
Debur ombak berpadu dengan suara desahan sang bayu, mengiringi jejak langkah kedua insan yang saling bercengkrama menyusuri hamparan Pasir Pantai Parangtritis.
"Kiran, apa ayah dan ibumu tau tentang rencana Tante Maria?"
"Iya, mereka tau Bim."
"Lantas, apa mereka menyetujui perjodohan itu?"
"Sama sekali tidak Bima. Apalagi ibuku, beliau sangat menentang rencana Tante Maria untuk menjadikan putrinya sebagai alat penebus hutang."
"Nah, kedua orang tuamu saja menentang. Ngapain sich kamu mau kembali ke Jakarta untuk menerima perjodohan yang konyol?"
"Selain ingin melupakan Raikhan, aku juga takut menjadi perawan tua."
Mendengar jawaban dari Kirana, Abimana seketika tertawa, "Pfffftttt ... hhhhahaha, ya Allah jawaban yang tidak masuk akal Markonah."
"Ishhhhh, napa sich Markun malah ngetawain?" Kirana nampak kesal dengan ucapan sahabatnya, spontan si gadis konyol mencubit lengan atas Abimana dengan keras.
"Awww, sakit Markonah." Abimana merintih kesakitan karena cubitan Kirana yang meninggalkan sensasi seperti digigit semut ratusan kali.
"Makanya jangan menertawakan aku Markun!"
"Hehhhh, salah sendiri memberikan jawaban aneh. Ayah dan ibumu sudah tidak setuju dengan rencana Tante Maria, ech hanya karena takut menjadi perawan tua, seorang dokter muda nan cantik mau menyerah dengan menerima perjodohan tak lazim. Ingat Ran, pria di dunia ini masih ada yang mau sama kamu!"
"What? Kamu bilang aku dokter muda nan cantik? Beneran Bim? Aku cantik ya?" Kirana menampakan wajah puppy eyes.
Tanpa sengaja pandangan Abimana terpaku menatap wajah sahabatnya yang ternyata memang begitu cantik dan imut.
"Iya, kamu cantik Kiran."
"Uchhhhhh, makasih Abim." Kirana menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Nampak senyuman manis menghiasi wajah cantik si dokter muda.
"Makanya jangan takut menjadi perawan tua! Kalau memang tidak ada yang mau menikahi sahabatku ini, biarlah aku yang akan melamarmu." Ucap Abimana dengan tersenyum lebar.
"Hishhhh, mana mungkin Bim Bim kotabim?"
"Kalau mungkin bagaimana Ran? Kalau kamu bersedia, aku akan meminta ayah dan ibu untuk segera melamarmu."
"Abimana sahabatku, jangan bercanda soal lamaran! Terus terang aku jadi baper tauuuu. Bim, aku tau hatimu masih untuk Alya. Sedangkan hatiku untuk Raikhan, meski kita berdua sadar tidak akan mampu merengkuh balasan cinta." Kirana melemparkan pandangannya ke hamparan pantai yang luas.
__ADS_1
"Kiran, bukankah kamu yang selalu menasehatiku untuk ikhlas menerima kenyataan dan berdamai dengan takdir? Mengapa malah kamu yang sepertinya masih belum ikhlas menerima apa yang telah menjadi kehendak-Nya?"
Kirana membuang nafas dengan kasar, "Hufffff, apa yang kamu ucapkan benar Bim. Antara ucapan dan apa yang tersembunyi di dalam hatiku sangatlah bertentangan. Mudah untuk berucap, namun sulit untuk menjalaninya."
"Kiran, mari kita buka lembaran baru! Hempaskan perasaan yang kita miliki terhadap mereka! Aku yakin, suatu saat Allah akan memberikan anugerah terindah berupa cinta yang terbaik"
"Semoga ya Bim."
"Iya Kiran. Sudah jam sepuluh malam, ayo kita pulang!"
"Hemmmmzzz, sebenarnya aku masih betah berlama - lama di sini." Kirana memejamkan mata, menikmati suara deburan ombak.
"Ran, kalau pulang terlalu malam, apa yang dipikirkan oleh kedua orang tua kita? Bisa - bisa kita berdua langsung dinikahkan."
Kirana membuka mata dan tertawa mendengar ucapan sahabatnya, " Hhhhhhhahaha, biarkan saja mereka menikahkan kita Bim. Toh kamu juga ingin cepat - cepat menikah kan? Supaya terbebas dari gelar perjaka tua."
Abimana mengacak jilbab Kirana dan membalas ucapan sahabatnya dengan nada kesal, "Dasar gadis konyol. Aku masih muda tauuuu. Kamu itu yang terlalu takut dibilang perawan tua."
