
"Daddy, mana Lyo?" tanya Keiny saat Aska masuk kedalam rumah tanpa membawa Lyo.
Aska mendudukan dirinya disebelah Aysel, sambil terus mencium pipi Aysel tanpa menghiraukan putrinya yang bertanya tentang Lyo.
Keinya yang tadinya duduk disebelah kiri Aysel, langsung beranjak duduk disebelah Aska.
"Daddy, dimana Lyo!" teriakan Keinya lebih kencang dari sebelumnya.
Sedangkan Aysel hanya diam tanpa menyauti perdebatan suami dan putrinya.
"Lila dan Lyo sedang berada bersama Raffael, dikantor."
"Daddy! bagaimana bisa kau meninggalkan Lila dan Lyo bersama Raffael. Bagaimana jika Lila melukai Lila lagi." Keinya bangkit dari duduknya dan memandang Aska dengan sengit.
Aska yang sedang sibuk menciumi pipi Aysel, langsung melihat kearah putrinya. "Kei, kau tak mengenal adikmu. Mana mungkin dia melukai calon istri dan anaknya."
Keinya mencebik mendengar jawaban Aska. "Daddy, aku pinjam ponsel Daddy. Aku akan menghubungi Lila dan menyuruhnya pulang."
"Kuota daddy habis," kata Aska dengan kembali mencium pipi Aysel.
"Daddy, disinikan ada wifi, cepat! aku pinjam ponsel Daddy."
"Wifi dirumah ini mati, daddy tak punya uang untuk membayarnya," balas Aska dengan tergelak. Entah dulu entah sekarang Aska sangat suka menjahili putrinya.
Keinya pun segera berbalik dan pulang kerumahnya untuk menelpon Lila.
Karna dilarang oleh Bram untuk menelpon Lila Keinya pun menyuruh Vania yang sedang berada diluar untuk mengawasi Raffael.
Saat masuk kekantor kakanya. Vania berjalan dengan tangan yang masih sibuk memegang ponsel. Bahkan saat di lift dia tak memperhatikan orang yang berada disampingnya yang tak lain adalah Malik.
Malik yang berada disamping Vania berdehem karna merasa di acuhkan. "Ekhemm." Dehem Malik.
Deheman Malik sukses membuat Vania melirik ke arah Malik. Fucekboy," Kata Vania sambil melirik Malik dengan sinis.
__ADS_1
"Maksudmu, aku fuckboy?" tanya Malik sambil menunjuk dirinya. Sebelum Vania menjawab, pintu lift terbuka, dan akhirnya Vania keluar tanpa menjawab ucapan Malik.
"Dasar bocah baperan," kata Malik sambil mengikuti langkah Vania keluar dari lift.
Vania masuk ke ruangan om nya.
"Om ... Om!" panggil Vania dengan kencang.
Raffael yang sedang berpelukan dengan Lila, langsung melepaskan pelukannya dan menghampiri Vania karna takut suara Vania membangunkan Lyo.
"Vania, kau berisik sekali?"
"Dimana kaka?"
"Apa kau disuruh mamih mu untuk kesini?"
Tanpa menjawab ucapan Raffael. Vania langsung masuk kedalam ruangan pribadi om nya.
Saat masuk, Lila sedang menyandarkan punggungnya di ranjang. "Mamih menyuruhmu kesini?"
"Kau pasti lelah, istirahatlah. Kaka akan keluar."
Karna memang Vania lelah. Vania pun membaringkan diri disebelah Lyo.
Lila pun keluar, dia merebahkan diri si sofa, sedangkan Raffael kembali sibuk dengan berkas dimejanya.
Tak terasa waktu menunjukan jam pulang kantor, dengan lembut Raffael membagungkak Lila. Sedangkan Lyo memang sudah terbangun dan sedang bermain bersama Vania.
•••
"Mau apa kau kesini?" tanya Keinya ketika Rafael akan masuk kedalam lift.
"Menemui putraku." Raffael menjawab singkat dia sudah terbiasa menghadapi sikap kakanya yang sinis.
__ADS_1
Raffael pun masuk kekamar Lyo dan disitu juga ada Lila yang sedang membacakan dongeng untuk Lyo. Dia mendekat kearah ranjang dan mengusap rambut Lila.
Lila menaruh telunjuknya dibibir, agar Rafael tidak berbicara karna Lyo sudah akan tertidur.
"Aku akan menunggu di balkon kamarmu," bisik Rafael di telinga Lila.
Saat Lyo tertidur, Lila dengan cepat pergi ke kamarnya untuk menghampiri Raffael.
"Raffael, ada apa?" tanya Lila ketika menghampiri Rafael. Raffael menarik tangan Lila hingga Lila berdiri dihadapannya dan dia memeluk Lila dari belakang, dengan menaruh tangannya di pundak Lila.
"Ra-Raffael, mamih akan memarahimu," ucap Lila saat posisinya begitu intim dekat Rafael.
"Ka Bram sudah menguncinya di kamar, jadi aku aman," jawab Rafael dengan tergelak. Dia Meminta kaka iparnya untuk menahan Keinya agar tak mengganggunya.
Lila pun melepaskan tangan Rafael dan berbalik, dia langsung memeluk erat Rafael.
Rafael tersenyum, dia mengelus rambut Lila. "Apa kau ingin mengatakan bahwa kau akan pergi ku Rusia?" tanya Lila di pelukan Rafael.
"Kau tau aku akan pergi ke Rusia?"
"Tadi Pola kemari mengatarkan makanan untuk Lyo dan mengatakan bahwa kau akan pergi ke Rusia. Apa kau akan pergi lama?" tanya Lila sambil menatap Rafael, tapi kedua tangannya masih melingkar di pinggang Rafael.
"Aku hanya satu minggu disana, setelah aku pulang dari Rusia kita bisa langsung mempersiapkan pernikahan kita."
"Jangan lupa mengabariku, aku pasti akan merindukanmu Daddy." Lila kembali membenamkan kepalanya di d ada Raffael.
Setelah lama mereka berpelukan, Rafael melepaskan pelukannya "Istirahatlah, ini sudah malam, sebelum aku ke bandara aku akan mengantarkan mu," ucap Raffael, Lalu Raffael mencium kening Lila dengan penuh kasih sayang. Kemudian Raffael menangkup kedua pipi Lila "I Love you Bunda."
Lila tersenyum. "I love you to Daddy."
Raffael pun pergi keluar dari kamar Lila karna hari sudah semakin larut.
5hari berlalu.
__ADS_1
Saat itu Lila terpaksa harus menggantikan dinas malam temannya. Saat pukul 23.30. Lila merasa lapar, dia pun memutukan untuk pergi ke kantin.
Dan saat berjalan, dia melihat pemandangan yang sangat menyayat hati