
Malik menyembunyikan kotak yang di berikan Raffael di belakang tubuhnya. Bisa hilang pamor dia jika istrinya tau Raffael memberinya kado yang nyeleneh.
"Apa itu?" tanya Vania lagi. Ia maju kearah Malik. Saat ia akan merebut kotak yang berada di belakang tubuh Malik.
Malik dengan sigap menghindar, ia terus mundur. Begitu pula Vania, saat Malik mundur ia maju, berusaha untuk mengambil kotak yang di sembunyikan suaminya.
Saat Malik mundur untuk kesekian kalinya. Kakinya terbentur ranjang. Dengan gaya sok kerennya, Malik melempar kotak yang berada di tangannya, lalu ia menarik tangan Vania dan menjatuhkan diri diranjang, hingga kini Vania menindih tubuhnya.
"Ka-kaka," lirih Vania.
"Kenapa?" jawab Malik denhan sok kerennya.
Dengan sekali gerakan, Ia membalikan tubuh Vania, hingga kini ia yang menindih tubuh istrinya, Vania.
"A-aku belum mandi," lirih Vania. Ia merasa gugup saat Malik menatap intens di atasnya. Bisa ia rasakan ada yang menegang dari bagian tubuh suaminya.
"Kau tidak perlu mandi. Karena setelah ini kita akan mandi keringat," ucap Malik penuh isyarat.
"Hah! mandi keringat!" Vania terpekik kaget saat mendengar ucapan suaminya Malik, Suaminya.
Mendengar jawaban Vania, Malik menggulingkan tubuhnya kesamping Vania, hingga kini, posisi Malik berbaring di sebelah istrinya.
Malik tergelak mendengar ucapan Vania melihat kepolosan Vania. Vania sukses menghancurkan momen romantis yang Malik bangun.
__ADS_1
"Kaka kenapa?" tanya Vania. Ia memegang kening suaminya karena heran saat suaminya terus tertawa.
Malik kembali terbahak karena sikap polos Vania. "Kamu mandi dulu, Sayang. Nanti kaka nyusul!" titah Malik.
Vania pun dengan segera bangkit dari berbaringnya dan segera berjalan kekamar mandi. Ia takut, suaminya akan menyerangnya.
Setelah selesai dengan ritual diri masing-masing. Kini mereka sudah berbaring dengan posisi berhadap-hadapan.
"Kaka!" lirih Vania saling tatap.
"Hmm," jawab Malik. Ia merapikan rambut Vania yang menutup pipi.
"Apa kaka ingin cepat aku hamil?" tanya Vania dengan polosnya.
Sungguh, Malik ingin sekali tertawa saat Vania kembali bersikap polos. Bagaimana mungkin Vania bertanya seperti itu. Sedangkan selama mereka menikah, Malik selalu menumpahkan di dalam.
"Aku pasrah kapan pun Allah menitipkannya di rahimmu. Tugasku hanya terus membuatnya, dan kau hanya perlu menerima apa yang aku lakukan." Tak ingin mendengar jawaban istrinya. Ia langsung menyambar bibir istrinya. Mengecupnya lebih dalam, bermain-main dan kemudian ia membuat Vania melayang dan setelah itu, giliran ia yang mendapatkan haknya.
Mereka pun larut dalam gairah yang halal. Entah berapa kali Malik membuat Vania melayang hingga saat ini, Vania merasa tak sanggup lagi membuka matanya. Ia telah tertidur dalam dekapan suaminya, tentu saja ia masih dalam keadaan polos.
Malik menatap Vania penuh cinta. Gadis yang dulu ia manfaatkan agar mendapat apartemen dari Raffael kini menjadi miliknya, menjadi istrinya. Setelah puas memadangi wajah istrinya. Malik pun menutup tubuh polos mereka dengan selimut. Mengucapkan berkali-kali kata cinta dan kemudian dia mematikan lampu dan ikut terlelap bersama istri tercintanya.
6 bulan kemudian
__ADS_1
Pagi hari.
Vania bangun dengan perlahan, sebelum membangunkan suaminya untuk sholat subuh, ia pergi ke kamar mandi terlebih dahul sambil membawa tespack yang diam-diam dia beli.
Vania menutup mulut saat ia melihat dua garis di tespack yang barusan dia gunakan.
Ia pun dengan segera kembali ke kasur untuk membangunkan suaminya.
"Kaka ... Kakak!" panggil Vania menggoncangkan tubuh sang suami.
"Hmm," jawab Malik. Ia menjawab sambil memejamkan matanya.
"Kaka!" teriak Vania lagi.
Malik pub membuka mata. "Kenapa sayang?" tanya Malik dengan setengah sadar karena masih mengantuk.
"Kaka, aku hamil!" teriak Vania dengan girang.
"Oh, hamil," ucap Malik lagi. Ia kembali memejamkan matanya.
Sedangkan Vania hanya melongo melihat reaksi suaminya.
"Hah! Hamil!" teriak Malik yang kembali membuka matanya saat mencerna ucapan istrinya.
__ADS_1
Vania .....
Telat bambang, kagetnya 🤣🤣🤣