
Malik terbangun dari tidurnya, ia langsung duduk di sofa, pandangannya langsung melihat kearah dinding untuk melihat jam, ternyata ia tertidur selama 3 jam.
Saat Vania meninggalkannya dan mengunci pintu kamar dari luar. Malik pun berniat menunggu Vania di sofa. Tapi ternyata mata tidak bisa bersahabat dengan niat.
Malik pun bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju kamar, dan kamar itu ternyata masih terkunci.
Malik menepuk keningnya. Kenapa ia bisa lupa tentang kunci duplikat yang di taruhnya di laci.
Ia pun, mengambil kunci cadangan di laci dan kembali lagi ke kamarnya. Dengan perlarah, Malik memasukan kunci kedalam lubang, beruntung Vania mencabut kunci dari dalam, hingga Malik tak kesusahan saat memasuk kunci cadangan dari luar.
Saat pintu terbuka, Malik melongokan kepalanya kedalam pintu, ia melihat sedang apa istrinya di dalam.
Malik menghela napas lega saat tau Vania sedang tertidur. Ia pun dengan perlahan masuk ke kamarnya, ternyata setelah mengunci pintu kamar, Vania pun tertidur lagi.
Dengan pelan, Malik berjalan menuju kasur, ia membaringkan diri di sebelah istrinya. Baru saja ia akan memeluk istrinya, Vania langsung membuka mata.
"Mas," ucap Vania sambil tersenyum, ia langsung meletakan tangannya di pinggang suaminya dan menelusupkan wajahnya di dada bidang suaminya.
Mata Malik membulat sempurna saat melihat tingkah istrinya yang tiba-tiba manis, padahal tadi pagi, Vania menangis sampai mengunci Malik dari dalam. Tapi, setidaknya ia lega, takan terjadi perang dunia.
"Bangun, yu, udah siang!" ucap Malik sambil mengelus rambut Vania. Bukannya menjawab, Vania malah mengeratkan pelukannya. "Bentar lagi," jawabnya manja.
"Udah siang, Sayang. Mas, kan, harus nge chek restoran."
__ADS_1
Mendengar kata restoran, Vania mendongak melihat Malik, "Aku pengen ikut," ucap Vania. Entah kenapa dia ingin mengikuti suaminya pergi ke restoran. Padahal selama ini ia selalu enggan jika diajak.
"Yaudah, ayo bangun! cepet mandi udah siang."
"Pulangnya pengen kerumah Mamih, ya."
"Ia, hayu, nanti pulang dari rumah Mamih kita pergi ke dokter buat usg ya."
Vania pun bangkit dari tidurnya, dan menuju kamar mandi, Malik hanya menggeleng melihat tingkah istrinya yang berubah manis.
°°°
Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya mereka pun tiba di restoran milik Malik. Malik memiliki restoran yang ia rintis sejak masih menjadi sekretaris Raffael. Walaupun kedua orang tuanya cukup kaya, Malik tak meminta sedikitpun bantuan dari orang tuanya.
Malik membukakan pintu mobil untuk istrinya. Ia mengulurkan tangan pada Vania dan mengajak Vania turun.
Saat masuk kedalam restoran, Malik di sambut oleh salah satu karyawan di restoran miliknya. Karyawan wanita itu menyapa dan terseyum pada Malik dan Vania, dan Malik pun hanya menanggapi dengan anggukan.
Tapi tidak dengan Vania, hatinya terbakar api cemburu saat ada yang tersenyum pada suaminya, padahal karyawan Malik pun juga tersenyum padanya, bukan hanya pada Malik saja. Hormon kehamilah Vania membuat perasaan dan mood wanita itu sering berubah-rubah.
"Sayang, kamu duduk dulu ya, di sofa. Mas mau turun lagi kebawah buat ngechek di dapur," ucap Malik ketika mereka sampai di ruangan Malik.
Vania berdecih, "Bilang aja mau liat cewe-cewe kan di bawah!" gerutu Vania dengan suara pelan.
__ADS_1
Walaupun dengan suara pelan, Malik bisa mendengar ucapan istrinya.
"Sayang, ko bilangnya gitu," ucap Malik. Ia mengajak Vania untuk duduk di sofa. "Kenapa, hemm, ada yang ganggu pikiran kamu?" tanya Malik.
"Itu tadi! karyawan Mas senyum-senyum sama, Mas. Kan ga boleh senyumin suami orang."
Seketika Malik terbahak dengan ucapan istrinya, ia menepuk keningnya karena istrinya mengatakan hal yang sangat lucu.
"Sayang, kan, Mas bosnya di sini. Mereka, kan, senyum karena nyapa Mas, bos mereka. Karyawan Mas juga tadi senyum ke kamu, Kok."
Vania tampak berpikir, "Oh, gitu ya!" ucap Vania, rupanya penjelasan Malik bisa di terima.
"Yaudah, Mas kebawah dulu, ya," ucap Malik, Vania pun mengangguk.
"Sabar, Lik ... Sabar. Cuman 9 bulan," lirih Malik saat sudah membalikan tubuhnya untuk keluar dari ruangannya. Ia bergumam dengan suara pelan, ia harus menyiapkan diri menghadapi sikap istrinya yang berubah-rubah selama 9 bulan kedepan.
Naasnya, walau Malik bersuara pelan, Vania masih bisa mendengar ucapan suaminya.
"Kamu bilang apa, Mas!" ucap Vania. Matanya menatap Malik setajam silet.
Seketika Malik berbalik dan ....
Sedangkan Raffael dan Aska ...
__ADS_1