Cinta Gadis Biasa "Alya"

Cinta Gadis Biasa "Alya"
[POV.AUTHOR] Kenyataan Pahit ....


__ADS_3

💓 Desah nafas kehidupan masih terdengar lembut, apa firasatmu tak meraba?? Betapa aku masih kuat untuk bertahan hidup, hanya karena cintamu yang kuyakini akan setia abadi 💓


~ Flasback on Abimana ~


Sinar sang surya menerpa wajah tampan nan rupawan. Seolah sinarnya kini bukan sebagai penerang, namun akan menjadi pembakar jiwa yang gersang.


Ayah Hasan, Bu Arini, dan Abimana melangkahkan kaki menuju ruang keluarga untuk saling berbincang.


Kini mereka bertiga duduk di sofa, Bu Arini duduk bersebelahan dengan putra tercinta, sedangkan Ayah Hasan duduk berhadapan dengan mereka berdua.


Ayah Hasan memulai perbincangan mereka, "Bima putraku, ayah dan ibu sangat bersyukur dan bahagia karena putra tampan kami masih diberikan keselamatan. Ayah dan ibu ingin Bima menceritakan semua kejadian yang menimpamu Cah Bagus!"


Abimana menghela nafasnya, dan berusaha mengumpulkan serpihan - serpihan ingatan mengenai kejadian naas itu. Ia pun membalas perkataan sang ayah.


"Baiklah Ayah, Bima akan menceritakannya."


Abimana menceritakan runtutan peristiwa yang dialaminya. Mulai dari sebelum kecelakaan terjadi hingga ia ditolong oleh Pak Arya dan Suci. Pria tampan pun bercerita, bahwa ia sempat kehilangan ingatan. Namun berkat foto Alya lah, yang membuat Abimana bersemangat dan berusaha untuk segera mendapatkan ingatannya kembali.


Kedua orang tua Abimana hanya menatap putra mereka dengan tatapan sendu, ketika putra tercinta menyebut nama Alya.


"Bima, bersabarlah! Ikhlaskanlah Alya, Cah Bagus!" Suara Ayah Hasan terdengar serak. Dada beliau bergemuruh, ketika mengucapkannya. Terbayang apa yang akan terjadi.


"Maksud Ayah apa?" Mata Abimana menatap tajam ke arah ayahnya.


"Begini Cah Bagus ...." Bu Arini menimpali.


Beliau mencoba berucap dengan hati - hati sembari menggenggam tangan putranya.


"Alya sangat kehilanganmu pada saat ia mengetahui pria yang dicintai telah tiada. Bahkan karena kedukaan yang mendalam, Raikhan bercerita bahwa Alya pingsan beberapa kali. Di pemakaman, wanita itu juga tidak ingin beranjak pergi. Alya terus menangis, meratap, dan meneriakan namamu. Sungguh melihatnya seperti itu, membuat hati kami semakin berduka. Gadis muda yang malang, terus berharap keajaiban. Ia selalu mengiba agar kekasih yang dicintai masih berada di dunia ini. Hingga pada akhirnya, Raikhan lah yang selalu ada di sisi Alya. Sahabatmu berusaha menjadi penguat dan sandaran hidup si gadis agar tetap mampu berdiri tegar, menghadapi ujian yang sangat memilukan. Bima, ikhlaskanlah Alya untuk Raikhan! Mereka sudah terikat janji suci pernikahan."


Gleg ....


Seketika dada Abimana serasa sesak dan sakit. Kedua netranya memerah karena amarah serta kedukaan. Pria tampan itu tidak mampu menahan emosi.


"Raikhan......"


Pranggg....


Abimana meninju meja yang ada dihadapannya. Meja kaca pun retak. Buku - buku jari si pemuda tampan berlumur darah segar.


"Ya Allah, mengapa ... mengapa ini terjadi padaku. Raikhan, kamu memanfaatkan situasi. Aku tau kamu mencintai calon istriku, jauh sebelum kecelakaan itu menimpaku. Arggghhhhh ...."


"Sabar Cah Bagus! Ibu obati dulu lukamu ya Bim. Ya Allah Bima, kamu harus mampu menahan emosi!"


"Ayah ambilkan kotak P3K nya dulu Bu." Ayah Hasan beranjak dari duduk kemudian bergegas melangkahkan kaki, untuk mengambil kotak P3K.


Tanpa menunggu lama, Ayah Hasan telah kembali dengan membawa kotak P3K. Beliau pun beranjak duduk dan menyerahkan kotak tersebut kepada istrinya.


Bu Arini menangis terisak sembari mengobati luka di tangan Abimana. Sedangkan si pemuda tampan, kedua netranya mengeluarkan buliran - buliran bening yang tidak dapat dicegah. Ia terdiam, tak bersuara.

__ADS_1


Setelah lukanya diobati, Abimana beranjak dari duduk dan melangkahkan kaki menuju kamar, tanpa sepatah kata yang keluar dari bibir. Pria tampan itu berusaha menahan perasaan sakit hatinya.


