
Seperti yang sudah Mama Shela perkirakan, Ayah dan Ibu Abimana menyetujui bahkan merestui Raikhan untuk mempersunting Alya, menggantikan putranya yang telah tiada.
Selama satu Minggu, Mama Shela dan Papa Abraham mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan pernikahan Raikhan dan Alya.
Mereka hanya mengundang keluarga dan sahabat dekat untuk menghadiri acara ijab qabul dan resepsi, yang hanya akan dilaksanakan secara sederhana sesuai permintaan kedua calon pengantin.
Hari seolah berlalu dengan begitu cepat, hingga saat yang dinanti pun tiba.
Halaman rumah orang tua Raikhan disulap bak kebun yang dipenuhi dengan rangkaian bunga mawar putih. Kursi tamu tertata sangat rapi, semua di dekor dengan warna yang melambangkan kesucian.
Khusus untuk kursi pengantin dipenuhi dengan taburan kelopak bunga mawar putih, yang menambah nuansa romantis.
Mempelai pria beserta keluarga sudah menunggu si mempelai wanita.
"Itu dia calon menantu Mama sudah tiba..." Mama tersenyum bahagia.
Ucapan Mama Shela seketika membuat Raikhan terkejut, ia pun segera menoleh. Mata Raikhan terpaku menatap wajah ayu seorang gadis yang berjalan perlahan, disertai oleh seorang ibu yang memegangi tangannya dan iring-iringan keluarga mempelai wanita, berjalan dibelakang.
Calon istri Raikhan tampak semakin cantik dan anggun, dengan kebaya berwarna putih yang melekat di tubuhnya. Kebaya itu dihiasi dengan renda dan bertabur payet. Dengan model kerah semi sanghai. Dilengkapi dengan jilbab yang terhias rangkaian melati putih, membalut kepala si gadis.
Calon mempelai wanita terlihat menunduk, tanpa membalas tatapan Raikhan. Seolah ada perasaan yang berusaha ditekan dan disembunyikannya. Perasaan bahagia bercampur sedih. Bahagia karena sebentar lagi, si gadis akan melepas masa lajangnya. Sedih karena pria yang akan menikahi bukanlah Abimana, melainkan sahabat dari kekasihnya.
Kedua mempelai dipersilahkan duduk di kursi dengan bersebelahan, di hadapan Bapak Penghulu.
Ritual yang mengiringi ucapan ijab qabul pun segera dimulai.
Wajah tampan Raikhan terlihat sangat gugup, ketika mengikrarkan janji suci.
"Saya terima nikah dan kawinnya Alya Putri Binti Alm. Hendro Saputra dengan maskawin yang tersebut diatas tunai.ā
"Sah.." Ucap Bapak penghulu, yang kemudian mendapatkan balasan dari para saksi.
"Sah..."
"Alhamdulillah...."
Setelah membaca doa, kedua mempelai dipersilahkan untuk menandatangani buku nikah. Kemudian dilanjutkan dengan serah terima mahar, dan tukar cincin.
Dengan perlahan, Raikhan menyematkan cincin pernikahan di jari manis sang istri, dan mencium kening wanita pujaan hatinya dengan lembut dan penuh cinta. Alya merasakan ada getaran dan kasih sayang yang mengalir hangat di sekujur tubuhnya, karena ciuman pertama yang diberikan oleh Raikhan. Seumur hidup si gadis tidak pernah mengijinkan lelaki manapun untuk menciumnya, kecuali saat ini..
Dengan tangan gemetar Alya meraih dan mencium punggung tangan suaminya. Gadis itu mulai menengadahkan wajah untuk menatap Raikhan. Betapa tampan dan tanpa cela wajah pria yang ada di hadapannya.
Raikhan membalas tatapan Alya dengan penuh cinta, dibibirnya terhias senyuman manis.
"Al.., Bismillah kita memulai hubungan ini. In shaa Allah sakinah bersamamu. Aku berjanji akan menjaga dan mencurahi kasih sayang untukmu, wahai istriku..."
"Aamiin, trimakasih..Mas. Alya akan berusaha membuka hati untukmu suamiku...."
"Terimakasih Sayang..."
Merekapun bergantian mencium punggung tangan Papa Abraham, Mama Shela, Ibu, dan kedua orang tua Abimana, sebagai tanda bakti, penghormatan, dan permohonan restu.
Alya memeluk Mama Shela dengan erat dan mengucapkan trimakasih, ia juga berganti memeluk sang Ibu dengan tak kalah erat. Air mata tampak mulai keluar dari kedua sudut netranya.
__ADS_1
Tibalah saatnya Alya memeluk Ibu Abimana..., dengan terisak ia mengucap permohonan maaf pada beliau.
