Cinta Suci Zalila

Cinta Suci Zalila
54


__ADS_3

"Raffael, apa pekerjaan mu masih lama?" tanya Lila setelah menyelesaikan makan siang.


"Aku hanya akan membereskan beberapa pekerjaan, mungkin beres jam 4. Ada apa?"


"Aku akan menunggu mu bersama Lyo, kau tidak keberatan, kan?"


"Tidak, istirahatlah. Jika kau tidur aku akan membangunkan mu."


Lila pun mengangguk dan tersenyum. Kemudian dia bangkit dari duduknya. Dia berjalan memasuki ruangan pribadi calon suaminya.


Ini kali pertamanya, Lila masuk keruangan pribadi Raffael. Lila berjalan melihat-lihat isi ruangan pribadi Raffael. Lalu matanya menangkap bingkai besar yang berisi Fotonya dan Lyo sedang tersenyum.


Selain manaruh foto Lila dan putranya di bingkai kecil dan dan menaruh di mejanya. Raffael juga menaruh foto Lila dan putranya didalam bingkai yang besar dan memajangnya di dingding.


Saat dulu dia tak diijinkan pulang, dia selalu menginap di apartemen dan dikantor. Jika dia merindukan Lila dan putranya. Dia akan terus memandang bingkai foto tersebut.


Lila tersenyum.


Raffael, aku hanya ingin bahagia. Tolong jangan kecewakan ku lagi.


Setelah puas memandang seluruh isi ruangan pribadi Raffael. Lila pun berjalan kearah ranjang. Dia ikut berbaring disisi Lyo.


Sedangkan Raffael, dia sedang memikirkan cara untuk membujuk Malik untuk pergi ke Rusia. Walaupun hanya sebentar, tapi tetap saja dia merasa tak tenang apalagi dua minggu lagi dia akan menikah.


Raffael pun bangkit dari duduknya dan menuju ruangan Malik.


"Lik!" panggi Raffael. Dia menyenderkan dirinya di pintu.

__ADS_1


"Kagak, gua kagak mau pergi ke Rusia," jawab Malik tanpa melihat ke arah Raffael dia sudah tau apa yang akan diucapkan oleh bosnya. Malik masih sibuk dengan tangan yang membolak-balikan dokumen.


Raffael memikirkan bagaimana cara membujuk Malik, andai saja Raffael bisa menemukan sekertaris yang hebatnya seperti Malik, sudah pasti dia memecatnya dari dulu.


Malik memang terkesan tidak serius dengan pekerjaannya. Namun, siapa sangka Malik bisa melakukan pekerjaannya dengan cepat dan akurat walaupun terkadang ada tingkah nyeleneh yang Malik lakukan didalam pekerjaannya. Malik paling malas jika harus menggantikan meeting.


"Gajih 2 x lipat?" tawar Raffael.


"Kagak."


"Rumah di kemang?" tawar Raffael lagi


"Kagak"


"Liburan ke Jepang?"


"Kagak."


"Di garasi bokap gue dah banyak mobil, gue kaga butuh."


"Rumah di cluster Geraldo?"


"Gue udah punya rumah di Menteng, apartemen gue juga udah lunas."


Raffael menghembuskan napas kasar, dia benar-benar bingung bagaimana membujuk Malik.


"Lik, tolongin gue lah. Lu yang pergi! Lu mau apapun gue kasih.

__ADS_1


Seketika Malik melihat ke arah Raffael, "Apa pun?" Malik menyipitkan matanya mencari kebenaran dari mata bosnya.


Raffael pun mengangguk mantap, hatinya merasa senang karna berpikir Malik akan menyutujui untuk pergi ke Rusia.


"Pecat gue! bilang ke bokap gue kalau lu mecat gue dan bukan gue yang minta dipecat." Malik berucap mantap. Malik adalah anak yang patuh pada kedua orang tuanya. Dan walaupun saat dulu dia menolak untuk jadi sekertaris Raffael, tapi berkat bujuk rayu Andra, Malik pun akhirnya mau, dan ketika dia bicara pada Andra ingin mengundurkan diri, Andra kembali membujuk Malik, hingga mau tak mau, dia menuruti keinginan Andra, dan satu-satunya yang Malik harapkan, Raffael akan memecatnya secara sukarela.


Senyum Raffael seketika sirna mendengar ucapan Malik. Dia menegakan kembali posisinya dan merapikan jasnya.


Raffael, memandang Malik dengan tatapan tajam. "Mimpi!" desis Raffael sambil berlalu untuk kembali keruangannya.


Saat masuk, Raffael lebih memilih menghampiri Lila dan Lyo. Dia mengabaikan pekerjaan yang menumpuk di mejanya.


Dia tersenyum saat melihat Lyo dan Lila sedang terlelap. Raffael melihat masih ada ruang disisi Lila. Dia membuka jasnya dan ikut berbaring.


Dia merapikan rambut Lila yang menutupi wajahnya. Lalu dia membelai pipi Lila dengan penuh kasih sayang.


Saat Raffael ingin mencium kening Lila, Lila membuka matanya dan Raffael pun hanya bisa tersenyum kikuk.


Lila langsung bangkit dari tidurnya. Namun dengan cepat tangan Raffael menariknya dan menaruhnya di pinggangnya, dan kini mereka pun dalam posisi berpelukan.


Raffael menciumi pucuk kepala Lila bertubi-tubi, dan seketika Lila tersenyum didalam pelukan Raffael. Dia tak menyangka, cinta yang dulu dia rasakan akhirnya terbalas.


"Kenapa kau tersenyum? apa ada yang lucu?" tanya Raffael saat melongarkan pelukannya dan menatap wajah Lila..


"Aku tak menyangka, cinta ku terbalas walaupun aku harus mengalami hal pait terlebih dahulu. Tapi sekarang aku bahagia."


Rafael kembali membawa Lila kepelukannya. "Akan ku pastikan kau akan lebih bahagia setelah kita menikah."

__ADS_1


Baru saja Rafael dan Lila akan kembali memejamkan matanya karna merasa nyaman, seseorang memanggil dengan sangat kencang dari arah luar.


"Om ... Om!" teriak Vania dengan kencang.


__ADS_2