Cinta Suci Zalila

Cinta Suci Zalila
64


__ADS_3

Jantung Vania berdetak dua kali lebih cepat saat adegan yang baru saja akan terjadi. Saat dia masuk kedalam kamar Lyo. Vania langsung berteriak histeris karna sejujurnya dia pun merasa senang karna Malik ternyata menyukainya. Namun, Vania bertekad takan mudah luluh oleh Malik.


Kehebohan Vania ternyata membuat Lyo terbangun. Lyo menatap heran saat melihat bahwa Auntynya tengah berjingkrak-jingkrak tak karuan.


"Aunty, ada apa dengan mu?" tanya Lyo dengan masih sedikit menahan kantuk.


Vania mendekat ke arah Lyo. "Apa Aunty membangunkan mu?" tanya Vania sambil mengelus rambut keponankannya.


"Aunty, aku ingin daddy." Lyo pun turun dari ranjangnya dan keluar kamar.


Raffael yang sedang berada di dekat kaki Lila baru saja akan memulai aksinya. Gerakannya terhenti saat mendengar pintu terbuka. Lila yang memang sudah terbangun karna ulah suaminya langsung melihat kearah pintu dan melihat Lyo masuk.


"Vania!" Raffael menggeram kesal karna yakin bahwa Vania yang telah membuat Lyo bangun. Raffael dengan lemas membuka selimutnya.


"Daddy, apa yang Daddy lakukan?" tanya Lyo saat melihat Raffael keluar dari selimut.

__ADS_1


Raffael pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Lyo, kemudian memangku putranya. "Kenapa jagoan daddy hanya tidur sebentar?" tanya Raffael saat membaringkan Lyo disebela Lila sedangkan Raffael berbaring di sebeleh Lyo.


"Aunty berisik sekali," ucap Lyo sambil berbaring membelakangi Raffael dan memeluk Lila. Ternyata bocah kecil menggemaskan itu masih merasa ngantuk.


Raffael mengelus lembut rambut putranya. Saat mengelus rambut Lyo, tiba-tiba Raffael meneteskan air mata. Tak di pungkiri, setiap melihat Lila dan Lyo sedang bersama. Rasa bersalah hadir di diri Raffael. Lila tersenyum melihat Raffael, dia sudah mengerti betul apa yang di rasakan Raffael. Setelah Lyo tidur, Lila dengan perlahan berpindah ke sisi Raffael. Lila berbaring di belakang Raffael dan memeluk Raffael dari belakang.


Raffael pun dengan perlahan memindahkan tangan Lila, kemudian dia berbalik dan bergantia memeluk Lila.


"Bisakah kita melanjutkan yang tadi?" tanya Raffael penuh arti.


"Daddy, bagaimana jika kita belanja ke supermarket, aku ingin memasak untuk makan malam," ucap Lila.


"Memang kau bisa memasak?" goda Raffael sambil mengelus rambut Lila lalu memberikan kecupan di kening istrinya.


Lila tampak berpikir. Ya, dia baru saja sadar bahwa dia tak bisa memasak. Selama ini Keinya melarang semua putrinya untuk masuk dapur apalagi setelah dulu Lila tersiram air panas saat Lila dengan sembunyi-sembunyi memasak mih rebus.

__ADS_1


Raffael terkekeh melihat Lila yang sedang melamun, "Bagaimana jika kita memesan makan saja, aku akan meminta salah satu art di rumah mommy untuk bekerja disini."


"Apa kau tidak keberatan jika aku tidak memasak untuk mu?" tanya Lila. Dia sedikit merasa bersalah. Apalagi mengingat bahwa Keinya selalu memasak langsung untuk papihnya dan dirinya serta kedua adiknya. Walaupun ada koki, tapi setidaknya Keinya akan memasak seminggu 3 kali.


"Aku tak masalah, Bunda ..." Rafael sedikit ragu untuk meneruskan kalimatnya karna takut menyinggung prasaan istrinya.


"Hmm, ada apa?"


"Bunda, aku sebenarnya tak bermaksud menghalangi cita-cita mu, tapi ..." perkataan Raffael kembali terputus saat Lila mencium bibir Raffael.


"Aku sudah mengundurkan diri dari rumah sakit, dan aku akan fokus pada keluarga kecil kita."


Raffael tersenyum senang, dan mengecup bibir Lila. Seperti biasa dia sudah tak bisa mengendalikan diri jika bersentuhan dengan istrinya.


Dan skrng author kasih tau kalau Raffael sama Lila langsung tidur siang karna kalau mau lanjut ada si bocil, kalau Lyo bangun entar berabe hahahahahahahahahha

__ADS_1


Kalau udh rank naik besok aku dobel up ya. Dobel up nya ga bisa skrng karna lagi dluar


__ADS_2