
Alya, Raikhan, Dimas dan Sofia masih bercengkrama di ruang tamu. Mereka duduk berhadapan di kursi yang terbuat dari bambu.
Meski baru saja saling mengenal, Raikhan dan Dimas, terlihat sangat akrab. Senyuman lebar menghiasi bibir kedua pria itu, ketika bercerita tentang masa kecil Alya yang seperti seorang anak lelaki, sangat berseberangan dengan pribadi Alya saat ini...
Sedangkan Alya dan Sofia, lebih senang berbincang mengenai kesehatan ibu dan balita. Apalagi Alya tengah mempersiapkan diri untuk menjadi ibu yang baik bagi buah hatinya.
"Hhhhhaha..., teruskan ceritamu Dim..!" Raikhan terlihat sangat antusias mendengar cerita tentang istrinya. Untung saja Sofia tidak menaruh rasa cemburu kepada sang suami, karena sebelum mereka menikah, Dimas menceritakan yang sebenarnya tentang Alya.
Sedangkan Alya, nampak tertawa kecil mendengar obrolan mereka berdua, sembari masih berbincang dengan Sofia.
"Dulu.., Alya kalau marah naik ke pohon Mas. Bahkan naiknya sampai ke atap rumah. Seharian dia bersembunyi di atas, padahal ayahnya kalang kabut mencari si anak nakal...."
"Lucu lagi ketika kami mencari keyong Mas.. Badan Alya sampai penuh dengan lumpur..., hhhhaha..., Ya Allah Mas... Waktu kecil Alya tidak seanggun yang terlihat seperti saat ini... Gara-gara sifatnya yang sok pemberani, Alya juga pernah hampir terseret arus air sungai yang tiba2 deras. Beruntung, aku dan dua orang teman kami, bisa segera menyelamatkannya Mas, dengan bantuan batang pisang yang mengapung..." Cerita Dimas, membuat Raikhan tertawa geli.
"Ya Allah Yank.., ternyata kelakuanmu waktu kecil seperti itu..., semoga putri kita tidak meniru kenakalan Mamanya..."
"Hmmmm..., puas kalian berdua memperbincangkan calon Mama muda yang anggun ini..." Tiba-tiba Alya menyambung pembicaraan dua pria, yang masih saja memperbincangkan dirinya.
"Sorry Al..., aku bercerita tentang masa kecilmu, karena Mas Raikhan semakin tertarik dengan cerita tentang sosok istrinya ini.." Dimas membalas ucapan Alya, disertai tawa yang semakin menjadi.
"Hmmmm..., terserah kalian saja.. Silahkan lanjut menertawakanku...!"
"Hhhaha..., beneran aku lanjut lho Al.."
"Sudah cukup Dim ceritanya...! Aku tidak bisa melihat wanita secantik ini cemberut..." Raikhan menyunggingkan seulas senyum manis, tangan kekarnya merangkul bahu sang istri....
"Iya dech... Tapi aku bangga pada istrimu Mas. Dari dulu sangat teguh memegang prinsip..." Ucapan Dimas, seketika membuat Raikhan tertarik untuk mengetahuinya....
"Prinsip apa Dim...?"
"Alya tidak mau berpacaran seperti halnya gaya pacaran anak muda saat ini. Dia teramat menjaga seluruh apa yang dimilikinya, hanya untuk satu pria, yaitu sang suami. Makanya, dia tidak mau dicium ataupun disentuh dalam artian sentuhan lebih dari sekedar berjabat tangan..."
"Masya Allah... Berarti aku harus semakin bersyukur, karena memiliki istriku seutuhnya. Seorang wanita yang benar-benar menjaga kesuciannya untuk sang suami, yaitu aku... Achhh trimakasih istriku.., trimakasih juga Dimas, karena kamu sudah menceritakan segala hal tentang bidadariku ini...." Raikhan semakin mengeratkan rangkulannya. Andai sedang tidak ada orang lain di tempat itu, ingin rasanya, ia memeluk tubuh sang istri, dan menghujani dengan kecupan kasih sayang.
