
š Meski kehadiranmu bukan membawa rasa cinta, namun kasih sayang sebagai seorang sahabat yang engkau curahkan, cukup membuat diri ini mengagumi pesona pribadimu š
- Flasback on Abimana -
Arunika kembali menyapa, memberikan semangat bagi jiwa yang semakin merindu akan bertemu kekasih, meski hanya sekejap mata. Suara nyanyian burung di pagi hari, menentramkan jiwa, mengusir riak - riak resah.
Pagi ini, sinar sang surya begitu cerah, nampak seorang gadis cantik dengan balutan jilbab berwarna putih, tengah asik mengendarai sepeda motor matic. Jalanan yang dilalui menyuguhkan nuansa alam, berlatar belakang gagahnya Gunung Merapi. Sawah - sawah menghijau, nampak terhampar luas di kanan kiri jalan. Bahkan, setelah semakin mendekati tempat tujuan, terlihat kebun - kebun salak yang berjajar.
Si gadis menghentikan sepeda motornya ketika sampai di depan pintu gerbang yang masih tertutup. Perlahan ia pun membuka pintu gerbang, dan kembali mengendarai sepeda motor hingga di depan teras rumah yang di dominasi warna biru.
Gadis cantik dengan balutan jilbab berwarna putih itu, bernama Dokter Ayunda Kirana. Seorang dokter obgyn yang masih muda, dengan keunikan karakter melekat pada pribadinya.
Dokter Kirana bertugas sebagai dokter spesialis obstetri dan ginekologi atau disingkat 'obgin' yang berperan utama dalam membantu memeriksa ibu hamil, membantu persalinan, dan perawatan setelah persalinan.
Hampir dua bulan, Dokter Ayunda Kirana bekerja di klinik persalinan yang dimiki oleh Dokter Zahra.
Setelah sampai di depan teras rumah, Kirana turun dari sepeda motornya. Ia pun melangkahkan kaki menuju pintu rumah kedua orang tua Abimana.
Tok... tok... tok...
Si gadis cantik mengetuk pintu rumah, dan mengucapkan salam.
"Asalamu'alaikum ...."
Setelah mengucapkan salam untuk kedua kalinya, terlihat pintu rumah terbuka dengan perlahan.
"Wa'alaikumsalam. Loh Kirana, kog sudah datang pagi - pagi?"
"Hhhhehe, iya Budhe. Kirana hanya mampir sebentar, sekalian mau berangkat kerja. Oya Budhe, Bima sudah bangun?"
"Sudah Ndhuk. Ayo masuk dulu ke dalam!" Balas Bu Arini sembari mempersilahkan masuk tamunya dengan disertai seulas senyuman hangat.
"Njih Budhe." Kirana menampakan senyuman manis, yang menambah nilai kecantikan alami. Ia pun melangkah memasuki rumah kedua orang tua Abimana.
Bu Arini tidak segan - segan menggenggam erat tangan Kirana. Mereka berdua berjalan menuju ruang tamu.
"Duduk dulu Kiran! Budhe panggilkan Bima sebentar." Perlahan ibunda Abimana melepaskan genggaman tangannya.
"Njih Budhe." Kirana beranjak duduk di sofa.
Bu Arini berjalan menuju kamar Abimana yang masih tertutup rapat. Sesampai di depan kamar, Bu Arini mengetuk pintu kamar putra tercinta dan memanggil nama Abimana. Dengan perlahan pintu pun terbuka. Nampak putra tercinta yang sudah terlihat segar. Rambutnya yang masih basah, menambah nilai ketampanan si pria bermata teduh.
"Ada apa Bu?" Pertanyaan yang terlontar dari bibir Abimana.
"Dicari gadis cantik lho Bim." Jawab Bu Arini dengan mengerlingkan mata disertai senyuman merekah.
"Siapa?" Abimana mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Kirana, Bim. Dia sudah menunggumu di ruang tamu. Buruan temui si gadis cantik!" Perintah Bu Arini kepada putra tercinta.
"Hah, cantik dari mana sich Bu? Kirana meski memakai jilbab, tapi kesan tomboy-nya masih melekat." Abimana tersenyum lebar.
"Heh Bim, kedua netramu saja yang tidak menyadari kecantikan Kirana."
"Ya ... ya, Bima akan menemuinya, Bu."
"Iya sana! Ibu buatkan teh hangat dulu untuk calon menantu idaman." Bu Arini tersenyum lebar menggoda putra tercinta.
"Ihhh, apaan sich Bu. Kami hanya bersahabat, tidak lebih."
"Ya siapa tau, dari bersahabat menjadi cinta." Balas Bu Arini dengan mentowel - towel pipi putranya yang terlihat kesal.
"Hemmzzzz." Abimana melangkahkan kaki menuju ruang tamu. Terlihat seorang gadis cantik yang sedang duduk sembari memainkan benda pipih di tangannya.
"Ehm, selamat pagi Bu Dokter." Sapa Abimana dengan senyum khasnya yang menawan. Seketika si gadis cantik menoleh ke arah asal suara.
"Selamat pagi juga Pak Dosen." Balas Kirana disertai senyuman manis.