****************


Di dalam kamar


Abimana duduk di pinggir ranjang. Ia menatap nanar ke segala sudut ruangan. Pria tampan nan malang sangat shocked setelah mengetahui kenyataan pahit. Kekasih yang sangat dicintai dan teramat dirindukan, kini telah menjadi milik sahabatnya sendiri.


"Arghhhhh...." Abimana menjambak rikmanya sendiri. Pria tampan terlihat sangat menyedihkan. Tangisannya semakin menjadi. Bahkan ia juga memukul dada yang serasa sesak.


"Rai, mengapa engkau tega merebut kekasihku? Mengapa kamu melakukannya?"


"Al, tak bisakah engkau lebih berusaha untuk tegar! Apa firasatmu tidak mampu meraba jika kekasihmu ini masih bertahan hidup karena kekuatan cinta kita? Yank, apa pun alasanmu, tidak seharusnya terburu - buru memutuskan ikatan cinta kita yang hampir menguat!"


Linangan air mata semakin banyak tertumpah. Abimana terus saja memukul dadanya yang serasa kian sakit.


Dari balik pintu kamar, Ayah Hasan dan Bu Arini berdiri, mereka menangisi keadaan putra tercinta.


Abimana mencoba mengatur nafasnya, dan berusaha meredakan emosi.


Diraihnya figura foto yang masih terpajang di atas meja. Hati Abimana semakin tersayat, ketika menatap foto Alya saat berdua dengannya. Foto itu diambil ketika lamaran. Nampak mereka berdua tersenyum bahagia, karena ikatan cinta yang hampir menguat. Alya terlihat semakin cantik dan anggun dengan balutan jilbab berwarna putih.


Abimana mengusap foto itu, seolah ia sedang mengusap wajah wanita yang teramat dicintai.


"Ya Allah, mengapa saat itu tidak Engkau ambil saja nyawaku bila harus menerima kenyataan sepahit ini? Mengapa tidak Engkau hilangkan saja memoryku tentang Alya. Ya Robb, hilangkan ingatan hamba tentang kenangan indah bersamanya! Aku ingin melupakan semua tentang Alya, agar perasaan sakit ini segera memudar."


"Alya, dimana janji indah yang pernah engkau ucapkan, bahwa tidak akan ada yang lain? Dimana kesetiaanmu padaku Al?"


Adzan ashar berkumandang. Abimana beranjak dari duduk, kemudian berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Setelah berwudhu, Abimana keluar dari kamar mandi, ia pun mengambil sajadah yang berada di dalam almari.


Pemuda tampan membentangkan sajadah dan memakai sarung. Abimana memulai ritual ibadah, ruku' dan bersujud menghadap Robb-nya.


Usai salam, Abimana berdzikir dan berdoa untuk ketenangan hati.


"Allahumma inni as-aluka nafsan bika muthma-innah, tu'minu biliqo-ika wa tardho bi qodho-ika wataqna'u bi 'atho-ika."


“Ya Allah, aku memohon kepadaMu jiwa yang merasa tenang kepadaMu, yang yakin akan bertemu denganMu, yang ridho dengan ketetapanMu, dan yang merasa cukup dengan pemberianMu.”


Kembali air mata Abimana tertumpah. Ia menuangkan segala nestapa dan kedukaan pada Robbi.


Perlahan, Abimana mampu menguasai emosinya. Pria itu berusaha untuk berdamai dengan takdir.


Meski belum sepenuhnya ikhlas, Abimana memasrahkan sgala apa yang menimpa kepada Sang Penulis Skenario di buku takdir.


******************


Jangan sembunyi

__ADS_1


Ku mohon padamu jangan sembunyi


Sembunyi dari apa yang terjadi


Tak seharusnya hatimu kau kunci


Bertanya, cobalah bertanya pada semua


Di sini ku coba untuk bertahan


Ungkapkan semua yang ku rasakan


Kau acuhkan aku, kau diamkan aku


Kau tinggalkan akuuu


Lumpuhkanlah ingatanku


Hapuskan tentang dia


Ku ingin ku lupakannya


Jangan sembunyi


Ku mohon padamu jangan sembunyi


Sembunyi dari apa yang terjadi


Tak seharusnya hatimu kau kunci


Lumpuhkanlah ingatanku


Hapuskan tentang dia


Hapuskan memoriku tentangnya


Hilangkanlah ingatanku


Jika itu tentang dia


Ku ingin ku lupakannya


( Gheisa )


💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔


Readers dan sobat author, trimakasih selalu mengikuti kisah Alya. Mohon maaf masih part Abimana, supaya ceritanya tidak berloncatan.😅🙏


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jempol merah, rate 5, komentar ( apalagi sesuai alur ), dan beri vote untuk mendukung author.

__ADS_1


Trimakasih dan Happy reading 😍😘


__ADS_2