
"Sayang!" panggil Bram pada istrinya yang sedang berada di dapur. Dia menyusul istrinya karna setelah sholat subuh Keinya tak kembali kekamar.
Keinya masih sibuk dengan tangan yang sedang mangaduk tepung hingga dia tak sadar bahwa suaminya memanggilnya.
"Papih, kau mengagetkan ku," ucap Keinya saat Bram memeluknya dari belakang.
Bukannya menjawab, Bram malah mencium pipi Keinya dari samping.
Keinya tertawa menahab geli karna suaminya tak berhenti menciuminya.
"Sayang, ayo kita kembali ke kamar!" titah Bram yang memang selalu menghabiskan waktu bersama istrinya setelah sholat subuh.
Keinya berbalik, dia berjinjit mencium bibir suaminya. "Putri kita hamil, papih. Dia ingin sosis buatan ku," ucap Keinya. Binar bahagia terlihat jelas di mata Keinya saat berbicara jika Lila tengah hamil.
"Be-benarkah?" tanya Bram terbata-bata. Bram sama seperti ayah lain. Hatinya selalu sakit jika mengingat putrinya pernah merasakan kehidupan yang amat kejam menimpa putrinya.
Mengerti apa yang dirasakann suaminya. Keinya membelai pipi Bram. "Naiklah lagi, aku akan menyusulmu setelah ini beres. Lalu kita ke apartemen Lila."
Bram mencium bibir Keinya sekilas, lalu dia berjalan pergi untuk naik kekamarnya. Saat masuk kedalam kamar, Bram berbaring kembali sambil memeluk Lyo. Bocah kecil itu selalu ingin tidur bersama Bram dan Keinya jika menginap.
Bram mengelus pipi bulat Lyo. Dia mencium pipi Lyo dengan gemas. Lyo pun terbangun karna ulah Bram. Saat membuka matanya, bocah kecil itu langsung berbaring di atas tubuh Bram dan kembali terlelap.
"Raf, bisakah, kaka bicara?" tanya Bram lada Raffael saat Keinya sudah masuk kekamar Lila.
Raffael mengangguk, "Sayang, kau pergi ke kamar bunda oke!" perintah Raffael sambil menurunkan Lyo dari gendongannya.
"Ayo, Kak." Raffael pun kembali duduk di sofa diikuti Bram yang duduk didepannya. "Ada apa, Kak?" tanya Raffael setelah mereka duduk. Dia bisa melihat bahwa kakak ipar sekaligus mertuanya ingin menyampaikan hal yang penting.
"Lila sedang hamil, bisakah kalian tinggal dirumah kami sampai Lila melahirkan!" pinta Bram. Dia begitu ingin menebus waktu saat dia tak bisa mendampingi putrinya saat mengandung Lyo.
Raffael tampak berpikir sejenak, "Semua terserah istriku, Kak."
Tanpa menjawab lagi ucapan Raffael, Bram bangkit dari duduknya dan menghampiri Lila dam istrinya yang sedang berada di kamar.
Dia tersenyum saat masuk kekamar Lila dan melihat istrinya tengah mengusap rambut putrinya.
"Papih!" lirih Lila saat melihat Bram masuk kekamarnya. Lila pun bangkit dari tidurnya.
__ADS_1
Saat Bram mendekat, Keinya bangkit dari duduknya dan setelah Keinya bangkit, Bram duduk ditempat Keinya duduk.
"Kemarilah!" titah Bram sambil meremtangkan keduan tangannya mengisyaratkan agar Lila memeluknya.
Tanpa pikir panjang, Lila pun maju dan memeluk Bram.
"Lila, tinggallah bersama mamih dan papih selama kau hamil. Kami ingin menebus waktu yang kau lalui ketika mengandung Lyo." Bram mengelus rambut putrinya dengan penuh kasih sayang. Didalam tubuh Lila memang tak ada darah Bram. Namun, sampai kapan pun Lila adalah putrinya. Tak ada bedanya rasa sayang Bram pada Lila, Bram menyayangi ke 3 putrinya dan istrinya melebihi apapun di dunia ini.
Mendengar ucapan Bram. Lila melepaskan pelukannya dan menatap Bram. "Tapi, suami ku papih ...."
"Dia sudah setuju," jawab Bram.
Seketika Lila melihat kearah mamihnya. Keinya yang di tatap oleh putrinya langsung mengerti akan tatapan Lila.
