
To Readers
Trimakasih author ucapkan karena sudah berkenan mengikuti dan membaca kisah Alya. Author harap semoga readers tidak jenuh ya... š
Ada bonus foto di episode sebelumnya lho..., episode Bunga Amarilis & I will Always love you Alya... š
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like š, pencet ⤠untuk favorit, klik gambar bintang dan berikan rate 5, serta jangan ragu untuk berkomentar. Karena komentar readers membuat author lebih bersemangat untuk selalu up meski 1 hari 1 episode.
So... happy reading š
ššššššššššššššš
Setelah menjalankan ibadah sholat Dzuhur di Mushola yang berada di sekitar dusun Pathuk, Raikhan melajukan mobilnya menuju ke tempat wisata yang tak kalah mengagumkan. Pria itu ingin memberikan kebahagiaan pada istri tercinta, dengan mengajaknya menikmati pemandangan alam yang tersaji di Yogyakarta.
Tujuan Raikhan kali ini adalah Pantai Ngandhong.
Pantai yang terletak di sebelah barat laut dari pantai Indrayanti.
Raikhan menghentikan mobilnya seketika, setelah sampai di area parkiran yang terletak tidak begitu jauh dari bibir pantai, ia pun mempersilahkan sang istri untuk keluar dari dalam mobil.
"Sayang..., sini tanganmu...!!" Raikhan meraih tangan Alya, kemudian menggandhengnya. Ia pun mengajak sang istri berjalan mendekat ke bibir pantai....
"Mas..., aku suka suasana pantai seperti ini.. Apalagi dengan warna airnya nampak kebiruan serta garis pantai yang landai dan terlihat eksotis..." Senyum Alya merekah, nampak binar di matanya..
"Iya Sayang..., suasana ini akan mampu memberikanmu rasa rileks...." Balas Raikhan juga disertai seulas senyum.
"Lihat Sayang....!! Di samping kanan dan kiri pantai ini, terdapat bukit karst yang sangat eksotis...." Raikhan menunjukan pemandangan yang membuat sang istri terpukau.
"Masya Allah Mas..., sungguh menakjubkan ciptaanNya...."
"Kalau Sayang mau, kita bisa menaiki bukit itu... Dari atas akan nampak pemandangan laut dan pantai sekitar...."
"Aku mau sich Mas..., tapi aku lebih mau lagi kalau kita naik kapal nelayan..., hhhehe..."
Raikhan mencubit hidung istrinya dengan gemas.
"Baiklah Permaisuri hatiku, hamba akan membawamu untuk berlabuh dengan kapal nelayan..." Raikhan beradegan dengan badannya sedikit membungkuk, telapak tangan kanan ditempelkan di dada, dan tangan kirinya melingkar kebelakang. Alya tertawa lebar melihat sikap sang suami yang seolah berlebihan.
"Hhhhaha..., Mas...., Mas..., ada2 saja kamu..."
"Yang terpenting suamimu ini bisa melihat istrinya selalu tertawa dan ceria. Yuk Yank kita naik ke kapal nelayan sekarang....!!" Raikhan menggenggam erat tangan sang istri.
"Iya Suamiku yang selalu romantis...." Balas Alya dengan senyuman mengembang. Mereka melangkah mendekat ke kapal nelayan.
"Hati2 Yank...!" Ucap Raikhan pada sang istri saat mulai menaiki kapal.
Alya berpegangan pada tangan sang suami, yang terlebih dahulu berada di atas kapal.
Setelah mereka berdua naik dan duduk di atas kapal, nelayan mulai melabuhkan kapal dengan perlahan.
"Mas..., Mbak..., monggo dilihat...!!"
__ADS_1
Bapak nelayan menunjukkan fenomena alam di laut yang menakjubkan, yaitu keluarnya sumber air tawar dari dalam laut yang seolah seperti air mendidih.
"Kereeeeennnnn Pak...." Seketika Alya berteriak kegirangan, matanya membelalak. Ia teramat mengagumi fenomena alam yang dilihatnya.
Si bapak tersenyum puas karena merasa berhasil memperlihatkan hiburan pada penumpangnya. Sedangkan Raikhan, tertawa kecil melihat sikap sang istri yang mungkin agak berlebihan.
Raikhan merangkul erat pundak Alya.
"Sayang bahagia...?"
"Iya Mas..., teramat bahagia...."
"Lihatlah Sayang..., hamparan laut biru yang luas...!! Bagaikan perasaan cinta ini padamu Yank..."
"Hmmm..., kamu terlalu hiperbola Mas... Gombal..." Alya tertawa mendengar ucapan sang suami.
"Tentu tidak Sayang..." Raikhan menatap lekat, dan mengusap pipi sang istri dengan lembut.
"Itulah sebenarnya perasaan cintaku... Hingga apapun akan pria ini lakukan, demi membuat si wanita bahagia..."
