Cinta Gadis Biasa "Alya"

Cinta Gadis Biasa "Alya"
[POV.AUTHOR] Kelahiran Baby Alyra


__ADS_3

- Flashback on Abimana -


Tetesan embun pagi, bagai oase di tengah gersangnya hati. Membasuh raga, menyejukan sukma yang lara.


Hari berganti hari, Abimana berusaha tegar dalam penyamarannya menjadi karyawan mini market yang selalu memakai masker dan topi. Setiap ingin berkomunikasi dengan para customer, pria tampan itu selalu menuliskan kata - kata pada secarik kertas. Meski serasa sulit, semua itu rela ia lakukan demi wanita yang sangat dicintai, Alya Putri.


Meski hati dan raga sudah tidak mampu memiliki, namun keinginan untuk selalu bertemu dan menjaga sang mantan kekasih selalu membuncah.


Setiap kerinduan Abimana semakin menyeruak, pria tampan itu melakukan panggilan telepon ke nomor Alya. Meski tanpa suara, pria tampan merasa teramat bahagia bila mendengar Alya menjawab panggilannya.


Hingga tiba saatnya, ketika Abimana bisa berhadapan secara langsung dengan Alya. Mereka berbincang meski Abimana tanpa suara. Tak dapat dipungkiri, semakin sering bertemu, bertambah pula rasa cinta Abimana kepada sang mantan calon istri.


Namun, takdir cinta tidak berpihak kepada mereka berdua. Abimana hanya bisa mengikhlaskan apa yang tergores di setiap lembar buku takdir, tentang kisah cinta mereka.


( Baca episode yang telah lalu, mulai bab. 83 "Pria Bermasker" )


****************************


Kembali ke episode ketika Alya merasakan kontraksi 😉.


Usai menjalankan sholat dzuhur berjamaah, Alya duduk dengan bersandar pada dinding mushola. Wanita itu semakin merasakan nyeri di bagian punggung hingga perut.


"Ukkkkhhhmmmmm ...." Alya merintih menahan sakit.


"Sayang, please ayo kita ke klinik sekarang!" Pinta Raikhan kepada istrinya. Pria tampan itu teramat cemas melihat Alya yang semakin sering merintih.


"Rai, segera bawa istrimu ke klinik Dokter Zahra! Kebetulan letaknya tidak jauh." Perintah Bu Arini, dengan menggenggam tangan Alya.


"Baiklah Bu, saya akan membawa Alya ke klinik Dokter Zahra." Raikhan mengangkat tubuh istrinya dengan perlahan. Pria itu pun melangkahkan kaki keluar dari mushola dan membawa Alya ke mobil.


Bu Arini dan Ayah Hasan mengikuti langkah Raikhan.


Di dalam kamar kedua orang tuanya, Abimana semakin mencemaskan keadaan Alya. Ingin rasanya ia keluar dari dalam kamar, dan segera menemui wanita yang dicintai. Namun Abimana teringat pesan Kirana, agar tetap bersabar menyembunyikan diri sampai Alya melahirkan. Kirana khawatir dengan kondisi Alya dan malaikat kecil yang ada di dalam kandungan, bila si ibu mengalami syok.


Bibir Abimana gemetar melantunkan dzikir dan doa untuk wanita yang terkasih.


***************


Raikhan segera membawa istrinya ke klinik Dokter Zahra, dengan ditemani Ayah Hasan dan Bu Arini.


Sesampai di klinik, mereka disambut oleh dua orang perawat. Para perawat segera membawa Alya ke ruangan bersalin, karena ketuban wanita itu sudah pecah.


Raikhan dengan setia selalu mendampingi istrinya. Sedangkan Ayah Hasan dan Bu Arini menunggu di luar ruangan.


Alya diminta untuk berbaring di ranjang pasien yang telah disediakan. Beberapa alat dipersiapkan untuk membantu proses persalinan.


Setelah memeriksa bagian serviks si pasien, salah seorang perawat bergegas memanggil dokter yang akan membantu proses persalinan Alya.


Tanpa menunggu waktu lama, dokter muda nan cantik berjalan memasuki ruangan bersalin.


Betapa terkejutnya Raikhan dan si dokter ketika mereka saling menatap. Jantung dokter cantik berdegup sangat kencang. Ada binar kerinduan yang nampak di kedua netranya ketika menatap pria yang ada dihadapan. Bibirnya seolah terkunci, lidahnya serasa kelu.


"Kirana ...." Suara Raikhan menyadarkan si dokter cantik yang tengah tenggelam dalam perasaanya.


"Ra ... Raikhan."


"Ya Allah Ran, ternyata kamu dokternya. Cepat bantu istriku!"

__ADS_1


"I ... iya Rai." Kirana melangkahkan kaki mendekat ke arah Alya yang sudah terbaring.


Kirana berusaha menekan perasaannya, dan bersikap profesional menjalankan tugas sebagai dokter obgyn. Ia pun mulai memeriksa kondisi Alya terutama di bagian serviks, sebelum mulai memberikan intruksi.


Setelah memastikan kondisi pasien beserta bayi yang ada dikandungan dalam keadaan baik - baik saja, serta mendukung untuk melakukan persalinan normal, Dokter Kirana pun mulai memberikan instruksi, "Oke Bu, sekarang genggamlah tangan suami anda! Bersikaplah tenang ya Bu! Sebentar lagi si kecil akan terlahir ke dunia." Ucap Dokter Kirana berusaha menenangkan pasiennya.


Alya mengikuti apa yang diperintahkan oleh si dokter cantik.


"Sekarang mulai mengejan ya Bu, tarik nafas perlahan, dan dorong ....!"


