Cinta Suci Zalila

Cinta Suci Zalila
75


__ADS_3

Melihat adegan didepannya, Vania memutuskan untuk kembali ke apartemen Raffael. Gadis itu menutup pintu dengan sangat keras. Dia menyenderkan tubuhnya di pintu. Tanggannya memegang dada yang terasa sakit, padahal dia sadar Malik bukan siapa-siapanya. Namun, Vania heran pada dirinya sendiri ketika berlebihan melihat Malik sedang berciuman.


Tak lama dia masuk, terdengar suara bel berbunyi dan terdengar juga suara Malik memanggil namanya.


Karna tak ingin terlihat lemah, Vania membuka pintu. Vania memandang Malik dengan tatapan datar.


"Vania, aku bisa menjelaskan semua, yang tadi kau lihat tidak seperti yang kau pikirkan," ucap Malik sambil menatap Vania dengan dipenuhi rasa bersalah. Padahal dalam perjalanan tadi dia benar-benar memutuskan untuk mengakui prasaannya pada Vania.


"Menjelaskan apa? kenapa aku harus mendengar penjelasan mu. Memang kau siapa ku?" tanya Vania dengan nada super sinis.


Malik menghembuskan napas kasar, dia sudah menduga bahwa Vania akan bersikap demikian.


"Bisa aku bicara dengan mu?" tanya Malik dengan nada yang super lembut.


"Tidak! tidak bisa!" balas Vania dengan angkuhnya, bahkan matanya melotot galak pada Malik.


Tanpa menjawab lagi ucapan Vania, Malik malah mencekal tangan Vania. Dengan satu gerakan, Malik menarik tangan Vania untuk masuk ke apartemennya.


"Apa yang kau lakukan!" teriak Vania saat Malik berhasil menariknya dan masuk ke apartemen Malik.


Dengan santai Malik mendudukan Vania disofa. "Tunggu sebentar, aku akan mandi dulu. Setelah itu kita bicara," ucap Malik sambil melonggarkan dasinya.


Vania menelan ludah saat melihat Malik melepaskan dasinya. Menurutnya saat ini Malik amatlah tampan.


Setelah lama menunggu, Malik pun keluar. Vania dibuat melongo dengan tampilan Malik yang memakai kaos dan celana santai. Dia melihat Malik lebih tampan berkali-kali lipat. Apalagi rambut yang masih basah dan juga aroma maskulin dari tubuh Malik.


Malik duduk disisi Vania sambil menyodorkan dompet Vania. Ketika Vania akan mengambil dompet dari tangan Malik. Dengan cepat Malik menarik tangan Vania lalu membawanya kepelukannya.


"A-apa yang kau lakukan!" teriak Vania dengan berusaha memberontak dari pelukan Malik.


"Jika kau diam, dan mau berbicara maka aku akan melepaskanmu," balas Malik sambil memeluk Vania dengan erat karna Vania terus memberontak.


Vania mencoba mencoba mengatur napasnya dalam pelukan Malik. "Baikalah, ayo bicara," ucap Vania. Sejujurnya dia sedang merasa detak jantungnya berpacu dua kali lebih cepat.

__ADS_1


Malik pun melepaskan pelukannya, Malik memegang tangan Vania memaksa Vania untuk menghadap ke arahnya dan Malik sendiri menaikan kedua pahanya hingga dia duduk dengan sila di sofa.


Kini mereka saling berhadap-hadapan.


"Apa yang mau kau katakan," ucap Vania dengan berusaha menahan gugup yang luar biasa.


Malik memegang tangan Vania dan mengecupnya. Vania hanya melotot galak dan langsung menarik tangannya.


Baru saja Vania akan protes, Malik menangkup kedua pipi Vania dan dengan cepat mencium bibir Vania.


Dan lagi-lagi Vania hanya bisa melotot atas perlakuan Malik.


Karna mulut Vania masih tertutup, Malik dengan sengaja menggigit mulut Vania. Namun, Vania masih tetep menutup mulutnya. Hingga akhirna Malik menyerah. Dia melepaskan ciumannya dan menempelkan keningnya pada kening Vania.


