
Alya terus memanggil nama Abi disertai isak tangis yang terdengar semakin menyayat. Mama Shela dengan sabar mengusap rambut Alya dengan penuh kasih sayang, dan memberi motivasi pada si gadis yang malang untuk tegar menghadapi ujian hidup yang sedang menimpanya.
Setelah isak tangisnya mereda, Alya menatap Mama Shela dan Raikhan secara bergantian. Gadis itu mulai bertanya-tanya...
"Mas Raikhan..., Alya ada di mana..? Siapa Nyonya ini..? Apa yang terjadi denganku..?"
Raikhan menatap gadis malang itu dengan lekat, dan menjawab semua pertanyaannya.
"Al.., kamu ada di rumah orang tuaku.. Maaf aku membawamu ke sini. Kamu pingsan cukup lama Al... Itu membuatku terlalu panik dan bingung, mesti membawamu ke mana.....??"
"Ini Mamaku, Mama Shela..."
"Iya Alya Sayang... Perkenalkan Tante adalah Mamanya Raikhan. Kamu bisa panggil Tante.., Mama..." Mama Shela memperkenalkan dirinya pada Alya disertai senyuman hangat.
Alya berusaha untuk duduk, meski tubuhnya masih terasa seperti tanpa daya.
"Mas Raikhan..., di mana Mas Abi sekarang? Tadi aku hanya bermimpi kan....?" Pertanyaan yang terlontar dari bibir Alya, membuat Mama Shela dan Raikhan merasa semakin iba pada si gadis malang.
Raikhan terdiam, tak kuasa menjawab semua pertanyaan.
"Sayang.., sini Mama peluk...!!" Mama Shela semakin mendekat pada Alya dan memeluknya. Si gadis malang pun membalas pelukan hangat dari beliau.
"Sayang..., dengarkan Mama ya Nak..! Abimana sudah tiada. Iklaskanlah kekasihmu menuju Robb.Nya.., jangan kamu bebani Bima dengan ratapan dan tangismu..!! Kalau kamu benar mencintainya.., lepaskanlah dia dengan disertai doa..."
"Hiks..hiks..." Kembali Alya terisak. Dadanya kembali menyesak. Ia sadar bahwa calon suami yang sangat dicintai, mungkin saja memang telah tiada karena kecelakaan.
"Ma..., tapi Alya masih merasa Mas Abi masih hidup. Mas Abi sudah berjanji tidak akan meninggalkan Alya. Bahkan tiga hari lagi kami akan mengikat janji suci...hhhuuuuu...." Pipi Alya kembali basah dengan tetesan air mata. Raikhan hanya mampu menatap gadis yang pernah menolaknya itu dengan tatapan sendu. Bibirnya tak mampu berucap.
"Sayang..., Bima sudah tenang di sana. Percayalah, akan datang seorang pengganti Bima. Yang In shaa Allah terbaik bagimu Alya sayang..."
"Sekarang.., tenangkanlah pikiranmu Sayang...! Gantilah baju..! Kebetulan Mama masih menyimpan baju lama, waktu masih muda dulu."
"Sebentar Mama ambilkan, setelah bersiap-siap, kita berangkat ke pemakaman Bima. Tenangkan hatimu Alya...! Kalau kamu tetap tidak tenang dan masih menangis, jangan harap kami akan mengajakmu. Okay Sayang.." Ucap Mama Shela dengan tersenyum dan membelai rambut Alya.
Mama Shela berjalan keluar dari kamar Raikhan. Beliau mengambil baju ganti untuk Alya.
*************
Kini tinggal mereka berdua, Alya dan Raikhan yang terdiam dalam kebisuan.
Tak lama Mama Shela kembali memasuki kamar putranya. Beliau menyerahkan baju ganti untuk Alya. Dress panjang berwarna putih disertai kerudung dengan warna senada.
"Alya sayang..., gantilah pakaianmu!! Mama akan membantu memapah ke kamar mandi..." Alya mengangguk tanda menyetujui ucapan Mama Shela sambil menerima baju itu.
"Dan kamu Rai.., segera jemput keluarga Alya...!!" Perintah Mama Shela dengan nada halus, sembari menatap putranya.
"Baik Ma..." Raikhan melangkah keluar dari kamar. Sesampai di depan teras rumah, segera ia masuk ke dalam mobil dan mulai melajukannya.
__ADS_1
Di kamar.., si gadis malang mulai beranjak dari duduknya. Mama memapah Alya, sampai di pintu kamar mandi.
"Sayang, bersihkanlah badanmu. Atau..Alya butuh bantuan Mama..?"
"Tidak Ma, terima kasih. Alya bisa sendiri.."
"Baiklah Sayang, Mama akan menunggu di kamar. Hati2 ya...!"
"Iya Ma..." Alya menutup dengan perlahan pintu kamar mandi.
