Cinta Suci Zalila

Cinta Suci Zalila
69


__ADS_3

"Daddy ...." Lirih Lila saat melihat Raffael sedang duduk sambil menangis.


Namun, Raffael tak bergeming. Dia masih sibuk menatap kertas usg ditangannya.


Melihat pemandangan di depannya, hati Lila ikut menghangat. Dia tak menyangka bahwa reaksi Raffael akan seperti ini.


Lila pun ikut menekuk kakinya, menyetarakan diri dengan Raffael yang masih terduduk dilantai. Dia menepuk lembut pundak suaminya.


"Daddy ...."


Raffael tersadar, sejurus kemudian dia mengelap air matanya. Dia tersenyum memandang wajah cantik istrinya. Ah, rasanya tak ada yang lebih membahagiakan dari kabar kehamilan istrinya.


Satu tangan Raffael tergerak mengelus lembut pipi istrinya.


"Terimakasih, sayang," kata Raffael. Air matanya kembali tumpah saat menatap netra mata istrinya.


Cup. Lila mengecup sekilas bibir Raffael.


"Kami mencintaimu, Daddy."


"aku lebih mencintai kalian." Raffael pun menggenggam tangan Lila lalu mengecupnya. Kemudian dia bangkit dari duduknya.


Raffael menuntun Lila agar duduk di ranjang, sedangkan Raffaek, berjongkok dihadapan Lila.


Raffael memeluk pinggang Lila, dan menaruh wajahnya di perut istrinya.


"Apa pun yang kau mau, Daddy akan mengabulkannya. Jangan buat bunda kesusahan oke," celoteh Raffael berbicara dihadapan perut istrinya.


"Ayo cepat mandi! aku lapar."


Raffael mendongak melihat istrinya.


"Sayang, kau belum makan?" tanya Raffael dengan panik.


Lila menggeleng, memang dia sengaja menunggu suaminya.


Dengan cepat Raffael bangkit dari berlutunya. "Tunggu sebentar, aku akan mandi dulu," ucap Raffael dengan sedikit berlari.


Lila tergelak melihat tingkah suaminya. Lalu dia mengambil ponselnya dan menelpon Keinya untuk menanyakan kabar Lyo.Karna sejak kemarin Lyo dibawa menginap oleh Keinya.

__ADS_1


••••


"Ayo!" ajak Raffael sambil mengulurkan tangannya untuk ke meja makan.


"Daddy, bisakah Kau melepas baju mu?"


"Kenapa?" tanya Raffael dengan kaget.


"Ini keinginan anak mu," ucap Lila dengan santainya dengan terus mengelus perutnya.


Raffael tersenyum, lalu dia membuka bajunya, dan kembali mengulurkan tangannya.


Mereka pun berjalan keluar kamar untuk makan.


Saat duduk di meja makan, Lila mengerutkan keningnya saat melihat menu di depannya.


Padahal dia yang meminta art memaksakan keinginannya. Namun, makanan di depannya membuatnya sangat tidak berselera.


"Sayang, ayo makan, makanan mu!"


"Daddy, aku tidak ingin ini."


"Kau ingin makan sesuatu?" tanya Raffael.


Lila mengangguk, "Aku ingin makan bebek goreng yang dekat di kantor momma."


"Baiklah, aku akan menyuruh Malik membelikannya."


"Tapi aku ingin makan ditempat, ayo kita kesana."


Raffael mengusap rambut istrinya. "Tunggu sebentar, aku akan memakai baju ku dulu."


Tibalah, mereka di tempat makan pilihan Lila. Raffael mengerutkan keningnya saat melihat tempat makan didepannya.


"Daddy, ayo turun!" titah Lila.


"Sayang, kenapa kita harus makan disini?" tanya Raffael. Ya, Raffael sedikit kaget saat melihat tempat makan tersebut. Raffael berpikir Lila akan mengajaknya makan di restoran. Namun ternyata Lila malah mengajaknya makan di warung lesehan pinggir jalan.


