Cinta Suci Zalila

Cinta Suci Zalila
Bab 33


__ADS_3

Lila terus menangis sesegukan dipelukan Bram. Ada sedikit kelegaan saat dia berhasil menceritakan beban yang selama ini dia pendam.


"Kenapa kau tidak jujur pada papih?" tanya Bram lagi saat Lila tenang.


"A-aku takut, aku malu. Kelakuan buruk mamih Tya membuatku malu untuk berbicara pada papih."


"Maafkan papih, selama ini papih tak memberi tahu mu yang sebenarnya. Papih hanya ingin kau hidup tenang. Dan papih sama sekali tak perduli dengan fakta bahwa kau bukan anak kandung papih. Karna sampai kapanpun kau putri papih tak akan ada yang bisa merubah itu."


"Terimakasih, papih."


"Kau menyayangi papih, kan?"


Lila pun mengangguk.


"Jika kau menyayangi papih, berhenti berpikir kami akan membuang mu. Berhenti merasa bersalah dan berhenti meminta maaf, kau mengerti?"


Lila pun mengangguk lagi.


"Dan besok, papih akan meminta psikiater untuk kemari untuk mengobati dirimu."


Lila melepas pelukannya dan menatap papihnya. "Papih, aku tidak gila ... Kenapa papih memanggil psikiater untuk?"


Bram mengusap lembut rambut putrinya. "Kau seorang Dokter, seharusnya kau tau bahwa psikiater bukan hanya untuk orang yang mangalam gangguan jiwa. Kau harus menyembuhkan trauma mu terlebih dulu."


Lila pun tersenyum dan mengangguk.


"Papih, akan mengambilkan makanan untukmu, kau belum makan apa-apa dari tadi."


"Terimakasih, papih," ucap Lila setelah Bram bangkit.


••••


"Yank!" panggil Aska saat Aysel duduk diranjang dan terlihat mengusap air matanya.


Seteleh mengusap air matanya. Asyel menoleh kearah suaminya. "Ya, mas?"


Aska duduk disebelah Aysel dan membawa Asyel kepelukannya. "Kamu kangen Raffa ya?" tanya Aska.


Aysel menggeleng, namun tak lama dia terisak dipelukan suaminya. Ibu mana yang tak merindukan anaknya. Ibu mana yang tak hancur saat melihat putranya begitu kurus. Tapi dia pun tak bisa menerima apa yang dilakukan oleh putranya.


"Kamu mau nemuin Raffa, yank? dia tinggal di Apartemen sebelah Malik, kalau kamu kangen dia kenapa kamu ga nyamperin dia?" tanya Aska yang mengerti apa yang Aysel rasakan setelah tadi melihat Raffael datang.

__ADS_1


Aysel menggeleng dipelukan suaminya. "Aku masih kecewa mas sama dia. Aku ga bisa bayangin gimana Lila jalanin hidupnya 3 tahun kebelakang. Dulu saat aku ngandung Keinya, walaupun tanpa kamu aku masih bisa hidup enak berkecukupan, Tapi Lila ..."


Aysel semakin terisak dipelukan suaminya.


Dan Aska hanya bisa memeluk dan mengelus punggung Aysel untuk membuat istrinya tenang. Dia pun merasakan sedikit ngilu dihatinya karna mengingat perlakuan buruknya pada Asyel dulu saat mengandung Keinya.


Vania dan Tania mengepalkan tanggannya saat bertemu Raffael. Mereka memandang Raffael dengan tatapan benci bercampur jijik.


Saat mereka akan masuk, Raffael menghadang jalan mereka. "Vania, apa om bisa bisa bicara denganmu?" tanya Raffael dengan menahan malu. Sebenarnya dia lebih malu melihat Tania karna jelas-jelas Tania adalah saksi kelakuan bejadnya.


"Kami tak sudi berbicara dengan lelaki kejam dan biadab sepertimu." Bukan Vania yang menjawab namun Tania yang menjawabnya.


"Ayo, Vania!" ajak Tania yang takut jika kaka kembarnya akan mudah terhasut. Tania menarik tangan kakanya dan menubruk keras bahu Raffael.


Raffael kembali hancur saat melihat semua keluarganya memperlakukannya seperti sampah. Namun dia sadar ini semua memang kesalahannya.


Dia melanjutkan langkahnya dan berjalan menuju mobil. Dia benar-benar bertekad untuk mendapatkan maaf dari Lila dan dari keluarganya.


Saat Vania dan Tania masuk, Mereka melihat Bram sedang mengambil makanan dimeja makan untuk Lila. Dan mereka pun menghampiri Bram.


