Cinta Suci Zalila

Cinta Suci Zalila
Julian dan Tania.


__ADS_3

"Apa kau tidak pernah lelah, Dad, saat harus mengurus putri kecil kita dan pekerjaan yang menumpuk di kantor?" tanya Tania. Terkadang ia pun iba pada suaminya.


Bagaimana tidak, sepulang kantor. Julian sudah di todong oleh putri mereka dan langsung mengajaknya untuk bermain boneka. Bocah kecil itu lebih memilih bermain bersama Daddynya ketimbang bersama Mommynya. Karena menurut Khalisia, bermain bersama Mommynya tidak seru dan cenderung membosankan.


Julian tersenyum lembut, ia mengelus pipi istrinya, "Tidak, aku sama sekali tidak lelah. Itu menyenangkan bagiku," jawab Julian. "Aku tidak tau sampai kapan umurku, yang ingin aku lakukan adalah membahagikan kalian, di sisa hidupku."


Mendengar jawaban suaminya. Mata Tania berkaca-kaca. Terlepas dari masa lalu mereka yang buruk, tapi sekarang mereka amat bahagia.


Tania langsung mengecup bibir suaminya, dia menggoda Julian, tentu saja Julian tak menyia-nyiakan kesempatan.


Mereka berciuman begitu lembut, sentuhan. Julian benar-benar memabukan Tania. Seketika Julian menghentikan ciumannya saat senjatanya mulai bangkit, sesuai pesan dokter, karena Tania masih trimester pertama ia harus berhati-hati ketika menyentuh istrinya, sayangnya setiap mereka bermain, Julian tak bisa menahan diri, ia bak singa yang sedang memangsa lawannya, dia selalu bermain dengan ganas, hingga sekarang, ia memutuskan untuk tak menyentuh istrinya sementara waktu


Setelah menghentikan aktivitas mereka, Julian menempelkan wajahnya di leher istrinya, ia menggeram frustasi.


"Jangan menggodaku lagi, Sayang. Aku sangat tersiksa ketika harus menahannya," ucap Julian. Tubuh Tania meremang saat napas hangat Julian menyentuh permukaan lehernya.


"Kita bisa melakukannya dengan perlahan, Daddy," jawab Tania yang mengerti apa yang sedang dirasakan oleh suaminya.


"Mau kah kau yang memulainya dan mengendalikannya, Sayang?"


Tania tersenyum, tanpa membalas ucapan Suaminya, Tania mencium bibir Julian lagi, dan mereka pun memulai apa yang seharusnya mereka mulai. Tania benar-benar memegang kendali, membuat Julian menggeram frustasi karena terkadang Tania mempermainkannya.

__ADS_1


•••


"Good morning, Mommy," sapa Khalisia saat Tania akan bergabung di meja makan. Bocah kecil itu tersenyum paksa pada sang Mommy.


Kening Tania mengkerut heran saat sikap putrinya berbeda, biasanya ia tak mau sarapan jika Julian tak menyuapinya. Tapi, sekarang, ia melihat putrinya memakan sarapannya sendiri.


"Kau sudah bangun, Sayang?" tanya Julian sambil membawa gelas berisi susu hamil dan memberikannya pada Tania.


Setelah itu, Julian duduk di sisi Tania, dan menuangkan sarapan untuk istrinya.


Tania meminta penjelasan pada Julian lewat gerakan matanya. Namun, Julian hanya mengangkat bahunya.


•••


Lalu, ia terpikir sesuatu. Ia pun keluar dari ruang bermainnya dan menghampiri Tania yang sedang duduk di di sofa.


"Mommy!" panggil Khalisia.


Tania yang sedang menonton televisi menoleh ke arah putrinya. "Ya, Sayang." Setelah Khalisia berdiri di hadapannya.


Tania mengangkat tubuh mungil Khalisia ke pangkuannya.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Mommy, ayo buat perjanjian denganku," ucap Khalisia. Semua keluarganya adalah pebisnis, tentu saja dia akan mengajukan perjanjian karena dia tak ingin rugi.


Kening Tania mengernyit heran dengan tingkah putrinya. "Perjanjian apa?" tanya Tania.


"Mommy, boleh menyentuh Daddyku, tapi dengan satu syarat?"


Tania melongo mendengar ucapan putrinya. Sejak kapan Khalisia begitu pintar berbicara.


Khalisia ....



Tania Aksen Hendrayan.



Julian Kim


Kalau Julian Kim kaya begini, otaku jadi traveling 🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2