
Vania tersadar dari lamunannya setelah seseorang berdehem.
"Sedang apa kau?" tanya Tania yang masuk kedalam kamar kakanya.
Vania mendelik sebal pada Tania. "Jika bosan, pergilah! jangan mengganggu ku!" seru Vania. Dia bangkit dari duduknya kemudian berbaring di ranjang.
Tania berdecih, "Jika kau rindu padanya, temui saja dia. Setauku dia baru pulang dari Rusia," kata Tania dengan nada mengejek.
Vania memejamkan matanya karna kesal mendengar celotehan Tania. Dia pun bangkit dari berbaringnya, bersiap untuk melemparkan bantal. Namun, dengan cepat Tania berlari menghindari amukan kakanya.
"Tunggu sebentar, sayang. Biar aku yang membukanya," ucap Raffael ketika Lila akan turun dari mobil sambil menggendong putra mereka.
Mereka pun masuk kedalam rumah Bram dan disambut oleh Keinya.
"Mamih, mana Lyo?" tanya Lil saat Keinya mengambil alih Gika dari tangan Lila.
"Lyo sedang bersama moma dan popa keluar, Kalian istirahatlah. Biar mamih yang menjaga Gika," ucap Keinya sambil asik menciumi pipi Magika.
"Baiklah, Mamih. Jika Gika menangis, mamih antarkan saja ke kamar."
"Sayang, Lila sudah sampai?" tanya Bram dari arah belakang.
Keinya yang sedang duduk di sofa langsung memutar kepalanya dia tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
Bram pun duduk disisi Keinya, dia memandang takjub wajah Gika.
"Bolehkah aku menggendongnya?" tanya Bram.
Dengan perlaha, Keinya memberikan Gika pada Bram. Dan setelah itu Bram mencium gemas pipi Gika.
"Bukankah Gika sangat lucu?" tanya Keinya.
"Ya, dia seperti Lila sewaktu bayi."
Keinya mengerlingkan matanya. "Papih, sepertinya menyenangkan jika kita memiliki anak satu lagi."
"Sayang, aku sudah tak lagi muda. tenaga ku sudah tak seperti dulu," jawan Bram dengan tergelak.
Keinya mencebik mendengar penuturan suaminya. Kemudian dia menyandarkan kepalanya di pundak suaminya. "Bagaimana bisa kau berkata seperti itu, Bahkan kau lebih kuat dari sebelumnya," balas Keinya lagi sambil membelai dada suaminya. "Jadi bisakah kita ...." Perkataan Keinya terpotonh saat Bram bangkit dari duduknya.
Bram tergelak melihat reaksi istrinya. "Ayo kita kekamar untuk tidur siang bersama Gika," ucap Bram karna tak mau mendengar rengekan istrinya.
•••••
Raffael dan Lila pun pergi keatas untuk kekamar mereka. Sebenarnya, Raffael ingin mengajak putra kedua mereka untuk istirahat bersama. Namun, dia melihat kakanya sangat antusias mengasuh Gika dan karna Lila pun terlihat sangat kelelahan, Raffael pun akhirnya mengalah.
Dan kini mereka sudah berbaring diranjang dengan poisisi yang saling berhadapan.
__ADS_1
Saat berbaring, Lila langsung memejamkan matanya.
Raffael memandang wajah cantik istrinya dengan penuh cinta. Terlepas dari buruknya masa lalu dirinya, rasa bersalahnya. Namun, dia amat bersyukur istrinya mau memaafkannya dan kini mereka bahagia dengan hadirnya Lyodra dan Magika.
Raffael mendekat untuk mencium bibir istrinya. Raffael pun mendekap tubuh istrinya dan ikut terlelap.
••••
Malik.
Dua hari lalu, Malik baru saja pulang dari Rusia, ini menjadi tugas terakhirnya bekerja di Abraham grup. Dari dulu, dia bercita-cita membuka bisnis di bidang kuliner. Walau selama ini dia bekerja sebagai sekretaris, tapi dia juga sudah merintis usahanya.
Bukan hanya kuliner saja bisnis yang di geluti Malik, dia juga berbisnis di bidang properti. Sejak berpacaran dengan Vania, Malik langsung memaksa Raffael untuk menerima surat pengunduran dirinya. Malik ingin lebih fokus pada bisnisnya agar bisa memantaskan diri tuk meminang Vania. Karna walau bagaimana pun Vania bukan putri dari orang sembarangan.
Walaupun kekayaan Andra yang tak lain adalah ayah Malik juga tak kalah dari keluarga Vania, tapi, tetap saja, Malik ingin berjuang dengan tangannya sendiri tanpa membawa nama orang tua.
Saat ini Malik sedang duduk di sofa apartmennya. Matanya memandang kosong kearah depan. 3 bulan berada di Rusia bukan waktu yang mudah untuk Malik.
Hatinya telah terpaut pada seorang Vania. Gadis yang dulu pernah dia manfaatkan, kemudia membuat dia jatuh cinta.
Namun, karna kebodohannya pula dia harus kehilangan Vania. Lamunannya buyar setelah ponselnya berdering.
Seketika Malik tersenyum, Bukti yang selama ini dia tunggu telah ada didalam genggamannya.
__ADS_1
Malik pun bangkit dari duduknya, dia akan menemui Vania. Tekadnya sudah bulat.Dia akan tetap menemui Vania, sekalipun Vania tak mau menemuinya. Malik bertekad akan terus menunggu.
Malem nanti insyaallah up lagi ya. Jadi tekan jari kalian untuk Vote.