"Aku mencintai mu, Vania. Sungguh-sungguh mencintai mu," ucap Malik dengan masih terus menempelkan keningnya pada kening Vania.


Vania memutar bola matanya jengah, dia benar-benar tak bisa mempercayai Malik. Bagaimana mungkin Vania bisa percaya omongannya, jelas-jelas Vania melihat dengan kepalanya sendiri baru saja Malik berciuman dengan seorang wanita.


"Sekarang dengarkan aku! aku ingin menjelaskan semua padamu. Jangan menyelahku sebelum aku selesai bicara," ucap Malik. Dan Malik pun menjelaskan hubungannya dengan Elsha, tentang Elsha yang kembali datang sampai kejadian di lift dan terakhir Malik berkata bahwa dia sadar telah mencintai Vania.


Vania menatap manik mata Malik, mencari kebohongan di mata Malik. Namun, yang ada hanya tatapan yakin dan penuh cinta.


"Se-sejak kapan kau menyukaiku?" tanya Vania dengan gugup.


Malik menurunkan kakinya hingga kini dia menghadap kedepan, lalu tangannya merengkuh bahu Vania dan membawanya kepelukannya.


"Aku tak tau sejak kapan aku menyukaimu, mungkin bukan suka. Aku benar-benar mencintaimu, Vania."


"Ka-kau hanya Fucek boy. Kau juga pasti selalu menggombali gadis lain."


Malik melepaskan pelukannya dan meninggalkan Vania, Vania berpikir Malik tersinggung dengan ucapannya. Namum, Vania salah, ternyata Malik pergi untuk mengambil ponselnya.


"Sadah hape ku, kau akan tau semua aktivitas ku," ucap Malik sambil menyodorkan ponselnya kehadapan Vania.

__ADS_1


Vania tak menerimanya, dia malah memalingkan tatapannya kearah lain.


Malik berjongkok dihadapan Vania, membuat Vania kaget. "Ijinkan aku membuktikan bahwa aku benar-benar mencintaimu dan benar-benar tulus padamu," ucap Malik bersungguh-sungguh.


Vania memantapkan hatinya, kali ini dia akan memberi Malik kesempatan kedua.


"Baiklah, jika kau membohongiku, kau akan tau akibatnya."


"Kau menerima ku?" tanya Malik dengan mata berbinar-binar.


Vania pun mengangguk malu. Baru saja Malik bangkit dan berniat mencium Vania, dengan cepat Vania memukul Malik dengan bantal.


"Akan ku adukan kau pada mamih jika kau macam-macam padaku."


Malik hanya tertawa terbahak-bahak saat Vania memukulnya. Tak lama dia menarik bantal ditangan Vania dan langsung memeluk Vania.


"I love you," ucap Malik.


Vania membalas pelukan Malik, "I love you to."


"Tunggu sebentar, aku akan mengganti pakaian ku dulu, setelah itu aku akan mengantarmu pulang."


Tak terasa mereka menjalani hubungan manis sudah 3 bulan. Mereka larut dalam kebahagianaan dalam sebuah hubungan. Namun, ternyata kebahagian mereka tak bertahan lama. Karna kecerobohan Malik, Vania memutuskan Malik. Dia tak ingin lagi mengenal Malik. Bahkan dia amat menyesal mengenal Malik dan menerima Malik.


Malik sudah berusaha menjelaskannya pada vania. Namun, Vania tetap tak bergeming dan yang hanya Malik bisa lakukan adalah mengumpulkan bukti bahwa dirinya tak bersalah. Dan sudah 6 bulan Vania dan Malik tak berjumpa. 3 bulan Malik selalu memperhatikan Vania dari kejauhan, 3 bulan pula dirinya berada di Rusia.


Flashback off.


Saat sedang mengusap foto Malik seseorang berdehem.


guys, konflik Vania Malik ga akan berat-berat, Kok. besok juga udahan konfliknya. Tadinya mau di jabarin sekarang tapi aku bener-bener lagi ga enak badan. jangan dulu nerka-nerka alur ceritanya. karna konfliknya bsok udahan.


Dan setelah Kisah Vania Malik happy ending, barulah kisah Tania sama uncle Julian.

__ADS_1


__ADS_2