"Bu..., maafkan Alya. Bukan maksud saya untuk mengkhianati Mas Abi. Bu, Alya mohon restu dan keridhoan...."
Ibu Abimana membalas pelukkan Alya, juga dengan disertai isak tangis.
"Alya tidak pernah mengkhianati putra Ibu, hanya keadaan dan takdir yang membuat kalian tak bisa menyatu. Berbahagialah Sayang, cintai Raikhan seperti kamu mencintai Abimana. In shaa Allah, Bima tersenyum menatap kalian...."
"Ibu..." Alya semakin mempererat pelukannya.
********************
Setelah prosesi acara ijab qabul selesai, kemudian dilanjutkan dengan pesta resepsi sederhana. Nampak Raikhan selalu menggenggam tangan sang istri seolah tak ingin terlepas.
Terlihat rombongan sahabat Alya datang mendekat bersama pasangan masing2.
"Alya...., selamat Say... Akhirnya kamu menikah..." Vita memeluk Alya dengan erat.
"Makasih Vit..."
"Berbahagialah ya Say, lupakan cerita lama, bukalah lembaran baru...!!" Tampak Vita berkaca-kaca menatap sahabatnya, begitu pun Alya. Mereka melepas pelukan perlahan. Kemudian Vita dan pasangannya, berganti memberi selamat pada Raikhan.
"Alya.., selamat Say..." Ucap Dara sambil memeluk sahabatnya.
"Iya Ra..., trimakasih..." Alya membalas pelukan Dara.
"Sabar dan iklas Say!! In shaa Allah ini yang terbaik..." Mata Dara pun tampak berkaca-kaca, mereka mulai melepas pelukan.
Dara dan pasangannya, berganti memberi selamat pada Raikhan.
"Hai Sob..., selamat atas pernikahan kalian. Semoga sakinah, mawadah, warohmah..." Aldi menjabat erat tangan Alya, matanya pun juga tampak berkaca-kaca. Masih teringat senyum bahagia sahabatnya, ketika datang memberi undangan pernikahan bersama pria yang telah tiada, Abimana.
Aldi sangat empati pada Alya. Ia mencoba tidak meneteskan air mata dihadapan pengantin putri. Sang kekasih yang berdiri di dekatnya, mengelus punggung Aldi dengan lembut untuk menenangkan.
"Makasih ya Di..." Alya membalas dengan menahan isak.
Satu persatu semua sahabat Alya memberi selamat. Ada keharuan yang menyelimuti.
Acara resepsi ditutup dengan menikmati makanan yang telah tersedia, dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama kedua mempelai.
Pernikahan Raikhan dan Alya berlangsung dengan khidmad dan penuh makna. Semoga sakinah, mawadah, warohmah dapat mereka raih.
****************
Malam pertama pasangan pengantin baru, hanya dengan menatap rasi bintang sambil duduk di taman belakang rumah.
"Al.., apa kamu melihat wajah Abimana di langit..?"
"Iya Mas..., setiap Alya menatap langit yang terhias rasi bintang, pasti ada lukisan wajah Mas Abi..." Balas Alya sembari menyandarkan kepalanya di bahu Raikhan. Sedangkan tangan sang suami, merangkul erat pundak istri tercinta.
Pria yang kini telah resmi menjadi suami Alya, tidak merasa sakit hati dengan ucapan istrinya. Ia memahami perasaan Alya. Raikhan sudah sangat merasa bahagia serta bersyukur, hanya dengan menjadi suami yang dapat dengan leluasa menjaga dan mencurahi kasih sayang pada si pujaan hati.
*************** š
__ADS_1
Saat kuputuskan
Bertemu orang tuamu
Kuyakinkan diri
Kaulah yang terbaik
Dan saat kau memilih
Aku yang pantas untukmu
Hati ini berikrar
Tuk s'lalu menjagamu
Kuyakin kaulah jawaban
Di setiap pintaku
Walau Ku belum tahu namamu
Bisikkan di sujudku
Di sepertiga malamku
Untuk Kehadiranmu
Sempurnakan imanku
Buang cerita lama
Rangkai cerita baru
Menua bersama
(Rey Mbayang)
ššššššššššššššš
Readers..., berhubung banyak yang koment supaya Alya segera menikah dengan Raikhan..., ok dwehh..di episode ini, author menikahkan mereka...hhhehe šš
Mohon maaf kalau prosesi pernikahannya ada yang kurang š š
Jangan lupa tetap tinggalkan jejak ya, like, koment, rate 5, dan vote ššš
Happy reading... š
Baca juga karya sobat author ya.... š
__ADS_1