
Raffael mencuri-curi pandang pada istrinya saat menyetir. Lila sama sekali tak bergeming. Ia lebih memilih mengajak Magika berceloteh kesana kemari.
Sedangkan Lyodra yang duduk di belakang, ia sedang anteng dengan tab di tangannya.
Raffael menghela napas gusar. Ini kali pertamanya istrinya marah dan mengabaikannya. Ia mengerti kenapa istrinya bisa semarah itu padanya.
Ia sadar walaupun ucapannya sepele. tapi ia tau istrinya tersakiti kala dia membanggakan perjuangan wanita lain padahal istrinya berjuang sendiri membesarkan putranya. Ah, Rasanya Raffael ingin membeli mesin waktu dan kembali pada saat pagi tadi saat Lila menolak untuk pergi ke Mall.
Saat sampai rumah, Lila yang masih marah padanya buru-buru turun dari mobil. Entahlah, rasanya begitu menyakitkan bagi Lila yang pernah mengalami hal pahit.
Raffael menghela napas saat Lila turun, bagaimana caranya membujuk istrinya. Lila bukan tipe wanita yang gila belanja, ia juga kurang suka barang-barang mewah. Lalu dengan apa? membujuk dengan makanan pun pasti takan mempan.
"Dad, kau tidak turun?" tanya Lyodra.
Seketika Raffael terpikirkan sesuatu. "Lyo, kau bisa bantu Daddy?" tanya Raffael.
Lyodra yang mendengar ucapan sang ayah menyimpan tablet yang sedang di pegangnya ke samping. Lalu, ia bersidekap
"Daddy ingin minta tolong apa padaku?" tanya Lyodra. Raffael menggeleng saat melihat anaknya sudah pintar dalam mengamati sesuatu. Sudah di pastikan, Lyodra takan mau menolong daddynya secara sukarela.
"Kau ajak main Magika, Daddy ingin beristirahat dengan Bunda. Kau mengerti?"
"Tapi ... Dad ...." Lyodra menghentikan ucapannya saat sang ayah mengambil beberapa lembar uang di dompet dan menyerahkan padanya.
"Oke, Dad! aku akan mengajak main anak kecil itu!" teriak Lyo dengan semangat. Raffael menggeleng saat melihat tingkah putranya. Ia tak pernah memberi Lyo apa yang Lyo mau. Ia mendidik putranya agar mengumpulkan uang sendiri jika menginginkan sesuatu.
Saat dia sudah melihat Magika di ajak main oleh Lyodra, tak lupa ada art yang mengawasi mereka. Raffael pun menyusul Lila yang sudah berjalan ke kamar duluan.
Ia melihat istrinya sedang berbaring, dan menutup diri dengan selimut. Ia bisa mendengar istrinya sedang terisak.
Dengan perlahan, Rafael pun naik ke ranjang. Ia memeluk Lila dari belakang.
"Bunda, kau masih marah padaku?" tanya Raffael. Ia benar-benar tak tau bagaimana membujuk istrinya.
Lila sama sekali tak menjawab ucapan Raffael, ia larut dalam kekesalan. Seketika ia mengingat kekejaman Raffael di masa lalu dan perjuangannya saat mengandung Lyodra.
Raffael pun melepaskan pelukannya, lalu mengambil ponsel dari sakunya celananya, dia langsung mencari tau tentang bagaimana meluluhlan istri yang sedang mengamuk.
Raffael tersenyum saat membaca salah satu cara yang pasti akan berhasil. Ia kembali menaruh ponselnya lalu turun dari ranjang.
Ia membuka semua pakaiannya, lalu dengan cepat, ia masuk kedalam selimut yang sedang istrinya pakai.
"Dadddy!" jerit Lila saat Raffael masuk kedalam selimutnya.
__ADS_1
••••
"Enggak, sayang. Aku ga sabar nunggu 9 bulan lagi," kilah Malik.
"Beneran?" tanya Vania.
Malik pun mengangguk, karena tak ingin mendengar lagi pertanyaan istrinya, Malik mengecup bibir Vania lalu buru-buru keluar dari ruangan untuk kebawah.
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa kandungan Vania menginjak 3 bulan.
Saat ini, Malik baru saja turun dari mobil. Ia berjalan dengan gontai. Tubuhnya begitu lelah. Seharian ini dia banyak menggunakan tenaganya dan otaknya.
Malik merasa pusing 7 keliling kala dia harus kehilangan uang 2 milyar akibat investasi yang dia simpan di perusaan temannya. Awalnya semua berjalan dengan normal. Namun, setelah dua bulan berlalu, temannya mendadak tak bisa di hubungi. Malik yang biasanya teliti mendadak luluh saat temannya merayu agar Malik berinvestasi. Dan ternyata bukan hanya Malik yang tertipu.
Belum lagi hari ini di restoran miliknya hampir terjadi kebakaran karena keteledoran salah satu karyawannya. Beruntung kebakaran itu tak meluas.