"Lila, mamih janji, mamih tak akan menjadi mertua kejam lagi untuk suami mu," ucap Keinya yang tau bahwa Lila takut jika dirinya bersikap ketus pada Raffael.
"Ayo kita sarapan, mamih sudah membawa makanan kesukaan mu."
Waktu berlalu begitu cepat, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, bulan demi bulan tak terasa kandungan Lila sudah memasuki umur 9 bulan.
Raffael membuktikan ucapanya untuk menjadi ayah siaga.
Dia mengikuti keinginan istrinya. Bahkan dia rela mengikuti keinginan istrinya yang teraneh sekalipun. Dia rela berdiri sampai berjam-jam dengan tubuh tanpa memakai kaos karna istrimya ingin melihat Raffael seperti binaragawan yang seperti di poster-poster. Dan alhasil, Raffael harus terus menunjukan otot-ototnya, saat Lila tidur, barulah Raffael bisa duduk. Raffael tak pernah mengeluh dengan moodnya istrinya yang berubah-rubah, dia juga tak pernah membantah ngidam istrinya yang sangat aneh. Raffael menikmati itu semua.
Dan detik-detik menegangkan itu terjadi, Saat ini Raffael tengah menggenggam tangan Lila yang sedang berjuang untuk mengeluarkan anak mereka.
"Ayo, buk. Dorong!" titah Dokter yang menangani persalinan Lila.
__ADS_1
"Ayo, Sayang. Kau pasti bisa," ucap Raffael. Dia menggenggam erat tangan istrinya.
Dan tak lama, terdengar suara bayi. Seketika Raffael melepaskan genggaman tangannya. Dia bersimpuh dilantai saat pertama kali melihat anaknya yang ternyata berjenis kelamin lelaki. Lila yang masih tergolek lemas melihat ke arah bawah dimana suaminya sedang menangis. Dia pun ikut menangis haru.
"Daddy!" lirih Lila dengan suara lemah.
Raffael tersadar, dia segera bangkit lagi dan langsung menghujani wajah istrinya dengan ciuman.
"Terimkasih, sayang. Terimakasih." Raffael kembali menangis saat menciumi seluruh wajah istrinya. Sedangkan bayi mereka langsung dibawa oleh perawat untuk di bersihkan.
"I Love you, sayang. Aku benar-benar sangat mencintaimu."
Lila tersenyum "I love you to, Daddy."
Saat Dokter akan membersihkan Lila, Raffael keluar untuk menemui keluarganya. Smua ingin mendampingi Lila didalam persalinan. Namum, Raffael melarang, dia hanya ingin menemani istrinya sendiri.
Semua keluarganya bergantian untuk melihat putra kedua Lila dan Raffael. Sedangkan Raffael, setelah meng'adzani putranya langsung menemui istrinya diruang rawat.
Raffael tersenyum melihat Lila sedang tertidur. Dia mendekat ke brankar pasien. Raffael mencium kening, pipi istrinya dan terakahir Raffael mencium bibir Lila. Namun, saat Raffael akan melepaskan ciumanya. Dengan cepat, LIla menautkan kedua tangannya di leher suaminya. Dan akhirmya mereka pun berdua berciuman dengan lembut.
"Sayang, kau tidak tidur?" tanya Raffael setelah mereka berciuman.
"Aku terbangun saat kau masuk, Daddy. I love you Raffael Zachary Abraham," ucap Lila dengan masih menautkan tanggannya di leher Raffael.
"I Love you, Zalila Abraham." Baru saja Raffael berniat mencium bibir istrinya lagi. Aska masuk kedalam ruangan. Dan gagal lah adegan romantis tersebut.
TAMAT
__ADS_1
Hai para Reader maafin aku yang beberapa hari ini ga ada kabar. Sejujurnya kondisi ku ga terlalu baik. Dokter nyuruh aku bedrest dulu dan ga banyak pikiran. Jadi Kisah Lila dan Raffael aku tamatin dulu, ya. Tapi, tenang , karna kisah Lila dan Raffael masih ada extra partnya. Dan untuk kisah Malik dan Vania akan aku up hari senin dengan selang seling Extra part Lila dan Raffael. Aku mau istrihat dulu selama beberapa hari lagi. Terimakasih para Reader yang sudah mendoakan ku.