
Siang itu langit nampak muram, sinar mentari yang tadinya terlihat begitu cerah, kini berubah gelap berselimut awan hitam.
Abimana beserta Ayah Hasan, dan Bu Arini mendatangi kediaman kedua orang tua Roni, untuk memberitahukan kejadian naas yang menimpa almarhum.
Betapa terkejutnya ayah dan ibu Roni, ketika mengetahui bahwa putra tercinta mereka telah tiada.
Ayah Roni seketika menangis. Ibunda mahasiswa malang itu pun, berkali - kali pingsan. Abimana dan kedua orang tuanya merasa empati kepada ayah dan ibu Roni. Terbayang oleh Abimana, ketika dirinya dikabarkan sudah meninggal.
Pria tampan itu berusaha menenangkan kedua orang tua Roni.
"Ya Allah, Roni. Mengapa begitu cepat engkau meninggalkan kami?" Ucap Ayah Roni dengan terisak.
"Yang tabah dan ikhlas Pak! Semua sudah menjadi kehendak-Nya. Mohon maaf saya baru memberitahukan berita duka ini sekarang. Jujur, karena saya butuh kesiapan untuk menyampaikannya."
"Saya memaklumi Nak Bima. Sudah beberapa bulan ini, kami berusaha mencari Roni kemana - mana, namun tidak pernah memperoleh hasil. Bahkan, kami juga sudah meminta bantuan kepada polisi untuk mencari keberadaan Roni. Dan sekarang, Nak Bima menyampaikan kabar duka, bahwa putra sulung kami telah tiada. Betapa hancurnya hati kami sebagai orang tua Roni." Ayahanda Roni kembali menangis, dan meratapi kepergian putra tercinta.
Setelah kedua orang tua Roni mampu menguasai emosi, Abimana beserta Ayah Hasan dan Bu Arini mengantarkan mereka ke makam almarhum Roni.
Di pemakaman, ayah dan ibu Roni duduk bersimpuh di samping makam putra tercinta. Hanya untaian doa dan taburan bunga mawar yang dapat mereka persembahkan untuk almarhum.
"Roni, beristirahatlah dengan tenang Nak! Semoga Allah mengampuni segala dosamu selama di dunia dan memberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya." Ayahanda Roni mengucapkan doa dengan berurai air mata, begitu juga dengan ibunda almarhum.
Suasana di pemakaman nampak mengharukan. Cuitan burung tak lagi terdengar. Bahkan langit pun mulai menangis. Seolah ikut merasakan kesedihan yang mendalam.
****************
Siang itu baby Alyra dan Alya diperbolehkan untuk pulang.
Papa Abraham, Mama Shela, dan Bi Ijah menyambut kedatangan mereka dengan berbahagia.
Mama Shela sengaja mendekor ulang kamar putra tercinta dengan sentuhan warna pink. Ranjang baby Alyra pun dihiasi dengan berbagai macam boneka.
"Welcome princess. Uchhh cantik sekali cucu Grandma. Kelak, kalau sudah besar kita tik tok-an ya Sayang." Mama Shela mencium pipi cucu tercinta yang masih berada di gendongan menantunya.
"Iya Grandma." Balas Alya dengan menampakan wajah puppy eyes.
"Sini, Grandma gendong ya Sayang!" Alya menyerahkan baby Alyra kepada mama mertua.
Setelah menyerahkan baby Alyra kepada Mama Shela, Alya dan Raikhan melangkahkan kaki menuju kamar.
Mereka berdua sangat takjub ketika melihat kejutan dari Mama Shela.
"Kamarnya sangat indah Mas." Ucap Alya dengan menampakan binar kebahagiaan.
"Iya Sayang, Mama memang the best. Dekorasi kamar kita seperti istana kecil di negeri dongeng. Lihatlah, semuanya pink Yank!" Meski takjub, Raikhan merasa geli dengan warna pink yang mendominasi kamarnya. Beda jauh saat sebelum kelahiran baby Alyra.
__ADS_1
"Mas, kita akan selalu bersama dalam suka dan duka, membesarkan anak - anak, hingga menua berdua."
Raikhan merasa sangat tersentuh dengan ucapan istrinya. Pria tampan itu mendekap Alya dalam pelukan dan mengecupi puncak kepala sang istri dengan penuh perasaan.
Betapa teramat bersyukurnya Raikhan, mendapat balasan cinta dari wanita yang selama ini ia cintai. Begitu juga dengan Alya, wanita itu juga teramat bersyukur atas anugrah cinta terindah. Seorang wanita biasa mendapatkan cinta yang luar biasa dari seorang pria perfect.
**************
Senja menorehkan warna jingga, pertanda hari akan berganti petang. Sayup - sayup suara kidung kerinduan Sang Maha Cinta mulai terdengar sangat indah, merasuk hingga ke sukma.
Para hamba bersujud dan bertasbih mengagungkan asma-Nya.
Selepas Maghrib, Abimana menjemput Kirana. Kali ini ia mengendarai mobil milik Ayah Hasan.
Rupanya si dokter cantik sudah menunggu di depan pintu masuk klinik tempat ia bekerja.
Abimana segera keluar dan membukakan pintu mobil untuk sahabatnya. Setelah mereka berdua masuk ke dalam, Abimana mulai menghidupkan mesin dan melajukan mobil.
"Maaf Kiran, aku terlambat menjemputmu." Ucap Abimana sembari fokus menyetir.