Tepat jam 11 malam Akhirnya, Malik bisa pulang ke apartemennya. Ia hanya berharap bisa langsung beristirahat dan berharap untuk malam ini saja istrinya tak menganggu dengan hal-hal aneh.
Saat masuk kedalam kamarnya, Ia menghela napas lega saat melihat Vania sedang tertidur. Ia pun dengan segera berjalan ke kamar mandi untuk menyegarkan diri.
Saat dia akan mulai berbaring, Vania membuka matanya. Ia memeluk Malik.
"Mas, baru pulang?" tanyanya.
"Hmm." Malik mengecup kening istrinya sekilas lalu kembali memejamkan matanya.
Dengan perlahan, Vania melepaskan tangannya dari pinggang Malik. Ia berniat untuk kedapur dan membuat nasi goreng sendiri. Walau tak yakin dengan rasanya karena dia tak bisa memasak, tapi dia sedang mengidam untuk memakan nasi goreng cumi. Jadi terpaksa dia harus membuat nasi goreng sendiri.
Malik yang hampir saja terlelap, langsung terbangun ketika Vania turun dari ranjang
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Malik sambil mengucek matanya.
"Mas, tidur aja duluan. Aku mau bikin nasi goreng," jawab Vania.
Malik menghela napas sejenak. Ia merasakan letih, lelah dan merasakan badannya terasa remuk. Tapi, dia pun tak tega jika membiarkan istrinya masak sendiri.
"Mas mau kemana?" tanya Vania saat suaminya bangkit dari berbaringnya.
"Mas, masakin ya. Tapi jangan minta yang aneh-aneh ya. Mas cape banget."
Baru saja Vania akan menolak bantuan suaminya. Tapi, Malik sudah terlebih dulu.
Malik pun memamkai apron dan dengan lincah ia mengeluarkan semua bahan-bahan dari kulkas. Ia tak tau bahwa istrinya mengidam nasi goreng cumi, tapi Malik malah membuat nasi goreng ayam.
__ADS_1
Setelah selesai, Malik membawa nasi gorengnya ke meja makan, dimana Vania menunggunya.
Kening Vania mengernyit heran saat melihat nasi goreng yang di buat Malik bukan nasi goreng cumi.
"Mas kenapa nasi gorengnya gini?" tanya Vania.
"Makan aja ya itu, besok bikin yang kamu mau."
"Tapi ak ..."
"Vania!" Nada bicara Malik naik satu oktaf. Dia menyangka istrinya akan merengek seperti biasa. Sedang, dirinya sudah diambang batas kelelahan.
Deg,
Seketika sesak menghujam dadanya. Ia tak menyangka suaminya akan membentaknya.
Vania mendongak melihat suaminya. "Ma-Mas," ucap Vania terbata-bata.
Sungguh Malik sudah tak ada tenaga untuk meladeni sikap istrinya. Setidaknya dia ingin langsung beristirahat.
"Bisakan, sekali-kali jangan manja! makan yang ada, kalau kamu ga suka kamu tinggal mesen!" ucap Malik dengan sadisnya. Membuat Vania diam terpaku.
Tanpa perasaan, Malik membuka apronnya dan melemparkannya ke meja makan. Lalu meninggalkan Vania sendiri.
Setelah Malik, meninggalkannya. Vania menunduk. Dia langsung menangis. Dia tau suaminya kelelahan dia pun tak memaksa untuk Malik meladeni keinginannya. Tapi yang membuat Vania sesak. Adalah saat Malik membentaknya dan mengatakan dirinya manja.
"A-aku juga tak mau terus merepotkanmu. Tapi ini keinginan anakmu," lirih Vania dengan suara pelan. Ia mengelus perutnya dan bertekad takan manja pada suaminya dan akan melakukannya semua sendiri.
Vania memutuskan untuk duduk di sofa, ia tak bisa menghentikan tangisannya, rasanya masih terasa sesak.
•••
Malik membuka matanya, ia mengerjap-ngerjap. Ia pun bangkit dari tidurnya. Ia mengucek matanya dan melihat kearah dinding. Matanya membulat sempurna saat melihat jam menunjukan pukul 8 pagi.
Ia mengedarkan pandangannya, tak ada istrinya di mana pun. Seketika Malik teringat pada apa yang di ucapkan pada Vania semalam. Dia menepuk kening dan merutuki ucapannya, seharusnya dia tak membentak istrinya.
Malik pun dengan cepat berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah selesai mencuci muka. Ia langsung berlari keluar kamar untuk meminta maaf pada Vania.
Malik menghela napas lega saat melihat istrinya berada di dapur. Malik pun menghampiri Vania sedang membuat susu hamil. Malik langsung memeluk Vania dari belakang.
"Sayang ... Maafin Mas, ya." ucap Malik.
"Vania membalikan tubuhnbu menatap Malik. "Ga apa-apa, Mas. Aku ngerti, kok," jawab Vania sambil tersenyum.
__ADS_1
Deg
Mata Malik membulat sempurna saat melihat wajah istrinya