Cinta Gadis Biasa "Alya"

Cinta Gadis Biasa "Alya"
[POV.AUTHOR] Pertemuan 2


__ADS_3

Rintik gerimis membasahi bumi, seiring tangisan penyesalan akan kesalahan di masa lalu. Kini rasaku tak akan mungkin terbalaskan, karena keegoan memendam cinta yang sebenarnya adalah anugerah terindah. Bahagiamu Sahabat, adalah bahagiaku juga. Meski hati ini semakin lara, biarkan waktu yang akan menyembuhkannya.


( Ayunda Kirana )


Hari ini kebahagiaan datang menyapa, namun diiringi dengan kedukaan yang menyelimutinya. Semua bersyukur atas kelahiran putri cantik Raikhan dan Alya, serta pertemuan tak terduga dengan Abimana, pria yang dianggap telah tiada. Kebahagiaan itu dilengkapi dengan kehadiran Kirana, gadis tomboy dan ceria, sahabat Raikhan sewaktu SMA, kesayangan Mama Shela.


Kedukaan harus dirasakan oleh dua insan yang tengah patah hati, Abimana dan Kirana.


"Jeng perkenalkan, dokter yang cantik ini sahabat putra kami sewaktu mereka masih duduk di bangku SMA!" Mama Shela memperkenalkan Kirana kepada ibunda Alya. Kirana mencium punggung tangan Bu Fatimah, sebagai tanda hormat.


"Saya Kirana Bu, sahabat Raikhan dan juga Abimana, ketika kami masih duduk di bangku SMA."


"Senang berkenalan denganmu, Nak Kirana. Ibu adalah ibunda dari istri Raikhan, Alya. Nak Kirana sangat cantik. Sepertinya cocok bila didampingkan dengan Nak Abi." Ucap Bu Fatimah dengan disertai seulas senyuman manis.


"Ibu bisa saja. Kami hanya bersahabat Bu, tidak lebih." Balas Kirana juga disertai senyuman.


"Ehmmmm, siapa tau sahabat jadi cinta, ya kan?" Timpal Mama Shela menggoda Kirana dan Abimana, dengan mengerlingkan mata. Semua yang mendengar ucapan Mama Shela tersenyum lebar.


Ayah Hasan dan Bu Arini berjalan mendekat ke arah mereka.


"Jeng Shela, Jeng Fatimah, Papa Abraham, selamat ya, njenengan semua sudah menjadi seorang nenek dan kakek." Ucap Bu Arini memberikan selamat kepada kedua orang tua Raikhan dan ibunda Alya, sembari saling berjabat tangan.


"Trimakasih Jeng Arini." Balas Mama Shela mewakili suami dan besannya.


"Sami - sami Jeng."


"Kapan Bima menyusul Alya dan Raikhan?" Celoteh Mama Shela membuat Abimana semakin dirundung duka, karena sampai saat ini yang ada di dalam hatinya hanya ada Alya.


"Achh, kalau itu terserah Bima. Lagi pula Bima juga belum memiliki calon istri." Bu Arini menjawab pertanyaan Mama Shela dengan berusaha memberikan jawaban yang tepat dan tidak menyinggung. Bagaimana pun juga, Bu Arini sangat memahami perasaan putra tercinta.


"Loh kan ada Kirana, mereka berdua terlihat sangat cocok." Mama Shela kembali berceloteh.


Kirana yang merasa kurang berkenan dengan ucapan Mama Shela pun menyela pembicaraan mereka, "Ehhhemmm, maaf Kirana menyela Tante. Ada baiknya Tante beserta keluarga segera menengok Alya dan putri cantiknya. Mereka sudah di pindah ke ruang rawat inap. Alhamdulillah Alya dan putrinya dalam keadaan sehat."


"Alhamdulillah, cucuku seorang putri." Ucap Mama Shela dengan menampakan raut wajah penuh kebahagiaan.

__ADS_1


"Alhamdulillah, ya Allah." Sahut Bu Fatimah dan Papa Abraham, yang juga menampakan binar kebahagiaan.


"Mari saya antar ke ruangan mereka!" Kirana menawarkan diri untuk mengantar ke ruangan rawat inap.


Abimana dan si dokter cantik mulai melangkahkan kaki menuju ruangan rawat inap, diikuti oleh keluarga pasangan muda yang tengah berbahagia, Raikhan dan Alya. Ayah Hasan beserta istri pun berjalan mengikuti mereka.


*****************


Alya dan putrinya sudah dipindahkan ke ruangan rawat inap, karena mereka berdua dalam kondisi sehat.


Raikhan berkali - kali mengecup kening sang istri dengan penuh cinta, meluapkan kebahagiaan atas kelahiran anugerah terindah yang semakin menguatkan ikatan cinta mereka.