"Santai saja Bim, tadi aku sekalian menjalankan sholat maghrib dulu."
"Aku antar langsung ke rumah, atau mau mampir kemana dulu Ran?"
"Kita ke Pantai Parangtritis dulu ya Bim. Sudah lama aku tidak pergi ke pantai."
Abimana melajukan mobilnya ke arah selatan kota Jogja, menuju Pantai Parangtritis. Pantai yang terkenal magis namun juga romantis.
Setibanya di tempat tujuan, Abimana menaruh mobilnya di parkiran. Kedua insan keluar dari dalam mobil, dan melangkahkan kaki di atas bentangan pasir pantai.
"Bim, kita pesan jagung bakar yuk!" Pinta Kirana dengan menampakan wajah imutnya.
"Okey Ran, mau rasa apa?"
"Pedas asin dech."
"Hemmm, baiklah." Abimana memesan jagung bakar, mereka berdua menunggu pesanan sembari duduk di atas tikar dengan pandangan tertuju pada laut lepas.
"Bim, bagaimana perasaanmu saat ini? Apakah hatimu masih terasa sakit?" Kirana melontarkan pertanyaan pada sahabatnya tanpa menatap wajah Abimana.
Abimana menghela nafas panjang, kemudian pria tampan itu menjawab pertanyaan Kirana, "Alhamdulillah sudah tidak terlalu sakit. Aku sudah ikhlas dan berserah diri atas segala apa yang menjadi kehendak-Nya."
"Hemmmmzz, semoga aku juga bisa sepertimu Bim. Ikhlas dan tawakal."
"Aamiin Kiran. Kita harus yakin dengan skenario terindah yang telah ditulis-Nya."
__ADS_1
"Betul apa yang kamu katakan Bim. Mungkin aku akan kembali ke Jakarta, mewujudkan apa yang diharapkan oleh Tante Maria."
Abimana mengerutkan kening ketika mendengar ucapan Kirana. "Apa maksud ucapanmu Ran?"
"Bim, sebenarnya ketika di Jakarta, aku memilih hidup sendiri, dengan tinggal di rumah kontrakan."
Abimana terkejut mendengar pengakuan sahabatnya.
"Mengapa tidak tinggal bersama tantemu Ran?"
Kirana membuang nafas kasar, "Huffff, ketika tiba di Jakarta, Tante Maria langsung menjodohkanku dengan salah seorang putra rekan bisnisnya, karena beliau terlilit hutang yang jumlahnya lumayan besar. Tanpa disangka, meski hanya bertemu sekali, pria yang akan dijodohkan denganku, langsung menyetujui perjodohan kami. Aku merasa teramat tertekan Bim. Tidak mungkin aku pulang ke Jogja tanpa meraih apa yang sebenarnya menjadi tujuanku."
"Lalu bagaimana kamu mengahadapinya sendiri Ran?" Abimana menatap wajah sahabatnya lekat - lekat.
"Aku memutuskan pergi dari rumah tante. Ketika Raikhan menyusulku, tante tidak pernah memberitahukannya. Selama di Jakarta, aku berusaha berjuang mencari tambahan uang dengan bekerja di sebuah restoran, pada malam hari. Pagi hingga sore, aku kuliah di salah satu universitas di kota Jakarta."
"Haahhhh, aku tidak pernah menyangka perjuanganmu sebegitu hebatnya. Lantas, mengapa kamu ingin kembali ke kota Jakarta?"
"Aku sudah menyerah dengan takdir cintaku Bim. Mungkin dengan menerima perjodohan itu, adalah keputusan yang terbaik untuk melupakan Raikhan." Tanpa terasa buliran - buliran bening menetes dari kedua sudut netra Kirana.
"Apakah kamu mempunyai perasaan terhadap pria itu Ran?"
"Tidak Bim, sama sekali aku tidak mempunyai perasaan terhadapnya. Bahkan melihatnya pun, aku merasa tidak ada ketertarikan."
Entah mengapa hati Abimana seolah tersayat mendengar semua ucapan sahabatnya.
"Ran, jangan menikah dengan pria itu! Jangan tinggalkan aku sendiri di sini! Tanpa kehadiranmu, aku tidak akan mungkin mampu untuk tegar, dan berpikir secara realistis seperti saat ini. Tetaplah berada di sisiku! Kita akan saling menguatkan."
"Bim ...." Lidah Kirana serasa kelu, hingga ia tak kuasa mengucapkan kata - kata.
Penjual jagung bakar berjalan mendekati mereka berdua, untuk menyajikan pesanan. Abimana menerima jagung bakar pesanannya sembari mengucapkan terimakasih kepada bapak penjual jagung bakar.
"Trimakasih Pak."
"Sami - sami Mas." Bapak penjual jagung bakar pun, kemudian berlalu.
"Dimakan Ran jagung bakarnya! Jangan bersedih lagi ya Markonah! Aku berjanji akan selalu menguatkan dan menghiburmu gadis konyol."
Kirana tersenyum mendengar ucapan Abimana, dan menghapus jejak air mata dengan jemari tangan.
"Trimakasih ya Markun."
"Nah gitu kan kelihatan cantiknya." Ucap Abimana dengan tersenyum lebar.
Malam itu kedua insan menikmati suasana Pantai Parangtritis dengan duduk di atas tikar dan memandang ombak di lautan yang terlihat sangat memukau, sembari memakan jagung bakar.
__ADS_1
ššššššš
Masih Bersambung .... š