Cinta Suci Zalila

Cinta Suci Zalila
74


__ADS_3

Tania dengan gugup menunggu Vania keluar dari kamar mandi. Dia terus berjalan kesana kemari. Tania merasa heran bagaimana kakanya tau bahwa dia tengah berpacaran dengan Julian Kim, karna dia sendiri sudah berusaha menutupi hubungannya dengan sempura agar tidak diketahui siapa pun.


"Kenapa kau masih di kamar ku?" tanya Vania saat keluar dari kamar mandi.


"Vania, dari mana kau tau bahwa aku berpacaran dengan uncle Julian?" tanya Tania dengan ragu-ragu. Dia yang semula bertanya menunduk mulai mengangkat kepalanya karna Vania tak kunjung membalas ucapannya.


Vania memutar bola matanya jengah saat mendengar ucapan adiknya. "Memang penting dari mana aku tau soal itu?" Vania kembali mendudukan dirinya di sofa sambil bersedekap dan memandang tajam adiknya yang sedang berdiri.


"Tania, apa kau gila? bagaimana kau bisa berpacaran dengan uncle Julian? dia lebih tua dari mamih. Apa kau pikir mamih dan papih akan merestui kau dan uncle Julian?" tanya Vania sakartis.


"Apa salahnya berpacaran dengan uncle Julian? bukankah dulu mamih dan papih juga berpacaran dengan jarak umur yang jauh hingga mereka menikah," jawab Tania yang tak terima dengan perkataan kakanya.


"Itu berbeda, Tania. Papih adalah kelaki terbaik. Papih sudah lama bersahabat dengan moma, hingga momma merestui papih dan mamih menikah. Tapi, Kau dan uncle Jul ...."


"Sudahlah, jangan bahas ini lagi dengan ku. Dan jangan coba-coba memberi tau mamih dan papih tentang hubungan ku dengan uncle Julian, jika kau membuka mulut, aku akan benar-benar membenci mu!" Tania memotong ucapan Vania. Dia hanya mengikuti hatinya dan yakin pada Julian yang tak lain adalah teman masa kecil mamihnya ketika mereka berada di Spanyol.


Tania pun keluar dari kamar kakanya. Sedangkan Vania hanya bisa mendelik sebal sambil melihat Tania yang sudah meninggalkan kamarnya.


Sedangkan Malik.


Saat sudah mengantar Vania, Malik dengan cepat memajukan kembali mobilnya. Tapi, tak lama dia berhenti kembali dan menepikan mobilnya.


Malik memegang jantungnya yang berdetak dua kali dengan kencang, dia pun memegang bibirnya sama seperti Vania. Bahkan ciuman yang tadi Malik lakukan pada Vania masih terasa.

__ADS_1


Malik bahkan seperti orang gila, dia terus tersenyum ketika mengingat bahwa dia baru saja mencium Vania.


Saat dia akan memajukan mobilnya, matanya mengangkap benda kecil dibawah. Malik mengurungkan niatnya untuk pergi, dia mengambil benda tersebut.


"Dompet?" Malik membulak balikan benda kecil, yang ternyata adalah dompet berukuran mini milik Vania.


Karna penasaran Malik pun membuka dompet tersebut. Malik menyungingkan senyuman saat melihat isi dompetnya, ternyata itu dompet milik Vania.


Malik tersenyum saat melihat foto Vania,saat dia akan mengambil foto Vania, kening Malik mengernyit heran saat melihat dibalik foto Vania ada foto dirinya.


Tanpa pikir panjang, Malik mengambil dompetnya dan menaruh foto Vania di dompetnya.


•••


"Malik!" panggil seseorang dari arah belakang.


Kening Malik mengkerut bingung, saat melihat wanita yang mendekat kearahnya.


"Dari mana kau tau aku disini?" tanya Malik pada wanita di depannya yang tak lain adalah Elsha. Malik memandang Elsha dengan tatapan datar.


Karna Elsha tak menjawab, Malik melangkahkan kakinya masuk kedalam lift dan tanpa diduga Elsah mengikuti Malik.


Saat masuk didalam lIft, Elsha langsung memeluk Malik. "Aku merindukan mu," kata Elsha. Karna Malik tak membalas pelukan Elsha, Elsha melepaskan pelukannya, dia berijinjit memeluk leher Malik dan mengecup bibir Malik.

__ADS_1


Malik hanya bisa melotot kaget karna perlakuan Elsha. Naasnya saat adegan Elsha mencium Malik. pintu lift terbuka, dan tak disangka ada Vania yang melihat adegan tersebut.


Vania memang sengaja menunggu Malik di apartemen kakanya, saat tau dompetnya tertinggal di mobil, Vania segera menghubungi Malil, karna dia takut Malik melihat dompet dimana Vania menyimpan fotonya.


Sekian lama menunggu. Vania memutuskan untuk pergi kesupermarket untuk membeli cemilan. Namun, saat lift terbuka dia melihat Malik sedang berciuman. Vania mengira mereka sedang berciuman mesra. Namun, kejadian yang sebenarnya adalah Malim yang dicium secara tiba-tiba.


Malik baru sadar setelah Vania berdehem.


"Ini tak seperti yang kau pikirkan," ucap Malik saat melihat Vania.


Tanpa menjawab ucapan Malik, Vania amalh berbalik, dia memutuskan untuk kembali ke unit apartemen Raffael.


Ketika Malik akan mengejar Vania, Elsha dengan cepat menarik tangan Malik, "Siapa dia?"


Malik melepaskan tangan Elsha dari tangannya dengan kasar. "Pergi dari sini, dia calon istriku, jangan menggangu ku lagi," ucap Malik, dia sengaja berbohong mengatakan Vania calon istrinya agar Elsha tak mengganggunya lagi. Dalam perjalanan tadi, Malik memutuskan untuk mengakui prasaannya pada Vania


Malik pun dengan cepat pergi dari hadapan Elsha, dia terus memencet bel apartemen Raffael.Tak lama pintu terbuka.


Malik ...


Kalau mau satu bab lagi, Vote ya. Masuk 20besar nanti malem up lagi. Karna ga adil cuman ceritain kisah Vania, jadi aku juga mau ceritain kisah Tania sama uncle Julian.jadi vote ya.


Extra part terbaru uncle Bram udah aku up, cus buruan kepoin ke lapak uncle Bram.

__ADS_1


__ADS_2