Cinta Suci Zalila

Cinta Suci Zalila
59


__ADS_3

"Ra-Raffael, bisakah kita menunda saja bertemu dengan mamih Tya. Suasana hati ku sedang baik. Setiap aku mengingat, melihat mamih Tya. Suasana hati ku akan memburuk," ucap Lila. Dia menunduk kebawah, dengan sesekali menghela napas kasar.


Raffael mengusap lembut rambut Lila. Dia menggengam tangan Lila. "Aku akan tetap disisi mu. Aku akan jadi penawarmu." Raffael pun Melepaskan seatbelnya dan dengan cepat dia membukakan pintu untuk Lila.


Mereka pun masuk kedalam restoran dan menghampiri Tya yang sudah lama menunggu.


"Maaf Tanteu, kami harus membuat Tanteu menunggu," ucap Raffael seraya menggeserkan kursi untuk Lila.


"Tidak apa-apa, tanteu belum lama menunggu."


Setelah Raffael dan Lila duduk, Lila menatap intens wanita di depannya. Wajah yang dulunya cantik sudah tergantikan oleh keriput. Aura bersinar, yang dulu terpncar didiri Tya sudah hilang tergantikan dengan aura kesedihan.


Ya. Setelah di sekap oleh Bram beberapa tahun lalu dan dikembalikan Ke Malaysia oleh Bram. Hidup Tya berubah drastis. Tak ada lagi kemewahan, kedua orang tuanya meninggal, Hasan yang menjadi selingkuhan Tya bertahun-tahun pun tak ada kabarnya.


Tya mencoba membuka restoran di Malaysia untuk bertahan hidup karna memang Tya sudah tak memiliki aset apapun. Nasib Tya sedikit baik, dia berhasil membuka restoran dan berhasil membuka beberapa cabang hingga keuangannya mulai normal. Tapi, ada yang kurang di kehidupannya. Dia tak pernah bersedih bercerai dengan Bram karna rasa Tya pada Bram telah pudar sejak dia berselingkuh. Hidupnya terasa hampa saat mengingat putrinya. Tya menyesal telah memperlakukan Lila begitu buruk.


Raffael menggenggam tangan Lila menyadarkan Lila dari lamunannya.


"Maaf Mamih, aku baru bisa menemui Mamih sekarang, bagaimana kabar mamih?'" tanya Lila, ini pertama kalinya Lila menanyakan kabar Tya.


Tya tersenyum mendengar ucapan putrinya, hatinya kembali menghangat. Andai saja dia tak berlaku kasar pada Lila di masa lalu tentunya yang akan menggantikan posisi Keinya di hati putrinya. Ya, walau bagaimana pun di hati Lila hanya ada Keinya, Keinya dan Keinya. Wanita yang membuatnya bisa merasakan kembali dekapan hangat seorang ibu.


Cukup lama mereka mengobrol di restoran, Lila berkata bahwa dia sudah memaafkan Tya dan meminta Tya untuk bahagia juga. Lila berkata setelah menikah dia akan mengunjugi Tya di Malaysia.


Setelah keluar dari Restoran, Raffael mengajak Lila untuk memesan kebaya untuk akad nikah. Mereka berencana mengadakan resepsi satu bulan kemudian.

__ADS_1


Tibalah detik-detik menegangkan bagi keduanya. Besok Lila dan Raffael akan melakukan ijab qobul.


Saat ini Lila sedang menatap bintang di balkon kamarnya, lamunannya terhenti saat Bram masuk kedalam kamarnya.


"Lila!" panggil Bram.


"Papih, aku disini!" ucap Lila dengan sedikit keras.


"Lila, ayo masuk. Udara malam tak bagus untuk mu," ucap Bram saat menghampiri Lila.


"Papih, bolehkah aku berbicara pada papih?"


Bram pun mendekat dan berdiri di depan Lila.


Setelah Bram berdiri di depannya, Lila langsung memeluk Bram, dia meneteskan air mata haru di pelukan papihnya.


