Cinta Gadis Biasa "Alya"

Cinta Gadis Biasa "Alya"
Dua Pria Perfect


__ADS_3

Aku dan Mas Abi telah sampai di teras rumah Mas Raikhan. Perasaan bersalah menyelimutiku, karena telah melukai hati seorang pria baik, yang ternyata pernah mengalami luka lebih dalam. Ditinggalkan kekasih karena tak mampu menyelamatkan nyawa sang calon adik ipar. Kini luka itu seolah semakin bertambah, dengan kehadiranku di kisah hidupnya.


Ting...tong...ting..tong..


Mas Abi memencet bel pintu dan mengucapkan salam.


"Assalammuallaikum..., Bro...."


"Waallaikumsalam, ya sebentar..." Terdengar suara Mas Raikhan dari dalam rumah.


Krekkkkk... Pintu itu kemudian dibuka dengan pelan.


Jantungku semakin berdebar, keringat dingin mulai membasahi tangan. Namun aku harus mencoba untuk menyembunyikannya dari Mas Abi dan sahabatnya. Aku harus bersikap seolah sedang tidak merasa apapun. Padahal, rasa bersalahku pada Mas Raikhan membuat diri ini teramat gugup bila harus berhadapan dengannya.


"Hai..Bro..." Ucap Mas Abi sembari memeluk erat sahabatnya.


"Hai juga Bro.." Balas Mas Raikhan sambil membalas pelukan Mas Abi.


"Bro, aku ke sini dengan calon istriku..." Ucap Mas Abi sambil melepas pelukannya.


"Owh ya...? Mana dia..?"


"Ada di belakangku, nich..." Mas Abi menggeser kaki dari tempatnya berdiri, aku hanya menunduk, tak berani menatap Mas Raikhan.


Ketika melihatku, Mas Raikhan menatap dengan intens. Mungkin dia terkejut, namun dokter muda itu memilih tak mengucapkan sepatah kata pun.


"Alya..., Sayang... Kenapa menunduk? Kenalkan, ini dia sahabatku Raikhan..." Aku mulai menengadahkan wajah dengan perlahan. Tak sengaja tatapanku beradu dengan Mas Raikhan. Bibir kami sama2 terkunci. Mas Abi melihat kami dengan heran.


"Heiii, kalian kenapa saling terdiam? Jangan2 kalian sudah saling mengenal?"


"I..iya Mas, kami sudah saling mengenal. Mas Raikhan ini salah satu pelanggan di toko Bu Martha..." Jawabku, aku berharap Mas Abi tidak bertanya lebih.


"Owh..., benarkah Bro apa yang dikatakan calon istriku ini??"


"Iya benar Bro, apa yang dikatakannya. Ayo silahkan masuk dulu..!!" Mas Raikhan mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam rumahnya. Kami melangkahkan kaki menuju ruang tamu, kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Mau minum apa Bro..?" Tanya Mas Raikhan dengan memberi senyuman pada Mas Abi. Pria itu seolah berusaha tak menatapku.


"Kelapa Muda aja Rai....." Mas Abi meletakkan tiga buah kelapa muda di atas meja.


"Okay, sebentar aku bukanya dulu ya..."

__ADS_1


"It..itu sudah dibuka Mas, tinggal ngasih pipet aja. Tadi Rudy sengaja sekalian membukanya, biar kita lebih mudah untuk minum..." Aku berkata dengan menahan gugup.


"Okay, aku ambil pipetnya dulu.." Mas Raikhan berjalan ke arah dapur, tak lama ia kembali dengan membawa tiga pipet. Kemudian si dokter malang duduk berhadapan dengan kami.


Percakapan dua orang sahabatpun kembali dimulai.


"Bro, aku ke sini mau ngasih undangan pernikahanku dengan Alya. Aku harap kamu bisa datang.." Mas Abi mengeluarkan undangan pernikahan kami dari dalam tas selempangnya, kemudian ia berikan pada Mas Raikhan. Si dokter malang menerimanya, tampak ia sedang mengamati nama yang tertulis di sana.


"In Shaa Allah Bro, akan aku usahakan. Semoga kalian diberi kemudahan dan kelancaran hingga hari H ya.." Mas Raikhan mendoakan kami dengan ketulusan.


"Aamiin..., makasih doanya Bro.."


Aku menyesap air kelapa muda sembari mendengarkan obrolan mereka. Sesekali dua orang sahabat itu, nampak tertawa lebar membicarakanku. Hufftt..., seolah diantara mereka aku hanyalah sebagai pendengar.


