Cinta Gadis Biasa "Alya"

Cinta Gadis Biasa "Alya"
[POV.AUTHOR] Saling berkeluh kesah


__ADS_3

šŸ’“ Sahabat sejati akan selalu hadir dikala kita sedang terjatuh dan tertatih, ia bersedia dengan senang hati menjadi penguat serta penopang langkah tuk meraih kebahagiaan hakiki, tanpa ada pamrih yang mengiringi šŸ’“


- Flasback on Abimana -


Desah angin mengantarkan pesan kerinduan-Nya, kepada jiwa yang menghamba. Lantunan panggilan tanda cinta, berkumandang memecah kesunyian. Para insan pemilik iman, membasahi setiap bagian - bagian tubuh untuk bersuci.


Abimana, Kirana, Bu Arini dan Ayah Hasan, mulai menjalankan ibadah sholat maghrib dengan berjamaah.


Selepas menunaikan ibadah, Abimana mengajak Kirana untuk berbincang di ruang keluarga. Pak Hasan beserta istri masuk ke dalam kamar. Kedua orang tua Abimana memberi kesempatan kepada putra tercinta untuk bercengkrama dengan sahabat lamanya.


Abimana dan Kirana duduk bersebelahan di sofa.


Tanpa basa - basi si gadis konyol memulai percakapan mereka, "Bim, aku bisa menebak apa yang ingin kamu ceritakan. Budhe sudah bercerita tentang Raikhan dan Alya." Tatapan mata Kirana berubah sendu.


"Kapan Ibuku bercerita Ran?" Tanya Abimana penuh rasa ingin tahu.


"Saat aku pertama kali menginjakan kaki di rumahmu lagi Bim. Setelah hampir sepuluh tahun, aku meninggalkan kota Jogja. Sedih dan hancur hati ini Bim, ketika budhe bercerita tentang kecelakaan tragis yang merenggut nyawamu. Kesedihanku bertambah, saat beliau bercerita bahwa Raikhan sudah menikahi Alya, calon istrimu." Entah mengapa Kirana mulai tidak bisa membendung buliran - buliran bening yang keluar dari kedua sudut netranya.


"Hmmm, kesedihanku lebih mendalam dari pada yang kamu rasakan Ran. Setelah mengalami kecelakaan, dengan susah payah aku berusaha mengembalikan ingatan. Namun setelah ingatan itu kembali, yang kudapat malah kenyataan yang teramat pahit. Raikhan merebut Alya." Balas Abimana dengan menatap langit - langit.


Bug....


Tiba - tiba Kirana memukul punggung sahabatnya.


"Awww, sakit tau Ran. Kenapa kamu memukul punggungku?? Dasar gadis aneh." Umpat Abimana kesal.


"Makanya jangan menyalahkan pria yang aku cintai!" Ancam Kirana dengan menatap tajam Abimana.


Si pria tampan yang tidak mengerti maksud Kirana menjadi heran, "Hei, maksudmu apa Ran?"


"Hufttt, aku males sebenarnya kalau harus menjelaskan kepadamu Bim. Tau nggak sich, dari dulu tuch aku memendam perasaan. Aku cinta Raikhan. Huaaaa, rahasiaku terbongkar gara - gara kamu Bim." Kirana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Meski terkejut dengan ungkapan isi hati sahabatnya, Abimana merasa geli dengan ulah Kirana.


"What, kamu cinta Raikhan? Kenapa nggak mengungkapkan saja perasaanmu itu dari dulu?"


"Aku malu Bima. Raikhan tidak pernah memandangku layaknya perempuan. Sedih banget Bim. Makanya selepas SMA aku memutuskan ke Jakarta. Selama di sana, sahabatmu ini berusaha merubah penampilan. Bahkan aku kuliah di fakultas kedokteran, karena Raikhan bercita - cita menjadi seorang dokter. Dua bulan yang lalu, rinduku seolah membuncah kepadanya. Gadis malang ini, mencoba memberanikan diri pulang ke Jogja hanya untuk menemui Raikhan. Sesak dadaku ketika mengetahui Raikhan menikahi wanita lain." Tangis Kirana semakin menjadi.


Abimana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dalam hatinya berkata, "Huftt, sebenarnya siapa sich yang ingin berkeluh kesah??"

__ADS_1


"Sudah, jangan menangis Ran! Nich hapus air matamu!" Abimana memberikan tisu pada Kirana. Si gadis konyol menerima tisu itu dan perlahan menghapus air bening yang membasahi wajah cantiknya.


Kirana menghela nafas panjang.


"Bim, aku berusaha memantaskan diri agar kelak bisa bersanding dengan si oppa. Tapi apa yang kudapat?? Hiks... hiks, rasanya ingin menenggelamkan diri saja di sungai yang dangkal setelah mengetahui kenyataan pahit."


Seketika Abimana tertawa lebar mendengar ucapan sahabatnya, " Hhhhhhaaaa, ya Allah Ran. Heh, mana ada orang tenggelam lalu mati di sungai yang dangkal?"


Kirana mengacak - acak rambut pria tampan yang duduk disebelahnya dengan gemas.


"Heeh, siapa juga yang ingin mati?? Makanya aku ingin menenggelamkan diri di sungai yang dangkal."


"Ya dech, terserah apa katamu. Tapi jangan terus - terusan menyiksaku seperti ini! Tadi punggung, sekarang rambut." Abimana yang merasa kesal membalas perlakuan Kirana dengan menjapit hidung si gadis dengan dua jari.


"Aww, sakit Bim." Kirana merintih, sembari mengusap hidungnya yang memerah.


