
💓 Yakinlah akan pertolongan Allah, dengan menghadirkan malaikat tak bersayap, untuk membasuh luka, menghilangkan kedukaan, dan memberi harapan meraih bahagia 💓
- Flasback on Abimana -
Senja nan muram seolah melukiskan segala apa yang tengah dirasakan oleh pria berparas tampan. Kidung cinta sang maestro alam, terdengar sumbang tanpa nyanyian rindu dari kekasih.
Abimana masih tenggelam dalam kedukaan. Amarah dan kekecewaan menyelimuti hatinya. Hidup pria berparas tampan kini serasa hampa.
Ayah Hasan dan Bu Arini, berkali - kali mengetuk pintu kamar dan memanggil putra tercinta, namun tiada balasan. Kedua orang tua Abimana merasa sangat khawatir.
"Bima, apa kamu tidak berbelas kasih kepada orang tua yang tinggal menanti antrian menghadap-Nya, duch Cah Bagus? Ayah dan Ibu sangat memahami kedukaanmu, Le. Ingat Bim, semua ketetapan-Nya adalah yang terbaik! Pasti kelak Allah akan mengirimkan sosok wanita pengganti yang lebih baik dari Alya. Sabar dan tawakal putra ayah dan ibu!"
Ayah Hasan terus saja merayu putra tercinta.
Klekkk....
Abimana membuka pintu kamar dengan perlahan.
"Maafkan Bima Ayah, Ibu. Putra Ayah dan Ibu, sedang lemah iman. Rasanya Bima sangat terpukul menghadapi kenyataan yang teramat pahit."
"Sabar, ikhlas, berusahalah tegar ya Cah Bagus!" Ucap Ayah Hasan dengan suara serak.
"Iya Yah, Bima akan berusaha."
"Sekarang kita makan dulu ya Bim. Tadi, putri Bu Ratri datang mengirimkan masakan ibundanya."
"Kirana, Yah?"
"Iya, Kirana sahabatmu sewaktu di SMA."
"Loh, selepas SMA, Kirana tinggal bersama dengan tantenya di Jakarta kan Yah?" Abimana mengerutkan kening.
"Iya, sudah dua bulan Kirana kembali ke Jogja. Katanya mendapat tawaran kerja di kota ini, Bim."
"Kerja dimana si gadis tomboy?"
"Hmm, Ayah kurang tau Bim. Sewaktu Ayah bertanya tentang pekerjaannya, Kirana hanya menjawab, dia bekerja sebagai pengacara, pengangguran banyak acara yang sok sibuk, hhhhhehhe. Ayah geli jika berbincang dengannya Bim."
"Kirana belum berubah ya Yah?" Balas Abimana mulai menampakan seulas senyum. Terbayang olehnya, sosok gadis konyol yang melekat pada pribadi Kirana.
"Iya Bim, yang berubah hanya penampilannya saja. Sekarang Kirana berjilbab."
"Hah, masa iya si gadis tomboy berjilbab?" Berbincang tentang Kirana, sedikit mengalihkan kesedihan Abimana.
"Kalau tidak percaya, besok temui saja sahabatmu itu di rumahnya Bim!" Ayah Hasan tersenyum lebar. Bu Arini pun ikut tertawa mendengar perbincangan kedua pria yang dicintai. Dengan membicarakan Kirana, seolah mereka melupakan kesedihan yang sedang mendera, meski hanya sementara.
"Yasudah, yuk kita makan dulu!" Ajak Bu Arini. Mereka bertiga berjalan menuju ruang makan.
******************
Di Ruang makan.
Ayah Hasan, Bu Arini, dan Abimana mulai menikmati menu makanan yang terhidang di atas meja. Pria tampan hanya mengambil nasi dan lauk sedikit, seolah ia sedang tidak bernafsu untuk memakannya.
"Bim, makan yang banyak! Kasihan tubuhmu, Cah Bagus." Bujuk Bu Arini dengan suara lembut.
__ADS_1
"Bima sedang tidak berselera makan Bu."
"Yasudah Bim. Ibu buatkan susu ya?"
"Tidak usah Bu. Ini saja sudah cukup."
Tok.... tok... tok...
"Asalamu'alaikum, Budhe."
Suara pintu diketuk, dan diikuti oleh ucapan salam dari luar rumah.
"Biar Bima yang membuka pintunya Bu."
"Baiklah Bim."
Abimana beranjak dari duduk, kemudian berjalan menuju pintu depan.
Klekkk.....
Pria berparas tampan dan memiliki sepasang mata teduh, perlahan membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam." Ia pun membalas salam. Ternyata tamu yang datang ke rumah Abimana adalah si gadis tomboy.
Kirana terkejut ketika menatap pria yang berdiri di hadapannya, "Astaghfirullah, arwah Bima."
Si gadis menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan membaca Ayat Kursi, "Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim."
Meski sedang berduka, Abimana tidak bisa menahan gelak tawa melihat tingkah konyol Kirana, "Pffffffttt ... hhahaha, ya Allah Ran." Abimana mengacak jilbab sahabat lamanya.