"Duhhh, jangan suka mengacak jilbabku Bim! Jadi berantakan gini."
"Iya ... iya maaf. Oya Ran, kapan - kapan kamu ikut ya ke rumah Pak Arya!"
Kirana mengerutkan kening dan membalas ucapan Abimana, "Ke rumah Pak Arya?"
"Ya harusnya kamu bersyukur Bim, jika Suci berkeinginan supaya kamu membalas budi dengan menikahinya. Aku rasa Suci seorang gadis yang baik."
Abimana membuang nafas kasar mendengar ucapan sahabatnya, "Huffffff, aku tidak bisa menikahi seorang gadis hanya karena ingin balas budi. Aku berharap bisa menikah dengan seseorang yang mampu menguatkan dan bisa saling melengkapi."
"Hemzzzz, aku memahaminya Bim. Baiklah, In shaa Allah aku akan ikut ke rumah Pak Arya. Tapi jangan mendadak yang menentukan waktunya!"
"Okey Kiran. Makasih ya!"
"Masama Abim."
"Hahh, tumben kamu memanggilku dengan sebutan Abim."
"Biar terkesan so sweet Bim, hhhhahaha."
"Baiklah Sayang, aku senang dengan panggilan yang sweet itu." Abimana membalas ucapan Kirana dengan mengerlingkan mata.
__ADS_1
"Hhhhhaha, ya Allah. Ngapain yakk kita jadi lebay begini?"
"Kan kamu yang memulainya Ran. Mau pulang atau bermalam di pantai?"
"Hisssss, ya pulanglah. Yuk Bim!" Ajak Kirana dengan menarik lengan Abimana.
Mereka berdua berjalan beriringan menapaki hamparan pasir Pantai Parangtritis, meninggalkan jejak kenangan awal cerita romantis diantara kedua insan yang masih belum tersadar akan kehadiran cinta terindah.
Disinilah tercipta awal kisah ketulusan cinta Abimana pada sahabatnya, Kirana.
*******************
Sang dewi malam menampakan seulas senyum ditemani gemerlap ribuan bintang yang membentuk rasi - rasi, melukiskan keindahan Sang Pencipta.
Dua insan yang kini telah saling mencinta, berpeluk dengan sangat mesra. Tanpa ada lagi kesangsian cinta yang mengganjal perasaan.
Mereka bercengkrama ditemani suara binatang malam berpadu dengan gemrisik dedaunan, menciptakan senandung keindahan, menambah nuansa malam yang kian romantis.
"Sayang, lihatlah rasi bintang di atas sana! Masihkah terlukis senyumnya?"
Pertanyaan Raikhan membuat Alya mengulas senyum terindah, "Tentu tidak suamiku tercinta. Jika dulu setiap menatap rasi bintang seolah terlukis senyum indah Mas Abi, namun tidak untuk saat ini dan selamanya. Kini rasi bintang itu hanya membentuk keindahan Sang Penciptanya, Mas. Aku pinta jangan bertanya tentang Mas Abi lagi Yeobo!"
"Iya Sayang. Hemzzzz, maafkan suamimu ini Yank! Aku masih merasa kebahagiaan yang terengkuh hanyalah mimpi terindah."
"Ini bukan mimpi Mas, tapi kenyataan yang harus kita syukuri. Allah telah memberi anugerah cinta terindah, meski bermula dari sentuhan nestapa saat mengawalinya. Berjanjilah, hanya aku yang ada di hatimu selamanya suamiku!"
"Iya Sayang, aku berjanji." Raikhan mengecup pucuk kepala istrinya dengan penuh cinta.
"Mas, kita tutup lembaran kisah cinta seorang gadis biasa, dengan akhir kisah bahagia karena mendapatkan cinta yang teramat sempurna. Betapa bersyukurnya istrimu ini Mas, karena cinta sejati telah terengkuh olehku, setelah melalui lika - liku ujian yang kadang menyisakan duka."
"Iya sayang, kini kisah itu berakhir dengan penyatuan cinta kita. Jangan menganggap dirimu seorang wanita biasa! Bagiku Alya adalah gadis yang kini telah berubah menjadi sosok seorang wanita luar biasa. Dialah istri Raikhan, mama dari si malaikat kecil berwajah cantik, Alyra."
"Semoga Allah selalu meridhoi cinta kita, dan memberikan kemudahan untuk meraih sakinah bersamamu, suamiku."
"Aamiin ya Robb ...."
Mereka berdua saling mengeratkan pelukan, seolah tak ingin terpisah.
ššššššššš
__ADS_1
Pantai Parangtritis