
"Daddy!" panggil Lila saat Raffael sedang mengaji selepas sholat subuh.
Raffael menoleh saat mendengar suara istrinya.
"Kenapa tak membangunkan ku?" tanya Lila sambil mengucek matanya. Ternyata jam sudah menunjukan pukul 06.22.
Raffael mengelus rambut Lila. Tak lupa memberikan kecupan manis di kening wanita yang amat dicintainya. "Tidurlah lagi, ini masih terlalu pagi," ucap Raffael sambil membuka baju koko dan menggantinya dengan pakaian rumahan, lalu setelah beres mengganti baju, Raffael langsung melihat box bayi tempat dimana Gila tertidur. Bayi mungil itu masih terlelap karna semalaman dia bergadang.
Karena memang Lila masih sangat mengantuk, Lila pun memutuskan untuk kembali tidur. Tak lama, pintu terbuka, Ternyata Lyo lah yang masuk. Raffael langsung menghampiri putranya.
"Ayo mandi bersama Daddy dan jangan membangunkan bunda oke," ucap Raffael seraya berbisik di telinga putranya.
Mereka pun berjalan mengendap-ngendap menuju kamar mandi.
•••••
Mendengar papihnya memanggil mamihnya. Vania dan Tania langsung terdiam.
"Duduk yang benar, sekarang katakan pada papih apa yang ingin kalian katakan, sebelum mamih kalian datang," ucap Bram dengan nada tegas. Bram berubah menjadi sosok ayah yang tegas karna tau apa yang akan dibicarakan putrinya adalah hal yang penting.
Mendengar ucapan Bram yang tegas, seketika Vania dan Tania melepaskan pelukannya dan berpindah duduk ke sofa didepan Bram.
Kali ini Bram seperti hakim yang akan mendakwa tersangka.
"Vania, sekarang katakan pada papih, apa yang mau kau sampaikan," ucap Bram "Dan jangan menyelah kaka mu, Tania," ucap Bram lagi saat dia melihat Tania akan membuka mulut.
__ADS_1
Seketika Vania melihat Tania dan tersenyum mengejek ke arah adiknya.
"Vania!" terur Bram saat Vania sibuk mengejek adiknya.
Vania pun menghembuskan napas kasar, dia meremas tangannya sebelum berbicara.
"Pa-papih, se-sebenarnya aku ingin menikah muda," ucap Vania dengan terbata-bata. Setelah mengatakan keinginannya Vania langsung menutup matanya karna takut melihat reaksi Bram.
Bram menghela napas kasar saat mendengar permintaan putrinya. Sebagai ayah, tentu dia selalu sedih jika akan melepas putrinya.
"Vania, tatap papih jika kau bicara!" titah Bram.
Vania pun memberanikan diri menatap Bram.
"Apa kau yakin ingin menikah muda? apa kau tau semua kewajiban jika kau sudah menjadi seorang istri."
Baru saja Bram akan berbicara, Keinya masuk kedalam ruangan Bram sambil membawa nampan berisi teh hijau untuk
suaminya.
"Sedang apa kalian disini?" tanya Keinya pada kedua putrinya.
Mamih dan Tania sama saja. Mereka selalu menganggu. Vania menggerutu dalam hatinya.
Keinya pun duduk disebelah Bram sambil memberikan teh hijau dan langsung di sruput oleh Bram.
__ADS_1
Seteleh Bram menyeruput tehnya. Keinya melingkarkan tangannya di pinggang suaminya.
"Mamih, apa mamih tidak malu bermesraan didepan kami," cibir Tania yang jengah melihat pemandangan didepannya.
"Kenapa memangnya. Papih, kan, suami mamih," jawab Keinya dengan santainya. Tania benar-benar cerminan Keinya di masa muda. Sedangkan Vania menuruni sifat Bram yang selalu santai dan tak pernah grasa-grusu.
"Kenapa kalian diam saat mamih datang? apa kalian menyembunyikan sesuatu?" tanya Keinya.
Seketika tubuh Tania dan Vania menegang mendengar ucapan mamihnya. Mereka memang takut pada Bram. Namun, Keinya jauh lebih menakutkan. Keinya akan terus memceramahi semua putrinya jika mereka berbuat kesalahan dan tak segan-segan menahan fasilitas mereka.
Bram memalingkan tatapannya kearah lain, diam-diam Bram tersenyum karna merasa lucu melihat kedua putrinya yang tiba-tiba kaku.
"Sayang, apa sarapan sudah siap?" tanya Bram mengalihkan pembicaraan.
"Semua, siap."
"Apa Gika masih tidur?"
"Aku akan mengeceknya dulu," ucap Keinya sambil bangkit dari duduknya. "Kalian, turun bersama papih untuk sarapan," ucap Keinya lagi pada kedua putrinya.
Setelah Keinya keluar, Bram pun ikut bangkit dari duduknya.
"Siapa pun pilihan kalian, bawa mereka kehadapan papih. Biarkan papih yang menilah pantas atau tidak mereka untuk kalian.Terutama kau Tania." Setelah mengatakan itu Bram pun keluar, meninggalkan kedua putrinya.
Tubuh Tania menengang saat mendengar ucapan Bram. "Vania, apa kau mengatakan pada papih aku berpacaran dengan uncle Julian?" tanya Tania. Saat Bram menyebutkan namanya, Tania yakin bahwa Bram tau tentang hubungannya dengan Julian.
__ADS_1
"Tania, aku pun belum menyebutkan siapa calon suami ku. Apa jangan-jangan papih selalu mengawasi kita?"
Tania....