
"Vaniaaa, temani aku ke apartemen papih!" pinta Tania sambil berteriak.
Vania yang sedang berada di taman belakang langsung memakai kembali headsetnya, dia tak ingin moodnya rusak karna mendengar rengekan adiknya.
"Tania!" tegur Keinya saat putri bungsunya terus berteriak memanggil kakanya.
Tania hanya nyengir mendapat gerutuan mamihnya. Dia berjalan kearah Keinya.
Tania memeluk Keinya dan mencium pipi Keinya bertubi-tubi.
"Kau sedang merayu, mamih?" tanya Keinya yang sudah hapal betul kelakuan putrinya. Tania adalah cerminan saat Keinya muda, hingga dia bisa mudah menebak semua sifat putrinya.
"Mamih, bolehkah aku menginap di apartemen papih?"
Keinya mengernyit heran mendengar penuturan Tania. "Untuk apa kau menginap di apartemen papih?"
"Mamih, aku ingin suasana baru, mamih dan papih tak mengijinkan ku berlibur sendiri," keluh Tania. "Dan yang terpenting aku bisa makan bebas jika aku di apartemen papih," ucap Tania lagi sambil berbisik.
Keinya nampak berpikir. Ya, selama ini Bram selalu menerapkan hidup sehat untuk semua keluarganya.
"Baiklah, hanya untuk malam ini. Ajak Vania bersama mu," ucap Keinya yang memberi kelonggaran pada putrinya.
Tania menciumi pipi Keinya bertubi-tubi. "Tapi, mamih berjanji, kan, takan mengadukannya pada papih."
"Hanya untuk kali ini, jika kau ingin pergi, pergilah sekarang! sebelum hari mulai gelap!" titah Keinya.
Tania pun dengan semangat menghampiri Vania yang sedang duduk. Tanpa prasaan, dia menarik headset yang sedang berada di telinga kakanya.
"Apa-apaan kau!" teriak Vania sambil melotot galak pada Tania.
__ADS_1
"Ayo kita menginap di apartemen papih, kita bisa makan bebas disana," jawab Tania.
"Mamih, mengijinkannya?" tanya Vania berbinar-binar. Amarahnya langsung hilang saat mendengar kata makanan.
Tania berdecih, kemudian dia menangguk.
Dengan semangat 45 mereka pun segera bersiap untuk pergi ke apartemen milik papih mereka. Tak perduli seberapa hebat pertengkaran mereka, mereka akan kembali akur jika terkait soal makanan.
"Vania, kau duluan saja. Aku akan membeli cemilan untuk menonton drakor nanti malam," ucap Tania.
Tanpa curiga Vania pun menuruti apa kata Tania. Padahal jelas-jelas Tania berbohong. Saat Vania sudah turun, Tania langsung mengambil ponsel dari sakunya dan menghubungi seseorang yang tak lain adalah Malik.
Ya, Malik meminta tolong pada Tania untuk bisa membawa Vania. Malik tau akan susah untuk mengajak Vania bertemu, sehingga dia meminta bantuan Tania, dan beruntunglah, Tania mau menolong Malik.
"Maaf, Non. Kita akan membeli cemilan dimana?" tanya supir yang mengantar mereka.
'Ah, ia, Pak. Jalan saja dulu, Pak." Tania berencana mengulur waktu. Setidaknya supir takan mengadu macam-macam pada mamih dan papihnya.
Tanpa curiga, Vania melenggang masuk kedalam apartemen. Dia berjalan kearah dapur untuk mengambil minuman. Saat dia akan pergi dari dapur, terdengan suara rekaman seorang perempuan.
Vania mengenal suara perempuan itu, itu adalah suara Elsha yang tak lain adalah mantan pacar Malik.
Didalam rekaman itu, terdengar dengan jelas bahwa Elsha lah yang membohongi Malik dan menyuruh Vania datang ke apartemen Elsha.
Flashback
Saat Malik berkata Vania adalah calon istrinya, Elsha tak tinggal diam. Dia merasa tak terima dengan ucapan Malik.
Dan saat Malik sudah berpacaran dengan Vania pun, Elsha terus menganggu Malik. Hingga suatu saat Elsa berkata pada Malik takan menganggu Malik asal Malik mau menemaninya makan malam.
__ADS_1
Malik pun setuju, karna percaya perkataan Elsha, Malik berharap Elsha takan lagi mengganggu hubungannya dengan Vania. Setelah makan malam, Malik pun mengantar Elsha untuk ke apartemennya. Dan sekali lagi Malik menuruti kemauan Elsha untuk mengantarkannya sampai kedepan pintu apartemennya.
"Bolehkah, aku memelukmu untuk terakhir kalinya?" pinta Elsha penuh harap.
Malik menghela napas kasar, kemudian mengangguk.
Tanpa Malik sadari, Vania menyaksikan adegan tersebut. Ponsel yang sedang di pegang oleh Vania pun terjatuh karna sangking terkejut melihat adegan didepannya.
Malik tersadar saat mendengar suara benda jatuh. Matanya terbelalak saat melihat Vania sedang berada didepan mereka.
Dengan kasar Malik mendorong tubuh Elsha dan menghampiri Vania. "Vania, ini tak seperti yang kau pikirkan," ucap Malik dengan panik.
Sedangkan Elsha hanya tersenyum penuh kemenangan, tak sia-sia dia mencari tau tentang nomer Vania, sehingga bisa menyuruh Vania untuk datang.
"Aku membenci mu!" ucap Vania sambil menepis kasar tangan Malik.
Dan selama berpisah dengan Vania, Malik memikirkan cara bagaimana membuktikan pada Vania bahwa dia tak salah. Menyuruh Elsha jujur pun percuma, Elsha selalu mengelak.
Dan saat pulang ke Indonesia, Di pesawat Malik bertemu temannya yang tak lain adalah sahabat Elsha juga. yang bernama Aida. Aida yang baru saja berlibur di Rusia tak sengaja bertemu Malik di pesawat.
Setelah bertemu Aida, dan mengobrol sebentar di caffe dekat bandara. Malik mempunya ide. Dia menceritakan masalahnya dengan Elsha pada Aida. Dia meminta tolong pada Aida untuk memancing Elsha agar bercerita. Aida yang merasa kasihan pun berjanji akan menolong Malik
Aida pun mengajak Elsha untuk makan siang, Aida terus memancing Elsha tentang hubungannya dengan Malik. Hingga Elsha jujur tentang rencananya dan Aida merekam semua perkataan Elsha dan langsung mengirimkannya pada Malik.
Flashback off.
Mata Vania berkaca-kaca mendengar rekaman tersebut. Tubuhnya seakan membeku mendengar rekaman tersebut. Tak lama air matanya menetes saat melihat lelaki yang selama ini dirindukannya berjalan ke arahnya sambil membawa buket bunga.
"Kak, Malik ...."
__ADS_1
Makasih, Ya. Kalian sudah Vote. jangan lupa tinggalkan Like dan Vote ya. 😍😍😘