
Malam ini, entah mengapa hatiku merasa tidak tenang. Aku duduk termenung di dalam kamar, sambil menatap rasi bintang dari balik jendela, yang seolah membentuk wajah seseorang. Wajah yang selalu ku rindukan bila gelap malam mulai menyelimuti bumi. Mas Abimana Surya Saputra. Meski setiap hari bertemu, namun kerinduan ini selalu muncul. Bahkan, di malam ini..., perasaan itu bertambah kuat berkali-kali lipat.
"Ach...mungkin hanya sekedar perasaan dari calon mempelai wanita yang sebentar lagi akan merengkuh cintanya. Berdamping dengan kekasih hati." Gumamku.
derttt...drtttt.... getaran dari ponselku. Ternyata ada panggilan vidio call dari pria yang tercinta....
š "Assalammuallaikum Mas..."
š "Waallaikumsalam.., Sayang... Jam segini belum tidur?"
š "Tadi sudah tidur sebentar Mas, ni aku terbangun..., gara2 kangen calon suamiku.."
š "Hmm, sama Al. Aku juga terbangun gara2 mimpi buruk tentang calon istriku.. Sedih Al.."
š "Hah..., mimpi apa Mas?"
š "Kata orang mimpi buruk itu tidak boleh diceritakan Yank. Yang penting Sayang selalu berhati-hati ya...!! Banyak berdoa Al..!!"
š "Iya.., Mas Abi juga harus selalu berhati-hati.. Jaga dirimu ya Mas..!!"
š "Iya Sayang.. Besok aku mau menjemput Oma, berangkat dari rumah jam tujuh pagi. Maaf tidak bisa mengantarkan Sayang kerja."
š "Iya Mas, rumah Oma jauh nggak Mas?"
š "Lumayan Al, kalau dari kota perjalanannya bisa mencapai tiga sampai empat jam."
š "Mas...., apa sebaiknya orang lain saja yang menjemput Oma? Atau kalau boleh, aku ikut ya Mas..."
š "Tidak mungkin aku menyuruh orang lain Al, Oma pasti lebih senang kalau dijemput cucu kesayangannya ini... Sayang juga nggak usah ikut, takutnya nanti malah kecapean.., hhhehe..."
š "Baiklah Mas, tapi hati2 ya di jalan!! Banyak baca doa ketika menyetir mobil..."
š "Iya Sayang, sudah semakin larut Al... Bobok dulu ya, mimpikan calon suamimu ini...!!"
š "Iya Mas.. Aku akan memimpikan tentang kita..."
š "Pffffttt...hhhaha, tapi jangan mimpi yang mes** ya!! Belum boleh..."
š "Apaan sich Mas..., paling Mas Abi yang mimpi seperti itu, ya kan...??"
š "Hhhehe..., bercanda Sayangku.. Aku mencintaimu Alya Putri."
š "Aku juga mencintaimu Mas Abimana Surya Saputra..."
š "Assalammuallaikum Sayang..."
š "Waallaikumsalam Mas..."
Aku menutup panggilan dari kekasihku. Perasaan cinta ini seolah bertambah, ketika melihat & mendengar suaranya, meski hanya lewat vidio call. Mas Abi, aku ingin selalu menatap wajah tampanmu, dan mendengar keindahan suaramu.
"Sabar..., sabar Alya..., In shaa Allah sebentar lagi kamu akan selalu berada di sisi Mas Abi, menatap indah sinar matanya, hidung yang mancung, wajah tampan tanpa cela, bibir yang... Astaghfirullah... Duh pikiranku kog malah berkeliaran seperti ini..." Kataku pada diri sendiri sambil menutup wajah dengan bantal...
__ADS_1
*************
Pagi menjelang..., setelah melakukan rutinitas tiap pagi, aku kembali berangkat kerja. Sayang, pagi ini kekasihku tercinta tidak bisa mengantar. Seperti ada yang kurang, bila tak bertemu dengannya.
Bersyukur..., hari ini sangat cerah, semoga perjalanan Mas Abi ke rumah Oma diberikan kelancaran dan tidak ada halangan apapun.
Setelah turun dari motor pak ojek, dan mengembalikan helm, aku berjalan dengan hati2 menyeberangi jalan menuju toko. (Pembayaran ojek online dengan go***.)
Tanpa sadar, dari sisi kiri ada pengendara yang melajukan sepeda motornya dengan sangat kencang...
"Alya..., awas...!!"
Brukk..
Tubuhku seolah di dorong oleh seseorang. Hampir saja aku terpental, jika tidak ada si penolong.
"Alya..., kamu ngga papa kan?? Ada yang luka tidak Al??" Aku mendengar suara pria yang sangat familiar. Dialah penolongku dari insident yang nyaris membuat celaka.
