
Tanpa terasa kehamilan Alya sudah memasuki usia tujuh bulan. Selama masa kehamilan sang istri, Raikhan selalu setia menemani Alya untuk melakukan kontrol rutin dan mengikuti kelas kehamilan. Hasil USG menunjukkan, bahwa bayi yang ada di dalam kandungan Alya, berjenis kelamin perempuan.
Hari ini Mama Shela dan keluarga mempersiapkan acara tujuh bulanan yang akan dilaksanakan secara sederhana (tanpa prosesi tujuh bulanan sesuai adat Jawa), dengan pengajian bersama anak-anak yatim, keluarga besar, dan sahabat terdekat. Acara pengajian tujuh bulanan diadakan di Kampung Flory, pukul 10.00 wib.
Drrtttt...drtttt.. suara getaran dari ponsel Alya. Rupanya ada panggilan masuk. Dengan segera, ia pun mengangkatnya.
π "Asalamu'alaikum.."
"Hallo.., maaf dengan siapa ini..?"
Alya bertanya pada si penelepon, bukannya menjawab salam, penelepon misterius itu langsung menutup panggilannya.
"Hufffttt, siapa ya yang meneleponku...?" Gumam Alya dalam hati.
"Telepon dari siapa Yank..?" Raikhan berjalan mendekat ke arah sang istri.
"Entahlah Mas.., nomornya disembunyikan.."
"Hmmm..., mungkin orang usil Yank.."
"Iya mungkin Mas..." Dalam hati Alya tetap bertanya-tanya, siapa si penelepon misterius yang beberapa kali menghubunginya dengan menyembunyikan nomor...
Alya sengaja tidak bercerita pada Raikhan, bahwa sosok misterius itu bukan hanya satu atau dua kali menghubunginya. Ia takut, sang suami menjadi khawatir.
"Sudah siap Yank..? Kalau sudah.., yuk kita ke ruang keluarga...! Mama dan papa sudah menunggu..."
"Sudah Mas.. Baiklah, gandheng aku Mas..!" Ucap Alya dengan menampakan wajah imutnya.
"Siap Permaisuriku.." Raikhan membalas ucapan sang istri disertai kerlingan mata, bibirnya terhias seulas senyum. Ia pun meraih tangan Alya, serta menggenggamnya dengan erat.
Alya dan Raikhan melangkah keluar dari kamar, menuju ruang keluarga untuk menemui Papa Abraham serta Mama Shela.
Setelah mereka berkumpul di ruang keluarga, Mama Shela mengajak semua anggota keluarga untuk segera bergegas berangkat ke Kampung Flory.
"Yuk, kita berangkat sekarang...! Bismillah, semoga acara pengajian tujuh bulanan cucu Papa dan Mama diberi kemudahan serta kelancaran.."
"Aamiin Ya Allah..." Balas mereka serempak.
*********************
Di Kampung Flory
Raikhan beserta keluarga sudah berada di Kampung Flory, tepatnya di tempat wisata kuliner Bali Ndeso. Terlihat beberapa kedai yang berbentuk seperti rumah-rumah di pedesaan.
__ADS_1
Pertama kali memasuki kawasan Kampung Flory, suara gemercik air terasa meneduhkan.Β Kampung Flory dikelilingi oleh beberapa kolam-kolam ikan dan taman air yang bisa digunakan untuk memancing, serta menikmati sensasi terapi ikan..
Semua tamu undangan telah berkumpul dan nampak duduk bersila di dalam kedai. Mama Shela sengaja membooking semua kedai kuliner yang ada di sana.
Raikhan beserta keluarga juga ikut duduk bersama mereka.
Acara pengajian tujuh bulanan pun dimulai. Papa Abraham memberikan kata sambutan untuk mewakili keluarga besar. Dilanjutkan dengan bacaan ayat Al qur'an yang dilantunkan oleh Hana, adik bungsu Alya. Suara Hana terdengar sangat merdu, hingga membuat siapa pun yang mendengarnya menjadi ikut meresapi kandungan ayat yang dibaca.
Setelah Hana selesai melantunkan ayat Al Qur'an, Udtadz Ilham memulai pengajian inti dan doa bersama.
Seluruh tamu undangan dengan khusyu mengamini setiap doa yang dilantunkan oleh Ustadz Ilham.
" Ya Allah, selamatkanlah kami dari bencana dunia dan azab akhirat, petaka dan keburukan keduanya (dunia dan akhirat), sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."
" Ya Allah, sejahterakanlah janinnya, selamatkanlah kandungan di dalam perutnya dari sesuatu yang tidak kami harapkan dan yang kami khawatirkan."
" Kesejahteraan terlimpah pada Nuh di seluruh alam. Sungguh demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik."
