Cinta Suci Zalila

Cinta Suci Zalila
71


__ADS_3

Tak lama setelah Raffael keluar, Lila terbangun. Dia mengucek-ngucek matanya dan melihat ke sana kemari mengedarkan pandangannya untuk mencari suaminya.


Lila pun turun dari ranjang dan keluar kamar, dia masih bingung dimana suaminya. Namun, karna pintu kamar Lyo terbuka, Lila pun berjalan ke arah kamar putranya.


Mata Lila berkaca-kaca, saat melihat suaminya tengah menangis sambil memeluk foto putra mereka.


Lila pun maju dengan perlahan dan menghampiri suaminya. "Daddy ...."


Rafaeel langsung melihat ke arah istrinya yang sedang berdiri di hadapannya, dengan cepat Raffael menghapus air matanya dan menaruh foto Lyo.


"Sayang, kenapa kau bangun? apa kau ingin sesuatu?" tanya Rafael dengan lembut. Dia menarik tangan Lila agar duduk menyamping di pangkuannya.


Lila menangkup kedua pipi suaminya. Cup dia mencium kening, mata dan pipi "Semua kesalahanmu dulu dan luka ku tak akan pernah bisa kita hapus dari kehidupan kita. Tapi, kita tidak hidup di masa lalu. Kau sudah menebus kesalahanmu dengan cinta mu saat ini pada ku dan juga Lyo. Jadi jangan pernah merasa bersalah lagi." Lila berucap sambil mengelap sisa ari mata Rafael.


Tak sanggup menahan tangis, Rafael meneluspkan wajahnya pada dada Lila. Dia menangis tersedu-seru. Satu tangannya bergeran mengelus perut rata istrinya.


"Daddy, aku mengantuk," ucap Lila setelah dia lelah meminta Raffael berhenti menangis. Namun, bukannya berhenti, tangis Raffael semakin pecah. Dia amat bersyukur bisa mendapat kesempatan kedua dan bisa menebus kesalahannya pada wanita dan anak yang sangat dicintainya.


Mendengar ucapan Lila yang mengantuk, Rafael segera tersadar, dia mengangkat kepalanya dan menghapus air matanya. Lalu dengan satu gerakan, Rafael menggendong Lila ala bridal style.


Rafael membaringkan Lila di kasur dengan hati-hati. Baru saja dia akan turun dari tubuh istrinya. Namun, Lila dengan cepat menarik tengkuk Raffael dan mencium bibir suaminya.


Raffael mengikuti permainan yang di mulai istrinya. Baru saja dia akan menarik tali gau tidur istrinya. Tangan Lila menghentikan tangannya.

__ADS_1


"Daddy, jangan!"


"Kenapa?" tanya Raffael mengernyit heran. Matanya sudah di penuhi kabut gairah.


"Sangat bahaya berhubungan di awal kehamilan."


Seketika bagian tubuh yang telah menegang di bagian tubuh Rafael kembali layu. Dia menggulingkan tubuhnya ke samping istrinya dan memeluk perut Lila. mengusapnya dengan penuh kasih sayang.


"Daddy, aku ingin sosis buatan mamih," ucap Lila ketika Rafael baru saja akan memejamkan matanya.


"Sekarang?" tanya Rafael. Dia baru saja akan bangkit untuk mengabulkan keinginan istrinya. Namun, dengan cepat Lila menarik kembali tangan Rafael.


"Bukan sekarang, Daddy. Aku ingin makan itu untuk makan siang ku besok."


Raffael kembali berbaring dan memeluk Lila. Tak lupa dia mencium seluruh wajah istrinya.


Raffael tersenyum. "I Love you to, sayang."


Mereka pun berdua terlelap.


Keesokan harinya.


"Daddyy!" teriak Lyo dari arah pintu.

__ADS_1


Raffael yang sedang memegang laptop di sofa, langsung bangkit untuk menghampiri Lyo.


Bocah kecil itu berlari dan langsung memeluk paha Raffael. Raffael langsung menggendong Lyo dan mencium pipinya bertubi-tubi.


"Kau tidak nakal, kan, dirumah mamih?" tanya Raffael setelah puas mencium pipi gembul putranya.


"No, Daddy," jawab Lyo. satu tangannya mengelus pipi Raffael.


"Mana putriku?" tanya Keinya yang baru saja menyusul kedalam.


"Dia dikamar, Kak."


Keinya menyerahkan bungkusan yang berisi sosis yang dia taruh didalam kotak bekal pada Raffael. Lalu dia berjalan kearah kamar putrinya.


Keinya duduk di ranjang, dia memandang seksama wajah putrinya yang sedang tertidur. Ya, setelah sholat subuh Lila memilih untuk tidur kembali. Keinya amat bahagia saat Raffael menelponnya tadi subuh untuk mengabarkan bahwa Lila tengah hamil. Dengan sigap Keinya membuatkan pesanan putrinya.


Mata Keinya berkaca-kaca saat mengingat semua ucapan Lila saat dulu dia mengandung Lyo.


Keinya memang tidak mengandung Lila. Namun, selama Keinya menikah dengan Bram. Dia sudah teramat menyayangi Lila. Lila yang kala itu masih menjadi seorang gadis cilik telah mencuri hati Keinya yang saat itu tengah menumpang dirumah Bram karna dititipkan kedua orang tuanya.


Keinya naik ke ranjang, dengan kaki yang di selonjorkan, dengan perlahan dia mengangkat kepala Lila untuk meletakannya di pahanya. Namun, saat Keinya menyentuh kepala Lila, Lila terbangun.


"Mamih," lirih Lila sambil mengucek mata. Lalu dia menaruh kepalanya di paha Keinya.

__ADS_1


Keinya terus mengelus rambut putrinya dengan penuh kasih sayang. Dia bertekad akan mendampingi putrinya selama hamil dan memberi yang terbaik untuk putrinya.


Tak lama, Bram masuk kedalam kamar. Lila yang sedang memejamkan matanya langsung melihat ke arah pintu.


__ADS_2