Cinta Gadis Biasa "Alya"

Cinta Gadis Biasa "Alya"
[POV.AUTHOR] Sebuah Rencana


__ADS_3

ā¤ Meski keanggunanmu tak nampak, namun keceriaan dan pribadi yang berbeda, mampu menjadikan diri ini lebih tegar dalam menghadapi ujian hidup, trimakasih atas kehadiranmu sahabat ā¤


- Flasback on Abimana -


Rembulan mulai menampakan sinarnya, ditemani rasi bintang yang terlukis sangat indah menghiasi langit nan muram. Desah sang bayu dikala malam, menghantarkan rasa dingin hingga menusuk ke relung rasa.


Abimana dan Kirana masih menikmati suasana malam dengan bercengkrama.


"Bim, sebelum aku memberikan saran, ceritakan bagaimana kamu bisa selamat dari maut?" Kirana bertanya dengan penuh rasa ingin tau.


"Hemzzzz, aku ditolong oleh malaikat tak bersayap." Balas Abimana dengan tanpa memberikan seulas senyum.


"Ehhhh, beneran kamu ditolong malaikat Bim? Sempat kenalan enggak kamu Bim sama si malaikat?" Kirana menatap sahabatnya lekat - lekat, seolah ingin segera mendapatkan jawaban.


"Ya jelas donk, Ran."


"Kog malaikatnya nggak bersayap, pasti sayapnya disembunyikan ya Bim?"


"Hissss, ngemeng apaan sich kamu Ran??"


"Loh, kamu kan bilang si penolong adalah malaikat tak bersayap."


Abimana menjitak kening sahabatnya dengan pelan.


"Ini otak isinya apaan sich? Kog telmi banget. Katanya kuliah di fakultas kedokteran, harusnya pinter donk."


"Ach Bima, jadi orang kok serius amat, Amat aja nggak serius." Balas Kirana dengan tersenyum lebar, sehingga membuat Abimana merasa kesal.


"Sudahlah, kalau kamu masih ingin bercanda, aku masuk ke kamar saja, mau tidur."


"Ishhhh Bima, gitu aja ngambek. Okey, kali ini aku serius."


"Hemmmzzzz."


"Bim, boleh tau siapa nama orang yang menolongmu?"


"Heem, Pak Arya dan putrinya, Suci."


"Suci masih muda dan belum menikah Bim?"


"Iya, dia masih sangat muda. Umurnya sekitar 20 tahun."


"Aku berharap kelak dia tidak menagihmu untuk membalas budi."


"Maksudmu apa Ran??" Abimana merasa heran dengan ucapan sahabatnya mengenai Suci.


"Bim, selama kamu tinggal bersama mereka, pernah tidak merasakan perhatian yang diluar batas dari putri Pak Arya? Apakah Suci sering memandangmu dengan tatapan penuh makna?"


Seketika Abimana terbayang apa yang dimaksudkan oleh Kirana. Pria tampan itu membuang nafas kasar, "Huffff, iya Ran. Suci sering memberikan perhatian lebih, dia juga sering memandangku dengan tatapan yang berbeda. Namun aku berusaha seolah tidak mengetahuinya."


"Feelingku berkata, dikemudian hari Suci akan memintamu untuk menikahinya. Persiapkan hatimu untuk menerima semua apa yang akan terjadi Bim!"


"Sudahlah Ran, jangan bicara yang aneh - aneh. Memangnya kamu cenayang?"


"Hishh, ini sekedar feeling seorang sahabat Bim. Okay, tinggalkan obrolan tentang Suci. Aku akan mulai memberimu saran."


"Nah, buruan Ran! Aku akan mendengarkan saranmu."


"Ehmmm, aku memahami kerinduan mu untuk segera bertemu dengan Alya. Namun ketahuilah, kehadiranmu saat ini tidak baik untuk kondisi psikologis seorang bumil."


Deg ....

__ADS_1


Mendengar perkataan Kirana, jantung Abimana berdetak kencang, dada si pria tampan terasa kembali menyesak.


"Bumil? Maksudmu Alya hamil?"


"Iya Bima. Alya hamil. Apakah budhe belum memberitahumu?"


Abimana menggeleng - nggelengkan kepala, matanya memerah karena amarah.


"Argggghhhhh, Raikhan." Abimana menjambak rambutnya sendiri.


Kirana menghela nafas panjang, karena ia memahami betapa sakitnya hati Abimana. Perlahan Kirana mengusap punggung sahabatnya, berusaha untuk menenangkan.


"Bima, ingat kamu harus ikhlas dan berlapang dada! Aku merasakan apa yang kamu rasakan, karena hati ini masih tergores nama Raikhan."


Buliran - buliran bening mulai keluar dari kedua netra mereka.


"Bim, aku sudah bilang, jangan menyalahkan siapa - siapa! Wajar Alya hamil, karena mereka sudah menikah. Kita harus mampu berdamai dengan takdir Bim. Aku dan kamu sama - sama merasakan sakit hati yang teramat dalam. Kita jatuh sejatuh jatuhnya dalam perangkap cinta yang fana."


"Tapi hatiku seakan tidak bisa menerima kenyataan, Ran. Apalagi mendengar wanita yang sangat aku cintai kini mengandung anak Raikhan."


"Bim, sudahlah. Lawan emosimu, okey! Aku yakin kamu pria yang tegar."


"Iya Ran, aku akan berusaha untuk tegar."


Keduanya mengusap buliran - buliran bening yang membasahi pipi, dengan jemari tangan mereka masing2.


