagia.. Jangan membuatku terlalu berharap Mas...." Balasku dengan menunduk, karena super malu dan mencoba menahan gejolak di dada.
Tiba2 Asti datang membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat dan sepiring martabak.
"Mas Abi, silahkan diminum teh hangatnya...!" Asti mempersilahkan Mas Abi dengan sopan.
"Trimakasih Asti.." Balas Mas Abi dengan tersenyum.
"Mas Abi, Mbak Alya.., Asti ke dalam lagi ya..?"
"Iya As, makasih ya Dek.." Ucapku..., Mas Abi membalas ucapan Asti dengan mengangguk dan tersenyum.
"Al.., meneruskan pembicaraan kita tadi.. Aku tidak sedang bercanda.. Bila nanti kamu membalas perasaanku, aku ingin segera memperkenalkanmu dengan kedua orang tuaku..." Ucap Mas Abi dengan menatapku lekat.
"Ma..Mas Abi yakin dengan apa yang Mas ucapkan..?" Jawabku dengan bibir gemetar.
"Aku yakin Al.." Jawabnya mantab, dan pandangan kami saling beradu.
"Ak..aku teramat bahagia Mas mendengar ucapan Mas Abi, sampai bahagiannya.., seolah ini hanya sebuah mimpi.." Ucapku dengan menahan rasa yang semakin menggelora.
"Benarkah Al..??"
"Iya Mas... Tapi aku belum pernah bertanya tentangmu Mas, aku belum tau pekerjaan Mas Abi, di mana rumah Mas Abi..."
"Iya.., kamu hanya asik bercerita tentang duniamu, tanpa memperhatikan aku sedikitpun..." Ucap Mas Abi dengan pura2 bermuka masam.
"Ma..maaf Mas, bukan maksudku.."
Aku menyesal mengapa selama ini terlalu asik menjadikan Mas Abi hanya sebagai pendengar setiaku, tanpa ingin tahu latar belakang Mas Abi, bagaimana dengan kehidupannya. Ach.., tiba2 aku merasa teramat bersalah.
__ADS_1
"Sudahlah Al.., tidak apa2, aku faham kog.. Kapan kamu bersedia ku perkenalkan dengan ayah dan ibu..?" Pertanyaan yang dilontarkan Mas Abi, seketika membuat ku semakin sulit bernafas. Deguban jantungku semakin tak menentu.
"Al..."
"Ya..ya Mas.. Terserah Mas saja.." Jawabku spontan, karena bingung mau menjawab apa.
"Al.., apa kamu tidak ingin tau pekerjaanku? Apa kamu yakin.., aku ini orang baik2..?"
"Aku sangat yakin Mas Abi orang baik.. Aku tidak terlalu memperdulikan pekerjaanmu Mas, asal Mas Abi tulus.., itu sudah cukup..." Jawabku mantap, dengan menatap Mas Abi.
"Alhamdulillah kalau begitu Al.. Aku bersyukur.. Tentang pekerjaan, kapan2 aku akan mengajakmu ke tempat kerjaku Al..., hhhehe..."
"Baiklah kalau itu mau Mas Abi..., hhhehe. Mas.., sejak kapan mempunyai perasaan padaku?" Tanyaku penuh rasa ingin tau.
"Mm.., sejak pertama kita bertemu Al. Ketika melihatmu menangis di Bandara, membuat hatiku sakit. Padahal saat itu aku belum mengenalmu. Melihatmu yang rapuh, mendorongku ingin segera mendekat untuk menguatkanmu, melindungimu.., dan menjadi tempat yang nyaman untukmu berkeluh kesah..." Ucapan mas Abi yang begitu tulus, membuat air mataku menetes. Aku teramat bersyukur, sampai2 aku tak tau dengan apa akan berucap syukur padaNya.
"Alya Putri.. Aku mencintaimu karena Allah, bersediakah kamu hidup bersanding denganku??" Ucapan Mas Abi terdengar dalam.
Hampir saja aku tak bisa menjawabnya karena luapan kebahagiaan. Masih tak percaya dengan apa yang ku dengar.
Ya Allah..., apa benar Mas Abi yang selama ini Engkau persiapkan untuk menjadi jodohku, lelaki yang mencintaiku dengan ketulusan??
"Alya..?"
"Eh..mmm maaf Mas, ak..aku bersedia..." Ucapku dengan gemetar.
"Alhamdulillah.., terimakasih Alya...., terimakasih..." Ucapan Mas Abi disertai dengan matanya yang tampak berkaca-kaca.
Baru kali ini aku melihat pancaran kebahagiaan yang teramat sangat dari wajah Mas Abi. Begitu tampannya calon imamku ini, dengan senyuman manis yang terukir indah di bibirnya.
"Ak..aku yang harusnya berterimakasih Mas. Aku sangat bersyukur, seorang gadis biasa dicintai oleh pria yang luar biasa... Trimakasih Mas..." Ucapku dengan luapan rasa bahagia.
"Semoga kamulah jodohku Mas..." Bisikku dalam hati dengan penuh harap.....
šššššššššššššš
Jangan lupa tinggalkan rate 5, like, koment saran serta kritik
Trimakasih šššššš
__ADS_1