Cinta Gadis Biasa "Alya"

Cinta Gadis Biasa "Alya"
[POV.AUTHOR] Candaan Sahabat


__ADS_3

Sang surya di pagi ini menyapa dengan kehangatan sinarnya. Mengiringi perjalanan hidup dua insan yang sama - sama sedang menata hati untuk mengobati luka, dan berharap mampu menyentuh kebahagiaan tanpa memiliki seseorang yang dicintai.


Setelah sarapan bersama, Abimana dan Kirana berpamitan pada Pak Ridwan dan Bu Ratri. Mereka berdua berboncengan dengan sepeda motor, berangkat menuju klinik.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama sepuluh menit, mereka sampai di depan klinik Dokter Zahra, tempat Kirana bekerja.


Abimana menaruh sepeda motornya di parkiran, kemudian mereka berdua berjalan beriringan disertai perbincangan dan candaan ketika memasuki klinik. Semua mata tertuju pada kedua insan itu. Mereka mengira, dokter muda nan cantik sedang berjalan dengan sang kekasih. Kirana dan Abimana tidak memperdulikan pandangan mereka.


"Bim, kamu tunggu sebentar di sini ya! Aku masuk ke ruanganku dulu untuk menaruh tas." Ucap Kirana sebelum masuk ke ruangannya.


"Baiklah Ran, aku tunggu." Balas Abimana dengan menampakan seulas senyum manis.


Kirana melangkahkan kaki memasuki ruangannya. Setelah menaruh tas dan mengenakan jas putih khas seorang dokter, wanita cantik itu pun bersegera keluar dan menemui Abimana.


"Yuk Bim, kita ke ruangannya Alya!" Ajak Kirana setelah keluar dari ruangannya.


"Okey Ran."


Mereka berdua melangkahkan kaki menuju ruang rawat inap. Para perawat yang berpapasan dengan Abimana dan Kirana, memberikan salam dan mencuri pandang pada si pria tampan. Mereka mengagumi ketampanan Abimana yang semakin terpancar ketika tersenyum.


"Haduhhhhhh senyumannya mengalihkan duniaku." Bisik salah seorang perawat kepada rekannya.


"Iya, meleleh gue Bang. Dokter Kirana pinter juga memilih pasangan. Ihhhhh, bikin iri dech."


"Andai sedang tidak berjalan dengan Dokter Kirana, aku culik kamu babang tamfaaannn." Timpal yang lainnya.


"Ehemmm." Terdengar suara deheman dari Dokter Zahra, pemilik klinik. Para perawat yang saling berbisik pun terkejut. Dengan menunjukan rona merah di wajah, mereka meminta maaf pada Dokter Zahra dan melanjutkan pekerjaan.


****************


Tok ... tok ....


Kirana mengetuk pintu dan mengucapkan salam.


"Asalamu'alaikum."


Kedua insan yang ada di dalam ruangan pun terkejut mendengar ketukan pintu dan ucapan salam, karena mereka tengah menikmati kemesraan dengan saling menautkan bibir sebagai pelampiasan hasrat.


Kirana dan Abimana saling berpandangan, mereka berdua heran mengapa pintunya masih terkunci dari dalam, bahkan balasan salam pun tidak terdengar.


Tiba - tiba Kirana tertawa geli, membayangkan hal - hal yang menggelitik pikirannya.


"Haduhhh sepertinya kita sedang mengganggu dua insan yang sedang bermesraan Bim."


Abimana menjitak kening sahabatnya dengan pelan.


"Jangan berpikiran mesum! Alya kan masih dalam kondisi nifas."


"Yeyyyy siapa juga yang berpikiran mesum. Sepertinya kamu dech Bim. Bisa saja kan mereka melampiaskan dengan saling berpelukan atau berciu ...."


Klek ....


Pintu terbuka dengan perlahan.


"Ehemmm, Wa'alaikumsalam."


Dokter kirana dan Abimana terperangah mendapati Raikhan yang sudah berdiri di balik pintu dengan menampakan rona wajah yang memerah.

__ADS_1


"Ehhh, Raikhan. Maaf, aku akan memeriksa istri dan putrimu dulu."


"Baiklah Dokter, silahkan masuk! Aku mendengar apa yang tadi kalian bicarakan tentang kami lho." Ucap Raikhan setengah berbisik disertai tawa.


"Hissshhh Raikhan, pagi - pagi sudah bikin orang panas dingin membayangkannya."


"Makanya Ran, buruan suruh si Bima menghalalkanmu!" Canda Raikhan pada kedua sahabatnya.


"Apaan sich Rai, mana mungkin aku menikah dengan Markun." Ucapan Kirana membuat Raikhan tertawa terpingkal - pingkal.


"Ya Allah Bim, namamu yang sangat bagus diganti Markun."


Abimana yang merasa kesal dengan ucapan Kirana, mengacak jilbab si dokter cantik.


"Enak saja mengganti nama, aku juga nggak mungkin menikahimu Markonah."


Mereka bertiga mulai memasuki ruangan dengan diiringi gelak tawa.


Alya yang melihat tingkah dan mendengar percakapan ketiga sahabat itu, merasa geli dan ikut tersenyum lebar.


"Selamat pagi Alya." Kirana menyapa Alya dengan tersenyum ramah.


"Selamat pagi juga Bu Dokter." Balas Alya yang juga memberikan seulas senyum.


"Bagaimana, apa ada yang dikeluhkan?"


