
Rintik gerimis masih setia menemani jiwa yang kini tengah meratap hampa karena rumitnya kisah cinta.
Kaki Raikhan terasa lunglai bagai tak bertulang. Pria itu berjalan menjauhi ruangan rawat inap, tanpa tujuan. Sedangkan semua keluarganya, satu persatu telah pamit pulang terlebih dulu.
Tiba - tiba Kirana keluar dari ruangannya, dan melihat Raikhan yang nampak rapuh.
"Rai ...." Suara Kirana mengejutkan Raikhan. Pria itu pun menoleh ke asal suara.
"Kiran ....?"
"Heem, mari kita berbincang di restoran yang tidak jauh dari klinik ini!" Ajak Kirana pada pria rapuh itu.
"Baiklah Kiran." Raikhan menerima ajakan Kirana, salah seorang sahabat yang dulu pernah sangat akrab dengannya semasa di SMA.
Mereka berdua melangkahkan kaki keluar dari klinik, dan berjalan ke restoran yang berada di seberang jalan.
Sesampai di restoran, Kirana memilih tempat duduk yang berada di lantai dua, berdekatan dengan jendela. Gadis itu pun memesan beberapa minuman hangat dan makanan kesukaan sahabatnya, Raikhan.
Kirana dan Raikhan menunggu pesanan dengan berbincang.
"Ternyata kamu masih ingat makanan kesukaanku Kiran, aku kira sudah lupa." Ucapan Raikhan serasa dipaksakan, karena suasana hatinya sedang tidak bersahabat.
"Hemzzzz, iyalah. Aku bukan gadis yang mudah pikun, Jo." Kirana menjawab dengan nada bercanda, untuk mencairkan suasana.
"What, Jo? Kamu memanggilku Jo?" Raikhan mengerutkan kening.
"Heem, Paijo. Namamu aku ganti Paijo, karena Raikhan yang ku kenal selalu terlihat ceria, tidak seperti saat ini."
"Heehhh Atun, asal saja memberi nama. Kalau Mama dan Papaku tau nama putranya diganti Paijo, bisa disantet online kamu Ran."
"Jangankan disantet online, disantet beneran aku rela, asal Paijo bahagia, hhhhahaha."
Raikhan tersenyum lebar mendengar ucapan sahabatnya yang memiliki karakter unik, meski terkesan agak gila namun menarik.
"Rai, jangan bersedih! Hadapi kenyataan dengan senyuman!" Kirana menasehati Raikhan dengan tutur kata yang seolah bijaksana, namun sebenarnya ia sendiri juga tengah dirundung duka karena patah hati. Gadis itu mencoba tetap ceria di hadapan pria yang dicintai.
"Iya Ran, aku sudah berusaha menghadapi kenyataan pahit ini dengan senyuman. Namun apalah dayaku yang hanya seorang insan biasa." Raikhan membalas ucapan Kirana dengan menatap sendu ke arah luar jendela.
"Sabar ya Rai! Aku yakin pasti ada jalan keluar untuk permasalahan kalian. Sungguh cinta segitiga yang teramat rumit."
Raikhan membuang nafas kasar, "Hufffff iya Ran."
__ADS_1
Minuman dan makanan yang dipesan oleh Kirana sudah datang. Karyawan restoran menaruh semua pesanan di atas meja.
"Rai, dimakan dulu makanannya! Ada cap chay nyemek kesukaanmu. Ada juga kolokay."
"Iya Ran, trimakasih." Raikhan mulai mengambil cap chay dan kolokay. Ia pun menyesap kehangatan wedhang jahe, begitu juga dengan Kirana.
Setelah menikmati semua makanan, mereka pun melanjutkan perbincangan.
"Ran, mengapa dulu kamu pergi ke Jakarta tanpa pamit?"
"Ach, aku sengaja tidak pamit karena yakin kamu tidak akan setuju jika sahabatmu ini pergi ke Jakarta untuk melanjutkan study di sana."
"Ya jelas, di sini banyak universitas Tun, kenapa nggak kuliah di sini saja?"
"Aku ingin mandiri Jo, mencoba hidup jauh dari ayah ibu." Kirana berbohong, yang sebenarnya dia pergi ke Jakarta untuk merubah pribadi dan memantaskan diri agar kelak bisa bersanding dengan pria yang dicintai, tanpa pria itu sadari jika Kirana sudah berusaha sebisanya untuk berubah dari seorang gadis tomboy menjadi seorang wanita yang sedikit anggun. Namun usahanya sia - sia, karena setelah kembali ke Jogja, pria itu sudah menikah. Meski hatinya hancur, namun Kirana mencoba untuk tetap tegar dan berdamai dengan kenyataan.
"Ketika kamu pergi, aku menyusulmu ke Jakarta. Kata Bu Ratri, putrinya bertempat tinggal di rumah si tante. Aku mencarimu ke sana, namun sahabat yang aku cari selalu saja tidak ada di rumah itu. Kamu seperti hilang ditelan bumi, Ran."
Deg ....
Kirana merasa teramat bahagia mendengar apa yang diucapkan oleh Raikhan. Tetapi kebahagiaan itu pun kembali berganti duka, karena ia sadar, bahwa Raikhan sudah menjadi milik Alya sepenuhnya.
"Jo, kenapa kamu menyusulku ke Jakarta?"
"Sungguh keputusan mereka sangat tidak bijaksana."
"Ya begitulah. Setelah merasa gagal menyelamatkan nyawa adiknya Mala, aku memutuskan untuk menanggalkan profesiku sebagai seorang dokter." Ucap Raikhan dengan raut wajah sedih.
