
Setelah resepsi.
"Sayang, kamu lelah?" tanya Malik saat berada dalam kamar. Mereka baru saja menyelesaikan pesta resepsi mereka.
"Ka, eh, Ma. Ah, Kak, aku sungguh tak bisa menyebutmu Mas," keluh Tania. Ia terbiasa memanggil Kak pada Malik, Suaminya.
Malik pun berjongkok, ia melepaskan sepatu hils yang dipakai istrinya. "Jika tidak bisa memanggilku mas, kau bisa memanggilku senyamanmu," ucap Malik. Tanganya dengan perlahanan melepaskan sepatu Vania agar istrinya tidak terluka.
Seketika Vania tersenyum.
"Malik!" panggil Vania sambil tersenyum menggoda.
Karena Malik tak merespon, Vania pun kembali menggoda suaminya.
"Malik!" panggil Vania lagi.
Malik sudah mulai meresopon, tiba-tiba ia mendelik ke arah Vania.
"Malik!" panggil Vania sambil tertawa karena melihat lucunya wajah kesal sang suami saat dirinya hanya memanggil namanya langsung.
__ADS_1
Setelah selesai melepaskan sepatu istirinya, Malik pun bangkit dari bejongkoknya. Ia melepaskan jasnya dan melemparkannya ke sembrang arah. "Kau telah membangunkan singa tidur, Sayang." Malik menyeringai kearah Vania. Sebelum Vania menjawab ucapan Malik, Malik sudah membungkukan diri, secepat kilat dia menyentuh dagu Vania dan mengangkatnya, Dengan cepat dia langsung meyambar bibir ranum sang istri.
Vania yang tak siap, langsung memukul-mukul tangan sang istri.
Malik pun melepaskan bibirnya dari bibir sang istri. Sungguh Vania ingin sekali tertawa terbahak-bahak saat melihat bibir sang suami terkena lipstiknya. Vania memakain lipstik yang berwarna merah terang dan saat Malik menciumnya, otomatis lipstik Vania terkena bibir Malik. Muka Malik sangat lucu, kala lipstik itu mengenai bibirnya.
Sebelum Vania tertawa dan memberitau suaminya, Malik kembali menyambar bibir istrinya.
Tanpa mereka duga, seseorang masuk kedalam kamar yang Vania tempati. "Vania, ini pons ...." Lila masuk kedalam kamar adiknya tanpa mengetuk pintu. Lila pikir, Malik masih berada di luar mengobrol bersama yang lainnya hingga ia masuk tanpa mengetuk. Lila menghentikan ucapannya saat melihat adegan di depannya.
Sedangkan Malik langsung melepaskan bibirnya dari bibir sang istri.
" Kami tak melakukan apa-apa, Kak." Tanpa sadar, Malik mengcapkan apa yang ada di pikirannya. Dia tak sadar, jelas-jelas saat Lila masuk ke kamarnya dia sedang mencium bibir istrinya.
"Maaf, kakak menganggu. Kaka tidak tau Malik ada di kamar, kaka hanya ingin menyerahkan ponsel Vania," ucap Lila sambil menyodorkan ponsel Vania. Sejak pesta, Vania menitipkan ponselnya pada Lila, kakanya.
Karena Vania bersembunyi dan menutup wajahnya dengan bantal. Malik berusaha setenang mungkin dan maju untuk mengambil ponsel Vania, dia masih belum sadar bahwa bibirnya blepotan oleh lipstik.
Saat Lila sudah keluar dari kamar, Vania melepaskan bantal yang menutupi wajahnya Ia berjalan kearah Malik. "Kaka, lihat wajah kaka,!" titah Vania sambil menarik tubuh Malik dan membawa Malik bercermin.
__ADS_1
Mata Malik membulat sempurna saat melihat wajahnya. Saat dia akan protes, ada seseorang yang mengetuk pintu.
"Lik!" teriak seseorang dari luar. Orang itu adalah Raffael.
Malik mendengus mendengar suara om iparnya. Ia berjalan kedekat ranjang dan mengambil selembar tisyu untuk menutup mulutnya.
"Kenapa?" tanya Malik berguman tidak jelas karena ia menutup mulutnya dengan tisu.
"Nih, kado dari gue," ucap Raffael sambil menyerahkan kotak kecil pada Malik.
Setelah itu Raffael meninggalkam kamar Malik. Raffael tertawa membayangkan wajah Malik saat melihat kadonya.
Malik menutup pintu, ia membuka kotak sambil berjalan. Mata Malim terbelalak saat melihat hadiah yang diberikan Raffael.
"Bisa-bisanya, dia ngado tisyu .M*a*G*I*C, apa dia pikir gue letoy!" gerutu Malik.
"Kak, apa itu?" tanya Vania yang penasaran.
Seketika Malik menyembunyikan kotak di belakang tubuhnya.
__ADS_1
Malik ....
Masih mau extra part Vania sama Malik?