"Trimakasih Sayang, karena telah berjuang melahirkan putri cantik kita."


"Iya Mas. Aku sangat bahagia, karena putri cantik kita telah lahir ke dunia dengan selamat dan sempurna. Ini semua juga berkat Dokter Kirana, yang dengan sangat cekatan dan profesional menangani proses kelahiran Alyra." Balas Alya dengan menampakan binar kebahagiaan.


"Kamu benar Yank. Sungguh tidak menyangka si gadis tomboy menjelma menjadi seorang dokter obgyn."


Sejak dulu Raikhan sangat mengagumi karakter Kirana, namun kekaguman itu hanya sebatas kekaguman seorang sahabat, menurutnya. Bagi Raikhan, Kirana sahabat yang terbaik setelah Abimana. Semenjak kepergian si gadis tomboy, Raikhan merasa ada yang kurang di hidupnya.


Raikhan patah semangat, dan akhirnya ia kembali ke Jogja dengan perasaan hampa. Mungkin bukan hanya Mala yang pernah menyentuh hatinya sebelum kehadiran Alya, namun si gadis tomboy juga pernah singgah di hati pria berwajah Korea itu, meski Raikhan tidak pernah menyadari perasaannya sendiri.


Namun kini, hati dan raga Raikhan hanya milik Alya seorang, bukan untuk yang lain.


****************


Tok.. tok.. tok..


Terdengar suara pintu diketuk. Dengan perlahan Raikhan membukanya. Nampak seorang wanita cantik dengan usia yang tak lagi muda memberikan seulas senyum, dibelakang wanita itu terlihat beberapa orang yang wajahnya sangat familiar. Mereka adalah Mama Shela, Papa Abraham, Bu Fatimah, Bu Arini, Ayah Hasan, Asti, dan Hana. Abimana sengaja tidak menampakan diri terlebih dahulu, pria itu masih berusaha menata hatinya dan mempersiapkan mental ketika akan bertemu dengan Raikhan dan Alya.


"Raikhan, selamat ya Sayang!" Mama Shela memberikan pelukan dan ucapan selamat kepada putranya.


"Trimakasih Mama. Mari masuk ...!" Raikhan mempersilahkan masuk Mama Shela beserta rombongan.


Mereka pun berjalan mendekati Alya yang sedang duduk di ranjang pasien, dengan baby Alyra berada dalam gendhongannya.

__ADS_1


"Alya, selamat ya Sayang. Masya Allah, cantik banget cucu nenek, wajah si kecil perpaduan papa dan mamanya." Mama Shela mencium kening menantu kesayangan, kemudian mengusap pipi baby Alyra.


"Trimakasih Ma." Balas Alya dengan senyuman terhias di bibir indahnya.


Semua pun bergantian mengucapkan selamat kepada Alya dan Raikhan.


"Ndhuk, Ibu sangat berbahagia atas kelahiran buah cinta kalian. Namun Ibu juga merasa bersedih karena ...." Bu Fatimah merasa tidak yakin untuk memberitahukan kebenaran tentang Abimana.


"Karena apa Bu?" Tanya Alya penuh ingin tau.


"Ach, bukan karena apa - apa Alya, hanya karena terharu, putri cantik ini sekarang sudah menjadi seorang ibu. Yang terpenting jaga kondisi kesehatanmu dan putri kecil kalian!" Balas Bu Fatimah, berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Beliau mencium kening putri tercinta, dan mengusap pipi halus baby Alyra.


"Yeyyyy Asti dan Hana punya dedek kecil. Duchhh emesssss." Asti dan Hana mentowel - towel pipi gembul baby Alyra.


"Rai, ada yang ingin bertemu denganmu." Ucap Papa Abraham setelah memberikan selamat kepada putra dan menantunya.


"Siapa Pa?" Raikhan mengernyitkan kening.


"Ayo ikut Papa keluar sebentar!" Ajak Papa Abraham.


Raikhan membalas ajakan Papa Abraham dengan menganggukan kepala.


"Sayang, aku tinggal sebentar ya." Ucapnya kepada sang istri.


"Iya Mas."


Papa Abraham dan Raikhan berjalan keluar ruangan untuk menemui Abimana.


Di luar ruangan nampak sesosok pria tampan sedang duduk berdampingan dengan seorang dokter cantik. Mereka menoleh ketika Papa Abraham memanggil nama Abimana.


"Bima ...."


Raikhan sangat terkejut ketika melihat pria yang wajahnya sangat familiar. Jantungnya berdegup tak seirama. Kedua pria tampan saling menatap, mereka tenggelam dalam perasaannya masing - masing.


šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2