Cinta Gadis Biasa "Alya"

Cinta Gadis Biasa "Alya"
[POV.AUTHOR] Tangisan di Bawah Hujan...


__ADS_3

Langit semakin mendung..., satu persatu orang yang berada di area pemakaman, mulai melangkah pergi.


Si gadis malang tetap berada di posisinya, bersimpuh di samping gundukan tanah yang masih basah. Bibirnya selalu memanggil nama sang kekasih dengan isak tangis yang dalam. Tangannya terus mengusap tanah itu, seolah apa yang diusapnya adalah tubuh seorang Abi. Kekasih sekaligus calon suami si gadis malang.


Mama Shela, Ibu, Hana dan Asti berusaha membujuk Alya untuk segera meninggalkan area pemakaman, namun ia tak bergeming. Bahkan Ayah Hasan beserta istri juga ikut merayu..., tetap saja Alya tidak mengindahkan.


Pada akhirnya, Raikhan mempersilahkan mereka untuk pulang terlebih dulu.


"Saya yang akan menjaga Alya di sini. Bila terjadi sesuatu pada Alya, mungkin saya akan membawa Alya ke rumah Mama dulu Bu..." Ucap Raikhan pada Ibu, agar wanita sepuh itu tidak terlalu mengkhawatirkan putrinya.


"Baiklah, titip Alya ya Nak...! Nanti kalau ada apa2 dengan Alya, langsung hubungi nomer hp Asti... Kami pulang dulu.. Trimakasih Nak Raikhan..."


"Iya..., hati2 di jalan ya Bu...! Maaf Raikhan tidak bisa mengantar.."


"Tidak apa2 Nak Rai.., nanti kami pesan taxi online... Asalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam Bu..."


Setelah berpamitan pada Raikhan, Ayah dan Ibu Abimana, Mama Shela, serta putrinya yang malang, beliau melangkah pergi meninggalkan tempat itu diikuti oleh Asti dan Hana.


"Raikhan..., Ibu juga nitip Alya ya...! Kami sudah menganggapnya sebagai anak sendiri, meski pada akhirnya Alya tidak menjadi menantu. Kasihan gadis itu Rai... Meski Ibu juga sangat terpukul dan berduka, namun calon istri Bima sepertinya lebih terguncang jiwanya. Betapa Alya mencintai Bima dengan sangat dalam..hiks..hiks... Andai saja Bima masih hidup dan benar2 menjadi suami gadis itu, putra kami pasti akan sangat bahagia, dicintai gadis setulus Alya..." Ucap Ibu Abimana dengan terisak, ia amat sedih melihat keadaan Alya.


"Iya Bu, saya juga merasakannya..., betapa Alya sangat mencintai Bima. Saya akan menjaganya Bu. Saya akan berusaha membujuk Alya.."


"Baiklah, trimakasih Rai... Kami pulang dulu..."


"Sama2 Bu, hati2 di jalan...! Yang sabar dan tabah ya Ayah..., Ibu..."


"Iya Nak Rai..."


Ayah Hasan beserta istri berpamitan pada Mama Shela, Raikhan dan Alya sebelum melangkah pergi.


Kini Mama Shela yang bergantian berkata pada Raikhan....


"Rai..., jaga Alya ya Sayang..! Mama pulang dulu.., kasihan papamu kalau tidak ada Mama yang menyambut saat pulang kerja. Bawa Alya ke rumah kita...! Mama akan ikut berusaha membesarkan hati Alya..." Mama Shela mengelus pundak putranya dengan lembut, beliau juga berpamitan pada Alya, kemudian melangkah pergi meninggalkan mereka berdua, Alya dan Raikhan....


**************

__ADS_1


Raikhan semakin mendekat ke sisi Alya, ia juga bersimpuh. Pria itu berusaha membujuk Alya untuk pulang, namun tetap saja tidak mendapat tanggapan.


"Al..., kita pulang dulu ya... Sudah hampir petang, mendungnya juga semakin gelap. Besok aku antarkan ke sini lagi ya..."


"Al...., Abimana pasti akan bersedih melihatmu seperti ini. Ia tidak akan rela, gadis yang dicintainya terus menerus dirundung duka. Alya...please, ayo kita pulang...!"


"Mas Raikhan pulang saja, aku akan tetap di sini menemani Mas Abi.., hiks...hiks..." Suara isak tangis Alya yang menyayat, membuat Raikhan semakin larut dalam kepedihan.


Glur....glur....


Bunyi guntur mulai terdengar bersautan, diiringi rintik air hujan yang makin lama semakin bertambah...