"Rasain!! Makanya jangan terus - terusan melakukan kekerasan! Wajar Raikhan tidak pernah memandangmu, dasar gadis tomboy. Penampilan saja yang berubah, tapi sikapmu tambah ampun dech."


"Bima, ucapanmu menyebalkan." Kirana memasang wajah cemberut.


Sejenak mereka terdiam. Tanpa terasa adzan berkumandang.


"Hemmmmzz, baiklah. Sepertinya aku salah orang untuk berkeluh kesah. Apalagi meminta saran." Abimana melirik gadis yang masih duduk bersebelahan dengannya.


"Tenang, kamu tidak salah orang Bim. Meski sebal, aku akan memberikan saran terbaik untukmu."


"Sebenarnya aku tidak yakin. Okay, kita sholat dulu." Abimana dan Kirana beranjak dari duduk. Mereka berjalan ke mushola kecil, milik kedua orang tua Abimana.


Ayah Hasan dan Bu Arini yang sedari tadi berada di dalam kamar, nampak berjalan keluar. Mereka juga melangkahkan kaki menuju mushola, menyusul Abimana dan Kirana.


***************


Usai menjalankan ritual ibadah sholat isya', Abimana dan Kirana melanjutkan perbincangan mereka kembali.


"Bim, sebenarnya kamu ingin meminta saran apa dariku?" Pertanyaan Kirana mengawali percakapan mereka.


"Hmmm, sebenarnya aku tidak yakin dengan saran yang akan kamu berikan Ran."


Abimana membuang nafas dengan kasar, "Hufff, jujur saat ini aku merasa marah dengan Raikhan dan Alya. Rasanya hatiku belum rela melihat mereka bersanding. Namun, aku sangat merindukan Alya. Bagaimana mengatasi kemarahan dan meluapkan kerinduanku, Ran??" Tatapan Abimana terlihat sendu.

__ADS_1


"Bim, harusnya kamu instrospeksi diri dulu, sebelum marah dengan mereka berdua! Coba ingat - ingat, kesalahan apa yang kamu lakukan sehingga musibah itu menimpa!" Balas Kirana memperlihatkan sisi lain dari karakternya.


Mendengar ucapan sahabatnya, Abimana mulai mengingat apa yang dimaksud oleh Kirana. Setelah merasa menemukan jawaban yang mendasari kejadian naas itu, wajah Abimana diselimuti rasa penyesalan.


"Benar apa yang kamu katakan Ran. Sebenarnya aku yang salah. Tapi mereka juga tetap saja salah."


"Kesalahan apa yang kamu perbuat Bim? Coba ceritakan padaku!"


"Hemmm, sebelum pergi ke rumah Oma, malamnya Alya sudah menyampaikan keresahan, dan aku pun sudah diberi pertanda oleh Allah lewat mimpi buruk. Paginya Ayah dan Ibu juga sudah berusaha melarangku untuk berpergian jauh. Mereka berdua meminta agar orang lain saja yang menjemput Oma. Namun, aku tetap bersikukuh untuk pergi. Hingga kejadian naas itu terjadi. Sungguh aku menyesal Ran."


"Bim, cobalah berdamai dengan takdir! Jangan menyalahkan siapa - siapa atas kedukaan yang menimpamu! Kehidupan, jodoh, rejeki, dan maut sudah tertulis di buku takdir yang dipersiapkan untuk setiap hamba-Nya. Kita hanya bisa berdoa dan berikhtiyar, serta diikuti dengan tawakal." Perkataan Kirana terdengar bijaksana.


"Iya, kamu benar Ran. Lalu apa yang bisa kuperbuat untuk meluapkan kerinduan pada Alya?"


Kirana nampak berpikir sejenak.


"Mmm, gini aja Bim. Kamu ingat sobat kita sewaktu di SMA? Si Fahrie."


"Owhhh, iya aku ingat. Yang cinta banget sama kamu kan?" Abimana menampakan seulas senyum.


"Hishhh, apaan sich. Dia cuma kagum aja, bukan cinta. Kamu kalah lho Bim, Fahrie sekarang sudah punya dua istri dan empat anak. Sedangkan kamu ...," Balas Kirana dengan tersenyum lebar.


Abimana yang sebal dengan ucapan sahabatnya, seketika mengacak - acak jilbab yang dikenakan Kirana dan membalas ucapan si gadis konyol, "Hehhhh, Ran. Kamu juga masih jomblo. Belum bersuami, ingetttt!"


"Duhhh, jilbabku jangan di acak - acak! Faham nggak sich ini aurat? Awas aja, kalau sampai melihat rambut indahku, sahabatmu yang teramat setia ini tidak akan segan - segan memanggil Pak Penghulu."


"Ppppfffttt ... hhhhhaha, apa hubungannya Pak Penghulu dengan rambut, Non?" Abimana merasa geli dengan ucapan konyol sahabatnya.


"Ya adalah, dengan melihat rambutku yang indah, berarti kamu telah menodai aurat wanita yang masih suci ini." Balas Kirana asal, disertai tawanya yang renyah.


"Hissss, bisa aja kamu Ran. Lanjut kasih sarannya, jangan cuma bercanda!"


"Hhhhehehe, baiklah. Melihatmu bisa tertawa membuatku bahagia Bim. Oke, kali ini aku akan serius memberimu saran ...."


šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“


Sarannya lanjut ke up berikutnya ya Sobat readers dan author yang masih mengikuti kisah Alya šŸ˜‰šŸ˜˜


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, rate 5, dan vote jika berkenan mendukung author.

__ADS_1


Trimakasih 😘😘😘


__ADS_2