
"Sayang ..." Julian menggeram frustasi saat Tania menggodanya. Saat ini, Mereka sedang berada di bathube, Julian mengeram frustasi karena Tania malah diam tak menggerakan pinggulnya lagi.
Tania terkekeh, ia mengelus rahang kokoh Julian, membuat darah Julian berdesir. "Sayang, ayolah!" pinta Julian dengan nada memelas.
"Katakan dulu, Dad. Apa yang kau janjikan pada Khalisia!" Setelah mengatakan itu, Tania kembali menggoyangkan pinggulnya, membuat Julian mendesah. Namun, tak lama, desahan Julian berubah menjadi geraman. Tania kembali mengehentikan gerakannya. "Sayang, jangan menghukumku!" desis Julian, ia mengadahkan kepalanya keatas. Jika saja bisa, ia sangat ingin mengendalikan permainan.
"Katakan dulu. Apa yang kau katakan pada Khalisia hingga dia berubah secepat itu."
Julian menyerah, "Kita akan pindah ke Indonesia."
Mata Tania membulat sempurna mendengar nama Indonesia. Binar bahagia terlihat jelas di matanya.
"Aku akan menjelaskannya nanti. Bisakah kau melanjutkan ini, Sayang. Aku sud ...." Perkataan Julian terputus karena Tania membungkan bibir suaminya dengan bibirnya.
Rasa bahagia meluap dalam diri Tania saat suaminya mengajaknya pindah ke Indonesia. Sebenarnya, ia ingin sekali jujur pada suaminya tentang keinginannya pindah ke Indonesia. Tapi ternyata, suaminya lebih dulu mengabulkan keinginannya.
Setelah selesai, dan mereka sudah memakai bethrobe, Julian menggedong Tania ala bridal style dan mendudukannya di kursi tempat rias.
Ia mengambil handuk kering, dan mengeringkan rambut istrinya. "Daddy, sekarang jelaskan. kenapa kau tiba-tiba mengajak kita pindah ke indonesia?" tanya Tania pada Julian yang sedang mengeringkan rambutnya.
"Sebenarnya aku sudah lama merencanakan ini. Aku juga tau, kau sangat ingin pindah ke Indonesia. Terlebih lagi, Khalisia disini tidak mempunyai teman ia pun terlihat sangat bahagia ketika aku mengatakan bahwa kita akan pindah ke Indonesia. Hingga dia mau membuat perjanjian denganku," jawab Julian sambil memijat lembut kepala istrinya.
__ADS_1
"Lalu pekerjaanmu?"
"Aku sudah mengatur itu, mungkin aku akan kembali ke Swiss 6 bulan sekali. Kau tidak keberatankan?" tanya Julian lagi.
Entah dengan cara apalagi Tania mendeskripsikan rasa syukurnya. Ia menjadi wanita yang teramat bahagia, kadar cintanya bertambah setiap hari pada suaminya.
Tania mengambil satu tangan suaminya yang sedang mengeringkan rambutnya. Ia mengubah posisinya menjadi duduk menyamping.
Ia mengecup tangan Julian, kepalanya mendongak melihat suaminya. "Terimakasih, Dad. Kau selalu berusaha membuatku bahagia," ucap Tania dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Julian tersenyum, "Itu semua tidak gratis, Sayang. kau harus membayarku dengan mencintaiku seumur hidupmu," ucap Julian sambil terkekeh. Sedangkan Tania tergelak saat suaminya menggombalinya.
"Dad, apa kau sudah menyiapkan rumah untuk kita tinggali di Indonesia?" tanya Tania.
"Aku setuju dengan saran papih. Rumah Papih dan Mamih sangat besar. Vania dan ka Lila tak setiap hari datang ke rumah. Mungkin jika ada kita, papih dan mamih tak akan terlalu kesepian."
•••
Pagi ini Khalisia terbangun lebih awal dari biasanya. Setelah terbangun, ia langsung memasukan semua bonekanya kedalam koper mini.
Hari ini, ia akan ikut Julian pergi ke kantor, ia akan bermain boneka bersama Daddynya.
__ADS_1
•••
"Khalisia kau mau kemana?" tanya Tania saat menyiapkan sarapan untuk suaminya. ia heran melihat putrinya sudah rapih, keningnya mengkerut bingung saat melihat putrinya membawa koper mini.
Julian yang sedang berada di meja makan langsung tertawa saat melihat lucunya Khalisia yang menggeret koper.
"Aku akan ikut bersama Daddy ke kantor," ucapnya. Ia mendudukan dirinya di kursi.
"Lalu kenapa kau harus membawa koper?" tanya Tania.
"Aku akan berpesta teh bersama Daddy di kantor."
Julian semakin tergelak saat mendengar jawaban Khalisia. Ia mengacak lembut rambut putrinya, lalu memberikan segelas susu kehadapan Khalisia
°°°
"Dad, kau yakin ingin mengajaknya?" tanya Tania saat mengantarkan suaminya keluar.
"Tidak apa-apa. Hari ini kerjaanku tak terlalu banyak," jawab Julian.
"Daddy stop!" teriak Khalisia saat Julian akan memeluk Tania.
__ADS_1
Bocah kecil itu berjalan sambil menutup matanya. "Aku tidak melihat ....Aku tidak melihat." Celoteh bocah kecil itu, ia berjalan dan terus mengoceh dan melewati tubuh mommy dan daddynya dan mendahului untuk keluar.