
Sang dewi malam mulai menyapa dengan keindahan sinarnya, ditemani rasi bintang yang menampakan binar cahaya nan gemerlap, mengusir kepekatan.
Di ruangan rawat inap, Raikhan terpaku menatap istrinya yang kini sedang memberikan asi sembari menggendhong putri kecil mereka. Nampak binar kebahagiaan yang terlihat pada raut wajah Alya.
"Mas, lihatlah Alyra! Wajahnya benar - benar dominan mirip kamu Mas." Raikhan tersenyum penuh makna mendengar ucapan sang istri.
"Iya Sayang, wajahnya teramat cantik. Bukan hanya mirip denganku, tapi lihatlah bibirnya mirip kamu Yank!"
Raikhan yang duduk di hadapan istrinya, mengusap pipi putri kecil mereka dengan penuh cinta.
"Yank, aku ingin menanyakan sesuatu, jawablah dengan jujur ya!"
"Hemmm, iya Mas. Aku akan menjawab dengan jujur. Memangnya Mas Rai ingin bertanya tentang apa?"
Raikhan menghela nafas panjang sebelum memberikan pertanyaan kepada istrinya.
"Yank, bagaimana perasaanmu pada Bima saat ini?"
Alya mengerutkan keningnya, ia pun menjawab pertanyaan Raikhan dengan jujur, "Mas, jujur serpihan perasaan pada Mas Abi memang masih ada meski secuil, itu karena kenangan yang tercipta di masa lalu. Namun perasaan cintaku saat ini lebih besar kepadamu Mas Rai. Apalagi sekarang ada Alyra yang semakin mempererat ikatan cinta kita. Mas, jangan pernah berpikir, rasa cintaku terhadap Mas Abi sebesar dulu!"
Jawaban yang diberikan oleh Alya seolah masih kurang meyakinkan Raikhan, sehingga pria tampan itu pun memberikan pertanyaan lagi kepada istrinya, "Yank, bila dihadapkan pada dua pilihan, kamu memilih Bima atau aku?" Wajah Raikhan terlihat sendu.
"Sebenarnya itu pertanyaan yang sangat konyol menurutku Yeobo. Tentu saja aku memilihmu Mas." Alya menatap lekat - lekat suaminya, wanita itu melihat raut kesedihan yang terpancar pada wajah Raikhan.
"Trimakasih Sayang." Raikhan mencium kening istrinya dengan penuh perasaan.
"Aku juga sangat berterimakasih atas cinta dan ketulusanmu Mas. Entah apa yang terjadi padaku bila tidak ada kamu di sisi, saat nestapa itu menimpa. Kecelakaan yang dialami Mas Abi sungguh membuatku teramat rapuh, bagai raga kehilangan nyawa. Namun karena hadirmu yang selalu menguatkan dan mewarnai hidupku, nestapa itu perlahan menghilang berganti kebahagiaan."
Raikhan teramat bahagia mendengar jawaban istrinya. Ia pun beralih duduk di samping Alya, dan menghujani wajah wanita itu dengan kecupan.
"Mas, baby Alyra sudah tertidur. Kita berdua akan membesarkannya bersama. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan kami Mas, meski apapun yang terjadi! Aku takut mimpi yang pernah kualami benar - benar terjadi."
Apa yang diucapkan Alya membuat Raikhan merasa bersalah, karena terbesit niatan untuk pergi meninggalkan istrinya. Ia berpikir dengan mengembalikan Alya kepada Abimana adalah keputusan yang tepat untuk menebus kesalahan. Namun kenyataannya tidak, karena perasaan Alya saat ini lebih besar untuk Raikhan. Bahkan wanita itu teramat takut kehilangan suami yang kini sangat dicintai.
Raikhan merangkul pundak Alya dengan erat. Ia juga mencium pucuk kepala istrinya dengan penuh cinta.
"Sayang, jangan pernah takut aku akan meninggalkan kalian. Selamanya kita akan selalu bersama. Meski sebenarnya perasaan bersalah terhadap Bima sangatlah menyiksa."
"Suamiku tercinta, Mas Abi sudah mengikhlaskan semua yang terjadi. Dia ingin aku menjadi seorang istri yang terbaik untuk sahabatnya, dan menjadi ibu yang terbaik pula untuk Alyra."
"Sayang, sungguh mulia hati Bima. Maafnya terlalu besar untuk kita. Meski kini hati sahabatku itu tengah hancur, Bima tetap tidak ingin kita berpisah."
"Iya Mas, semoga kelak Mas Abi mendapatkan jodoh yang terbaik." Alya mendoakan Abimana dengan tulus.
__ADS_1
"Aamiin Yank."
"Aku berharap, Mas Abi berjodoh dengan Dokter Kirana. Mereka sama - sama memiliki hati yang mulia. Akan terlihat serasi bila disandingkan."
"Apa yang kamu ucapkan benar Yank. Mereka berdua sangat serasi. Semoga saja, kelak hati mereka saling bertaut."
"Kita comblangkan saja mereka Mas, hhhhahaha." Alya tersenyum lebar.
"Hemmm, ide yang bagus Yank. Tapi menurutku, meski tidak dicomblangkan pun, mereka sudah terlihat sangat dekat." Raikhan juga tersenyum lebar membalas ucapan istrinya.
