
.... Kekuatan doa dan cintamu yang tulus, menjadikan diri ini seolah terlahir kembali ke dunia ....
Menjelang dzuhur, Raikhan dan Alya masih berada di rumah kedua orang tua Abimana.
"Uhm .... " Terdengar Alya merintih lagi.
Raikhan mencoba menenangkan istrinya dengan mencium kening dan mengusap punggung Alya, penuh kasih sayang.
Bu Arini terlihat berjalan dari arah dapur, membawa air mineral untuk Alya.
"Ndhuk, diminum air mineralnya!" Bu Arini menyerahkan air mineral itu kepada Alya. Istri Raikhan menerimanya dengan tangan gemetar, kemudian ia pun segera meminumnya.
"Trimakasih Bu."
"Iya, sama2 Alya. Ndhuk, kalau nyeri di punggungnya terasa sering, berarti bayi yang ada di dalam kandunganmu akan segera terlahir."
"Inggih, Bu. Sekarang sudah tidak terasa lagi."
Alya mengusap perutnya, "Dek, kamu ingin segera melihat keindahan dunia ini ya?"
"Iya Sayang, pasti anak kita sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Papa tampannya ini."
Raikhan tersenyum lebar.
"Apaan sich Mas .... Istrinya seperti ini masih saja bercanda."
"Hhhhaha, maaf Sayang. Biar istri cantikku tidak terlalu tegang."
"Sepertinya dari tadi yang tegang malah suamiku." Alya tersenyum nyengir.
"Hmmm, ya jelas tegang Yank. Apalagi melihat istri tercinta merintih kesakitan."
"Uhm .... " Alya kembali merintih.
"Yank, kali ini please, dengarkan suamimu! Okey ... ! Kita ke rumah sakit, atau ke klinik persalinan milik Dokter Endang."
"Tapi masih dua minggu Mas, kalau menurut HPL."
"Sayang, waktu kelahiran seorang bayi bisa maju atau pun mundur. Mungkin dedek bayi ingin segera terlahir."
"Tunggu setelah kita menunaikan sholat dzuhur Mas."
"Hmmmm, baiklah Yank."
"Alya ingin menjalankan sholat berjamaah dengan kami?" Bu Arini menatap Alya lekat-lekat.
"Iya Bu."
"Mari kita berwudhu, kemudian menjalankan sholat berjamaah di mushola!"
__ADS_1
"Inggih Bu." Balas Alya.
Mereka beranjak dari duduk. Raikhan melingkarkan tangannya di pinggang Alya, dan memapah sang istri. Mereka berdua berjalan mengikuti Ayah Hasan beserta Bu Arini, menuju tempat wudhu yang berada di samping mushola.
Setelah mensucikan diri dengan air wudhu, mereka berempat memasuki mushola.
Alya duduk di atas sajadah dan bersiap untuk menjalankan ibadah sholat berjamaah.
Raikhan mengumandangkan iqomah dengan suaranya yang merdu. Sedangkan Ayah Hasan bertindak sebagai imam sholat.
****************
Di dalam kamar Ayah Hasan dan Bu Arini
Abimana menjalankan sholat dzuhur seorang diri, di kamar kedua orang tuanya.
Dengan khusyu, pria itu rukuk dan sujud kepada Robb-nya.
Di tengah lantunan doa, ia teringat kejadian tragis, yang berakibat sangat fatal di kisah hidupnya. Abimana terluka dan jatuh sejatuh - jatuhnya karena kehilangan cinta pertama, Alya.
*** Flasback on Abimana mengalami kecelakaan ***
Malam itu Abimana dan Alya berbincang dengan sangat mesra via vidio call. Abimana mengutarakan maksudnya untuk pergi ke rumah Oma. Alya menyarankan, agar Oma dijemput orang lain saja. Namun Abimana tetap bersikukuh ingin menjemput Oma sendiri.
Pagi hari sebelum ia berangkat, Ayah Hasan dan Bu Arini juga berusaha melarang putra semata wayangnya, agar tidak menjemput Oma sendiri. Lagi - lagi, Abimana tetap bersikukuh dengan keinginannya.
"Pak Bima, saya jadi numpang sampai ke desa W ya?" Roni memberikan seulas senyum kepada dosennya.
"Siap Ron, ayo masuk!" Bima membuka pintu mobil dan mempersilahkan Roni untuk masuk ke dalam.
Bima mulai melajukan mobilnya, menerobos keramaian jalanan kota Jogja.
Sebelum melewati desa X, perasaan Abimana menjadi was - was dan tidak tenang. Terbayang mimpi semalam. Ia seolah melihat Alya menangis sepanjang hari, namun entah apa yang ditangisi oleh calon isterinya. Wajah gadis yang ia cintai pun nampak pucat.
