Cinta Suci Zalila

Cinta Suci Zalila
Julian dan Tania


__ADS_3

"Mommy, jangan ambil Daddyku!" teriak Khalisia, ia berjalan sambil menangis kearah Mommy dan Daddynya.


Julian melepaskan pelukan istrinya. Ia berjongkok menyetarakan dirinya dengan Khalisia. "Bukankah kau sudah berjanji sesuatu pada Daddy, hemm?" tanya Julian sambil membawa Khalisia kedalam pelukannya.


Khalisia tak menjawab, ia terus menangis di pelukan Julian. Julian pun bangkit sambil menggendong Khalisia. Dan berjalan masuk kedalam.


Setelah masuk ke dalam. Tania membuatkan minum untuk suaminya. Sedangkan Julian masuk kedalam kamar putrinya untuk menenangkan Khalisia.


"Khalisia dengarkan Daddy!" titah Julian dengan penuh kasih sayang dan juga ada nada ketegasan dari bicaranya. Ia mendudukan Khalisia di ranjang, kemudian ia mengambil kursi dan menggesernya hingga kini ia duduk di depan Khalisia.


"Kau masih ingat janjimu pada Daddy!" tanya Julian lagi dengan lembut ia membelai rambut putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Aku ingat!" lirih bocah kecil itu dengan masih sesegukan.


"Coba sebutkan janji apa yang kau setujui dengan Daddy!"


"Tidak-tidak boleh marah, tidak - tidak boleh menangis ketika Daddy disentuh Mommy," jawabnya dengan terisak. Julian menahan tawa saat melihat ekpresi lucu putrinya.


"Jadi jika kau sudah berjanji, kau harus men ..."


"Menepati," selah Khalisia dengan cepat.


Bagaimana jika kita ubah isi perjanjian kita?" tawar Julian. "Bagaimana jika siang hari kau ikut Daddy ke kantor, dan malam hari, Daddy milik mommy, Bagaimana?"


Bocah kecil itu menghentikan tangisannya. Ia tampak berpikir sejenak. "Ta-tapi, bagaimana jika, A-aku ingin bermain boneka be-bersama Da-daddy saat malam hari?," jawabnya dengan terbata-bata.

__ADS_1


Julian menggeleng sambil tersenyum saat melihat tingkah Khalisa. "Jadi kau ingin Daddy bagaimana, Hem?" tanya Julian. Ia kembali mengelus rambut sang putri dengan penuh kasih sayang.


Khalisia turun dari ranjang, ia langsung berjalan ke arah Julian dan memeluk Daddynya. "Daddy miliku," ucap bocah kecil itu dengan sesegukan, membuat Julian tergelak. Mungkin di mata orang, Khalisia akan di cap sangat manja dan sangat merepotkan


Tapi tidak untuk Julian, Rasanya menyenangkan bisa di perebutkan oleh anak dan istrinya. Ia merasa amat di cintai. Terkadang, Saat dia sudah membacakan dongeng dan membuat Khalisia tertidur. Ia selalu betah memandang wajah Khalisia.


Penyesalan itu terkadang hadir lagi, seandainya dia tak bodoh, dia takan kehilangan kehilangan satu anaknya.


Julian memangku Khalisia dan mendudukan di pahanya. "Jadi kau ingin Daddy bagaimana, Hem?" tanya Julian lagi


"Aku mau ikut ke kantor Daddy, tapi di kantor Daddy aku ingin makan coklat yang banyak, kentang goreng, permen, ice cream." Tiba-tiba nada bicara Khalisia berubah menjadi riang saat menyebutkan makanan yang di sukainya, dan lagi-lagi tingkah Khalisia membuat Julian tertawa.


"Kalau begitu Daddy akan mandi. Dan setelah makan malam, mari kita berpesta boneka," ucap Julian sambil menurunkan Khalisia dari pangkuannya. "Bagaimana jika kau temani Mommy."


•••


Saat Julian sedang berkaca di kamar mandi. Tiba-tiba, ia tersentak kaget saat ada tangan yang melingkar di pinggangnya.


Saat Julian berada di kamar mandi, ternyata Alisia datang, melihat putrinya anteng bersama Alisia. Tania pun dengan segera masuk kedalam kamar untuk menghampiri suaminya. Ternyata, suaminya masih berada di kamar mandi. Ia pun menyusul masuk kedalam kamar mandi.


"Sayang, kau mengagetkanku," ucap Julian saat Tania memeluknya dari belakang.


Tania semakin mengeratkan pelukannya, rasanya sangat nyaman memeluk suaminya. Harum tubuh Julian bagai candu baginya.


Julian menarik lembut tangan Tania, setelah itu, ia memangku Tania untuk duduk di meja marmer, ia melatakan kedua tangannya disisi tubuh istrinya dan tubuhnya menghimpit tubuh Tania.

__ADS_1


Setelah mereka berhadap-hadapan. Tania mengecup bibir suaminya. "Aku merindukanmu, Dad," ucapnya setelah mengecup bibir suaminya.


"Kenapa kau tidak datang ke kantor jika merindukanku?" tanya Julian. Setelah mengucapkan itu, Julian pun mengecup bibir Tania.


Saat Julian mengecup bibirnya, tangan Tania menelisik kearah leher Julian, ia menahan tengkuk suaminya, dan memperdalam ciuman mereka.


Julian pun dengan senang hati meladeni tingkah istri kecilnya. Ia memperdalam ciumannya.


Setelah merasa hampir kehilang oksigen. Mereka pun menghentikan ciumannya. Napas mereka masih ter engah engah, Julian langsung kepalanya di leher istrinya, hangat napas Julian yang menyentuh permukaan kulit leher Tania, hingga membuat Tania meremang.


Tiba-tiba, Tania melenguh saat merasaka suaminya menjilat lehernya, tangannya menelisik pada rambut suaminya.


"Aku ingin dirimu, Dad," ucap Tania ketika Julian semakin lihai menggodanya, hingga merasakan gairah yang memuncak.


Mendengar ucapan istrinya, Julian menghentikan aktivitasnya, ia langsung memandang Tania.


"Aku ingin bermain seperti biasanya. Membuatmu berteriak memanggil namaku, tapi aku tau itu akan membahayakan calon anak kita. Aku takut, aku tak bisa mengontrolnya. Jadi, bagaimana jika kau kau yang memimpin, Sayang?" tanya Julian dengan suara serak. Kabut Gairah juga menyelimuti dirinya.


"Dengan senang hati, Dad."


Dannnn ....



Setiap ngebayangin manisnya sikap , Daddy Jul. Otakku traveling 🤣🤣🤣. Seketika aku ingin menjadi Tania 🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2