"Begini Bim, untuk sementara waktu, kamu harus menyembunyikan kenyataan bahwa seorang Abimana masih hidup. Ini semua demi Alya. Setelah ia melahirkan, barulah kamu bisa hadir di hadapan semua orang."


"Lalu bagaimana caraku untuk meluapkan kerinduan pada Alya?"


"Kamu harus menyamar Bim. Gunakan masker dan topi setiap ingin menemuinya. Kita akan bekerja sama dengan Fahrie. Dia pemilik mini market yang berada di seberang jalan, kompleks perumahan TS. Sementara kamu bisa menjadi karyawan di mini market milik Fahrie."


"Tentu tidak. Gunakan secarik kertas dan pena untuk berkomunikasi, apalagi dengan Alya!"


Abimana menyetujui saran yang diberikan oleh sahabatnya.


"Baiklah, aku menyetujui saranmu Ran. Kapan kita akan memulai penyamaranku?"


"Mmmm, setelah kita membicarakannya dengan Fahrie."


"Kapan kita bertemu Fahrie?"


"Besok aku kabari lagi ya Bim. Asal kamu janji, jaga emosimu!"


"Iya, aku akan berusaha menahan emosiku. Tangan ini tidak akan melukai pria yang kamu cintai."


"Hishhh, awas saja kalau sampai Raikhan tergores meski sedikit." Kirana mengepalkan tangannya, seolah memberi ancaman kepada Abimana.


"Iya, iya .... Aku tidak mungkin melukai ayah dari anak yang dikandung Alya."


"Hemmzzz, syukurlah. Bagaimana pun juga mereka tidak bersalah, ingat itu! Jaga hatimu ini dari sifat amarah dan dendam!" Kirana menekankan ucapannya dengan menunjuk dada Abimana.


"Heemm, baiklah Bu Ustadzah. Aku akan berusaha menjaga hati ini dari sifat amarah dan dendam. Trimakasih Kiran."


"Sami - sami Mas Abimana, hhhhehe. Bim, kita harus melibatkan pakdhe dan budhe. Beritahu mereka tentang semua yang kita rencanakan. Jangan sampai mereka memberitahu Alya, bahwa kamu masih hidup."


"Iya, nanti akan aku sampaikan kepada ayah dan ibu."


"Aku minta nomer handphone-mu Bim. Untuk memudahkan kita berkomunikasi."


"Kiran, aku belum sempat beli ponsel lagi."

__ADS_1


"Owh, baiklah besok akan kubawakan ponsel untukmu."


"Waaaww, baik banget kamu Ran." Mata Abimana berbinar, senyumannya mengembang.


"Baru tau ya kalau aku baik? Ponsel yang aku beri bukan baru Bim, tapi bekas." Balas Kirana dengan tersenyum nyengir.


"Huffttt, kirain. Yang penting masih bisa untuk berkomunikasi kan?"


"Bisa lah Bim. Tapi ingat, bersabarlah untuk tidak menghubungi Alya! Takutnya dia shock mendengar suaramu."


"Aku tidak akan bersuara jika melakukan panggilan, Ran. Hanya sekedar ingin mendengar suaranya."


"Jangan sering - sering! Takutnya dikira teror. Mengerti kan, Bim?"


"Iya, aku mengerti."


"Okey, sudah malam. Aku pulang dulu Bim. Panggilkan ayah dan ibumu, aku mau pamit!"


"Baiklah, tunggu sebentar!" Abimana beranjak dari duduk dan berjalan menuju kamar kedua orang tuanya.


Sesampai di kamar, Abimana memanggil Ayah Hasan dan Bu Arini, serta menyampaikan pesan dari Kirana, bahwa si gadis konyol akan berpamitan.


Mereka bertiga pun melangkah menuju ruang keluarga untuk menemui Kirana. Begitu melihat kedua orang tua Abimana berjalan semakin mendekat, Kirana beranjak dari duduknya.


"Pakdhe, Budhe, Kirana pamit dulu ya. In shaa Allah besok pagi, saya berkunjung lagi ke rumah ini." Kirana mencium punggung tangan Ayah Hasan dan Bu Arini secara bergantian.


"Hati - hati ya, Kiran! Trimakasih sudah menghibur Bima."


"Sami - sami, Budhe."


"Biar pulangnya diantar Bima ya Nduk!"


"Tidak usah Budhe, kebetulan Kirana bawa sepeda motor."


"Yasudah, kalau begitu Ndhuk. Sampaikan salam kami untuk ayah dan ibu!"


"Njih Budhe, nanti saya sampaikan salamnya. Assalammu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, jawab Ayah Hasan, Bu Arini, dan Abimana secara bersamaan."


"Aku antar sampai di depan pintu, Ran."


"Baiklah, Bim."


Kirana dan Abimana melangkahkan kaki menuju pintu depan.


"Hati - hati ya, Kiran! Trimakasih atas saran dan bantuanmu."


"Heem. Istirahatlah, jangan membayangkan sesuatu yang membuat hatimu sedih dan terluka! Semangat yach!" Ucap Kirana dengan disertai seulas senyum manis, sebelum keluar dari rumah Abimana.


"Iya, Kiran. Hati - hati di jalan!" Balas Abimana juga disertai senyuman yang menawan.


Kirana mulai menghidupkan mesin sepeda motor maticnya, dan berlalu meninggalkan Abimana yang masih berdiri di depan pintu, sembari menatap punggung sahabatnya hingga menghilang dari pandangan.


šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“


Bersambung ....


Jangan lupa, like, komentar, rate 5, dan Vote.


Trimakasih 😘

__ADS_1


__ADS_2