"Lupakan masa lalu yang menyedihkan Rai! Sekarang kamu sudah memiliki istri yang begitu anggun, ditambah seorang putri kecil berparas cantik."
"Iya Ran. Namun lagi - lagi aku harus menelan pahitnya hidup. Alya adalah mantan calon istri sahabatku sendiri. Aku merasa bersalah, karena memiliki wanita yang sangat dicintai oleh Bima."
"Sudahlah Rai, jangan terlalu bersedih! Aku yakin Bima juga sudah mengikhlaskan Alya. Lagi pula, jika kalian berpisah, apa tidak kasihan dengan Alyra?" Kirana mencoba menghibur Raikhan, meskipun dadanya sendiri serasa sesak.
"Heem Ran. Tapi mungkin aku akan mengikhlaskan Alya, jika mereka berdua memang masih saling mencintai. Meski serasa sulit untuk melepaskan istriku, sebagai seorang pria, aku tidak boleh egois. Apalagi dengan memaksakan perasaan cintaku yang begitu tulus untuk Alya."
Ucapan Raikhan membuat Kirana tenggelam dalam keharuan. Ia pun bermonolog di dalam hati, "Rai, terbuat dari apa hatimu hingga bisa berucap seperti itu? Betapa beruntungnya Alya bisa mendapatkan cinta yang luar biasa dari pria langka sepertimu. Andai yang kamu cintai itu aku Rai, betapa sangat bersyukurnya."
Mata kirana memerah, wajahnya serasa panas, karena menahan buliran - buliran bening yang akan tertumpah.
"Rai, jangan berucap seperti itu! Aku yakin, Alya akan memilih untuk mempertahankan pernikahan kalian. Istrimu tidak akan mampu berpisah dengan suami yang begitu sempurna, sekalipun itu demi Bima."
__ADS_1
"Entahlah Ran, saat ini yang aku pikirkan bagaimana menebus kesalahanku terhadap Bima dan Alya, karena berada di antara mereka. Dua insan yang seharusnya bisa menyatu."
*****************
Di ruang rawat inap, Alya dan Abimana masih saling berbincang. Pria tampan itu menceritakan secara detail kejadian yang dialaminya, sebelum dan sesudah kecelakaan. Alya mendengarkan secara seksama. Timbul rasa bersalah di dalam hati karena telah terburu - buru mengambil suatu keputusan yang pada akhirnya menjadi sebuah bumerang. Namun semua telah terjadi, meski teramat merasa bersalah, Alya juga bersyukur karena menjadi istri dari seorang suami yang teramat sempurna. Ditambah dengan kehadiran Alyra, semakin mempererat ikatan cinta mereka. Baginya, Abimana adalah cinta di masa lalu, meski serpihan - serpihan perasaan itu masih ada, namun Alya harus berpikir realistis bukan hanya mengandalkan perasaan semata.
"Mas Abi, berarti Surya si pria bermasker itu kamu? Dan seseorang yang meneleponku itu ...."
"Iya Al, itu semua aku lakukan hanya untuk menemuimu dan meluapkan kerinduan. Kirana yang membantu merencanakan semuanya. Ia khawatir, jika kamu tau aku masih hidup di waktu yang tidak tepat, akan sangat membahayakan kondisi kehamilanmu."
"Dokter Kirana memang sosok sahabat yang terbaik ya Mas?"
"Iya Al. Dia rela melakukan apa pun demi persahabatan. Meski hatinya juga sedang hancur."
Ucapan Abimana membuat Alya bertanya - tanya, "Hancur kenapa Mas? Apa Bu Dokter mencintaimu?"
"Bukan, bukan aku pria yang dicintainya." Abimana menjawab pertanyaan Alya dengan disertai seulas senyum manis.
"Lalu siapa pria yang beruntung itu Mas?"
Deg ....
Abimana merasa tidak yakin untuk mengatakan bahwa pria yang dicintai Kirana adalah suami Alya.
"Di ... dia, seorang pria yang sudah beristri."
"Kasihan ya Bu Dokter? Andai yang dicintainya adalah kamu Mas, aku akan sangat bersyukur. Setidaknya, kesalahanku akan sedikit tertebus dengan melihatmu berbahagia bersama Dokter Kirana." Ucap Alya dengan raut wajah sendu.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri Al! Bagaimanapun juga, semua yang terjadi sudah menjadi kehendak-Nya."
"Iya Mas, trimakasih atas sgalanya. Kita buka lembaran baru. Bismillah, aku akan mempertahankan rumah tangga kami. Alya akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu Mas Abi."
"Trimakasih Alya. Aku pamit dulu, sudah hampir maghrib. Kasihan Raikhan, pasti dia sudah merindukan istrinya ini." Ucap Abimana mengembangkan seulas senyum. Begitu terlihat tegar pria itu dihadapan Alya. Abimana beranjak dari duduknya.
"Iya Mas Abi. Alya sangat berharap, Mas Abi segera mendapatkan jodoh. Apalagi jika jodoh Mas Abi adalah Dokter Kirana, aku dan Mas Rai akan sangat berbahagia."
"In shaa Allah Al. Asalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, Mas Abi."
Abimana melangkahkan kaki keluar dari ruangan, dengan perasaan yang masih berduka. Namun ia lega dengan keputusan Alya untuk mempertahankan rumah tangganya bersama Raikhan. Abimana teramat merasa berdosa, jika Alya dan Raikhan berpisah hanya gara2 kehadirannya kembali.
__ADS_1
šššššššššš
Bersambung ....