Aku menoleh ke arahnya, benar saja..., suara itu ke luar dari bibir sahabat Mas Abi, Mas Raikhan.... Aku sangat terkejut melihatnya. Ada tetesan darah yang mengalir dari siku tangan kirinya.
"Mas Raikhannn...?"
"Iya Al.., tidak ada yang terluka kan..?"
"Ti..tidak Mas. Kenapa Mas Raikhan ada di sini?"
"Dari tadi malam perasaanku tidak enak Al. Aku bermimpi sesuatu yang buruk akan menimpamu..."
"Apa?? Bima juga bermimpi yang sama denganku?" Ucap Mas Raikhan, pria itu sangat terkejut.
"Iya Mas..."
"Di mana dia sekarang? Mengapa dia tidak mengantarmu Al?" Mas Raikhan menatapku lekat. Saat ini kami duduk di trotoar.
"Mas Abi pergi ke rumah Oma...., katanya ia berangkat jam tujuh pagi..."
"Dasar pria bod**, mengapa dia tidak mengajakku?"
"Memangnya kenapa Mas? Ap..apa yang akan terjadi kalau Mas Abi pergi ke rumah Oma sendiri?" Tanyaku penuh dengan rasa khawatir. Aku takut terjadi sesuatu pada Mas Abi. Tiba2 tubuhku gemetar, gadis ini tak mampu menguasai emosi.
"Semoga tidak terjadi sesuatu Al. Abimana tidak begitu menguasai jalanan menuju desa itu. Butuh tiga sampai empat jam untuk sampai ke sana. Biasanya dia selalu mengajakku bila ke rumah Oma, dan aku yang menyetir..."
"Lalu bagaimana Mas...?? Ak..aku sangat takut.."
"Tenangkan dirimu Al..!! Aku akan menyusul calon suamimu.."
"Ak..aku ikut Mas... Tunggu sebentar...!! Alya ambil kotak p3k dulu. Luka di tangan Mas Raikhan akan Alya obati dulu.." Tanpa menunggu jawaban Mas Raikhan, aku berlari kecil untuk segera meraih pintu toko.
Aku beruntung kali ini, rupanya Bu Martha datang lebih awal dari pada para karyawannya.
Bu Martha terkejut melihat wajahku yang pucat, karena terlalu mengkhawatirkan Mas Abi.
__ADS_1
"Ada apa Al...? Kenapa wajahmu pucat Nak..?"
"Bunda.... Alya butuh kotak p3k untuk mengobati luka Mas Raikhan.." Ucapku tanpa menjawab pertanyaan Bu Martha.
"Ambilah Nak..!! Raikhan pelanggan kita..?"
"Iya Bunda..."
"Kenapa dia..?"
"Tadi Mas Raikhan terserempet motor, karena menolong Alya.."
"Innalillah.. Ya sudah, ambil segera kotaknya Al..."
"I..iya Bunda..." Aku segera mengambil kotak p3k, kemudian berlari kecil ke arah Mas Raikhan. Dengan hati2 luka ditangannya ku bersihkan dan obati.
"Trimakasih Al..."
"Iya, sama2 Mas.."
"Aku akan berangkat menyusul Bima sekarang. Mungkin dia baru sampai di desa x.. Di sana jalanannya licin dan curam Al. Aku mengkhawatirkan pria itu..."
"A..aku harus ikut Mas..."
"Tidak usah, kamu di sini saja ya Al.. Tenangkan dirimu!! Banyaklah berdoa...!!"
"Tidak Mas, aku tidak bisa tenang kalau harus menunggu..."
Mas Raikhan menghela nafas panjang. Dia memilih untuk mengabulkan permintaanku, untuk ikut bersamanya.
"Baiklah Al...."
"Tunggu sebentar ya Mas!! Aku ijin dulu pada Bu Martha..."
"Iya Al..."
Aku segera memasuki toko, menemui Bu Martha untuk meminta ijin pada beliau. Alhamdulillah, Bu Martha memberikan ijinnya.
Setelah meminta ijin, aku berjalan mendekat ke tempat Mas Raikhan yang sedang duduk menunggu.
"Mas, aku sudah ijin Bu Martha.. Ayo kita berangkat sekarang Mas...!!"
"Iya Al..."
Mas Raikhan beranjak dari duduk, kami pun mulai berjalan menyeberangi jalan dengan langkah lebar.
šššššššššššššš
Entah apa yang akan terjadi pada Abimana, Raikhan dan Alya selanjutnya ya readers..???
Jangan lupa tinggalkan like, rate 5, vote, koment saran serta kritiknya ya say...
__ADS_1
Trimakasih šš