"Iya Mas..., jaga Alya....! Jangan pernah sekalipun mengkhianati cintanya..!" Dimas mengucapkan kata2 dengan nada serius.
"Pasti Dim... In shaa Allah, sampai tutup usia, aku akan menjaga dan mencintainya.." Raikhan menatap lekat-lekat istrinya, Alya yang menyadari tatapan sang suami pun menoleh dan memberikan seulas senyum manis.
"Mm.., oiya Dim. Maaf aku mau bertanya..." Ucap Alya, dia teringat dengan keinginannya untuk mencari siapa si penelepon misterius.
"Tanya apa Al...?"
"Kamu masih menyimpan nomor ponselku...?"
"Maaf Al, semenjak berganti ponsel, ada beberapa nomer yang hilang, termasuk nomormu..." Jawaban Dimas, tidak sesuai dengan kenyataan. Dia membuat alasan, karena yang sebenarnya terjadi adalah..., Dimas telah menghapus nomor Alya dengan sengaja. Karena ia tidak ingin, niatnya untuk mengabulkan permintaan Alya ( bertanggung jawab atas kehamilan Sofia ), menjadi berubah. Saat itu yang ada dalam hati Dimas, hanya ada Alya....
"Mmm..., begitu ya Sob..." Alya terlihat berpikir.
__ADS_1
"Lalu siapa sosok penelepon yang masih misterius itu, kalau bukan Dimas..?" Gumam Alya dalam hati.
"Sudah sore, kami pamit dulu ya...." Dimas dan istrinya beranjak dari duduk, mereka berdua berpamitan pada Raikhan dan Alya.
"Iya Dim... Jaga anak dan istrimu ya...!" Balas Alya dengan menampakan senyuman yang terhias di bibir indahnya. Ia dan sang suami juga beranjak dari duduk.
"Siapppp Nyonya Raikhan..., hhhehehe....Asalammu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..." Raikhan dan Alya, membalas ucapan salam Dimas secara bersamaan, mereka pun saling berjabat tangan.....
********************
Mentari mulai tenggelam..., senja menampakan keindahannya yang menyilaukan mata. Suara adzan Maghrib berkumandang..... Usai menjalankan ibadah sholat Maghrib, Alya dan Raikhan berpamitan kepada Ibu beserta kedua adiknya.
Setelah berpamitan, mereka berdua berjalan keluar rumah, menuju parkiran. Sesampai di samping mobil, mereka pun segera membuka pintu, dan masuk ke dalamnya.
Dengan perlahan, Raikhan mulai menjalankan mobilnya.
"Mas..., mampir ke mini market ya...!"
"Okay Sayangku.. Mau beli apa Yank..?"
"Mau beli roti kering, susu untuk ibu hamil. Sekalian mau beli ice cream..."
"Baiklah Sayang...."
Tanpa membutuhkan waktu yang cukup lama, mobil yang dijalankan Raikhan sudah sampai di depan mini market Indo... Raikhan segera menepikan mobilnya.
Alya mulai memilih semua yang ia butuhkan. Dengan penuh kasih sayang, Raikhan menggennggam erat tangan sang istri dan tangan kirinya membawa keranjang belanjaan.
Ketika memilih ice crem..., terdengar suara anak kecil menyapa...
"Tante cantikkk..." Raikhan dan Alya segera menoleh ke asal suara.
"Salsa....?" Mata Alya nampak berbinar melihat gadis kecil yang sedang berdiri di hadapannya. Ia pun berjalan mendekati si gadis kecil dan mengusap rambutnya.
"Tante Alya, Salsa kangen...."
"Tante juga kangen Sa... Dengan siapa kamu Nak..?"
"Ayah dan Ibu, Tan..." Terlihat ayah dan ibu Salsa berjalan mendekat ke arah mereka.
"Hai Al...". Sapa Ayah Salsa disertai senyuman yang menampakan kedua lesung pipi.