"Papih, apa papih dan mamih berhasil membawa kaka pulang?" tanya Vania.


Mereka hanya nyengir lalu maju ke arah Bram dan mereka berdua langsung mencium tangan Bram dan mengucapkan salam.


Bram tersenyum dan mengecup kening kedua putrinya. "Kaka kalian ada dikamar tamu," ucap Bram pada kedua putrinya.


Tania dan Vania saling pandang lalu mereka berdua berlari secepat kilat untuk melihat Lila, kaka yang selama 3 tahun ini mereka rindukan.


"Kaka!" teriak Vania dan Tania berbarengan.


Lila yang baru saja keluar dari toilet tersentak kaget ketika kedua adiknya berlari menghampirinya dan memeluknya.


Vania dan Tania menangis tersedu-sedu saat mereka memeluk Lila. "Kaka, aku merindukanmu," ucap Tania dan Vania.


Lila pun ikut menangis, "Kaka juga merindukan kalian," ucap Lila.


cukup lama mereka berpelukan sambil berdiri hingga Keinya datang membawa nampan berisi makanan untuk Lila.


"Vania, tania!" tegur Keinya.


Mereka berdua pun melepaskn pelukannya pada Lila. Dan Lila langsung mencium kening kedua adiknya.

__ADS_1


"Vania, Tania. Pulang kerumah ganti pakian kalian!" titah Keinya.


Kedua adik kembar itu langsung melihat kearah Lila karna masih ingin memeluk Lila.


"Pulanglah, kaka tak akan pergi lagi," ucap Lila yang mengerti akan ketakutan kedua adiknya.


Mereka pun mengangguk dan mencium pipi Lila.


"Mamih, dimana Lyo?" tanya Lila dengan panik saat menghampiri Keinya yang sudah duduk disofa.


"Lyo, sedang tidur bersama papih, jangan khawatir, duduklah, mamih akan menyuapimu," ucap Keinya sambil menepuk-nepuk sisinya.


Lila bernapas lega dan dia ikut duduk disamping mamihnya.


"Mamih, boleh aku bicara?" tanya Lila.


Keinya yang sudah mengangkat piringnya langsung menaruh lagi karna ingin mendengar putrinya bicara.


"Katakanlah!"


Lila menggemgang erat tangan Keinya sebelum dia berbicara. "Mamih, sebenarnya aku malu untuk mengatakan ini. Tapi aku tak bisa menahannya lagi. Aku ingin berterimakasih pada mamih yang sudah menyayangiku walau dari awal mamih tau aku bukan anak kandung papih, terimakasih karna tidak memperlakukan ku seperti mamih Tya. Dulu mamih Tya sering berlaku kasar padaku. Dan aku sangat bersyukur mamih bisa memberikan ku kebahagian dan kasih sayang seorang ibu yang tak pernah aku dapat dari mamih Tya. Aku tak bisa membalas semua kebaikan mamih, yang aku bisa hanya mendoakan agar mamih bahagia."


Mata Keinya berkaca-kaca saat mendengar ucapan tulus dari putrinya. Lalu Keinya memeluk Lila kembali. "Berhenti meminta maaf dan terimakasih, Lila. Mamih benar-benar menyayagimu walau kau bukan anak kandung papih, rasa sayang mamih dan papih kepadamu sama seperti kami menyayangi adik-adik mu." Keinya pun melepaskan pelukannya dan mulai menyuapi putrinya.


"Lila?" panggil Keinya saat sudah selesai menyuapi Lila.


"Ya. mamih."


"Bolehkah mamih bertanya?"


Lila pun menangguk


"Apa lyo sudah tak meminum asi mu?"


"Aku hanya menyusui sampai umur Lyo 18 bulan. Saat bu Resna sedang sakit-sakitan jadi aku harus bekerja keras setiap hari untuk membiyayai kehidupan keluarga dipanti. Uang yang aku hasilkan tidak banyak. Dan karna aku terlalu lelah dan aku hanya makan alakadarnya kualitas asi ku menurun hingga Lyo tak lagi meminum asi ku."


"Lalu,?"


"Aku tak bisa membeli susu formula untuk Lyo, walaupun harganya cukup murah tapi tetap saja aku tak bisa, karna uang yang ku hasilkan harus aku belikan beras, sayur, serta gas dan juga listrik."


Tanyain ketukang sayur, bawang masih murah gtu? kenapa aku yang nulis juga jadi ikut nangis ya.

__ADS_1


__ADS_2