Bram mengelus rambut Lila dengan penuh kasih sayang. Bram sama seperti ayah yang lainnya. Jujur saja dia merasakan kesedihan karna akan melepas putrinya.


Bram pun melepaskan pelukannya dan menatap putrinya. Dia menghapus air mata Lila dengan ibu jarinya. "Kau, tau, betapa bahagianya papih saat kau lahir ke dunia ini. Rasanya papih tak memerlukan kebahagian lain saat putri papih hadir, dan saat papih mengetahui kau bukan putri kandung papih, yang papih pikirkan adalah papih benar-benar tak mau kehilanganmu sampai kapan pun kau tetap putri papih. Tak akan ada yang bisa merubah itu. Besok kau akan menikah, maka berbahagialah dengan Raffael dan Lyo. Jika Raffael menyakiti mu datanglah pada mamih dan papih. Kau mengerti." Bram tak kuasa menahan air matanya.


Lila pun kembali memeluk Bram dan menangis lagi di pelukan papihnya.


Keesokan harinya.


Ijab Qobul dilakukan di rumah Bram, hanya beberapa orang yang hadir dalam proses sakral tersebut.

__ADS_1


Dan sekarang di meja sudah ada ada sepasang calon pengantin, penghulu, wali hakim dan saksi. Dengan satu kali tarikan napas dan akhirnya SAH. Raffael dan Lila sudah resmi menjadi suami istri.


Setelah melakukan ijab qobul dan makan bersama keluarga. Pasangan pengantin tersebut langsung masuk kekamar Lila. Sedangkan Lyo sudah di bawa oleh Aska karna Raffael menitipkan Lyo sebentar untuk menjalankan ritual pengantin baru.


Setelah Lila membersihkan dirinya, dia menunggu Raffael sambil berbaring di ranjang. Sekelebat bayangan masa lalu saat Raffael bersikap kejam terlintas di otaknya. Namun, dengan cepat Lila menepis bayangan tersebut.


Raffael pun keluar dari kamar mandi. Dengan hanya memakai handuk yang terbelit di pinggangnya.


"Bunda!" panggil Raffael.


Lila yang sedang membelakangi Raffael, langsung melihat ke arah suaminya. Saya Lila berbalik. Raffael dengan sengaja melepaskan handuknya dan tentu saja juniornya pun ter expose nyata didepan Lila.


"Raffaeeell, apa yang kau lakukan!" teriak Lila sambil menutup matanya dengan selimut.


Raffael tertawa terbahak-bahak saat melihat lucunya Lila. Lalu dengan tubuh yang sudah polos, dia ikut berbaring di sebelah Lila. Raffael menarik tangan yang sedang memegang selimut dan menuntun tangan Lila untuk menyentuh miliknya.


Seketika Lila membuka matanya. Raffael langsung mendekatkan wajahnya pada wajah Lila dia langsung mencium bibir Lila dengan lembut. Satu tangannya menuntun tangan Lila untuk melakukan hal yang seharusnya Lila lakukan di bagian bawah yang sedang menegang.


Lila pun terbuia, dia mulai mengikuti permainan suaminya. Raffael melepaskan ciumannya. Lalu dia menindih tubuh Lila.


"Sayang, bolehkah aku melakukannya sekarang?" tanya Raffael dengan mata yang di penuhi kabut gairah.


Lila pun mengangguk malu. Dengan perlahan, Raffael menyingkirkan semua kain yang berada di tubuh Lila. Mata Rafael berbinar sempura melihat pemandangan di depannya.


"Sayang, jika aku menyakiti mu, hentikan aku," ucap Raffael saat menindih tubuh Lila. Dan Lila pun mengangguk.

__ADS_1


Rafael benar-benar membuktikan ucapannya. Dia memperlakukan Lila dengan lembut. Kabut gairah menyelimuti keduanya, mereka menggeram, nama mereka saling bersautan dalam irama hasrat yang tengah mereka bangun.


Udah ya ga penasaran, aku berbaik hati ga nyuruh ngebayangin masing-masing 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣


__ADS_2