"Urggghhhhhh ...." Alya berusaha mengejan. Wajahnya memerah dan mengernyit. Rasa sakit yang dirasakan terlampau hebat. Bulir - bulir peluh mulai memenuhi wajah cantiknya. Raikhan pun mulai mengusap buliran - buliran peluh itu dengan penuh cinta.


"Dorong lagi Bu, kepala si kecil sudah mulai nampak!"


"Urgggghhhhh ...."


"Atur nafas lagi dan dorong, anda pasti bisa Bu!"


"Argghhhhhh ...."


"Sekali lagi Bu, dorong!"


"Erghhhh ...."


"Arghhhhh ...."


"Inilah si kecil yang kalian nantikan kehadirannya." Dokter Kirana menarik si bayi kecil dan menepuk - nepuk punggungnya.


"Oe ... oe ... oe ..." Terdengar suara bayi yang serasa merdu ditelinga.


"Alhamdulillah Rai, anak kalian seorang putri yang sangat cantik." Mata Dokter Kirana nampak berkaca - kaca. Dadanya serasa sesak. Namun, ia berusaha untuk bertahan.


"Sebentar ya, saya bersihkan dulu bayi kalian."


Alya menganggukan kepala, sedangkan Raikhan mengucapkan terimakasih, "Trimakasih Kiran. Sungguh tidak menyangka, sahabatku yang tomboy sekarang menjadi seorang dokter."


"Hemmmzzz, sama - sama Rai. Itu sudah menjadi tugasku sebagai dokter obgyn."


Dokter Kirana dengan hati - hati membersihkan si bayi yang lucu dan cantik. Dalam hatinya berucap, "Rai, mengapa aku yang harus membantu persalinan istrimu? Betapa semakin menyesaknya dada ini. Meski serasa sakit, aku ikut berbahagia Rai. Kini Rai yang dulu sedikit pemalu bila berhadapan dengan seorang gadis, akhirnya menjadi seorang ayah."


Selesai membersihkan bayi, Dokter Kirana mulai melakukan beberapa langkah pemeriksaan untuk memastikan kondisi putri kecil Raikhan dan Alya dalam keadaan sehat.


Dokter Kirana berjalan ke arah Raikhan dan Alya. Ia pun memerintahkan agar ayah si bayi untuk mengumandangkan adzan dan iqomah.


"Rai, perdengarkan adzan dan iqomah pada kedua telinga putri kalian!"


"Baiklah Kiran."


Raikhan mulai memperdengarkan adzan dan iqomah pada kedua telinga putri kecil mereka. Mendengar suara Raikhan yang sangat merdu, hati Kirana dan Alya tergetar. Tangis bahagia keluar dari kedua netra istri Raikhan.


"Nah, sekarang saatnya melakukan IMD." Ucap Dokter Kirana disertai seulas senyum.


"Apa itu IMD, Dok?" Alya nampak belum mengerti apa itu IMD.


Dokter Kirana menjelaskan pengertian IMD dengan tersenyum ramah, dan mulai meletakan tubuh si bayi di atas dada Alya.


"IMD adalah pemberian ASI segera setelah bayi dilahirkan, biasanya dalam waktu 30 menit sampai satu jam setelah bayi lahir. Prosedur ini dilakukan dengan cara meletakkan bayi di dada ibu di mana bayi dibiarkan dalam keadaan telanjang sehingga terjadi interaksi dari kulit ke kulit atau skin to skin contact."

__ADS_1


"Owhh, saya mengerti Dok." Binar kebahagiaan terlihat pada kedua netra Alya dan Raikhan.


"Biarkan putri kecil kalian mencari sendiri dan mendekati putin* susu untuk melakukan proses menyusui pertama kali!"


"Baiklah Dok." Balas Alya dengan menampakan seulas senyum kebahagiaan.


"Okey Rai, biar nanti perawat yang akan membantu istrimu untuk berpindah ke ruangan rawat inap."


"Iya Kiran. Kamu mau pergi kemana?"


"Melanjutkan pekerjaanku Rai."


"Aku ingin berbincang denganmu Ran."


"Hemmzz, lain waktu saja Rai. Temani istrimu dulu!"


"Aku ingin memperkenalkanmu pada istriku, Alya."


Kirana menghela nafas, dan terus berusaha menahan perasaannya yang teramat menyiksa.


"Baiklah Rai."


"Sayang, kenalkan dokter yang membantu proses kelahiran putri kita, ia adalah salah seorang sahabatku ketika SMA, Kirana!"


Alya dan Kirana saling berjabat tangan.


"Senang berkenalan dengan anda, Dokter Kirana. Saya Alya, istri Mas Raikhan."


"Senang berkenalan denganmu juga, Alya. Selamat ya atas kelahiran putri kalian."


"Trimakasih Dokter Kirana."


"Sama - sama Alya. Maaf, saya tidak bisa berlama - lama. Lain waktu, In shaa Allah kita akan berbincang lagi."


"Iya Dok." Balas Alya dengan suaranya yang lembut.


Dokter Kirana segera melangkahkan kaki keluar dari ruangan bersalin.


Buliran - buliran bening mulai menetes membasahi wajah cantiknya. Meski berusaha tegar dan ikhlas, nyatanya ia tetap saja seorang wanita yang lemah.


"Bima ...." Kirana berlari ke arah pria yang terlihat berdiri tidak jauh darinya.


💓💓💓💓💓💓💓💓


Bersambung ....


Ehmmm, jangan lupa untuk tetap meninggalkan jejak like, komentar, rate 5, dan juga vote untuk mendukung karya author.


Trimakasih 😘


Bonus Visual



Visual Dokter Kirana


Visual Abimana

__ADS_1



__ADS_2