Cinta Gadis Biasa "Alya"

Cinta Gadis Biasa "Alya"
Lamaran


__ADS_3

Sesuai yang disampaikan oleh Mas Abi, bahwa hari Senin ini, ayah, ibu beserta keluarga Mas Abi akan datang ke rumah untuk bersilaturahim, sekalian melangsungkan acara lamaran. Dari pagi, aku, Ibu, Asti dan Hana mempersiapkan tempat beserta hidangan untuk acara nanti malam.


Tak lupa dalam setiap sujudku, memohon supaya hari ini diberikan kelancaran, hingga saat hari H aku dan Mas Abi mengikat janji suci.


Seolah hari ini waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa sudah mendekati jam yang ditentukan.


Pak Rt, Pak Rw dan juga salah seorang tokoh agama di kampung kami sudah bersiap untuk menyambut kedatangan Mas Abi beserta keluarga.


Setengah jam berlalu, nampak iring-iringan keluarga Mas Abi membawa Alquran dan seperangkat alat shalat, satu set cincin pernikahan, setelan pakaian, make up dan skincare, sepatu, tas, serta buah-buahan.


Pak Rt mempersilahkan keluarga Mas Abi untuk masuk ke dalam dan duduk di tikar. Karena rumah kami yang agak sempit, sebagian tamu yang datang duduk di teras rumah, juga beralaskan tikar.


Acara lamaran berlangsung dengan khidmat dan penuh makna.


Mulai dari kedatangan keluarga calon mempelai laki-laki, pembukaan lamaran yang diwakilkan oleh Bapak Rw, penyampaian maksud dan tujuan kedatangan rombongan keluarga Mas Abi yang disampaikan oleh calon Ayah mertua, pemberian jawaban dari pihak kami, penyerahan seserahan, bertukar cincin, perkenalan antar keluargaku dan keluarga Mas Abi, serta penetapan tanggal pernikahan kami. Kemudian dilanjutkan dengan acara makan bersama.


Saat tukar cincin, hati gadis ini semakin bergelora. Ibu Mas Abi menyematkan cincin di jari manis tangan kiriku. Air mata mulai menetes di pipi, tak kuasa menahan kebahagiaan atas proses penyatuan cinta dua insan yang tengah dilaksanakan.


Mas Abi menatapku lekat-lekat. Calon suamiku tampak terlihat lebih tampan dengan mengenakan stelan kemeja batik dan celana hitam. Sedangkan aku, memakai baju gamis berwarna putih dengan hiasan renda di atasnya, dilengkapi dengan jilbab berwarna senada dan polesan make up yang soft.


Acara lamaran, ditutup dengan doa untuk penyatuan cinta kami yang akan dilaksanakan tiga minggu setelah lamaran. Semoga kami diberi kemudahan, kelancaran dan keselamatan hingga saat hari ikrar janji suci itu diucapkan.


**********


Setelah acara lamaran selesai, kami sekeluarga beserta Pak Rt, Pak Rw, dan Pak Ustadz saling bersalaman dengan keluarga Mas Abi.


Ibu Mas Abi mencium kening dan memelukku erat. Ayah menjabat tangan dan mengusap jilbabku. Ketika giliran Mas Abi, kami saling menatap. Kekasihku itu tersenyum dan mengucapkan pujian yang membuat hati calon istrinya ini melambung


"Hari ini, kamu cantik sekali Al... Kalau kita sudah menikah, mulailah memakai jilbab ketika berpergian. Jilbabmu menambah nilai lebih Al, aku semakin mencintaimu.., wahai calon istriku..." Achhh..., seketika wajahku merah merona, aku menunduk dan tak mampu menatap wajah Mas Abi.


"Iya Mas, In shaa Allah... Setelah kita menikah nanti, aku akan memakai jilbab, dan berusaha menjadi istri yang solekha...." Balasku dengan malu.


"Kami pamit dulu ya sayang..." Ucap Mas Abi dengan memberikan senyuman termanis.


"Iya Mas, hati2 di jalan ya....!!" Ucapku dengan membalas senyumannya.


Rombongan keluarga Mas Abi, melangkah pergi meninggalkan rumah kami.


***********


Dua hari setelah lamaran, Mas Abi mulai sibuk menyiapkan undangan pernikahan kami. Undangan itu tanpa foto pre wedding, karena aku menginginkan yang sederhana saja.

__ADS_1


Kami juga tidak menyewa gedung untuk resepsi, karena aku juga menginginkan acara pernikahan kami hanya dilaksanakan secara sederhana di rumah Mas Abi yang cukup besar. Ijab qabulnya, akan dilaksanakan di Masjid dekat rumahku.


Seminggu kemudian undangan telah selesai dicetak. Meski terkesan waktu yang ditentukan cukup singkat, dan mendadak.., tapi aku dan Mas Abi tetap bersemangat menyiapkan segalanya.