Gadis itu mengguyur seluruh badan, seolah berusaha untuk menghilangkan duka dengan aliran air yang telah membasahi tubuhnya. Alya kembali terisak, namun ia ingat dengan ucapan Mama Shela.., jika dirinya masih menangis maka Mama Shela dan Raikhan tidak akan mengajak Alya ke pemakaman Abi.
Si gadis malang menyudahi ritual mandinya. Kemudian ia mengenakan dress yang diberikan oleh Mama Shela.
KLEKK...
Pintu kamar mandi pun terbuka. Nampak si gadis malang berdiri di hadapan Mama Shela yang dengan sabar menunggu.
Mama Shela kembali meraih tangan Alya dan memapahnya sampai ke sisi ranjang. Merekapun duduk bersebelahan.
"Sayang..., makan dulu ya...!"
"Alya tidak lapar Ma.."
"Tubuhmu lemas Al.., Mama khawatir nanti kamu tidak akan kuat berjalan sendiri. Mama suapin ya Sayang..?" Alya menggelengkan kepala, ia menolak untuk makan.
"Bailklah, kalau Alya memang tidak mau makan... Minumlah susu..! Bibi sudah menyiapkannya untukmu..." Mama mengambil segelas susu yang ada di atas meja, dan menyerahkannya pada Alya. Si gadis malang meminum susu itu dengan perlahan.
"Iya, kembali kasih Sayang.."
************
"Mbak Alya..." Tiba2 terdengar suara seorang gadis memanggil. Alya terkejut mendengar suara yang tidak asing. Suara itu milik Asti.., adiknya.
Asti, Hana, dan Ibu.., terlihat memasuki kamar, diikuti oleh Raikhan.
Mereka bertiga berjalan mendekat ke arah Alya.
Kemudian saling berpelukan, bertangisan..., seolah menuangkan nestapa yang tengah di derita.
Usai mereka melepas pelukan, Mama Shela dengan ramah menyapa Ibu dan kedua adik Alya.
Karena hari sudah semakin sore, Mama Shela mengajak semua yang ada di kamar Raikhan untuk segera bersiap ke pemakaman Abimana.
Dengan beriringan mereka melangkah menuju mobil Raikhan yang sudah ada di depan teras.
Setelah semua duduk di dalam mobil, Raikhan mulai melajukannya dengan perlahan meninggalkan rumah Mama Shela, menuju ke tempat jasad seorang Abimana dimakamkan.
__ADS_1
**************
Di pemakaman...
Begitu keluar dari dalam mobil, Alya berlari kecil ke arah makam Abi. Di sana nampak Ayah dan Ibu Abimana, beserta beberapa orang yang berdiri dengan raut wajah sedih.
Ayah Hasan merangkul tubuh istrinya yang rapuh, karena duka mendalam, kehilangan anak semata wayang mereka.
"Ibu..." Teriak Alya semakin mendekat ke arah Ibu Abimana berdiri. Seketika Alya memeluk erat tubuh seorang ibu yang mestinya sebentar lagi akan menjadi ibu mertua si gadis malang.
"Alya..., maafkan Bima Nak.. Maafkan semua kesalahannya...hhuuuuu..." Bu Hasan menangis tersedu-sedu. Alya tak mampu membalas ucapan beliau. Mereka berpeluk semakin erat. Bahkan tubuh mereka semakin bergetar.
"Nak..., itu makam Abimana..." Terdengar suara Ayah Hasan yang membuat Alya segera melepaskan pelukannya. Matanya menatap gundhukan tanah yang masih basah. Seketika ia mendekat dan berlutut di sampingnya.
Tangan Alya mengusap gundhukan tanah itu. Suara isakannya semakin terdengar....
"Mas..., benarkah yang ada di dalam itu kamu? Jika benar, mengapa kamu tidak mengajakku ikut serta...hiks..hiks.. Mas, harusnya aku saja yang pergi, bukan kamu..." Tubuh Alya berguncang, menahan luapan rasa sesak di dalam hatinya...
Semua yang ada di sekeliling si gadis terdiam, mereka merasa empati pada Alya..
Tiba2 langit berubah mendung, seolah ikut tenggelam dalam lautan duka.... ššš
***********
**Langit begitu gelap hujan tak juga reda
Ku harus menyaksikan
Cintaku terenggut tak terselamatkan
Ingin kuulang hari
Ingin kuperbaiki
Kau sangat kubutuhkan, beraninya kau pergi
Dan tak kembali...
Di mana letak surga itu
Biar kugantikan tempatmu denganku
Adakah tanda surga itu
Biar kutemukan untuk bersamamu ..... (Agnez Mo)
ššššššššššššššš
__ADS_1
Maaf si Alya masih nangis terus ya readers, doakan si gadis malang semoga kelak dapat meraih kebahagiaan bersama orang yang dicintai...
Hik..hiks..., jangan lupa tinggalkan like, vote kalau berkenan mendukung author agar tambah semangat menulis, plus koment kasih kritik beserta sarannya ya Sob... šš