"Al..., hujan akan semakin deras. Ayo kita pulang...!" Bujuk Raikhan kembali.


Alya yang masih saja terisak, tidak membalas perkataan pria gagah itu. Si gadis malang, memegangi batu nisan yang bertuliskan nama sang kekasih dengan erat. Tangisnya makin menjadi, seiring semakin deras pula air langit yang tertumpah.


Sayatan di hati Raikhan bertambah, ketika melihat gadis yang masih dicintainya semakin tenggelam dalam duka. Ingin rasanya ia memeluk Alya, dan meraihnya dalam dekapan. Namun Raikhan sadar, itu adalah hal yang tidak mungkin, karena dia bukan siapa2 bagi Alya. Gadis itu hanya menganggap dirinya sebagai sahabat Abimana.


Bruk...


Tanpa Raikhan sadari tubuh Alya limbung di atas gundukan tanah.


Segera Raikhan mendekap Alya dalam pelukan. Pria itu menangis dan terus berusaha menyadarkan Alya.


Hujan kian deras, Raikhan segera membopong Alya dan berjalan meninggalkan tempat pemakaman, menuju parkiran mobil.


Sampai di samping mobil, Raikhan berusaha membuka pintu kemudian membaringkan Alya dengan perlahan di jok belakang.


Setelah menutupnya, dan membuka pintu mobil bagian depan, Raikhan masuk ke dalam, ia pun segera melajukan dengan kecepatan sedang.


***************


Di rumah kedua orang tua Raikhan


Papa Abraham sudah pulang dari kantor disambut hangat oleh istrinya. Setelah mempersilahkan suaminya untuk duduk dan meminum secangkir kopi, Mama Shela mulai bercerita tentang peristiwa tragis yang dialami oleh Abimana, sahabat karib putranya.


"Pa..., ada kabar duka..." Mama memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Kabar duka apa Ma...?" Papa Abraham mengerutkan kening.


"Pa..., Abimana meninggal dunia.."


Deg..


Papa Abraham seketika terkejut mendengar perkataan Mama Shela.


"Ap...apa Mama bilang..? Bima meninggal..? Itu tidak mungkin kan Ma....?"


"Pa.., yang sabar dan iklas...! Bima, meninggal karena kecelakaan. Kata Raikhan, mobil Bima terperosok ke jurang dan meledak. Jasad Bima hancur Pa...hiks...hiks.." Mama Shela mulai terisak ketika menceritakan apa yang terjadi pada Abimana.


Seketika wajah Papa Abraham memucat. Lelehan air bening mulai membasahi pipinya.


"Astaghfirullah.., ya Allah... Bima... Innalillahi wa inna ilaihi raji’un..."


"Kita harus tabah Pa...!! Bima memang sudah seperti anak kita sendiri, tapi Allah lebih menyayanginya. Sekarang kita mempunyai kewajiban memberi kekuatan pada Raikhan dan Alya...., untuk menghadapi ujian hidup dariNya..." Suara Mama Shela masih terdengar terisak. Beliau duduk semakin mendekat pada Papa Abraham, tangannya menggenggam tangan suami tercinta, seolah berusaha memberi kekuatan.


"Ma.., siapa gadis yang bernama Alya?"


"Gadis malang itu, calon istri Bima Pa... Mama sangat iba melihatnya rapuh.. Pa, kita anggap Alya seperti anak kita sendiri ya..? Pertama melihat dirinya, Mama merasa..., ingin lebih dekat dengan Alya. Entah mengapa Mama menyayangi si gadis malang..."


"Iya Ma...., Papa juga akan menganggap Alya sebagai anak sendiri. Kelak bila kedukaannya mulai mereda..., Papa ingin Raikhan yang menggantikan posisi Bima menjaga gadis itu.... Semoga saja, Alya maupun Raikhan tidak keberatan ya Ma.."


"Aamiin Pa..., Mama juga berharap seperti itu..."


Tiba2 terdengar suara teriakan dari luar rumah.....


"Ma..., cepat buka pintunya Ma...!! Mama...cepatlah Ma...!!! Kasihan Alya...."


Seketika Mama Shela membuka pintu, dan segera menyuruh Raikhan untuk membawa tubuh Alya ke kamarnya.


"Cepat Rai..., bawa Alya masuk ke kamarmu..!! Mama akan siapkan baju ganti untuknya...."


πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Readers jangan lupa tinggalkan like, rate 5, koment, serta vote bila berkenan, untuk mendukung author supaya lebih semangat menulis.. Trimakasih 😘😘

__ADS_1



__ADS_2