Undangan mulai disebar. Aku mengundang semua sahabatku kecuali Arif, karena si Tuan Muda masih di LN. Entah bagaimana kabar sahabatku itu, aku tidak pernah mengetahuinya setelah pertemuan kami yang terakhir. Arif mempunyai kebiasaan, tak pernah memberi kabar ketika pergi ke luar negeri. Sudahlah..., aku tak ingin mengenang Arif lagi. Yang aku fokuskan saat ini adalah pernikahanku dengan Mas Abi.


*************


Sore ini, kami berdua pergi ke rumah Ale sahabatku, untuk memberikan undangan pernikahan. Kami melewati sebuah bangunan tua, yang terletak di sisi kiri jalan.


Dari kaca jendela mobil, aku melihat banyak sekali anak muda yang berfoto selfie di depannya. Motor mereka terparkir, di lahan luas dekat bangunan itu berdiri.


Banyak cerita mengenai bangunan tua itu, yang menarik perhatian banyak orang, entah itu orang asli Jogja ataupun dari luar kota Jogja.


Kurang lebih sepuluh menit dari perempatan Gondoma***, mobil Mas Abi berhenti tepat di depan rumah Ale.


Kebetulan Ale sedang membaca koran di teras rumahnya.


Setelah menaruh mobil di depan gerbang rumah sahabatku itu, kami keluar dari dalam mobil. Kemudian melangkah menuju teras. Ale yang menyadari kehadiran sahabatnya ini, langsung beranjak dari duduk. Ia tampak terkejut, namun di wajahnya tersungging seulas senyum.


"Alya...?"


"Iya, aku Alya... Apa wajahku berubah Sob? Hhhehe...."


"Benarkah Sob...?"


"Serius Al.., hmmm pasti gara2...."


"Hhhehe..., iya Le... Gara2 pria di sampingku ini.." Ucapku sambil melirik Mas Abi. Mas Abi tertawa kecil mendengar ucapanku.


"Owh..., calonmu ya Al?"


"Iya Le, kenalkan..., calon suami Alya Putri.., Mas Abimana...hhhehe.."


"Owh.., saya Ale..." Ucap Ale sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Mas Abi.


"Saya Abimana, calon suami Alya..." Ucap Mas Abi, sembari membalas uluran tangan Ale disertai senyuman.


"Monggo Mas, Alya..., duduk di teras atau mau masuk ke dalam?"


"Di sini aja Le, aku cuma sebentar kog. Mana istrimu Sob...?" Aku bertanya pada Ale, sembari duduk di kursi diikuti oleh Mas Abi, ia duduk di kursi sebelahku.

__ADS_1


"Nyonya besar baru belanja ke mini market. Ngomong2 tumben Al, kamu berkunjung ke rumahku tanpa kirim pesan dulu?"


"Hhhehe.., surprise Le... Aku mau ngasih undangan pernikahan. Datang ya Le...?"


"Wuihhhh, akhirnya seorang Alya mau menikah juga...hhhhahaha..." Ale tertawa lebar, seolah ia meledekku.


"Hmmm..., memangnya nggak boleh ya.., kalau seorang Alya mau menikah?"


"Hhhaha..., jelas boleh donk... Mana undangannya Al?"


"Ini Le.., datang ya sama istri & juga si kecil...!!" Ucapku sambil memberikan undangan pernikahan bersampul biru padanya. Ale menerima undangan itu dengan tertawa kecil.


"Siap Al... Aku buatin minum dulu ya..?"


"Nggak usah Le, aku dan Mas Abi mau langsungan aja, masih ada beberapa yang belum kami beri undangannya.." Aku dan Mas Abi mulai beranjak dari duduk.


"Ok dech Al, makasih ya undangannya. Semoga dilancarkan sampai hari H..."


"Aamiin..., makasih ya Sob... Kami pamit dulu. Assalammuallaikum..."


"Waallaikumsalam.., titip sahabatku ya Mas..!"


"Iya Mas, In shaa Allah..." Balas Mas Abi dengan memberikan senyum khasnya.


Kami berjalan meninggalkan rumah Ale menuju tempat Mas Abi menaruh mobil.


*************


"Lanjut ke mana kita Sayang..?" Pertanyaan Mas Abi, setelah kami duduk di dalam mobil.


"Ke rumah Aldi Mas..., terus nanti lanjut ke rumah semua sahabatku yang lainnya.." Balasku dengan tersenyum.


"Baiklah Sayang..., besok sore gantian antar Mas ya..! Hhhehe..."


"Kemana Mas..??"


"Ke rumah sahabatku Al..."


"Baiklah Mas, dengan senang hati...."


Mas Abi pun melajukan mobilnya menuju rumah sahabatku yang teramat usil, Aldi....

__ADS_1


šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–


Jangan lupa tinggalkan like, rate 5, vote, kritik serta saran ya readers.. šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ™


__ADS_2