"Al, sebenarnya apa yang akan terjadi? Mengapa firasatku menjadi tidak enak. Tunggu kedatanganku Yank! Aku sangat mencintaimu, Alya."
Abimana terus saja melajukan mobilnya. Naas, ketika sampai di desa X, mobil yang dilajukan Abimana bersenggolan dengan truck. Hingga membuat pria itu tidak dapat menguasai kemudi.
"Arghhhhh, Allahu Akbar .... " Teriakan Abimana dan Roni, ketika mobil avan** silver masuk ke jurang. Si sopir truck ugal - ugalan, tidak mau bertanggung jawab. Bahkan dengan tanpa merasa bersalah, si pria brengs** melajukan trucknya dengan menambah kecepatan, dan meninggalkan korban.
Di sungai yang letaknya tidak jauh dari tempat mobil Abimana terperosok, nampak dua orang yang sedang membersihkan diri setelah mencari kayu.
Begitu mendengar suara teriakan takbir dan benda jatuh dengan sangat keras, mereka segera lari tergopoh - gopoh menuju asal suara.
Kedua orang itu bergegas menolong Abimana dan Roni, yang sudah bersimbah darah.
"Ayo cepat Suci, periksa nadinya! Apakah mereka masih hidup?"
"Sebentar Pak." Si gadis manis memeriksa denyut nadi Abimana dan Roni, secara bergantian.
__ADS_1
"Ayo cepat Suci! Sepertinya mobil ini akan meledak." Nampak raut wajah Pak Arya dipenuhi ketakutan dan kalut.
"Ayo Pak, kita tarik tubuh Mas yang ini! In shaa Allah dia masih hidup."
Pak Arya dan Suci menarik dan mengangkat tubuh Abimana secara perlahan, melalui pintu mobil yang kacanya sudah pecah.
Mereka menggendong tubuh Abimana, dan segera berlari menjauh dari mobil naas yang hampir meledak.
Duarrrrrr .....
Dan benar saja, dalam hitungan menit suara ledakan terdengar. Malang, nyawa Roni tidak terselamatkan. Karena setelah mobil yang ia tumpangi masuk ke jurang, pria itu mengalami benturan yang sangat keras. Dan ia pun meninggal seketika.
Abimana, meski mengalami benturan, namun malaikat maut belum mengambil nyawanya. Mungkin Sang Pemilik segala apa yang ada di dunia ini, mengijabahi pinta dari seorang gadis yang selalu berdzikir dan berdoa dengan khusyu, disertai ketulusan hati, untuk kekasih sekaligus calon suaminya.
*************
Pak Arya dan Suci membawa Abimana ke gubug mereka, yang berada di tengah hutan serta jauh dari perkampungan.
Setelah membaringkan tubuh Abimana di atas dipan bambu, dengan sangat telaten mereka berdua membersihkan luka - luka yang ada hampir di sekujur tubuh Abimana.
"Masya Allah, hanya atas ijin dan kehendak-Nya, nyawa pemuda ini masih bisa tertolong."
"Iya Pak. Suci juga sangat heran bahkan kagum, melihat kondisi Mas ini Pak."
"Mungkin ada seseorang yang selalu mendo'akan keslamatannya, Ndhuk."
"Iya Pak."
Pak Arya memeriksa saku celana dan saku baju yang dipakai oleh Abimana. Beliau tidak menemukan apa - apa kecuali selembar foto gadis yang berparas ayu. Ada tulisan 'Alya calon isteriku' di baliknya.
Pak Arya nampak menyunggingkan seulas senyuman.
"Mungkin cinta dan doa gadis inilah yang menguatkan si pemuda. Masya Allah, Bapak membayangkan betapa besarnya cinta mereka. Meski raga tidak ada di sisi, namun hati tetap saling bertaut."
Suci nampak berkaca - kaca mendengar ucapan ayahnya. Belum pernah gadis itu merasakan cinta sejati.
"Pak, sungguh beruntungnya mereka bisa merasakan yang namanya cinta sejati. Cinta yang dipenuhi dengan ketulusan hati."
"Iya Ndhuk. Kita tunggu sampai si pemuda siuman. Ayo kita obati lukanya dengan obat - obatan alami yang sudah Bapak racik!"
"Inggih Pak." Mereka berdua dengan ketulusan hati merawat dan mengobati luka Abimana.
ššššššššššššššš
To readers trimakasih masih setia mengikuti kisah Alya. š
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan like š, komentar, āāāāā rate 5, vote untuk mendukung author. š
Untuk para author senior, mohon kritik dan sarannya ya. Trimakasih ššš
__ADS_1