"Tidak Dok. Saya merasa baik - baik saja."


"Baby Alyra tidak rewel semalaman?"


"Alhamdulillah tidak Dok, bahkan minum asinya juga banyak."


"Alhamdulillah. Trimakasih Dokter."


"Sama - sama Al."


Tiba - tiba pandangan mata Kirana tertuju pada bibir Alya yang nampak sedikit bengkak karena serangan dari bibir Raikhan. Kirana bergidik dan membatin, "Ya Allah, rakus sekali Raikhan." šŸ˜…šŸ˜…šŸ˜…


"Maaf Dokter, mengapa anda melihat saya seperti itu?" tanya Alya dengan polos.


Kirana tersenyum nyengir dan menjawab pertanyaan yang keluar dari bibir istri sahabatnya, " Echhh maaf, saya tidak sengaja melihat itu."


Alya mengusap bibirnya yang serasa masih sedikit perih, wanita itu pun nampak tersipu malu.


Lagi - lagi Abimana menjitak kening Kirana.


"Dasar pikiranmu Ran. Nggak sopan tau ...."


"Hhhhehe maaf, spontan Bim. Maaf ya Alya."


"Tidak apa - apa kog Dok."


Raikhan kembali tertawa karena kekonyolan Kirana.


"Heh Ran, bilang saja kalau kamu juga pingin! Iya kan ... kan ... ??? Makanya buruan menikah!"


"Haissshhhh Raikhan. Siapa juga yang mau sama akuhhh?"

__ADS_1


"Nich si Markun." Raikhan menepuk bahu Abimana.


Kirana memutar bola mata malas dan membalas ucapan Raikhan, "Mana mungkin?"


"Dok, jangan bilang mana mungkin! Siapa tau kalian memang berjodoh. Mas Abi sosok pria perfect sedangkan Dokter Kirana juga seorang wanita perfect. Saya yakin kalian sangat serasi." Ucapan Alya membuat Kirana dan Abimana saling berpandangan.


"Apa kamu mau menikah denganku, Markonah?" Abimana menatap Kirana dengan tatapan tak terbaca.


"Pffftttt ... hhhahaha, ya Allah Bim. Sungguh yang terbayang olehku, jika benar - benar kita menikah, pasti tidak seromantis pasangan muda lainnya."


Abimana mengerutkan kening dan melontarkan pertanyaan kepada Kirana, "Maksudmu Ran?"


"Pasti kita saling menjitak, dan mengacak - ngacak rambut, hhhhhhaha."


Alya dan Raikhan tersenyum lebar mendengar jawaban Kirana yang konyol.


"Oe ... oe ... oe ..."


"Nah lho, gara - gara kamu baby Alyra terbangunkan Ran."


"Hisssh, nggak lah. Yang tertawa keras kan, si Mama dan Papanya Alyra, Bim."


Alya segera meraih baby Alyra ke dalam pelukan, dan menimang putri kecilnya. Raikhan pun merangkul pundak sang istri dengan erat, dan mengusap pipi si malaikat kecil dengan sentuhan penuh cinta. Pria itu juga mengecup pucuk kepala istrinya, seolah ia tengah terlupa jika mereka sedang bersama Abimana dan Kirana di dalam satu ruangan.


Mata Kirana nampak berkaca - kaca melihat adegan yang sedang berlangsung tepat di hadapannya, meski sudah berusaha untuk ceria, namun luka di hati belum sepenuhnya tersembuhkan.


Abimana yang melihat raut kesedihan di wajah cantik sahabatnya, menepuk - nepuk pundak Kirana, seolah mengisyaratkan agar si wanita tetap berusaha untuk tetap tegar. Walaupun sebenarnya apa yang dirasakan oleh Abimana sama dengan Kirana.


"Ran, kita keluar dari ruangan ini yuk!" Ajak Abimana kepada sahabatnya.


"Iya Bim." Balas Kirana dengan suara lirih.


"Al, Rai, kami keluar dulu ya." Ucap Abimana disertai senyuman.


"Iya Bim. Trimakasih atas kunjungan kalian berdua." Raikhan membalas ucapan sahabatnya sembari menjabat tangan Abimana.


Alya dan Kirana pun saling melempar senyum.


Abimana dan Kirana melangkahkan kaki keluar dari ruangan.


"Sabar ya Ran! In shaa Allah perlahan kita akan mampu menghilangkan rasa sakit yang mendera."


"Aamiin, semoga Bim."


"Ran, aku pamit dulu ya. Siang ini, aku beserta ayah dan ibu, berencana ke rumah Roni. Kami ingin memberitahukan kepada keluarganya mengenai kecelakaan yang merenggut nyawa pria malang itu."


"Huum Bim. Kamu hati - hati ya di jalan!"


"Iya Ran, nanti sore aku akan menjemputmu. Asalamu'alaikum."


"Heem Bim, Wa'alaikumsalam."


Abimana melangkahkan kaki, dan berjalan menuju pintu keluar, meninggalkan Kirana yang masih berdiri terpaku.


šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“


Masih bersambung ....

__ADS_1


In shaa Allah, dua atau tiga episode lagi, author akan meng-endkan dulu novel ALYA. Trimakasih kepada para author dan readers yang selalu mengikuti kisah ini. 😘😘😘


Jangan lupa tinggalkan like, komentar, rate 5, dan vote seikhlasnya untuk mendukung author. Trimakasih 😘😘😘


__ADS_2