"Hai Ngga, hai Ratna..." Alya membalas sapaan Angga disertai seulas senyuman.
"Kenalkan ini suamiku, Mas Raikhan..." Alya memperkenalkan suaminya pada Angga dan Ratna. Mereka berempat saling berjabat.
__ADS_1
"Al..., trimakasih karena dulu kamu menyadarkan suamiku ini, hingga kami dapat bersatu kembali.. Maafkan, perbuatanku di masa lalu.. Meski Angga sering bercerita tentang perasaannya terhadapmu dari SMA, namun keegoisan dan rasa cintaku, membutakan segalanya. Maaf, aku merebutnya darimu....." Ucapan Ratna membuat Raikhan sangat terkejut, karena ia tidak pernah mengetahui masa lalu istrinya.
"Achhh sudahlah Ratna... Aku dan Angga hanya berteman. Melihat kalian bersatu kembali, teramat membuatku bahagia..."
"Trimakasih Al..., trimakasih..." Ratna meraih tangan Alya dan menggenngamnya dengan erat. Mata Ratna nampak berkaca-kaca.
"Ngga..., aku sangat bahagia... Akhirnya kamu sadar, dan merubah kebiasaan lamamu.. Cintailah keluargamu, jangan pernah menyakiti hati istrimu lagi...!"
"Iya Al... Trimakasih telah menyadarkanku.. Aku bersyukur bertemu kembali denganmu di malam reoni itu..."
"Iya sama-sama Ngga.."
"Al.., tapi kamu jahat... Tidak mengundang kami di acara pernikahanmu..." Alya hanya terdiam, ia tengah memikirkan jawaban yang tepat, tanpa menyakiti hati suaminya... Raikhan seolah mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan sang istri, ia pun menjawab pertanyaan Angga, disertai seulas senyum....
"Maaf..., kami hanya mengadakan resepsi pernikahan secara sederhana... Itu pun hanya dihadiri oleh keluarga besar, dan beberapa sahabat..."
"Owhhh.., yang terpenting rumah tangga kalian sakinah, mawadah, warohmah Mas..." Balas Angga dengan tersenyum menampakan kedua lesung pipinya.
"Aamiin..., iya... Trimakasih Mas.."
"Sama-sama Mas... Oiya, Mas Raikhan, Alya... Kami duluan ya... Utinya Salsa sudah menunggu di rumah..."
"Iya Ngga... Salam buat Ibu ya...!"
"Siap Al.. Asalammu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam...."
"Dadah tante Alya..." Salsa melambaikan tangan mungilnya, Alya pun membalas dengan lambaian tangan dan seulas senyum.
"Dadah Salsa sayang..."
Angga beserta anak dan istrinya berlalu dari hadapan mereka berdua.
Setelah kepergian mereka bertiga, Raikhan menatap istrinya lekat-lekat.
"Yank.., aku ingin Sayang menceritakan kisah masa lalumu padaku..!"
"Iya Mas, akan aku ceritakan semuanya kepadamu, tentang lika-liku cinta yang rumit seorang gadis biasa, nanti ketika kita sampai di rumah.... Mas Abi sudah mengetahui semuanya tentang kisahku, karena dulu dialah yang menjadi tempat aku bercerita, Mas...."
"Baiklah Yank... Mungkin..., karena Bima menjadi pendengar setia cerita kisah hidup seorang gadis biasa, membuat Sayang merasa nyaman dan sangat mencintainya..?"
"Iya Mas, itu salah satu penyebabnya, dan membuatku susah move on dari Mas Abi. Namun tidak untuk saat ini dan selamanya..., karena hati dan ragaku sepenuhnya sudah dimiliki oleh Mas Raikhan, suamiku, kekasihku, sekaligus Imam yang terbaik.. In shaa Allah, till janah Mas..."
Raikhan terpaku mendengar ucapan Alya....
ššššššššššššš
__ADS_1
Happy reading
Jangan lupa tinggalkan like š, komentar, rate 5, dan bila berkenan berikan vote untuk mendukung author. Trimakasih šš