"Please, pergilah wahai arwah!" Ucap Kirana dengan bibir gemetar.
"Please arwah, maafkan atas kesalahanku di masa lalu! Pergilah dengan tenang Bim, aku sudah mengikhlaskanmu!" Kirana belum berani menatap pria yang ada di hadapannya. Bukan hanya bibir yang gemetar, tubuhnya pun berguncang hebat. Ingin lari, namun kedua tangan Kirana dipegang dengan kuat oleh Abimana.
"Ya Allah, Kirana. Ini aku Abimana, bukan arwah. Seenaknya saja menyebutku arwah. Please dech, jangan konyol!"
Kirana berusaha memberanikan diri menatap wajah Abimana lekat - lekat. Terlihat Abimana yang sedang tersenyum lebar. Si pria tampan mulai melepaskan kedua tangan sahabatnya.
"Benar kamu Abimana? Bukan arwah gentayangan?" Tanya Kirana tidak yakin.
"Iya gadis konyol. Dasar kamu Ran, masih juga suka berulah ...."
Karena masih kurang begitu yakin, Kirana mencubit pipi Abimana dengan kuat.
"Aduhhh, sakit tau Ran. Aku jitak lho." Abimana kesakitan karena cubitan si gadis konyol.
"Pffftttttt ... hhhhhaha, ini beneran kamu Bim? Ishhh, kenapa tidak bilang dari tadi?" Belum puas mencubit, kini Kirana menambahkan tinju di pipi Abimana.
"Duh, hobimu melakukan kekerasan belum juga sembuh ya Ran. Coba kalau pria, sudah habis menerima balasan tinju dariku." Abimana mengusap pipinya.
"Ishhhh, maaf Bim. Aku terkejut melihatmu. Pakdhe dan Budhe bilang kalau putra tercinta mereka sudah meninggal karena kecelakaan."
"Iya, harusnya aku sudah pergi ke alam lain. Biar tidak merasakan pahitnya kenyataan."
"Apa maksudmu Bim? Dan ini, tanganmu kenapa?" Kirana bertanya dengan menatap wajah sahabat lamanya lekat - lekat.
__ADS_1
"Nanti aku ceritakan. Sekarang masuklah ke dalam!"
"Hmmm, baiklah Bim."
Kirana melangkah masuk ke dalam rumah. Mereka berdua berjalan menuju ruang makan untuk menemui kedua orang tua Abimana.
"Loh, Kirana. Duduk dulu, Ndhuk!" Bu Arini mempersilahkan tamunya untuk duduk di kursi.
"Iya Budhe."
Abimana dan Kirana duduk bersebelahan.
"Makan dulu Ran!"
"Njih Budhe, tadi Kirana sudah makan di rumah." Kirana menolak dengan halus.
"Ada keperluan apalagi Ndhuk?"
"Ini Budhe, jahitannya sudah jadi. Kirana dimintai tolong Ibu untuk mengantarkannya dengan segera." Kirana menyerahkan paper bag berisi baju gamis yang sudah selesai dijahit kepada Bu Arini.
"Owalah, trimakasih ya Ndhuk. Oiya, berapa biaya jahitnya Ran?"
"Seratus ribu, Budhe."
Bu Arini membuka dompetnya dan menyerahkan tiga lembar uang kertas berwarna biru pada Kirana.
"Ini Nduk, kelebihannya untukmu."
"Tidak usah Budhe." Kirana mengembalikan uang kelebihan kepada Bu Arini.
"Yasudah, sampaikan trimakasih Budhe kepada Ibunda ya!"
"Injih Budhe. Nanti Kirana sampaikan."
"Ehm, Ran. Bisa kita bicara sekarang?" Abimana menyela percakapan antara Bu Arini dan Kirana.
"Mmmm, usai sholat maghrib saja dech Bim. Biar lebih leluasa."
"Baiklah, kamu sholat maghrib di sini skalian ya!"
"Siapppp, Bim."
"Aku butuh saran darimu Ran."
"Hemmm, nanti akan aku beri saran Bim. Setelah mendengar apa yang ingin kamu sampaikan."
"Trimakasih sebelumnya, Ran."
"Huum, masama Abimana Surya Saputra." Balas Kirana disertai kerlingan mata dan senyuman yang terhias di bibir indahnya.
Melihat keakraban Abimana dan Kirana, memberikan sedikit ketenangan di hati Ayah Hasan dan Bu Arini. Mereka berharap, Kirana dapat membantu Abimana untuk mengobati rasa sakit hati yang sedang mendera putra tercinta. Mengganti kedukaan dengan kebahagiaan.
💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓
Nachhh, setelah mendengar keluh kesah Abimana, kira2 apa ya yang disarankan oleh Kirana?? 😉😍
__ADS_1
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak like, komentar, rate 5, dan vote jika berkenan mendukung author.
Salam dari Cinta Gadis Biasa "Alya" 😘