Abimana beranjak duduk di sofa, berhadapan dengan Kirana.
"Kog pagi sekali Ran, yang datang ke rumah?"
"Iya Bim, sekalian mau berangkat kerja. Oiya, ini ponsel yang aku janjikan kemarin malam." Kirana menyerahkan ponsel kepada sahabatnya. Abimana pun menerima ponsel tersebut dengan senyuman mengembang.
"Hemmm, lebay. Ponselnya sudah aku isi dengan nomer baru Bim. Kamu tinggal memakainya saja."
"Okey Bu Dokter, siapppp." Balas Abimana dengan raut wajah sumringah.
"Bim, kemarin kamu belum menjelaskan lho, kenapa tanganmu bisa terluka." Kirana melihat tangan Abimana yang masih berbalut perban.
"Oh, ini akibat meninju meja kaca sampai retak, karena luapan amarah."
"Hmmm, untung bukan hatimu yang retak Bim. Kalau retak, aku yakin serpihannya akan menempel di hati Suci." Goda Kirana dengan tertawa geli.
"Hisshhh, hati ini sudah retak karena calon istriku menikah dengan Raikhan. Dari pada menempel di hati Suci, mending di hatimu saja Kiran." Balas Abimana karena kesal.
"Hhhhaha, jangan! Bisa menyesal kamu Bim. Kalau serpihan hatimu menempel di hatiku, bisa - bisa kamu akan bertambah depresi menghadapi si gadis aneh." Tawa Kirana semakin menjadi melihat ekspresi wajah sahabatnya. Dia tau, hanya Alya yang masih sangat dicintai Abimana.
Kirana berhenti tertawa ketika menyadari Bu Arini sudah berdiri di sampingnya dengan membawa nampan yang berisi dua cangkir teh hangat.
"Diminum dulu tehnya, Ndhuk!" Bu Arini mempersilahkan Kirana untuk meminum teh hangat buatannya. Gadis berjilbab dengan parasnya yang cantik pun segera mengambil secangkir teh hangat, kemudian menyesapnya.
"Trimakasih Budhe. Rasa teh buatan Budhe sangat mantap." Kirana mengacungkan jempol disertai senyuman yang merekah.
"Wahhh Budhe tersanjung Nduk. Budhe tinggal dulu ya, silahkan dilanjut obrolannya!" Balas Bu Arini dengan memberikan seulas senyum.
__ADS_1
"Iya Budhe."
Bu Arini berjalan meninggalkan Abimana dan Kirana yang masih duduk di posisi semula.
"Bim, semalam aku sudah menghubungi Fahrie via telepon, dia menyanggupi untuk membantumu."
"Jadi kapan penyamaranku akan dimulai?"
"Seminggu lagi Bim. Menunggu Fahrie pulang dari Bandung."
"Seminggu sungguh waktu yang lama."
"Bersabarlah Bima!"
"Iya, aku akan berusaha bersabar. Meski hanya menatap Alya dari jauh dan mendengar suaranya saja, kerinduanku akan sedikit terobati, Ran."
"Heem, aku sangat faham itu. Tetap jaga egomu Bim, meski kelak bertemu dengan Alya! Jangan pernah berpikir untuk merebutnya dari Raikhan! Sungguh berdosa jika kita memisahkan mereka, karena Alya dan Raikhan sudah terikat janji suci pernikahan. Ikhlaskan mereka untuk menggapai sakinah! Meski jujur, hati ini pun sama sakitnya untuk mengikhlaskan Raikhan. Yang terpenting bagiku, bisa melihat mereka hidup dengan bahagia." Raut wajah Kirana berubah sendu.
Abimana menatap lekat - lekat wajah sahabatnya, dalam hati kecil pun berucap, "Begitukah caramu mencintai seseorang, Kiran? Rela mengorbankan hatimu sendiri yang hancur, hanya demi kebahagiaan Raikhan. Meski pria itu tidak pernah tau, perasaan yang selama ini kamu pendam begitu besar dan tulus."
"Bim, jangan menatapku seperti itu! Kamu dengar kan apa yang tadi aku ucapkan?"
Abimana tersadar dari lamunan, ia pun membalas ucapan Kirana, "Iya, aku mendengarnya Kiran."
"Yasudah, aku pamit dulu."
"Aku panggilkan Ibu sebentar."
"Tidak usah Bim, aku buru - buru. Sampaikan saja salamku kepada beliau!" Kirana beranjak dari duduk, begitu juga dengan Abimana.
"Baiklah, nanti akan aku sampaikan."
Kirana berjalan menuju pintu depan, diikuti oleh Abimana.
"Hati - hati ya Ran!" Ucap Abimana, ketika Kirana melangkahkan kaki keluar rumah.
"Iya Bim, Asalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Kirana segera menaiki sepeda motor matic, dan menghidupkan mesinnya. Si gadis cantik pun berlalu meninggalkan Abimana, yang masih berdiri di depan pintu. Tanpa disadari, pria berparas tampan itu pun mulai mengagumi karakter dan pribadi sahabatnya.
ššššššššššš
Bersambung ....
Trimakasih untuk para readers dan author yang masih setia mengikuti kisah Alya. šš
__ADS_1