"Bro, ada kabar dari Mala?" Pertanyaan Mas Abi tiba2 membuat Mas Raikhan tersedak.


"Uhuk..uhuk.."


"Maaf Bro, aku tidak bermaksud..."


"Ngga papa Bim.. Tapi lain kali jangan bertanya soal dia lagi. Aku sudah melupakannya..." Balas Mas Raikhan tanpa melihat Mas Abi.


"Uhuk..." Kembali Mas Raikhan tersedak.


"Owh.., soal itu.., sebenarnya sudah ada, tapi aku terlambat bertemu dengannya, dia sudah memiliki kekasih..." Ucapan Mas Raikhan terdengar menyedihkan. Aku berusaha untuk menekan perasaanku saat ini. Rasa bersalah pada pria malang dihadapanku.


"Kenapa baru cerita sekarang Rei..?"


"Sudahlah Bim, jangan bertanya tentang masalahku lagi.."


"Baiklah kalau itu maumu Bro..." Ucap Mas Abi sambil menyesap air kelapa muda.


"Oiya Bim, apa Diana masih mengganggumu..?" Pertanyaan Mas Raikhan membuatku juga ingin segera mengetahui jawaban tentang Diana dari bibir calon suamiku.


"Alhamdulillah sudah tidak Rai. Wanita itu sudah dikirim ke LN oleh ayahnya..."


"Syukur Alhamdulillah Bim..."


"Sudah adzan Maghrib. Kami boleh menumpang sholat di rumahmu Rai...?"


"Tentu saja boleh Bim, kita sholat berjamaah di ruang keluarga ya. Kebetulan ruangannya agak luas, bisa digunakan untuk kita bertiga..."

__ADS_1


"Trimakasih Rei..."


"Sama2 Bro, yuk kita ambil air wudhu dulu..!!"


************


Mas Raikhan mengajak kami untuk mengambil air wudhu dari pancuran yang barada di kamar mandi, dekat dapur.


Kemudian kami bersiap untuk melaksanakan sholat berjamaah di ruang keluarga.


Aku segera memakai mukena. Mas Abi melantunkan iqomah, kemudian Mas Raikhan menempatkan diri sebagai imam sholat.


Sahabat Mas Abi mulai membaca takbiratul ihram. Terdengar lantunan kalam suciNya dengan merdu yang keluar dari bibir sang imam sholat, semakin membawa kami dalam kekhusyukan dan kenikmatan dalam beribadah.


Usai salam, dzikir dan doa kami lantunkan. Kemudian dilanjutkan membaca kalam CintaNya secara bergantian.


Dimulai dari Mas Abi, yang membaca surat Ar Rahman ayat satu sampai ayat ke sepuluh. Calon suamiku melantunkan kalam cintaNya dengan suara merdu. Aku menatap lekat, karena semakin terpesona olehnya. Betapa bahagia gadis ini mendapatkan cinta dari pria se perfect Mas Abi.


Kemudian bacaan dilanjutkan oleh Mas Raikhan. Ia membaca ayat ke sebelas hingga ke dua puluh. Suaranya pun terdengar sangat merdu. Keindahan kalam cintaNya teramat fasih dilantunkan pria itu.


"Masya Allah..." Bisik batinku.


Begitu sempurnanya Tuhan menciptakan dua pria yang kini sedang ada di hadapanku. Mungkinkah ini adalah suatu anugerah atau sebagai ujian??


Aku mulai melanjutkan bacaan, ayat ke dua puluh satu sampai ke tiga puluh. Dua pria itu menatapku lekat. Aku terus membacanya, hingga tak sadar buliran2 bening menetes dari ke dua netraku, ketika semakin meresapi apa yang sedang terlantun.


"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah, yang kamu dustakan??"


Aku mengusap air mata yang jatuh dengan jemari tangan, semakin lama membacanya, semakin itu pula hatiku tergetar karena kalam cintaNya.


"Maha benar Allah atas segala firmanNya..." Aku mulai menyudahi bacaanku. Dua pria itu masih menatapku, mulut mereka terdiam. Aku merasa canggung dengan tatapan mereka.


"Masya Allah.., lantunan kalam cinta yang kamu baca terdengar sangat indah Yank..." Ucapan Mas Abi seketika membuat gadis ini tersipu. Aku menunduk menyembunyikan rona merah di wajah.


šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–


Happy reading


Jangan lupa tinggalkan like, koment kritik dan saran, jika berkenan tinggalkan juga vote, agar author semakin bersemangat.


Trimakasih 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2