"Huum, aku rasa juga begitu Mas. Sebentar, aku akan menidurkan putri cantik kita Mas." Alya beranjak dari duduknya, dan berjalan mendekat ke ranjang baby untuk membaringkan Alyra.
Setelah membaringkan Alyra, Alya kembali duduk di tepi ranjang. Ia pun memeluk tubuh suaminya dengan erat, seolah tak ingin terpisahkan. Raikhan membalas pelukan istrinya, dan memberi kecupan - kecupan mesra di pipi dan pucuk kepala Alya.
Malam itu mereka saling menumpahkan kasih sayang dan cinta yang begitu besar, hanya dengan saling berpeluk dan memberi kecupan.
********************
Arunika menyapa kembali. Memberi secercah semangat bagi jiwa yang ingin membuka lembaran baru.
Pagi - pagi sekali Abimana sudah bersiap untuk menjemput Kirana dan berniat mengantarkan sahabatnya itu ke klinik, tempat dimana Kirana bekerja.
"Loh, pagi - pagi kog sudah terlihat tampan Bim? Mau kemana putra Ibu?" Bu Arini heran melihat putranya yang sudah nampak segar serta berpakaian rapi dengan stelan kaos polos dan celana jeans, dipadukan outer berupa jaket denim.
"Cieeeee yang sudah move on, ingin membuka lembaran baru ya Bim? Ibu sangat setuju kalau Kirana menjadi pendamping hidupmu, Bima." Bu Arini mencandai putra tercintanya. Beliau tersenyum lebar ketika melihat raut wajah Abimana yang berubah memerah.
"Achhhh Ibu, bukannya move on, tapi berusaha berdamai dengan takdir. Kami hanya bersahabat, tidak lebih. Bima pamit ya Bu." Abimana mencium punggung tangan Bu Arini.
"Hati - hati ya Bim! Heemmm, sekarang bersahabat, lama kelamaan berubah menjadi cinta dan ingin saling memiliki. Tuch wajahmu saja memerah Bim." Tawa Bu Arini semakin menjadi.
Abimana yang merasa sedikit kesal dengan ucapan ibundanya pun bergegas melangkahkan kaki keluar rumah, usai mengucapkan salam.
Setelah mengambil sepeda motor di garasi, Abimana segera menjalankannya dengan perlahan.
Kurang lebih setelah menempuh perjalanan selama sepuluh menit, Abimana sudah sampai di depan rumah sederhana bercat hijau muda.
Pria tampan itu pun kemudian menghentikan sepeda motornya tepat di halaman rumah si dokter cantik.
Abimana turun dari sepeda motornya dan melangkahkan kaki menuju pintu.
Ting tong .... ting tong ....
Abimana memencet bel rumah disertai ucapan salam.
__ADS_1
"Asalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumsalam ...." Terdengar balasan salam dari dalam rumah.
Klekkkk ....
Pintu pun terbuka perlahan, nampak seorang gadis cantik yang sudah berpakaian rapi dengan balutan jilbab putih menutupi rikmanya, berdiri di balik pintu.
"Bim, ayo masuk dulu!"
"Okey Ran." Abimana melangkahkan kaki memasuki rumah kedua orang tua Kirana. Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang makan.
Terlihat Bu Ratri dan Pak Ridwan yang sudah duduk dan bersiap untuk menikmati sarapan pagi.
"Asalamu'alaikum, Paman, Bibi ...." Abimana mencium punggung tangan Bu Ratri dan Pak Ridwan secara bergantian.
"Wa'alaikumsalam Nak Bima." Balas kedua orang tua Kirana hampir bersamaan.
"Duduk dulu Nak Bima! Mari sarapan bersama!" Pak Ridwan mempersilahkan Abimana untuk duduk dan sarapan bersama keluarga kecil mereka.
"Njih Paman, trimakasih." Balas Abimana, pria tampan itu pun beranjak duduk bersebelahan dengan sahabatnya, Kirana.
Kirana mengambil nasi dan lauk untuk Abimana.
"Bim, makan yang banyak! Biar nggak lemes menghadapi kenyataan, xixixixi." Ucap Kirana dengan berbisik sembari menyerahkan piring yang sudah terisi kepada sahabatnya.
"Hissss, kamu juga Ran. Makan yang banyak, biar nggak pingsan melihat pria idamanmu sedang bermesraan!" Balas Abimana juga dengan berbisik.
"Ehemmm, kalau ngobrol jangan bisik - bisik! Ayah dan Ibu juga ingin mendengarnya lho Ran." Ucapan Pak Ridwan seketika membuat raut wajah Kirana dan Abimana berubah memerah.
"Hhhehehe, iya maaf Ayah." Kirana tersenyum nyengir membalas ucapan ayahnya.
Mereka berempat pun memulai ritual sarapan pagi bersama.
Nampak binar kebahagiaan pada raut wajah Bu Ratri, dalam hati beliau pun berucap, "Semoga Kirana dan Bima berjodoh, sudah tidak sabar rasanya ingin segera menimang cucu." š š š
šššššššš
Masih Bersambung .... š š š
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak like, komentar, rate 5, dan vote seiklasnya untuk mendukung karya author.
Trimakasih šš
__ADS_1