"Trimakasih Mas.... Semoga kelak cintaku pun seluas samudra ini padamu..." Alya membalas tatapan sang suami, dan memberikan seulas senyum.
Bapak nelayan yang mendengar percakapan mereka seolah ingin muntah.... šš
Dalam hatinya berkata... "Pasangan muda biasalah seromantis itu, coba kalau sudah punya anak lima sepertiku, pasti sering bertengkar, bahkan panci pun melayang karena pulang cuma bawa uang sedikit...."
Bapak nelayan mulai menepikan kapal setelah beberapa saat membawa penumpangnya berkeliling di sekitar pantai.
"Matur nuwun Mas..., semoga rejeki njenengan lancar. Bisa terus bahagia dengan pasangan..." Doa bapak nelayan dengan tulus.
"Aamiin.., sami2 Pak.."
Raikhan dan Alya berjalan, menyusuri bibir pantai. Nampak kerang2 kecil yang berserakan.
"Yank...., sudah lapar belum...?"
"Sebenarnya sudah Mas..."
"Baiklah, kita makan dulu..., sekalian nanti menunggu adzan Ashar berkumandang. Setelah menjalankan sholat Ashar, kita akan melanjutkan menikmati keindahan tempat wisata yang lainnya..."
"Huum Mas..."
Mereka berdua berjalan menuju warung makan seafood, yang terletak tidak jauh dari bibir pantai.
*****************
Kini Raikhan dan Alya berada di tempat wisata yang tidak kalah menarik dan keren.
Tepatnya di pantai Nguluran. Terlihat hamparan laut luas serta beberapa spot foto. Semua fasilitas ada di atas tebing. Sekitar belasan meter dari permukaan air pantai.
__ADS_1
"Yank...., yuk kita foto di atas teras kaca...!!" Ajak Raikhan pada istrinya yang sedang berdiri terpaku, mengagumi pemandangan sekitar.
"Aku takut Mas... Kacanya bisa pecah ngga ya, kalau kita berdiri di atas sana..??" Alya bertanya dengan polos.
"Hhhhahha... Ya Allah Sayang, kamu masih seperti Alya yang aku kenal saat pertama kali kita bertemu... Duhhh Yank..., perutku bisa kram..." Raikhan tertawa lebar mendengar ucapan sang istri.
"Aku serius Mas..." Alya nampak kesal, karena sang suami menertawakannya.
Raikhan mengelus kepala sang istri dengan lembut....
"Sayang..., kacanya tidak akan pecah kog. Jadi tenanglah...!! Okay Sayang..."
"Heem Mas..., tapi pegangi aku terus ya..!!"
"Siap Permaisuriku..."
Raikhan dan Alya berjalan di atas teras kaca. Tangan Raikhan selalu menggenggam erat tangan sang istri.
Fotografer mulai mengambil foto dan mengarahkan mereka untuk berpose romantis. Foto mereka diambil dengan latar belakang laut yang terhampar sangat indah.
"Yuk Yank.., kita berfoto lagi...!!" Raikhan mengajak sang istri untuk berfoto di spot yang lain.
Mereka berjalan mendekat ke arah spot foto berupa glass boat, yang mirip dengan teras kaca.
Teras kaca maupun glass boat, berupa gardu pandang tepi tebing yang menjorok ke arah perairan yang berada belasan meter di bawahnya. Sesuai namanya glass boat berbentuk haluan kapal dengan dasar dari kaca.
Pose yang dilakukan oleh Alya dan Raikhan di glass boat adalah pose berpelukan iconic ala film Titanic.
"Yank..., anggaplah kita sedang berada di atas kapal Titanic. Seperti Jack dan Rose. Rentangkan kedua tangan, hirup aroma laut yang menenangkan...."
Alya mengikuti apa yang diperintahkan sang suami.
Tangan Raikhan memeluk sang istri dari belakang....
"Sempurna.." Ucap fotografer dengan tersenyum puas setelah mengambil foto mereka berdua.
Raikhan menerima hasil foto dari fotografer dengan tersenyum dan matanya nampak berbinar, ia pun memberi sejumlah uang sebagai tanda jasa dan tips, serta mengucapkan terimakasih.
Alya dan Raikhan masih berdiri di atas glass boat. Pandangan mereka tertuju pada hamparan laut luas.
"Bagaimana Yank...?? Apa yang Sayang rasakan saat ini...?"
"Aku merasakan rileks dan ketentraman hati Mas.. Serta perasaan bahagia..."
"Syukur..., Alhamdulillah... Bahagialah selalu ya Bidadariku...!! Jangan pernah ada tangisan lagi...!!"
"Iya Mas... Trimakasih karena selalu membuat istrimu ini bahagia..." ššš
ššššššš
Ikuti juga kisah petualangan Anandhita yang dikemas sangat keren, dengan tata bahasa yang teramat menarik dan bernilai tinggi. Dibalut dengan kisah cinta Anandhita dan Awang yang semakin membuat novel ini menjadi sangat eksotis.
__ADS_1