"Aku ingin makan disini, Daddy," ucap Lila dengan tatapan memohon.

__ADS_1


Raffael menggeleng, "Kita bisa makan ditempat lain," ucap Raffael yang memang tidak terbiasa makan ditempat seperti itu.


Tanpa mendengar jawaban Lila, Raffael kembali memajukan mobilnya.


Lila yang merasa kecewa hanya bisa memalingkan tatapannya ke arah luar. Dia benar-benar ingin makan ditempat itu.


Setelah berkeliling dengan waktu yang rumayan lama, akhirnya Raffael menemukan restoran yang menjual olahan bebek.


Lila yang memang masih kecewa terhadap suaminya, hanya bisa mengikuti langkah Raffael masuk kedalam restoran.


Raffael langsung memesan dua porsi bebek goreng untuknya dan untuk Lila.


Saat Raffael menoleh ke arah Lila, Raffael dibuat terkejut karna istrinya sedang menunduk.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Raffael dengan kaget. Saat tadi dia tak menyadari bahwa istrinya sedang kecewa.


Karna Lila tak menjawab, Raffael pindah ke sisi Lila, dia menggengam tangan Lila.


Lila pun memberanikan diri menatap Raffael.


"Daddy, saat aku hamil Lyo, aku tak pernah memegang uang sepeser pun. Semua hasil kerja ku saat hamil aku serahkan pada ibu panti. Tempat makan tadi adalah tempat makan yang sering aku datangi sembunyi-sembunyi bersama Vania dan Tania sebelum aku hamil Lyo, dan saat aku hamil Lyo di panti, aku mengidam ingin makan ditempat itu. Tapi, aku tau itu tak mungkin karna aku berada di panti. Dan saat aku mengidam bebek aku hanya bisa memandang warung yang menjual bebek goreng didekat panti, aku tak mampu membelinya karna memang aku tak pernah memegang uang, yang aku hanya bisa lakukan memandang tempat makan itu sampai aku lelah berdiri." Lila tak mampu lagi menahan tangisnya saat menceritakan betapa susahnya dia mengandung. Saat hamil Lyo, dia kerap mengidam. Namun, tentu saja tak satu pun ngidam Lila yang terpenuhi karna dia hidup prihatin di panti. Bahkan dulu bisa mendapat uang untuk kontrol kandungan saja dia amat bersyukur.


Jantung Raffael serasa ditikam ribuan jarum mendengar ucapan istrinya, saat ini dia benar-benar bertekad akan mengikuti semua hal yang istrinya inginkan, sesulit apa pun itu dia akan tetap melakukannya. Raffael langsung bangkit dan menarik tangan Lila.


"Ayo, kita kembali ketempat tadi," ucap Raffael.


"Ta- tapi, kau sudah memesan."


Raffael berjalan ke kasir dan langsung membayar walaupun bebek yang dia pesan.


Raffael kembali menggenggam tangan Lila saat mereka sudah dalam mobil, Raffael sekuat tenaga menahan tangisnya agar tidak pecah. Hatinya ikut merasakan sesak saat mendengar betapa beratnya hidup anak dan istrinya. Tiba-tiba dia sangat ingin menemui Lyo. Memeluk bocah kecil itu dan mengucapkan maaf sebesar-besarnya. Namun, dia harus terlebih menemani istrinya Raffael berencana ingin menghabiskan waktu bersama putranya besok saat Keinya sudah mengantarkannya ke apartemen.


"Maafkan aku telah egois sayang, mulai sekarang aku akan mengabulkan apapun yang kau mau."


Lila pun mulai tersenyum dan mengangguk. Lalu Raffael kembali menjalankan mobilnya.


Namun, saat sampai ditempat makan yang Lila mau. Tempat makan tersebut sudah tutup.


Lila ...

__ADS_1


Yang penasaran kisah Malik Vania boleh dong vote, biar aku semangat. Yang penyuka Lila dan Raffael juga boleh dong vote.


__ADS_2