" Ya Allah, sungguh kami memohon kepada-Mu dengan kepangkatan pemimpin kami Muhammad SAW, hendaklah Engkau menganugerahkan selawat kepada beliau, dan selamatkanlah janin ini dari bahaya, sakit, penyakit dan juga dari jin Ummi Muldin, dengan rahmat-Mu wahai Tuhan yang paling pengasih diantara para pengasih."
" Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan anak keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami sebagai imam kaum bertaqwa."
Nampak Alya meneteskan air mata setelah mengamini segala doa yang dipanjatkan bersama.
Setelah acara inti selesai..., dilanjutkan dengan makan bersama. Acara terakhir yaitu pembagian hadiah beserta sejumlah uang kepada ratusan anak yatim yang telah diundang. Nampak mata mereka berbinar ketika menerima bingkisan dan amplop.
Terkenang kembali masa kecil Alya, ketika mengikuti acara pengajian dan pemberian santunan kepada anak yatim. Saat itu Alya, Asti, dan Hana berada di posisi yang sama dengan ratusan anak yatim, yang kini tengah berbahagia karena mendapat hadiah dan sejumlah uang. Hati kecilnya tergetar, dan membisikan rasa syukur atas kenikmatan yang Tuhan berikan saat ini.
"Sayang.., jangan menangis lagi ya...!" Suara lembut dan rangkulan Raikhan, seketika membuat Alya merasa nyaman.
"Iya Mas.. Aku hanya terkenang masa kecil dulu... Saat aku, Asti dan Hana berada di posisi yang sama dengan mereka..."
"Iya Sayang.... Sekarang Sayang sudah mempunyai keluarga yang utuh kan..? Kalau rindu dengan Ayah, Sayang bisa mencurahkannya pada Papa..."
"Iya Mas... Alhamdulillah, Alya memiliki papa mertua yang teramat penyayang.."
Setelah acara selesai, semua tamu undangan menyalami Raikhan dan Alya beserta keluarga.
Tiba saatnya ayah dan ibu Abimana yang kini berdiri dihadapan mereka berdua. Bu Arini nampak berkaca-kaca, beliau memeluk mantan calon menantunya dengan erat. Alya pun membalas pelukan Bu Arini.
"Selamat ya Alya.., jaga kandunganmu...! Semoga diberi kemudahan dan kelancaran ketika saat melahirkan. Sehat-sehat selalu ya Ndhuk..."
"Inggih Bu, aamiin... Trimakasih atas sgala doa yang Ibu persembahkan..."
__ADS_1
"Iya Ndhuk... Sebenarnya Ibu ingin menyampaikan sesuatu Al.." Bu Arini perlahan melepas pelukannya.
"Apa yang ingin Ibu sampaikan..?" Alya menatap lekat-lekat Bu Arini.
"Ahhh.., sudahlah Ndhuk..." Bu Arini terlihat ragu untuk menyampaikannya.
"Apa Bu...?" Alya mendesak.
"Ibu hanya ingin menyampaikan kerinduan seorang ibu kepada putrinya ini..." Jawab Bu Arini disertai senyuman.
"Owhhh..., Alya juga rindu pada Ibu.. Sehat selalu ya Bu. Lain waktu, Alya dan Mas Raikhan akan mengunjungi Ayah dan Ibu, di rumah Sleman, sekalian mau memetik salak pondoh...." Balas Alya dengan tersenyum.
"Baiklah Ndhuk... Ayah dan Ibu tunggu kedatangan kalian. Tapi sebelum ke rumah, hubungi Ibu dulu ya..! Takutnya kami sedang tidak ada di rumah."
"Inggih Bu..."
"Ayah dan Ibu pulang dulu ya Al... Jemputannya sudah menunggu.."
"Loh..., siapa yang menjemput Bu...?" Alya nampak bertanya-tanya.
"Eh..., mmmmm..... Taksi.., ya sopir taksi yang menjemput kami..." Apa yang diucapkan oleh Bu Arini seolah tidak sesuai dengan kenyataan.
Alya merasa ada sesuatu yang janggal, namun ia berusaha untuk menepis.
"Mmm..., baiklah Bu kalau sudah ada jemputannya. Hati-hati ya Bu...!"
"Iya Alya... Asalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam..."
Setelah berpamitan pada Alya dan Raikhan, beserta keluarga, kedua orang tua Abimana mulai melangkah meninggalkan tempat itu...
*********************
Alya masih bertanya-tanya..., siapa sebenarnya si penelepon misterius itu...?? Author hanya bisa menjawab... Mmm, mungkin itu Angga, atau Dimas... Mungkin juga bukan mereka Al...
Bersabarlah menunggu jawaban ya Al...!! π
ππππππππππππππ
Haii Readers..
Jangan lupa tinggalkan likeπ, klik β€ untuk favorit, beri bintang/ rate 5, juga jangan ragu untuk memberikan komentar... Vote jika berkenan mendukung author ππ
__ADS_1
Trimakasih.. π